bc

Perkawinan Rekayasa Tuan Muda

book_age18+
105
FOLLOW
1.8K
READ
contract marriage
HE
second chance
arranged marriage
decisive
bxg
city
lies
secrets
like
intro-logo
Blurb

Demi mencapai tujuan merebut kembali takhta, Morgan harus tetap menikah meski telah kehilangan calon mempelainya yakni;dengan menikahi calon adik ipar sesuai keinginan sang ibu, lantas bagaimanakah kehidupan mereka setelah terjebak dalam perkawinan yang tidak sama-sama menginginkannya? Dan apakah usai menikah, tujuan utama Morgan akan tercapai?

chap-preview
Free preview
Bab 1
Alena menjatuhkan tubuh–bersimpuh–di lantai ketika di depan mata, ia melihat jasad sang kakak terbujur kaku dalam balutan kain kafan. Wajah yang biasa dihiasi oleh senyum sumringah kini membiru dan pias mengenaskan. Alena sempat berharap banyak jika ini hanyalah sebuah mimpi buruk belaka, tetapi fakta menyadarkan dirinya bahwa apa yang disajikan di hadapannya merupakan sebuah peristiwa nyata. Seluruh persendian serasa remuk redam tidak berdaya. "Kenapa kamu harus pergi secepat ini? Kenapa kamu ninggalin aku, Ve?" ujar Alena cukup lirih. Kesedihan sedang benar-benar dirasakannya kali ini dan kehilangan Evelyn sama halnya dengan kehilangan separuh jiwanya. "Kenapa harus seperti ini pada akhirnya?" Ditundukkan kepala dalam-dalam sembari tergugu pilu. Alena tentu tidak bisa menerimanya dengan lapang d**a. Rasa sakit terasa amat besar karena harus kehilangan satu-satunya orang yang disayangi, satu-satunya tempat dirinya pulang dan satu-satunya wadah berkeluh kesah. Selagi menunduk, kedua bahunya bergetar hebat sebab dipicu oleh isak tangis yang tidak lagi bisa dibendung. "Maaf karena aku belum sempat membuatmu bangga. Maaf aku belum bisa membahagiakanmu." Serupa rasa rapuh yang dialami Alena, ada Morgan yang duduk bersila di atas karpet, pria itu tengah meratapi nasib bagaimana dengan pernikahan mereka setelah ini. Harapan untuk merenda masa depan dalam sebuah ikatan sakral pupus dan hancur berserakan dalam waktu sekejap. Bagaimana mungkin di dalam detik-detik menuju hari bahagia, semua berubah menjadi hari penuh duka. Tatapan pria itu sayu dan kian hampa tak ubahnya seorang yang sedang putus asa. Morgan menghela napas panjang untuk beberapa kali guna mengenyahkan rasa sesak yang bergelayut dalam rongga d**a. Netra berwarna coklat terang pun enggan beralih dari sosok wanita yang saat ini tak bernyawa. "Eve ..." Hatinya menjerit pedih. Tidak lama setelahnya pria itu bergegas meninggalkan ruang utama yang terisi penuh oleh para pelayat, memilih menjauh untuk menepi sejenak. Sungguh, Morgan tidak kuasa berada dalam situasi rumit yang sekarang mendera. Kepalanya menengadah guna menatap awan. Berbanding terbalik dengan hatinya yang kelabu, awan itu terlihat begitu cerah dengan sinar mentari hangat. Dalam diam, Morgan bertanya-tanya, mengapa dia mengalami semua tanpa sebuah kesiapan? Seandainya saja dia tahu bagaimana isi daripada takdirnya, mungkin dirinya akan menghapus bagian skenario yang tidak ingin dilalui atau mungkin saja menyiapkan diri agar tidak serapuh ini saat Evelyn berpulang ke pangkuan Tuhan. Ya Tuhan ... Kenapa harus sesakit ini rasanya kehilangan? Jika memang takdirku kehilangan Eve, tolong jangan buat rasaku terombang ambing seperti ini! *** Malam harinya! Di kediaman Morgan. "Mama ingin bicara, Morgan." Morgan berdecak lalu membunuh cepat bara rokok yang sedang dihisapnya, dan membuang sembarangan. "Aku sedang ingin sendiri, Ma. Tolong jangan ganggu aku!" Bukan tanpa alasan dirinya menolak untuk bicara dengan sang ibu, pasalnya usai pemakaman Evelyn dilakukan, Hasna sempat mengatakan sesuatu yang membuat Morgan tidak habis pikir. Bisa-bisanya. "Nggak bisa! Kita harus bicarakan ini secepatnya!" "Masih ada besok," sahut Morgan apatis. Sama sekali tidak berminat membahas tentang apa pun karena ia benar-benar kalut. "Mama maunya malam ini, dan detik ini juga. Tidak dengan besok maupun lusa. Ini penting bagi kita." Apa yang bisa Morgan lakukan selain hanya bisa pasrah dengan keinginan Hasna. "Oke. Mau ngomong apa?" sahutnya usai menghela napas lelah. "Masih dengan topik yang sama. Kita belum sepakat untuk diskusi kita tadi sore. Karena itu, ayo! Kita selesaikan pembicaraan yang belum selesai tadi." Morgan tersenyum kecil, sudah benar dugaan yang ada di dalam kepala, wanita yang telah melahirkannya tiga puluh tahun itu hendak membahas perihal yang tidak ingin dibahasnya sama sekali– Pernikahan. "Aku memutuskan lebih baik membatalkan saja pernikahan ini daripada harus menikahi Alena. Itu benar-benar nggak etis." Morgan membuat keputusan final, tetapi tidak serta merta diterima dengan baik oleh Hasna. Wanita itu seakan gigih mempertahankan pernikahan meski tahu mempelai wanitanya sudah tidak ada. "Kenapa nggak etis? Toh, status Alena dan Evelyn hanya sebatas adik kakak angkat tidak lebih. Jadi, nggak ada yang namanya nggak etis." Morgan berbalik badan kemudian menyadarkan pinggang pada besi pembatas yang berada di balkon utama. Laki-laki itu benar-benar bingung dengan bagaimana cara membuat sang ibu menyerah dan menerima keputusannya. "Bisa hargai keputusanku? Yang menjalani biduk rumah tangga nantinya adalah aku. Dengan menikahi calon adik iparku adalah sesuatu yang mustahil, Ma." "Tidak ada yang mustahil di dunia ini, Morgan. Ingat kan, pernikahan ini bukan hanya sekedar membangun hubungan, tetapi ada tujuan lain di dalamnya. Persetan sekali dengan siapa kamu menikah, yang terpenting statusmu nanti bisa kamu gunakan untuk senjata." Morgan mengatup mulutnya rapat-rapat. Ia menelan dengan susah payah air ludahnya sendiri ketika dihadapkan oleh polemik yang cukup pelik. Menikah = Merebut tahtanya dari seorang wanita kedua ayahnya. "Haruskah dengan Alena? Coba Mama pikir, selain diriku apakah dia menerima ini semua? Jangan memaksa kehendak orang yang tidak mau melakukannya," ucapan Morgan terhenti ketika netra Hasna menatap tajam figurasi Morgan. "Mama akan membuatnya setuju dengan permintaan ini. Sama seperti Mama yang akan terus mendesakmu menikahinya." "Ma ..." "Enough, Morgan! Tolong bantu Mama kali ini! Hanya kamu yang bisa menolong Mama. Haruskah Mama bersimpuh untuk membuatmu membuka pikiran dan menerima permintaan ini?" Morgan menarik napas lalu membuangnya kasar. "Apakah nggak ada opsi lain?" "Nothing. Pilihan hanya ada satu, menikah walau bukan dengan orang yang kamu cintai atau membiarkan Perusahaan Mama benar-benar jatuh ke tangan wanita jalang itu? Ingat bagaimana dulu kita tersingkirkan bagai seonggok sampah?" Morgan mengeratkan rahangnya, tangannya terkepal kuat pada sisi tubuh masing-masing. Kalimat terakhir sang ibu, membuat Morgan seperti dipaksa mengingat kepingan masa kelam di masa lalu. Masa-masa di mana kehidupannya mulai tidak baik-baik saja semenjak kedatangan wanita kedua sang ayah. "Baiklah aku setuju memenuhi permintaan Mama." Morgan Aliandra Acosta merupakan seorang putra dari pengusahawan tersohor bernama Mario Acosta. Tetapi sayangnya meski memiliki darah dari pengusaha hebat, Morgan tidak serta merta berbangga diri, sebab semua itu dipicu dari kasus perselingkuhan yang dilakukan Mario dengan perempuan muda beranak satu. Wanita itu digadang-gadang adalah cinta pertama Mario saat masih duduk di bangku SMA. Seketika itu, pandangannya kepada sang ayah berubah seratus delapan puluh derajat dan ia mulai tidak senang jika dikait-kaitkan dengan ayahnya lagi. Morgan kecil sangat membenci figur ayahnya sendiri, untuk itu dirinya memusuhi pria tersebut. Lalu lambat laut seiring terbunuhnya waktu, kebencian semakin bertambah ketika Mario mengumumkan di depan keluarga jika perusahaan yang dibesarkan bersama Hasna, ingin diakuisisi untuk diserahkan kepada istri barunya sebagai hadiah pernikahan kedua Mario. Morgan saat itu merasa sangat marah dan tidak segan mengamuk tentu saja karena dirinya tidak terima dengan usulan itu. Meski belum sepenuhnya mengerti apa itu arti warisan tetap saja Morgan marah karena merasa jika hak ibunya terancam. Tetapi alih-alih menanggapi kemarahan Morgan yang membabi buta di sana, Mario justru menjawab secara gamblang jika perusahaan akan diberikan padanya jika usia Morgan sudah cukup dan sudah menikah. "Aku akan datang membawa duka untukmu, Pa. Sudah cukup selama ini aku mengalah padamu, maka kali ini tidak akan lagi," gumamnya lirih.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

TERNODA

read
199.4K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.9K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
15.4K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
31.5K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.4K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
71.7K
bc

My Secret Little Wife

read
132.5K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook