Keesokan harinya, disebuah ruangan bernuansa putih yang ada di rumah sakit, terdapat sepasang suami-istri yang sedang berkonsultasi dengan seorang dokter.
"Tidak semua wanita akan berdarah di malam pertama, Pak. Karena mereka bermacam-macam, ada yang memiliki selaput dara yang tipis dan ada juga yang tebal. Bahkan, ada juga yang tidak memiliki selaput dara sejak lahir, selaput dara adalah suatu yang bisa menyebabkan berdarah atau tidaknya seorang wanita perawan dimalam pertamanya, Pak!" ucap Dokter Alan.
"Mas Adrian, mendengar perkataan dokter, kan? Apakah sekarang Mas Adrian mempercayaiku?" tanya Aruna pada Adrian. Adrian menjawab, "Aku tak percaya lagi padamu, aku benci kamu!" Setelah menjawab, Adrian keluar dari ruangan dokter tersebut dan meninggalkan Aruna di sana, Adrian hendak pulang ke rumahnya tanpa Aruna.
"Mas Adrian, tunggu! Jangan tinggalkan aku, aku tidak membawa uang!" ucap Aruna yang tidak di dengarkan oleh suaminya, suaminya itu malah menancap gas dan pergi dari sana. "Mas Adrian, mengapa kamu memperlakukan aku seperti ini, mengapa kamu tidak mempercayaiku?" lanjut Aruna. Aruna kemudian memutuskan untuk pulang ke rumahnya dengan jalan kaki. Beberapa saat kemudian, ketika Aruna masih ada dijalan, ia melihat mobil atasannya yang berhenti tepat disampingnya. Tak berapa lama, keluarlah Sean dari mobil tersebut.
"Kak Sean?" panggil Aruna pada Sean. Sean balik bertanya, "Kamu mau kemana, kok berjalan kaki di siang hari yang panas begini?"
"Aku hanya ingin pulang ke rumah, Kak! Tadi aku hanya ingin mencari makanan favoritku saja!" jawab Aruna yang terpaksa berbohong, ia tak ingin mengumbar masalah rumah tangganya ke orang lain, meskipun itu Sean.
"Kalau begitu mengapa kamu tidak membawa makanannya?" tanya Sean yang tidak melihat Aruna membawa plastik yang berisi makanan. Aruna menjawab, "Tadi ternyata, penjualnya tidak berjualan, tutup tadi tokonya!"
"Oh, baiklah! Lalu mengapa kamu tidak memesan kendaraan saja? Mengapa memilih untuk berjalan kaki dibawah teriknya sinar matahari ini?" tanya Sean lagi.
"Aku tidak ingin menunggu terlalu lama, Kak! Aku ingin cepat pulang, takutnya suamiku sudah menunggu atau bahkan mencariku?" jawab Aruna.
"Baiklah, jika begitu, ayo naik ke mobilku!" ajak Sean.
"Tidak usah, Kak!" Aruna menolak karena ia tak ingin Adrian salah paham lagi pada dirinya.
"Tak apa, ayo!" Sean mencoba membujuk Aruna. Aruna kini tidak dapat menolak ajakan dari Sean dan ia terpaksa menurut dan menerima tawaran Sean. Di dalam mobil Sean bertanya pad dirinya sendiri didalam hati mengenai perasaannya pada Aruna, "Tak mungkin ini cinta, kan? Aku memang seperti ada rasa sayang pada Aruna, tetapi jika ini cinta, aku pasti akan merasa cemburu apabila Aruna dekat dengan pria lain. Bahkan, sampai menikah dengan pria lain, tapi ini malah sebaliknya, aku merasa bahagia apabila Aruna sudah menikah dan hidup bahagia dengan suaminya, apa mungkin Aruna adalah Aubrey? Ah, ini tak mungkin, Aubrey punya gelang di tangannya!"
"Kak Sean ada apa, mengapa kakak seperti melamun?" tanya Aruna. Sean langsung tersadar dari lamunannya dan kemudian menjawab, "Oh, tak ada apa-apa!" Setelah menjawab, Sean melajukan mobilnya.
Beberapa saat kemudian, Aruna dan Sean tiba dirumah Adrian, Aruna meminta Sean untuk tidak ikut ke dalam karena ia tak ingin Adrian salah paham lagi, Sean juga sepertinya sudah tidak ada waktu untuk hal lain dan ia memutuskan untuk menuruti permintaan Aruna.
Aruna berjalan ke arah dalam rumah Adrian yang hanya ditempati Adrian dan Aruna karena orang tua Adrian pergi keluar negri seperti biasanya untuk urusan bisnis. Sesampainya didalam rumah, Adrian menghampiri Aruna dan berkata, "Oh, habis diantar sama atasanmu itu ya, lelaki itu seperti belum puas dengan tubuhmu?" Hati Aruna terasa sangat perih ketika mendengar kalimat yang diucapkan oleh suaminya tersebut yang sangat merendahkan Aruna.
"Sudah aku bilang, aku dan dia tidak ada hubungan apa-apa, Mas. Percayalah padaku!" ucap Aruna sambil menahan air matanya.
"Aku tidak mempercayaimu, apapun yang keluar dari mulutmu itu adalah kebohongan, kamu itu seperti sampah! Jika kamu hamil, aku tak mau menafkahi anak haram itu, pergi saja pada Sean dan minta pertanggungjawaban padanya!" ucap Adrian yang lagi-lagi membuat hati Aruna terasa sakit.
"Mas, tolong percaya padaku, aku tidak pernah tidur dengan Kak Sean!" jawab Aruna.
"Mana ada maling ngaku?" ucap Adrian yang kemudian pergi meninggalkan Aruna.
Keesokan harinya, Aruna pergi ke Andara Hotels, entah apa yang akan Aruna lakukan disana.
"Mba Aruna, mau mencari siapa Mba?" tanya seorang karyawan.
"Saya ingin mencari seseorang, saya ingin melamar pekerjaan lagi disini!" jawab Aruna.
"Bukankah, Mba sudah menikah dengan seorang pengusaha terkenal?" tanya karyawan itu lagi. Aruna menjawab dengan kebohongan, "Ini kemauanku sendiri, aku ingin hidup mandiri, aku ingin tetap bekerja!" Bohong, apabila ini kemauan Aruna sendiri, padahal ia terpaksa bekerja karena Adrian tidak memberinya nafkah.
"Baiklah, langsung temui Pak Sean saja ya, Mba!" ucap karyawan tersebut. Aruna tersenyum dan kemudian menjawab, "Baik, terimakasih ya!"
"Sama-sama!" jawab Karyawan tersebut.
Beberapa saat kemudian, Aruna tiba di ruangan Sean.
"Aruna?" ucap Sean. Aruna balik bertanya pada Sean, "Kak Sean, apakah aku masih boleh bekerja di sini sebagai seorang resepsionis?"
"Hah, apa Adrian tidak marah, mengapa Adrian membiarkan istrinya bekerja? Dia adalah seorang direktur disebuah perusahaan, kan?" ucap Sean.
"Aku hanya ingin bekerja, Kak! Rasanya sangat membosankan dirumah tidak berbuat apa-apa, seperti seorang tuan putri saja, aku ingin hidup mandiri, Kak!" jawab Aruna yang berbohong.
"Baiklah, bekerjalah kembali!" ucap Sean. "Tapi sebentar! Apakah Adrian mengizinkanmu untuk bekerja, nanti kalo tanpa izinnya, dia datang kesini mencarimu?" lanjut Sean yang bertanya pada Aruna.
"Mas Adrian sudah mengizinkanku, Kak!" jawab Aruna.
"Baiklah, jika begitu!" ucap Sean. Aruna tersenyum dan pergi ke tempatnya bekerja sebagai resepsionis seperti biasanya.
Disebuah restoran mewah, Adrian sedang makan disana, ketika lewat seorang gadis cantik didepannya, Adrian merasa tertarik padanya dan memutuskan untuk mengajak gadis itu berkenalan. Adrian beranjak dari kursinya dan duduk di kursi yang ada di dekat gadis tersebut.
"Hai?" sapa Adrian pada gadis tersebut.
"Hai!" jawab gadis tersebut.
"Aku Adrian, nama kamu siapa?" tanya Adrian. Gadis tersebut menjawab, "Aku, Amanda!"
"Nama yang indah, mengapa sendirian disini, pacar atau suamimu di mana?" tanya Adrian. Amanda menjawab, "Aku masih single, belum ada pacar!"
"Benarkah, mana mungkin gadis secantik kamu belum ada pacar?" tanya Adrian lagi.
"Iya, aku memang tidak punya pacar!" jawab Amanda.
"Baiklah, jika begitu bolehkah kita berteman?" tanya Adrian pada Amanda.
Amanda terlihat berpikir dan tak lama kemudian, ia menjawab, "Boleh!" Adrian tersenyum dan kemudian berkata, "Mari kita tukaran nomer? Biar nanti bisa berkomunikasi, benar tidak?" Amanda menjawab, "Oke!"
Malam hari kemudian, Aruna duduk di ranjangnya, ia menunggu suaminya karena suaminya itu belum pulang.
"Mas Adrian kok belum pulang?" ucap Aruna.
Beberapa saat kemudian, Adrian pulang ke rumahnya, Aruna kemudian mengajak Adrian untuk makan malam bersama, "Mas, aku sudah siapkan makan malam untuk kita, ayo makan malam bersama!"
"Aku sudah kenyang!" jawab Adrian dengan wajah datarnya. Sebenarnya Adrian sudah makan malam bersama dengan Amanda di sebuah restoran mewah.
Beberapa hari kemudian, Adrian menemui Amanda dengan membawa sebuket bunga mawar dan boneka yang akan ia berikan pada Amanda nantinya.
"Adrian?" panggil Amanda setelah melihat keberadaan Adrian. Adrian mendekat ke arah Amanda dan kemudian berlutut tepat didepan Amanda dan menyodorkan sebuket bunga mawar pada Amanda sambil berkata, "Amanda, aku mencintaimu, maukah kamu menjadi pacarku?" Amanda tersenyum, karena sebenarnya Amanda juga sudah mencintai Adrian sejak pertama kali mereka berdua bertemu. Amanda kemudian menjawab, "Iya, aku terima kamu, karena aku juga mencintaimu!" Adrian tersenyum dan kemudian memeluk Amanda dan Amanda juga memeluknya dengan sangat erat.
Hal ini ternyata dilihat oleh atasan Aruna yang bernama Sean tersebut, ketika Sean tak sengaja lewat disana.
"Bukankah itu Adrian?" tanya Sean pada dirinya sendiri. Sean kemudian langsung mengambil ponselnya dan mengambil gambar Adrian dan Amanda yang masih berpelukan. Setelah itu, Sean pergi ke rumah Aruna untuk melaporkan suami Aruna yang telah berselingkuh tersebut.
Sesampainya di rumah Adrian, Sean langsung mengetuk pintu rumah tersebut dan tak lama kemudian Aruna keluar dari rumah tersebut.
"Kak Sean, ada apa?" tanya Aruna pada Sean.
"Aku hanya ingin bertanya saja!" jawab Sean.
"Oh, apa mengenai alasanku yang tidak masuk kerja hari ini, Kak! Kalau itu aku minta maaf ya, soalnya hari ini aku sedang tidak enak badan!" ucap Aruna.
"Bukan, bukan itu!" jawab Sean. "Tapi ini!" lanjut Sean sembari menunjukkan gambar Adrian dan seorang wanita sedang berpelukan di sebuah tempat yang indah.
"Oh, itu sepupunya yang katanya baru pulang dari luar negri!" Aruna berbohong, sebenarnya ia juga tidak mengenal wanita tersebut dan tidak mungkin juga bahwa wanita itu adalah saudara Adrian.
"Oh, baiklah jika begitu! Aku pamit pergi ya, masih ada banyak kerjaan soalnya!" ucap Sean. Aruna menjawab, "Baiklah!" Sean kemudian pergi dari sana, dan setelah Sean pergi, Aruna masuk ke dalam rumahnya dan terduduk di bangku yang ada di ruang tamu sambil menangis karena telah dikhianati oleh suaminya, sebenarnya tadi Aruna sudah ingin menangis, akan tetapi Aruna menahannya, karena ia tidak mau orang lain tahu dengan masalah rumah tangganya. Aruna tidak ingin keburukan suaminya diketahui oleh orang lain, ia akan terus berusaha untuk menutupi aib suaminya itu dari muka umum.
"Mas, mengapa kamu tega mengkhianatiku, padahal aku tak pernah mengkhianatimu! Aku masih gadis ketika kamu nikahi, aku tidak ada hubungan yang lebih dengan Kak Sean, selain rekan kerja. Harusnya kamu mempercayaiku!" ucap Aruna sambil menangis.
Beberapa saat kemudian, Adrian pulang ke rumahnya dan Aruna langsung mengintrogasi Adrian.
"Siapa wanita itu, Mas?" tanya Aruna.
"Wanita yang mana?" tanya balik Adrian. "Oh, kamu sudah tahu ya, tadi aku menyatakan cinta pada Amanda dan aku senang sekali karena dia menerimaku, tadi aku berpelukan dengannya!" lanjut Adrian.
"Tega sekali, Mas berkata seperti itu, di depan istri sah Mas Adrian sendiri," ucap Aruna.
"Bukankah kamu tadi bertanya padaku siapa wanita tadi, aku berkata yang sebenarnya,loh!" jawab Adrian yang kemudian pergi menjauh dari hadapan Aruna. Aruna menangis sejadi-jadinya karena Adrian benar-benar sudah tidak menjaga perasaan Aruna dan sudah menginjak-injak harga diri Aruna yang merupakan istrinya sendiri.
"Selama ini aku gagal menikah karena statusku dan aku selalu membayangkan hubungan rumah tangga yang baik dan indah, tapi apa yang aku dapat? Malah hidupku semakin hancur setelah menikah, mengapa takdir yang engkau berikan sepahit ini, Tuhan. Apa dosaku, apa salahku, mengapa aku tak pernah merasakan kebahagiaan yang panjang, aku hanya bahagia sesaat dan kini aku malah menderita, tekanan batin ini terus saja ada!" ucap Aruna sambil menagis.
Beberapa hari kemudian, Adrian pergi jalan-jalan dengan wanita lain, dan di tengah perjalanan, ia di stop oleh sebuah mobil taxsi dan tak lama kemudian, Aruna keluar dari mobil taxsi tersebut.
"Turun, Mas!" ucap Aruna yang meminta Adrian untuk turun dari mobilnya. Adrian dan Amanda kemudian turun dari mobil dan menghampiri Aruna.
"Anda siapa, mengapa mencegat kami?" tanya Amanda pada Aruna.
"Aruna Nazaha Asheila, aku adalah istri sah Adrian!" jawab Aruna. Jawaban dari Aruna ini membuat Amanda sangat terkejut karena ia tidak mengetahui jika Adrian yang merupakan kekasihnya itu sudah beristri.
"Adrian, kamu membohongiku?" tanya Amanda pada Adrian. Adrian menjawab, "Iya, dia adalah istriku, tetapi aku sudah tidak mencintaiku, dia telah menipuku, dia sudah tidur dengan Sean yang merupakan atasannya, sebelum aku dan dia menikah!"
"Mas, kamu benar-benar sudah tidak menyayangiku lagi!" ucap Aruna yang kemudian pergi dari sana. Aruna merasa sangat sakit hati dengan Adrian yang mengumbar masalah keluarganya ke orang lain, padahal selama ini Aruna terus-menerus menutup aib suaminya tersebut.
"Aku tidak mau dengan pria yang sudah beristri!" ucap Amanda yang kemudian hendak pergi dari sana. Namun, Adrian mengejarnya.
"Amanda aku sangat mencintaimu, aku benci dengan istriku, aku mau kamu!" ucap Adrian.
"Kamu sangat mencintaiku, aku juga begitu, aku akan memperjuangkan cinta kita ini, aku tidak akan mengalah dari istrimu!" ucap Amanda.
"Iya, Sayang. Kita harus memperjuangkan cinta kita!" sahut Adrian.
"Baik, aku akan tetap bersamamu, tapi aku ingin kamu segera menikahiku, jika tidak maka aku akan pergi!" pinta Amanda pada Adrian. Adria menjawab, "Iya, beri aku waktu sepuluh hari untuk mempersiapkan semuanya, aku ingin kita menikah secara agama dan negara, aku tidak mau menikah siri denganmu, karena aku sangat mencintaimu!
"Baiklah, aku pegang janjimu, Adrian!" ucap Amanda.
Malam hari kemudian, Adrian menemui Aruna.
"Aruna aku ingin menikahi Amanda, dia minta untuk segera dinikahi, aku ingin menikah secara agama dan negara, aku tak ingin menikah siri dengannya!" ucap Adrian.
"Enggak, aku tidak mau di madu!" Aruna menolak permintaan suaminya yang salah itu.
"Aku tidak butuh persetujuan darimu, aku akan tetap menikah, jika kamu menolak maka aku akan memaksamu! Aku ingin menikah resmi dengannya. Bukankah poligami itu diperbolehkan dalam Islam, kan?" ucap Adrian. Aruna menggelengkan kepalanya dan berkata, "Tapi aku tidak sanggup, Mas! Melihat suamiku bersama dengan wanita lain, tolong mengertilah! Aku berani bersumpah jika aku tidak pernah mengkhianatimu, aku setia padamu dan aku tidak pernah tidur dengan pria manapun!"
"Terserah kamu ingin bicara apa, aku tak perduli padamu! Aku tidak perduli dengan ucapan yang keluar dari mulut kotorku itu!" jawab Adrian yang lagi-lagi menusuk hati Aruna, istri sah yang terus-menerus ia sakiti itu.
Beberapa hari kemudian, Adrian benar-benar melangsungkan pernikahannya dengan Amanda, mereka berdua menikah secara agama dan negara, Aruna terpaksa mengizinkan suaminya untuk menikah lagi. Namun, setelah itu Aruna akan meminta di ceraikan oleh Adrian.
Setelah acara pernikahan selesai, Aruna menemui Adrian dan Amanda.
"Aku mau kita pisah, Mas!" pinta Aruna, sungguh saat ini hati Aruna sudah sangat sakit dan terluka, luka yang tidak ada obatnya.
"Oh, bagus jika begitu, aku jadi bisa memiliki Adrian seutuhnya!" ucap Amanda sambil tersenyum. Adrian kemudian menolak, "Tidak, aku tidak mau menceraikanmu, tapi bukan karena aku masih mencintaimu! Aku hanya ingin melukai hatimu terus-menerus untuk balas dendam atas penipuan dan pengkhianatan yang telah kamu lakukan!"
"Baik, jika begitu aku sendiri yang akan mengugat cerai kamu, Mas!" ucap Aruna. Ketika Aruna henda keluar dari rumah tersebut, tiba-tiba kepala Aruna terasa sangat sakit dan kemudian Aruna jatuh pingsan. Karena rasa kemanusiaan, Adrian dan Amanda kemudian membawa Aruna ke rumah sakit.
Dirumah sakit, orangtua Adrian yang kebetulan pulang dari luar negeri dan mengetahui jika putranya menikah lagi kemudian memarahi putranya atas tindakannya yang menikah lagi tanpa memberi tahu orangtuanya.
"Ayah sangat kecewa padamu, kamu menikah secara diam-diam," ucap Arga.
"Ibu juga, kamu sudah melakukan poligami, Adrian. Kamu sudah melukai hati istrimu yang baru beberapa bulan kamu nikahi!" ucap Shania yang tak lain adalah ibu dari Adrian.
"Dia telah menipuku, dimalam pertama itu dia tak bernoda, dia sudah tidak perawan sebelum aku nikahi, dia sudah tidur dengan Sean yang merupakan atasannya di Andara Hotels, aku sakit hati dan aku memilih untuk membalasnya!" jawab Adrian.
"Nak, belum tentu itu semua benar, mungkin saja dulu waktu dia masih remaja atau sudah dewasa menjadi korban p*********n dan itu yang menyebabkan ia tak bernoda, kan?" ucap Shania yang membela menantunya.
"Iya, gadis seperti Aruna itu tidak mungkin mau merelakan kesucian untuk pria yang bukan suaminya, kecuali jika di dipaksa!" ucap Arga yang juga membela menantunya.
"Aku akan memaklumi jika dia sudah tidak perawan karena diperkosa, karena itu bukan salahnya! Tapi jika memang benar begitu, mengapa dia tidak jujur sebelum menikah denganku, itu artinya dia bukan korban p*********n, tapi dia memang tidur dengan atasannya itu!" Adrian membantah ucapan dari kedua orangtuanya tersebut.
"Terserah padamu, Adrian. Semoga kamu tidak menyesal pada akhirnya karena keputusan yang kamu buat sendiri!" ucap Arga.
Tiba-tiba keluarlah seorang dokter dari ruangan Aruna berada.
"Bagaimana kondisi menantu saya, Dok?" tanya Arga pada dokter tersebut.
"Dia baik-baik saja, dia pingsan karena dia sedang mengandung, usia kandungannya baru beberapa minggu!" jawab dokter.
"Hamil, Dok? Kandungannya gimana, baik-baik saja, kan?" tanya Shania pada dokter.
"Janinnya sehat, tidak ada yang perlu dikhawatirkan!" jawab dokter tersebut.
"Baik, Dok! Terimakasih," ucap Arga. Dokter tersebut kemudian pamit pergi dari sana.
Arga dan Shania tampak sangat senang karena mereka sebentar lagi akan menimang cucu. Namun, berbeda pada Adrian yang malah bersikap cuek dan tidak ada ekspresi bahagia sama sekali di wajahnya.
Didalam ruangan, Aruna hanya diam, ia bingung harus bagaimana, sebenarnya ia ingin pisah dari Adrian. Akan tetapi, ia tak mau anaknya tidak hidup bahagia dan menjadi korban broken home.
"Mas, aku tidak ingin cerai dari kamu, aku tak bisa egois, anak ini harus hidup bahagia dengan keluarga yang utuh!" ucap Aruna.
"Baiklah!" jawab Adrian. Padahal di dalam hatinya ia merasa sangat senang karena tidak jadi pisah, bukan karena cinta tetapi karena ia ingin terus menyakiti hati Aruna.
Keesokan harinya, Adrian pergi ke rumah Amanda untuk bersama dengan istri keduanya tersebut. Namun Aruna menolaknya, karena Adrian terus tinggal di rumah Amanda dan hanya bersama Aruna beberapa jam saja, Aruna tidak mau Adrian bersikap tidak adil seperti itu.
"Mas, hari ini kamu sama aku ya, setiap hari Mas selalu saja bersama dengan Amanda, kamu harus bersikap adil, Mas!" pinta Aruna pada Adrian.
"Kamu tidak berhak mengatur aku, kamu memang istriku tapi hanya diatas kertas, kamu bukan istri di hati aku!" jawab Adrian yang menolak permintaan dari Aruna.
"Tapi anak yang sedang aku kandung ini adalah anakmu, Mas! Kamu, harus ada di sisiku untuk menjaga janin ini!" ucap Aruna. Adrian tetap saja menolak dengan berkata, "Aku ingin berbulan madu dengannya di luar kota, dia ingin hamil juga!"
"Tidak, Mas tidak boleh berbulan madu dengannya!" Aruna menolaknya, bukannya egois, tapi wanita mana yang mau suaminya bersama dengan wanita lain, untuk merelakannya pasti sangat berat, sulit dan sakit.
"Sudah aku bilang, kamu tidak punya hak mengatur aku, kamu bukan siapa-siapa!" ucap Adrian yang kemudian pergi meninggalkan Aruna disana.
Aruna terduduk dilantai dan menangis.
"Mengapa hidupku seperti ini, andai saja aku punya keluarga, mungkin aku tidak sesakit ini karena ada yang menyemangatiku dan memeluk tubuhku ini, Tuhan. Tolong segera pertemukan aku dengan keluargaku, aku ingin dipeluk ibu dan ayah, di saat-saat yang sulit dan menyedihkan ini!" ucap Aruna sambil menagis. Aruna tak berdaya untuk menentang suaminya dan membuat suaminya tidak bersama dengan wanita lain dan Aruna harus kuat dan merelakan semuanya. Jika saja Aruna tidak mengandung, maka Aruna sudah mengugat cerai Adrian karena tak ingin selalu di sakiti oleh Adrian. Akan tetapi, apalah daya takdir yang Aruna jalani sangat pahit dan ia terus saja mendapatkan cobaan yang sulit untuk dilalui sendirian.
Beberapa saat kemudian, Aruna bangkit dari duduknya dan pergi ke Andara Hotels, Aruna ingin menyibukkan dirinya dengan bekerja, agar Aruna dapat melupakan kesedihannya.
Sesampainya di Andara Hotels, Aruna bekerja seperti biasanya, beberapa saat kemudian Sean menghampiri Aruna untuk mengatakan sesuatu.
"Aruna?" panggilnya.
"Iya, Kak Sean ada apa?" tanya Aruna pada Sean.
"Aku ingin mengatakan sesuatu!" jawab Sean. "Eh, sebentar! Kok mata kamu sembab? Kamu kenapa, kamu habis menangis ya?" lanjut Sean yang bertanya pada Aruna setelah ia melihat mata Aruna yang sembab.
"Tidak kok, Kak! Tadi mataku cuman kelilipan aja, terus aku kucek-kucek, jadi terlihat sembab!" jawab Aruna yang lagi-lagi berbohong pada Sean. Aruna masih terus menutupi masalah keluarganya dan aib suaminya tersebut.
"Yakin, akhir-akhir ini, aku rasa kamu gugup waktu jawab pertanyaanku, kamu berbohong ya?" tanya Sean pada Aruna.
"Tidak kok, aku tidak berbohong!" jawab Aruna. "Oh, iya! Kak Sean tadi mau bicara apa ya sama saya?" lanjut Aruna yang bertanya pada Sean.
"Oh, aku hanya ingin mengatakan jika jabatanmu akan naik menjadi bendahara di Andara Hotels, kamu akan dipindahkan dibagian keuangan ya?" jawab Sean.
"Naik jabatan secepat itu dan langsung ke tingkat yang jauh lebih tinggi dari resepsionis? Apakah tidak salah, Kak? Saya hanya lulusan SMA!" tanya Aruna.
"Ini permintaan ayahku, dia itu seorang Ceo atau pemilik hotel ini, jadi keputusan dia harus dilaksanakan!" jawab Sean.
"Baiklah, Kak Sean!" ucap Aruna. Sean kemudian berkata, "Besok, berita naik jabatan kamu akan dipublikasikan ke semua karyawan Andara Hotels!"