INAD 36

1210 Words

Triqi memperhatikan jendela kamarnya dengan tatapan kosong. Di luar sana gelap, tempat yang sangat cocok dengannya. Dia tidak akan merasa terbakar saat keluar kapanpun dia mau. Dia tidak akan dipandang aneh oleh orang-orang. Dan yang pasti, disini emosinya stabil hingga kecil kemungkinan kemampuannya akan lepas kendali di sini. Kastil itu sepi, namun Triqi lebih menyukainya daripada kota yang ramai. Matanya menatap kosong keluar, dia rindu ayahnya kini. Kakinya tanpa sadar membawanya ke ruangan gelap yang berisi satu peti mati mewah ditengahnya. Milik sang ayah. Yang sejak kecil hanya bisa dia pandangi tanpa bisa disentuh karena peti kaca itu terkunci dengan kekuatan kuat. Entah maksudnya untuk apa. Triqi sering menangis menumpahkan kesedihannya sampai tertidur disana. Sampai Georgio me

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD