Single Mom

1407 Words
Jam menunjukan pukul sepuluh lebih lima belas menit. Empat puluh lima menit lagi Alice menyelesaikan waktu belajar dan bermainnya di Sekolah. Ciara tidak begitu sibuk hari ini. Jam-jam seperti ini toko roti tidak begitu ramai. Biasanya toko roti akan ramai dijam-jam makan siang. Mungkin para pengunjung membutuhkan pencuci mulut setelah makan besar. Atau bisa juga malas makan besar dan lebih memilih mengemil roti. Ia sedang duduk memandang langit cerah siang ini. Senang sekali melihat langit cerah begitu. "Kak Ciara," Tiba-tiba seorang lelaki datang dengan pakaian seragam sekolahnya. Dengan membawa tas dipunggungnya. "Julio, kenapa sudah pulang?" Hyesul bingung. Padahal belum menunjukan jam pulang Julio. Tidak biasanya lelaki itu pulang cepat begini. "Sekolah ada acara. Jadi, semua murid dipulangkan, kak." Ciara mengangguk mengerti. "Oh iya. Bibi Lilis sedang pergi ke toko bahan-bahan roti. Makan siangmu sudah siap diatas meja makan." Ciara menyampaikan pesan yang tadi diamanatkan kepadanya dari bibi Lilis. Julio mengangguk mengerti. "Kak, boleh aku mengambil satu bakpao isi kacang merah?" Ciara tersenyum geli. Kemudian ia membuka rak berisi bakpao yang tersisa setengah. Setengah dari bakpao itu sudah diborong oleh seorang guru sekolah menengah. Katanya untuk memberikan muridnya. "Ini," ucap Ciara sambil memberikan satu bakpao berisi kacang merah kepada Julio. "Terimakasih, kak. Kau semakin cantik saja, kak." Ciara menggelengkan kepalanya. Lelaki itu segera lari masuk ke dalam rumah. Toko roti ini memang jadi satu dengan rumah bibi Lilis. Bahkan Alice sering sekali berada di Rumah bibi Lilis. Alicw sering menunggunya bekerja sambil bermain dengan Julio. Ciara bekerja dari pukul setengah delapan hingga pukul empat sore. Toko bibi Lilis tidak buka sampai malam hari. Ia takut rotinya tidak fresh lagi. Jadi, ia hanya buka sampai sore saja. "Permisi," Seorang wanita cantik masuk ke dalam toko roti tersebut. Dirinya terlihat tengah mencari sesuatu. Ciara segera mendekatinya. "Ada yang bisa saya bantu?" Ucap Ciara pada wanita itu. "Saya mau mencari roti tawar pandan. Masih ada?" Ciara mengangguk. "Masih ada. Tunggu sebentar." Ciara masuk ke dalam dapur. Kemudian mengambil satu bungkus berisi enam roti tawar berwarna hijau. Ia segera keluar dan masih mendapati wanita itu sedang memilih roti lainnya. Ada beberapa macam roti yang berada di nampan yang ia bawa. "Ini roti yang anda cari." Ucap Ciara sambil menaruhnya diatas meja kasir. "Oh, iya. Terimakasih. Ini sekalian saya mau membayar." Ciara mulai menghitung satu persatu roti yang dipilih oleh wanita itu. Kemudian memberikan jumlah harganya. Wanita itu memberikan uang kepada Ciara dan diterimanya. Setelah urusan wanita itu selesai, ia segera pergi meninggalkan toko roti itu. Kemudian Ciara melirik jam yang sudah menunjukan hampir pukul sebelas. Ia cemas jika bibi Lilis belum datang, siapa yang akan menjemput putrinya. Julio jelas tak bisa diandalkan. Lelaki itu justru malah memakan roti-roti ini. "Kenapa bibi Lilis belum pulang juga, ya." Hyesul cemas sekali rasanya. Wanita itu takut jika Alice menunggu terlalu lama. Rasanya tak tega membayangkan wajah Alice yang melihat terus ke arah jendela sambil mengharap kedatangannya. Namun, toko roti ini masih menjadi tanggung jawabnya. "Aku datang, Kak." Tepat waktu. Hanna, pegawai selain dirinya datang. Wanita berambut sebahu itu baru saja datang. "Aku sudah izin kepada bibi Lilis karena terlambat. Maaf, kak." Ciara tersenyum sambil melepas apron seragam yang ia kenakan. "Tidak masalah. Oh iya, aku harus menjemput Alice. Aku takut ia menunggu lama." Hanna mengangguk sambil mengenakan seragamnya. "Hati-hati dijalan, kak." Hanna umurnya lebih muda dua tahun darinya. Maka dari itu ia memanggil Ciara dengan sebutan kak. Ciara bergegas menuju sekolah Alice. Gadis kecil itu sedang bermain ayunan. Ia sedang berbincang dengan temannya sambil memangku buku cerita bergambar yang ia belikan minggu lalu. "Alice, ayo kita pulang." Alice segera membalikan tubuhnya dan menemukan ibunya sedang berdiri disana. Alice tersenyum kemudian berpamitan ala khas anak kecil kepada temannya tadi dan segera berlari menghampirinya. "Maaf, Alice jadi menunggu lama. Tadi bibi Hanna datangnya terlambat. Dan Nenek Lilis sedang membeli bahan-bahan kue." Ucap Ciara sambil mengambil tas punggung milik Alice dan memindahkannya ke punggungnya. "Tidak papa. Aku juga tadi masih bermain dengan Hani. Dia anak baru di Sekolahku, bu. Dia anak yang baik dan cantik." Ciara tersenyum. Seperti inilah kebiasaan Alice saat dijemput. Ia akan bercerita apa saja yang terjadi tadi di Sekolahnya. "Hani belum  memiliki buku, jadi aku berbagi buku dengannya." Ciara bangga dengan sifat sosialis tinggi yang dimiliki putrinya. "Anak baik. Tolonglah temanmu jika mereka membutuhkan bantuan." Alice mengangguk. Ciara membawa putrinya ke tempat kerjanya. Didapurnya ada sofa yang memang bibi Lilis siapkan untuk Alice beristirahat jika ingin berdekatan dengan ibunya. Bibi Lilis juga tak melarang jika Alice bermain dengan putra semata wayangnya. Sama-sama menjadi ibu tunggal membuat wanita paruh baya itu memahami kesulitan yang dialami oleh Ciara. Bahkan terang-terangan bibi Lilie mengaku mengagumi Hyesul. Wanita itu luar biasa hebatnya. "Alice, setelah kita sampai di toko roti,  Alice langsung makan siang minum obat dan istirahat, ya." Ucap Ciara memberitahu putrinya. Gadis kecil itu mengangguk. Mereka berjalan kurang lebih lima belas menit. Letak sekolah Alice tidak begitu jauh dari Toko Roti tempat Ciara bekerja. Ia memang sengaja mendaftarkan putrinya bersekolah disana. Terlebih sekolah itu juga bukan sekolah anak-anak menengah ke atas. Sebagian besar berasal dari anak-anak sederhana juga. Ciara segera masuk ke dalam toko roti melewati pintu samping. Toko roti sudah mulai terlihat ramai pengunjung. Jadi ia segera membawa Alice ke dapur. Menyiapkan makanan dan obat rutin putrinya. Setelah itu ia segera memakai seragam dan kembali melayani para pembeli. "Kak, kau sudah datang." Ciara mengangguk. Ia segera membantu Hanna membungkus roti para pembeli. Kemudian memberikan kepada pembeli jika sudah selesai dan Hanna yang akan menghitung jumlah dan harga roti itu. Mereka bekerja sangat giat. Melihat itu membuat Bibi Lilis bangga sekaligus haru. Tak hanya pada Ciara saja. Tetapi juga pada Hanna. Gadis itu bukan berasal dari keluarga mampu. Bahkan cenderung kurang. Ia tak mampu kuliah jadilah ia bekerja. Kemudian uang gajinya akan ia tabung untuk biaya kuliah. Bibi Lilis melihat Alice yang sedang lahap memakan makan siangnya. Disampingnya sudah ada s**u kotak rasa stroberi dan obat-obat yang jumlahnya tidak sedikit. Wanita paruh baya itu benar-benar iba pada Alice. Gadis kecil itu harus menanggung rasa sakit yang besar. Terlebih denga  kehidupannya yang tidak bisa dikatakan baik-baik saja. "Alice, kau boleh istirahat dikamar nenek. Tidur disofa membuat punggungmu sakit. Setelah ini pergilah ke kamar nenek. Atau jika Alice merasa sungkan, boleh juga istirahat dikamar kak Julio." Alice mengangguk. "Iya, nenek. Nanti saja, lagipula Alice belum mengantuk kok." Bibi Lilis mengusap puncak kepala gadis kecil itu. "Anak cantik." Ucap Bibi Lilis kemudian segera keluar menuju toko rotinya untuk membantu Hanna dan Ciara melayani pembeli. Tanpa sadar jam sudah menunjukan pukul empat sore. Roti-roti juga sudah hampir habis. Ciara membersihkan toko dan Hanna merapikan roti-rotinya dan memasukan kedalam. Mereka saling bekerja sama. Pekerjaan mereka cepat selesai. Ciarq sudah menyelesaikan tugasnya menyapu dan mengepel toko. Ia tersenyum memandang putrinya yang tengah tidur meringkuk disofa. Sebenarnya ia kasian jika Alice harus menunggunya bekerja setiap hari. Tapi ia juga tak tega dan khawatir jika meninggalkan Alice di rumah seorang diri. Tak tega membangunkan, Ciara menggendong tubuh mungil Alice dengan perlahan. Kemudian membawa tas punggung bergambar pororo milik Alice. Ia sudah mengganti seragam kerjanya dengan baju yang sama seperti ia berangkat dan menjemput Alice tadi. "Bibi Lilis, pekerjaanku sudah selesai." Bibi Lilis tersenyum dan berbicara dengan volume rendah takut jika membuat Alice bangun. "Hati-hati, Ciara." Ciara mengangguk. Ciara keluar dari Toko Roti. Langit berubah menjadi mendung. Perubahan cuaca cepat sekali. Tadi siang langit masih cerah, sedikitpun Ciara tak berpikir bahwa sorenya akan mendung begini. Ciara berjalan sambil menggendong Alice. Wanita itu sedikit kesulitan karena ia juga membawa tas milik Alice dan totte bag miliknya. Walaupun sulit, masih bisa mengendalikannya. Mereka sudah sampai rumah. Ciara menidurkan Alice diatas kasur berukuran sedang. Tidak begitu besar tetapi cukup untuk tidur mereka berdua. Tidak terasa sempit sekalipun. Ciara meletakan dua tas yang tadi dibawanya diatas meja. Kemudian ia beralih menatap Alice yang masih tertidur pulas. Perlahan ia melepas baju santai yang melekat pada tubuh Alice. Putrinya itu telah mengganti bajunya tadi saat ia sedang bekerja. Alice memang tidak begitu nyaman jika terlalu lama mengenakan seragam. Persis seperti Jeffrey yang akan langsung melepas kancing baju seragamnya jika pelajaran sudah selesai. Lelaki itu juga merasa tak nyaman memakai seragam terlalu lama. Alice dan Jeffrey benar-benar mirip. "Andai kamu ada disini, Jeff. Andai kamu mengetahui keberadaannya. Apakah aku dan Alice akan hidup seperti ini?" Ciara menghapus air matanya. Jika saja Nyonya Juana tidak memintanya pergi. Ia akan memilih tetap berada disamping Jeffrey. Tetapi, ia tak punya pilihan jika Nyonya Juana yang memintanya. Akhirnya dengan berat hati ia segera pergi meninggalkan Jeffrey. ♧♧♧
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD