61

841 Words

"Ekhem! Senyam senyum sendiri, sampai buka sepatu doang lama banget!" seru Ningsih mengejutkanku. Tanpa sadar, aku sudah berdiri di depan kos dengan bibir yang tak henti-hentinya menyunggingkan senyuman. Ini kah yang dinamakan mabuk cinta? Aku sampai tak sadar kaki melangkah, untung tidak kesasar. Ningsih sedang duduk di teras kosan dengan ponsel dalam genggaman. "Kirain pulang, Teh? Pagi-pagi udah gak ada," ucap Ningsih kembali. "Hehe, enggak kok. Tadi ada acara di tempat lain." "Acara apa, Teh?" "Santunan." Aku dan Ningsih bersama-sama menuju kamar. Ah, lebih tepatnya Ningsih membuntutiku. "Wah, seru tuh! Acara kampus, ya?" tanya Ningsih kembali. "Bukan. Acara grup hijrah." "Grup hijrah?" Ningsih tampak heran. Dia terus mengikuti ku hingga duduk di tepi kasur. "Ya, belakangan a

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD