Bab 2

1003 Words
Di sisi lain Alena dan Jovan tengah menikmati semilir angin di tepian pantai, abaikan terik mentari yang menyengat tepat di atas kepala, dia hanya peduli dengan rasa sedih yang harus ditenggelamkan. Baginya sudah cukup untuk berlarut-larut, kini saatnya menjernihkan kembali pikiran keruh dalam kepala. "Aku tidak tahu harus berbuat apa, Jo. Tante Hasna memintaku menggantikan posisi Eve. Ini adalah hal terberat untukku," Alena mulai mengeluarkan unek-unek yang terpendam di kepalanya sejak kemarin. Dibiarkan rambut berwarna blonde itu tertiup angin hingga menutup sebagian sisi wajah. "Aku tahu itu, aku sudah mendengarnya sendiri." Alena spontan memutar kepala ke samping dan mengangkat tangan untuk menyelipkan rambut panjangnya di belakang telinga. Dahinya juga berkerut hingga membentuk beberapa garis lipatan. "Kamu tahu dari mana?" "Tante Hasna." Alena mengangguk sembari membulatkan bibirnya membentuk huruf O. Tidak heran jika Hasna turut mengatakan ini pada Jovan mengingat hubungan Jovan dengan keluarga itu juga sangat dekat. Ayah Jovan merupakan penasihat hukum yang bekerja pada Hasna. "Lalu bagaimana menurutmu?" tanya Alena merasa perlu pendapat. "Terima saja permintaan itu." "Yang benar saja?" "Alena, ini hanya untuk sementara waktu. Setidaknya juga dengan begini kamu bisa membayar hutang budi pada Tante Hasna. Dia banyak melakukan hal padamu, masa untuk memenuhi satu permintaannya saja kamu nggak mau?" Gadis itu lantas menghela napas, membawa kembali tatapannya pada hamparan air berwarna biru yang membentang luas tak terhingga. Sembari duduk di pesisir pantai dia pun menikmati debur ombak yang menghantam batu karang. Masih tertanam dengan baik dalam ingatannya, jika keluarga Morgan memang telah banyak berjasa selama ini pada kehidupan kakak beradik itu , tetapi haruskah dengan cara mengorbankan diri seperti ini, dirinya membalas jasa mereka? "Bukan nggak mau, tapi untuk menerimanya bagiku sangat mustahil, Jo. Mengingat kami nggak saling mencintai." "Tidak perlu rasa cinta untuk menyatukan dua raga dalam ikatan pernikahan. Lagi pula kupikir tidak ada cara selain dengan cara ini untuk membalas rasa terima kasihmu. Seandainya membayar dengan sejumlah uang pun tidak akan dapat menyetarakan bantuan mereka padamu." Tidak dapat dipungkiri ia sedikit membenarkan ucapan Jovan jika hutang budi tidak akan pernah cukup jika dibalas dengan sejumlah finansial. "Jadi, menurutmu aku harus menerima permintaan itu, ya?" "Tentu saja iya. Kamu sadar tidak, Tante Hasna datang untuk meminta bukan menawarkan, jadi bukankah kamu tidak ada pilihan untuk menolak?" Alena kembali tertegun, bibirnya terbungkam dan tatap matanya kini beralih tertuju pada jari-jari kaki telanjang yang tersapu oleh buih. "Sungguh bagiku ini sangat rumit. Ya Tuhan ... seandainya saja Eve masih hidup, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini. Aku tidak mungkin terlibat dalam pernikahan yang sama sekali tidak aku kehendaki. Kenapa dia harus pergi meninggalkan keadaan yang seperti ini padaku?" "Sttts ... tidak baik berkata seperti itu. Takdir lebih berhak memutuskan dibanding keinginan manusia itu sendiri. Percayalah! Jika Eve bisa meminta, dia pun tidak ingin mati dalam waktu cepat , apalagi menjelang pernikahannya. Sudahlah, terima saja! Kecelakaan maut yang menimpa Eve bukan serta merta terjadi begitu saja, semuanya tidak lepas dari skenario Tuhan. Paham kan?" Alena bergeming tidak lagi menimpali apa pun ucapan Jovan. Seakan memahami apa yang dirasakannya, Jovan membawa telapak tangannya menyentuh punggung Alena dan mengusapnya perlahan, dan berkata, "Sudah. Tidak perlu khawatir. Lagi pula Tante membutuhkanmu hanya dalam kurun waktu sebentar. Kamu akan dilepas ketika sudah waktunya." Alena mengangguk meski skeptis. Mencoba menerima permintaan Hasna dengan lapang d**a, acuan saat ini adalah dia melakukan hal ini demi membalas rasa terima kasih pada wanita itu. Maafkan aku, Ve. Aku tidak bermaksud seperti ini padamu, percayalah jika Morgan akan tetap mencintaimu meski ia menikahiku. **** Usai membicarakan ini dengan Jovan, Alena tidak ingin mengulur waktu lebih lama, dia tahu Hasna sedang menunggu jawabannya saat ini juga, mengingat pernikahan yang terselenggara hanya tinggal menunggu besok, ia gegas bertandang ke kediaman Morgan. Kebetulan sekali dia langsung bertemu dengan Hasna di sana. Dengan suka cita, Alena disambut oleh Hasna dan langsung digiring untuk duduk di bangku taman belakang. Sapuan angin senja yang berembus begitu dinikmati olehnya. "Diminum dulu, Sayang." Alena melihat ada teh hangat dan beberapa kue yang terhidang di atas meja. Dia menjadi tidak enak karena dijamu seperti ini, padahal tujuannya datang tidak untuk berlama-lama selain hanya memberikan jawaban semata. Tetapi lihat! Betapa effort-nya Hasna menyiapkan ini semua. Tidak ingin membuat Hasna kecewa, Alena meraih gagang cangkir lalu mendekatkannya dengan permukaan bibir. Aroma khas teh langsung menyapa indera penciumannya. "Bagaimana? Apa kamu sudah menyiapkan jawabannya?" Alena mengarahkan tatapan selagi menyesap teh itu. "Sudah, Tante. Aku sudah membawa jawabannya," sahutnya kemudian kembali meletakkan cangkir di tempat semula. "Ah, bagus. Jadi, apa jawabannya? Kamu mau?" Sebelum memberikan jawaban, Alena sempat menatap lekat sepasang netra yang penuh binar. Tercetak jelas banyak harapan di bola mata tersebut. Memendar Alena tidak tega jika harus menolaknya. Ia mengangguk kecil meski dalam hatinya masih sangat keberatan. Entahlah. Dia hanya percayakan segalanya pada takdir tentang bagaimana kisahnya di masa mendatang. Bukankah Jovan mengafirmasi jika tidak ada sesuatu yang kebetulan dan menyimpang dari skenario? Yang artinya, semua yang dilewati di masa lalu, sekarang, besok dan seterusnya adalah narasi yang Tuhan tulis dalam suratan takdir? "Aku bersedia, Tan." "Syukurlah, Tuhan. Makasih banyak, Alena... makasih." Alena sedikit terkesiap ketika tubuhnya tiba-tiba saja direngkuh oleh Hasna. Paham jika apa yang dilakukan Hasna adalah bentuk gerakan reflek karena terlampau senang. "Sama-sama, Tante." Alena pun tidak segan membalas pelukan tersebut. Tersenyum tulus di balik punggung wanita yang telah banyak berkontribusi pada hidupnya yang penuh kemiskinan ini. "Kamu tahu, Tante tidak sabar menunggumu menjadi bagian dari keluarga ini. Rasa bahagia ini tidak bisa diungkap dengan kata-kata, Len." Tanpa diketahui ada sepasang mata berwarna cokelat terang memperhatikan interaksi kedua wanita berbeda generasi itu. Kenapa mereka kelihatannya jauh lebih dekat dan akrab di banding dengan Evelyn. Mama tidak pernah memeluk Eve seperti itu. Apa sebenarnya Mama lebih menyukai Alena alih-alih Eve? Sekejap, Morgan mengamati cukup saksama dua wanita itu lalu tidak lama kepalanya menggeleng pelan, sedang berusaha mengenyahkan pikiran yang tidak seharusnya datang mengganggu dan berusaha menghasutnya. Dalam keadaan masih berkabung, dirinya tidak boleh membuat perasaan mudah goyah. Apa pun keadaannya, Morgan harus mempercayai jika yang terjadi merupakan kehendak Tuhan yang kuasa. Tidak mungkin kematian Evelyn ada hubungannya dengan Mama?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD