Disebuah malam yang cerah, Andara termenung di dalam rumahnya, Andara kembali mengingat bayi perempuannya yang sangat imut itu.
"Aubrey, kapan kamu pulang? Ayah sangat merindukan dirimu, ayah ingin memberi kemewahan untukmu, ayah berjanji jika kamu ditemukan maka ayah akan menuruti semua keinginanmu, Sayang!" ucap Andara. "Aruna apakah benar kamu adalah Aubrey, kenapa rasanya setiap kali mengingat wajahmu, diriku selalu saja mengingat bayi kecil itu?" lanjutnya yang bertanya pada dirinya sendiri.
Keesokan harinya, Aruna dan Sean pergi ke aula yang ada di Andara Hotels, hari ini akan dipublikasikan berita kenaikan jabatan Aruna pada semua karyawan yang ada disana.
"Apakah sudah hadir semua?" tanya Sean pada karyawan-karyawannya.
"Sudah, Pak!" jawab seluruh karyawan.
"Baik, langsung saja! Hari ini adalah hari di mana sebagai serah terima jabatan karyawan yang naik jabatan. Azura Prameswari yang merupakan manager keuangan atau bendahara di Andara Hotels akan dimutasi ke cabang Andara Hotels di Semarang sebagai manager disana, dan sebagai gantinya adalah Aruna Nazaha Asheila yang akan menduduki jabatan manager keuangan atau bendahara Andara Hotels tersebut!" ucap Sean panjang lebar. Seluruh karyawan kemudian bertepuk tangan, namun ada beberapa karyawan yang mencibir Aruna.
"Mana mungkin karyawan baru seperti dia cepat sekali naik jabatan, terlebih di posisi yang tinggi dari kita karyawan lama disini?" ucap Adira.
"Iya, dengar-dengar dia hanya lulusan SMA, loh!" sahut seorang karyawan yang ada disamping Adira. Adira menjawab, "Mungkin dia ada hubungan yang spesial dengan Pak Sean, sehingga dia bisa naik jabatan secepat itu!"
"Mungkin mereka sudah menjadi pacar dan tidur bersama?" sahut Shiva.
"Bisa jadi, itu!" jawab Adira. Sean yang melihat ada beberapa karyawan berbisik kemudian bertanya pada mereka hal apa yang sedang mereka bicarakan, "Apa yang kalian bicarakan, hormati saya disini? Saya lagi bicara malah sibuk ngobrol!" Ketiga karyawan wanita itu kemudian menundukkan kepalanya, sebenarnya semua karyawan disini sudah tahu apabila atasan mereka tersebut adalah sosok pria yang dingin dan sedikit emosian, atasan mereka juga pantang apabila sedang bicara namun orang-orang yang seharusnya mendengarkannya malah ikut bicara.
Siang hari kemudian, Sean sedang makan siang di Restoran Andara Hotels sendirian, tiba-tiba Sean mendengar karyawan laki-lakinya membicarakan Adrian.
"Dengar-dengar, Adrian teman kita yang dulu culun itu sekarang sudah jadi bos dan dia mempunyai dua istri?" ucap Abian.
"Iya, hebat sekali dia, padahal dulu dia culun ya?" sahut Anwar. Sebenarnya Adrian adalah teman Abian dan Anwar ketika SMA dulu dan ternyata dulu Adrian adalah pria culun yang selalu mendapat bullying dari teman-temannya.
"Adrian siapa yang kalian bicarakan?" tanya Sean pada mereka.
"Itu, Adrian yang sekarang sudah menjadi suaminya Aruna!" jawab Abian. Mendengar jawaban itu, Sean langsung beranjak dari tempat duduknya dan pergi ke dalam Andara Hotels kemudian menemui Aruna di dalam ruangannya.
"Aruna?" panggil Sean.
"Iya, ada apa?" tanya Aruna pada Sean. Sean malah balik bertanya, "Apa benar, Adrian menikah lagi?"
"Kak Sean dapat info dari siapa ya?" tanya Aruna.
"Jawab dengan jujur, Aruna!" pinta Sean. Aruna sudah tidak bisa berbohong lagi dan kemudian berkata, "Iya, Mas Adrian sudah menikah lagi."
"Mengapa kamu menutupi ini dariku?" tanya Sean.
"Aku tidak ingin mengumbar aib suamiku sendiri, bukankah seorang istri selalu dituntut dan berkewajiban untuk menjaga aib suaminya, kan?" ucap Aruna.
"Dia harus diberi pelajaran!" ucap Sean yang kemudian keluar dari ruangan Aruna dan pergi ke rumah Adrian, Aruna kemudian mengikuti Sean dan hendak mencegahnya karena Aruna tidak ingin masalahnya tambah runyam. Namun, Sean tidak dapat dicegah.
Sesampainya dirumah Adrian, Sean berteriak memanggil-manggil nama Adrian, "Adrian, keluar kamu!" Sungguh Sean saat ini tidak bisa mengontrol dirinya yang sedang emosi karena Aruna yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri atau Aubrey itu telah disakiti oleh pria lain. Tak lama kemudian, Adrian keluar dari rumahnya dan kemudian mendorong tubuh Sean untuk menjauh dari pintu rumahnya sambil berkata, "Ada apa? Memangnya siapa kamu berani-beraninya memanggilku dengan tidak sopan dirumahku sendiri?"
"Dasar b******n, laki-laki b******k! Bisa-bisanya kamu melakukan poligami, padahal kamu dan Aruna baru menikah beberapa bulan lalu?" ucap Sean yang sangat marah pada Adrian. Adrian menjawab, "Bukan aku yang b******n, bukan aku yang b******k! Tapi kamu, kamu sudah merenggut kesucian Aruna sebelum hari pernikahan kami!"
"Apa maksudmu, sialan!" tanya Sean pada Adrian. Adrian kemudian menjawab, "Aruna tak bernoda di malam pertama dan itu artinya dia sudah tidak perawan, karena dirimu!"
"Dasar sialan!" ucap Sean yang kemudian menonjok Adrian, Adrian kemudian membalas tonjokan tersebut tepat di wajah Sean, Aruna tiba-tiba menghampiri mereka dan merelai mereka, "Sudah, jangan bertengkar!" Aruna berada didekat Sean dan menolong Sean untuk berdiri karena tadi setelah menonjok Adrian mendorong tubuh Sean hingga Sean terjatuh. Tiba-tiba, keluarlah Amanda dari dalam rumah Adrian karena mendengar adanya keributan.
"Adrian, kamu kenapa?" tanya Amanda setelah melihat luka lebam diwajah Adrian dan hidung Adrian mengeluarkan darah.
"Kak Sean, kita pergi dari sini ya? Aku tidak mau ada keributan lagi!" ajak Aruna sambil menarik tangan Sean untuk menjauh dari sana, bukan karena Aruna memilih Sean daripada suaminya sendiri, Aruna hanya tidak ingin masalah ini semakin rumit dan menimbulkan kesalahpahaman, terlebih sudah ada beberapa tetangga yang melihatnya, Aruna tidak ingin aib keluarganya menjadi bahan gosip tetangga. Sean kemudian menurut dan pergi dari sana, sebelum pergi Sean menunjuk ke arah Adrian pertanda ia mengancam Adrian bahwa urusan mereka berdua belum usai.
"Lihat itu, dia lebih memilih pria lain, itu artinya memang benar pria itu dan dirinya sudah ada hubungan sebelum kalian menikah, Adrian!" ucap Amanda yang semakin membuat panas suasana.
"Iya, aku yakin anak yang dikandung Aruna itu adalah anak Sean bukan anakku!" jawab Adrian yang kemudian masuk ke dalam rumah.
"Bagus, aku tidak perlu membuat rencana untuk memisahkan mereka berdua, karena tampaknya hubungan mereka tidak akan bertahan lama, tugasku hanya membuat suasana menjadi lebih panas, sehingga membuat mereka cepat berpisah dan aku akan memiliki Adrian seutuhnya!" ucap Amanda yang malah memanfaatkan masalah tersebut sebagai cara untuk memisahkan Adrian dan Aruna.
Sesampainya di Andara Hotels, Aruna mengobati luka yang ada di wajah Sean.
"Kak Sean, mengapa kamu sangat perduli padaku yang bukan siapa-siapa kamu, hubungan kita hanya sebatas rekan kerja, kan?" tanya Aruna sambil mengobati Sean.
"Entahlah, hatiku terasa sangat panas apabila mendengar atau melihatmu menderita, aku merasa bahwa kamu adalah adik kandungku yang sudah hilang selama puluhan tahun, aku rasa kamu adalah Aubrey adik kecilku!" jawab Sean.
"Tapi aku bukan Aubrey, Kak!" ucap Aruna. Sean menjawab, "Aku tahu, hanya saja aku ingin kamu terus memanggilku kakak, bisakah kita menjadi saudara, meski hanya saudara pura-pura?" Aruna menjawab, "Boleh, Kak! Aku juga ingin merasa memiliki keluarga!"
"Baiklah!" ucap Sean.
Keesokan harinya, Aruna pergi ke Andara Hotels untuk bekerja seperti biasanya, tak berapa lama setelah Aruna duduk di kursinya, Sean datang menghampirinya dan akan mengajaknya keluar.
"Kak Sean?" sapa Aruna pada Sean.
"Aruna, nanti malam akan ada acara di rumah kakak dan kakak kesini berniat untuk mengundangmu, bisakah kamu datang?" tanya Sean pada Aruna.
"Nanti Mas Adrian akan salah paham lagi dengan kita lagi, bagaimana?" tanya Aruna pada Sean. Sean menjawab, "Tidak akan, bukankah hari ini kamu bilang ke dia kalau kamu sedang lembur, jadi dia tidak akan salah paham!"
"Baiklah, Kak!" jawab Aruna.
"Sekarang kita kesana ya, Bunda ingin memasak makanan untuk acara nanti malam bersama dirimu dan ada yang ingin orangtuaku bicarakan padamu!" ucap Sean.
"Baiklah, Kak!" jawab Aruna. Mereka berdua kemudian keluar dari Andara Hotels dan pergi menuju ke rumah Andara. Sesampainya disana, Aruna merasa sangat kagum karena melihat bangunan yang besar, bertingkat lima dan sangat mewah, lebih dari rumah Adrian yang juga mewah tapi tidak semewah rumah Andara.
"Kok melamun, ayo turun!" ajak Sean.
"Kalian sangat kaya, tetapi mengapa sampai bisa kehilangan seorang putri kecil, bukankah perjagaannya sangat ketat?" tanya Aruna pada Sean.
"Dulu kami tidak kaya seperti ini, kami hanyalah keluarga sederhana, ayah hanyalah seorang karyawan di sebuah perusahaan dan bunda adalah seorang penjahit, lima tahun setelah hilangnya Aubrey, ayah mampu membangun hotel dan bunda menjadi seorang Desainer terkenal dan aku ditugaskan untuk menjadi general manager disaat aku masih berusia sekitar 18 tahun di sana," ucap Sean. "Kesuksesan orangtuaku adalah karena orangtuaku rajin dan selalu menyibukkan diri untuk bekerja, hal ini mereka lakukan untuk mencoba melupakan kesedihan dan keterpurukan mereka atas hilangnya Aubrey. Mereka berdua setiap hari bekerja, tanpa hari libur, berangkat pagi pulang tengah malam. Kalo kakak pada saat itu hanya menjaga rumah dan belajar sepanjang hari, sehingga aku sudah mampu menghandle jabatan general manager diusia remaja itu!" lanjutnya.
"Kalian pasti sangat sedih sehingga bisa memilih untuk menyibukkan diri seperti itu," ucap Aruna.
"Ketika kami sukses, kami langsung menyewa beberapa detektif untuk mencari Aubrey yang mungkin sudah berusia lima tahun, namun sampai sekarang detektif itu belum berhasil menemukannya!" ucap Sean.
"Semoga cepat ditemukan, Kak. Sedih aku mendengar kisahnya!" ucap Aruna.
"Terimakasih atas doanya!" jawab Sean. "Oh, iya. Malah curhat, ayo turun!" lanjut Sean yang kemudian mengajak Aruna untuk turun.
Sesampainya di dalam rumah Sean, Aruna langsung di ajak Moza untuk masak bersam dengan dirinya.
"Ayo, Aruna!" ucap Moza. Aruna melihat ke arah Sean dan Sean tersenyum padanya.
Sesampainya di dapur, Aruna dan Moza memotong sayuran sambil berbincang-bincang.
"Aruna, baru kali ini saya masak ditemani oleh seseorang!" ucap Moza.
"Saya juga, Tan!" jawab Aruna.
"Boleh tidak saya menganggap kamu seperti anak saya sendiri, Aubrey? Kamu mau gak anggap saya sebagai bunda kamu?" tanya Moza pada Aruna. Aruna menolaknya, karena ia tidak pantas untuk itu, "Tidak, Tan! Aku rasa saya tidak pantas menjadi anak tante, karena aku hanyalah seorang wanita biasa, sedangkan Tante adalah wanita yang sangat terpandang!"
"Semua mahluk dimuka bumi ini adalah ciptaan Tuhan dan di mata tuhan semuanya itu sama, tidak ada yang namanya perbedaan derajat, kamu adalah gadis pekerja keras dan kamu juga cantik, kamu sangat pantas menjadi putri di dalam keluarga Andara!" ucap Moza.
"Iya, itu benar!" ucap Andara yang tiba-tiba datang dan menghampiri Aruna dan istrinya. Sean yang juga tiba-tiba menghampiri mereka kemudian berkata, "Jika kamu bisa menganggap kakak adalah kakakmu, artinya ayah dan bundaku juga ayah dan bundamu!"
"Aku merasa sangat terhormat atas itu semua, tapi saya merasa tidak pantas!" jawab Aruna. Sean membujuknya, "Aruna, tolong kamu terima ya? Mereka ingin dipanggil ayah dan bunda oleh seorang gadis, mereka sangat merindukan Aubrey, bisakah kamu membantu mereka untuk melampiaskan kerinduan mereka pada Aubrey, melalui kamu!" Aruna terlihat menarik nafasnya karena ia bisa merasakan kesedihan mereka dan kemudian menjawab, "Baiklah!"
"Terimakasih!" jawab Andara dan Moza yang kemudian langsung memeluk Aruna. Aruna merasa jika Aubrey sangat beruntung karena keluarganya begitu menyayanginya. Namun, Aubrey juga sangat kasihan karena ia tidak dapat merasakan kasih sayang keluarganya dari bayi, karena ia dipisahkan sejak bayi dari keluarganya.
Siang hari kemudian, mereka selesai mempersiapkan semuany, sebenarnya tidak terlalu melelahkan karena acara tersebut hanya acara keluarga yang haya mengundang kurang lebih 15 orang.
"Aruna, terimakasih ya kamu telah membantu kami!" ucap Moza. Aruna menjawab, "Iya, Bunda!" Aruna kelepasan memanggil bunda pada Moza karena Aruna sudah merasakan kehangatan ada diantara mereka semua. Moza yang mendengar ia dipanggil bunda oleh seorang perempuan kemudian tersenyum lebar dengan mata yang berkaca-kaca karena merasa terharu dengan semua itu.
"Oh, maaf!" ucap Aruna yang telah sadar bahwa ia sudah memanggil Moza dengan sebutan bunda.
"Kenapa minta maaf? Bunda senang sekali dipanggil bunda olehmu, bunda seperti merasa telah bertemu dengan Aubrey!" ucap Moza.
"Coba panggil saya ayah!" pinta Andara yang juga ingin mendengar Aruna memanggilnya ayah. Aruna menuruti permintaan Andara, "Iya, Ayah."
"Keluarga khayalan, tapi terasa hangat dan bahagia, semoga seterusnya kamu bisa menganggap kami seperti keluargamu sendiri!" ucap Andara. Tak terasa, airmata haru dari Aruna jatuh, karena ia sangat bahagia dan tidak menyangka akan memiliki keluarga, meski hanya keluarga khayalan.
Tiba-tiba terdengar suara panggilan masuk dari ponsel Aruna yang merusak suasana bahagia dan hari itu, Aruna kemudian meminta izin untuk mengangkat panggilan tersebut.
"Hallo?" ucap Aruna.
"Kamu berani-beraninya membohongi suamimu sendiri ya? Aku tadi melihatmu, pergi dengan Sean dan masuk ke dalam rumah Sean, ternyata benar kalian ada hubungan yang lebih dari rekan kerja. Ternyata memang benar, kalian pasti sudah pernah tidur sebelum kamu menikah denganku, dasar jalang! Anak yang ada dikandunganmu itu adalah anak haram!" ucap Adrian yang menghina istrinya sendiri. Aruna mencoba menjelaskan semuanya, namun Adrian mematikan panggilannya.
"Kak Sean, aku izin pulang ya? Sepertinya Mas Adrian mengetahui jika aku ada disini dan dia pasti lebih salah paham lagi!" ucap Aruna.
"Darimana dia tahu? Iya sudah, kakak antar kamu ya, kakak tidak mau kamu disakiti oleh suami kamu!" ucap Sean. Arun menolaknya, "Tidak, Kak. Jangan! Mas Adrian akan lebih salah paham nantinya."
"Baiklah, tetapi nanti kalo Adrian marah dan kamu membutuhkan kakak untuk menjelaskan semuanya padanya, kamu hubungi kakak ya?" ucap Sean.
"Baik, kak!" jawab Aruna. "Bunda, Ayah! Aruna pergi ya, terimakasih untuk hari ini, terimakasih untuk kebahagiaan yang telah kalian berikan pada saya di hari ini, saya tidak akan pernah melupakannya!" lanjut Aruna yang pamit dan mengucapkan terimakasih pada Andara dan Moza.
"Sama-sama, Aruna!" jawab keduanya.