Petir menyambar sejak tadi membuat Alice terbangun dari tidurnya. Gadis kecil itu mulai menangis karena ketakutan dengan suara gemuruh petir. Ia tak menemukan ibunya berada disebelahnya. Jadilah ia hanya bisa menangis ketakutan.
Gadis kecil itu berteriak memanggil ibunya. Ciara tak kunjung datang. "Ibu," Sekali lagi Alice berteriak bahkan suaranya lebih keras.
Mendengar sayup-sayup suara memanggilnya. Ia baru sadar bahwa Alice pasti bangun karena mendengar suara gemuruh petir. Alice takut hujan dan petir. Sama seperti dirinya. Sebenarnya, ia juga takut. Tapi, mau sampai kapan ia takut ketika tak ada orang lagi yang bisa jadikan tempat berlindung.
Ciara harus berani karena Alice akan meminta perlindungannya. Wanita itu berlari dengan segera. Meninggalkan aktifitasnya membersihkan piring-piring kotor. Ia baru sempat membersihkan rumah dimalam harinya ketika Alice tidur.
Alice sudah meringkuk dibawah selimut sambil memeluk boneka beruangnya erat-erat. "Ibu, disini, Sayang. Ayo tidur lagi. Ibu akan menemanimu." Ciara menghapus air mata Alice yang mengalir dipipinya.
"Ibu, aku takut sekali. Suara gemuruh itu membuat jantungku berdebar." Ciara memeluk putrinya sambil mengusap kepala gadis kecil iu dengan sayang. "Tak apa. Ada ibu disini." Pelukannya semakin mengerat.
"Rain rain go away, come again another day, Alice wants to sleep. Rain rain go away." Ciara menyanyikan lagu yang selalu ia nyanyikan untuk menenangkan Alice jika gadis kecil itu ketakutan akan hujan.
"Rain rain go away, come again another day, Alice wants to sleep. Rain rain go away." Ciara mengulang lagi nyanyiannya sambil memeluk Alice dan mengusap punggung gadis kecil itu.
Suara petir diam-diam juga membuat Ciara takut. Ia teringat beberapa tahun lalu, saat hujan deras mengguyur kota Jakarta. Ia tak bisa pulang kembali ke rumahnya. Ia terjebak di Apartemen Jeffrey.
Setelah jam sekolah berakhir, Jeffrey memintanya untuk membuatkan kue. Lelaki itu menyukai kue buatan Ciara. Wanita itu setuju membuatkan Jeffrey kue. Setelah membeli berbagai macam kebutuhan ia segera pergi ke Apartemen Jeffrey. Langit memang terlihat mendung saat itu. Dan tak berselang lama setibanya di Apartemen Jeffrey, hujan disertai gemuruh petir menyerang Jakarta.
Ciara tak mau membuat kue karena ia takut hujan. Jadilah, rencananya dan Jeffrey untuk membuat kue gagal. Mereka berdua hanya berbaring diatas kasur sambil berpelukan.
Jeffrey memeluk kekasihnya sambil mengusap punggung Ciara yang saat itu masih belia dengan lembut. Menenangkan kekasihnya bahwa tak perlu khawatir. Sebab, ia berada disana untuk menemai Ciara.
Ciara memeluk Jeffrey dengan erat sambil menyembunyikan wajahnya didada bidang lelaki itu. "Ciara, apa yang kau lakukan di rumahmu jika hujan deras disertai petir?" Tanya Jeffrey panasaran. Mengingat kekasihnya tinggal sendirian di rumah.
"Aku akan memeluk guling dan menutupi seluruh tubuhku dengan selimut. Akan menaruh kepalaku dibawah bantal pula. Aku takut mendengar suaranya." Jeffrey merasa tubuh gadisnya bergetar. Bersamaan dengan suara cetar dari petir. "Aku disini, Ciara. Tak perlu khawatir. Pejamkan matamu. Aku berjanji akan memelukmu seperti ini terus." Ciara merasakan kenyamanan.
Ciara menuruti ucapan Jeffrey dan memilih memejamkan matanya menuju alam mimpi. Ia tahu telah melakukan dosa dan kesalahan. Hanya saja, ia tak punya pilihan lain. Hanya Jeffrey yang ia punya.
♧♧♧
"Bangun, Jeff." Clayrine mengguncangkan tubuh saudara kembarnya itu. Lelaki itu masih tak bergeming ditempatnya. Ia benar-benar lelah bekerja semalaman.
"Astaga, Jeff. Aku bisa gila karena membangunkanmu begini. Kenapa sih kau sulit sekali untuk dibangunkan. Atau mimpimu lebih indah dari kenyataan?" Clayrine memang kerap kali berkata hal ketus pada kakaknya.
"Memang." Jawab Jeffrey singkat. "Aku bisa bertemu dengan Ciara. Menikmati wajah cantiknya. Bebas melepaskan rinduku padanya." Clayrine menghela nafas.
"Ibu pasti merasa bersalah jika mendengarmu terus mengucapkan kata-kata itu." Jeffrey mengangguk dengan mata yang masih terpejam.
"Aku pagi-pagi datang kemari untuk sarapan bersamamu." Clayrine tidur di rumah orang tua mereka. Jeffrey tak mengizinkan siapapun untu menginap di apartemennya. Ia mengizinkan sebenarnya hanya saja tak boleh ada yang menempati kamar yang ia kunci rapat-rapat. Sedangkan tak mungkin mereka tidur bersama.
"Pulanglah ke Paris, Clay. Kehadiranmu sangat menggangguku." Clayrine menaikkan sebelah alisnya. "Aku mengganggu katamu?" Clayrine sudah bernada tinggi.
"Hey, Jeffrey, ketika kau sakit beberapa hari yang lalu. Aku yang merawatmu. Lalu ini balasanmu padaku? Ciiih, benar-benar." Ucap Clayrine geram sambil memutar bola matanya.
"Aku tidak pernah memintamu merawatku. Biarkan saja aku begitu. Lalu aku akan mati dengan cepat." Clayrine memukul kepala Jeffrey cukup keras membuat lelaki itu segera membuka matanya lebar-lebar.
"Hei! Kau sudah gila? Dasar gila. Kau pikir jika kau mati semuanya selesai?" Clayrine menarik nafasnya dalam. "Kau masih memiliki banyak sekali tanggung jawab di Dunia, Jeff. Banyak sekali. Aku ingin mengatakan sesuatu padamu." Kembali lagi wanita itu menarik nafasnya dalam.
"Katakan saja kalau begitu. Ada apa? Kau punya pacar? Mau menikah? Atau apa?" Ucap Jeffrey yang kini sudah terduduk berhadapan dengan Clayrine.
"Tapi janji kau jangan membenciku jika aku menceritakan ini padamu." Jeffrey mengangguk. Diam-diam jantungnya berdebar. Pasti Clayrine juga akan mengejutkannya lagi seperti ibunya.
Clayrine terlihat gelisah dan kini memilih bermain dengan jemarinya. "Ada apa, Clay? Katakan saja. Aku tidak akan membencimu. Aku tahu kau, ini pasti ada sangkut pautnya dengan Ciara."
Clayrine membulatkan kedua matanya. "Kau tahu?" Jeffrey mengangguk. "Katakan saja. Sekalian saja aku terkejut mendengar cerita-cerita yang kau dan ibu sembunyikan." Diam-diam jantung wanita itu berdebar.
"Aku datang menemui Ciara sebelum wanita itu pergi." Clayrine melirik Jeffrey. Ingin mengetahui bagaimana reaksi lelaki itu. Lelaki itu menatap saudari kembarnya dengan rahang mengeras.
"Aku meminta maaf padanya. Aku bahkan memberinya sejumlah uang. Aku juga memberinya bunga mawar." Jeffrey masih mematung menanti Clayrine melanjutkan ceritanya. "Aku memintanya untuk memberikan kabar mengenai tempat keberadaannya yang baru."
Clayrine menarik nafas lagi. Ia juga bersalah pada kakaknya. Wanita itu merasa bersalah karena tidak memberitahukan perihal ini kepada Jeffrey. "Aku menunggu berjam-jam. Dan ia tidak memberiku kabar lagi setelah itu. Kau tahu, Jeff. Aku tidak tega melihatnya membawa tas besar dalam keadaan hamil begitu."
"Perutnya belum terlalu menonjol saat ia pergi. Tapi, kau tahu Jeff, tubuhnya terlihat lemah." Jeffrey sudah berkaca-kaca mendengar cerita Clayrine. "Kenapa kau tidak mengatakan hal itu padaku sejak dulu?" Tanya Jeffrey pada saudari kembarnya.
"Aku bingung harus memihak pada siapa. Aku tidak setuju dengan cara ibu. Tapi, aku juga tidak bisa membiarkan Ciara tetap berada disini." Clayrine mengusap air matanya. "Jakarta terlalu keras untuk Ciara. Kehamilannya diusia muda akan membuatnya dicemooh. Aku membiarkannya pergi. Aku percaya tempatnya tinggal nanti akan lebih baik."
"Kau tahu Ciara berada dimana?" Tanya Jeffrey. Ini pertanyaan penting. Clayrine menggeleng lemah. "Setelah kepergiannya, ia tak pernah mengabariku lagi." Ucap Clayrine menyesal.
"Kau memberinya uang dan ia bersedia untuk pergi? Atau dia hanya mau uangku saja?" Mendadak Jeffrey berpikir begitu. "Astaga! Tidak, Jeff. Dia benar-benar menyayangimu. Ia mengambil uang pemberian ibu hanya sebagian dan aku juga memaksanya menerima uang dariku. Ia tak punya banyak biaya untuk pergi. Jadilah ia terpaksa menerima itu."
Jeffrey mengusap wajahnya kasar. "Kau dan ibu, sama saja. Kalian jahat padaku. Terlebih pada Ciara. Kau berkata kau sahabatnya. Tapi, kau membiarkannya pergi begitu. Kau membiarkannya sendirian." Clayrine menangis. Menyadari bahwa ia juga jahat pada gadis malang itu.
"Aku mau menemukannya, Clay. Aku mau menemukannya." Ucap Jeffrey dengan nada lirih. "Tak perduli bagaimanapun keadaannya." Wanita itu mengangguk.
"Aku akan membantumu mencari kekasih dan anakmu, Jeff." Clayrine dan Jeffrey saling berpelukan. Walaupun sering bertengkar, mereka sangat dekat dan saling membantu satu sama lain.
♧♧♧