Love To Hate (Lord Davis)

1352 Words
Seharusnya pagi itu Davis dapat kembali bertemu dengan wanita yang berhasil mencuri hatinya, bahkan mungkin lebih dari itu ia bisa mengenalinya lebih jauh lagi dengan perbincangan-perbincangan selama berkeliling Norwich. Ia bahkan melewatkan malam hari kemarin dengan mengabaikan pelayan wanita yang dikirim James ke kamarnya hanya untuk memikirkan seberapa serunya perjalanan esok pagi dengan Nathaline. Satu harapnya bahwa Nathaline bukanlah wanita yang sama seperti wanita-wanita yang sering ia temui. Dan benar, Nathaline memang berbeda. Diantara banyaknya wanita yang memanfaatkan Davis setelah mengetahui identitasnya sebagai pria bengis, alih-alih yang diilakukan wanita itu malah menjauh tidak ingin berada dalam lingkaran seorang Davis. Davis bersyukur sebab Nathaline sedikit berbeda dengan wanita lain, namun juga kecewa dalam waktu bersamaan sebab Nathaline tidak ingin mengenalnya lebih dulu sebelum memutuskan menjauh—kendati satupun memang tidak ada yang pantas untuk dipertimbangkan dari dirinya. Namun pria berengsek pun tidak ingin mendapatkan wanita yang berengsek, itu sebabnya ia perlu Nathaline Owen sebagai penyeimbangnya. Sedikit banyak Davis pun merasa dicurangi sebab yakin James memprovokasi Nathaline untuk membencinya. Hanya saja untuk berselisih dengan lelaki tua itu hanya akan membuat dirinya semakin buruk di mata Nathaline. Itu sebabnya pagi itu pula Davis lebih memilih untuk kembali ke Burlington. Sesampainya di Burlington ia langsung di hadapkan dengan Arthur yang membawa setumpuk dokumen di tangannya, “hamba bertemu Earl of Norwich pergi ke Hamilton tiga hari lalu, sang Earl mengenali hamba dan kami berbasa-basi di sekitar pelabuhan tanpa tahu apa yang ia lakukan disana. Sampai hamba mengutus seorang pelayan untuk mengikutinya, dan mengatakan bahwa Earl of Norwich memberi uang pada Duke of Hamilton dan menjanjikan tanah di Desvonshire yang sebagiannya adalah milik anda sesuai kesepakatan kalian tempo hari.” “Aku mulai mencurigainya sejak ia mengajukan proposal bisnis,” Davis mengusap-usap dagunya, seraya memutar-mutar kursinya kerjanya ke kanan dan kiri. “Lantas mengapa anda menyetujuinya?” tanya Arthur heran. “Ia menjanjikan sesuatu yang tidak bisa aku tolak,” ungkap Davis, tatapannya masih mengarah pada dokumen-dokumen kerjanya saat ini, berusaha santai sebab mungkin dengan ini ia bisa lebih mudah mendapatkan Nathaline. “Perkuat buktinya, aku akan meminta apa yang telah ia janjikan padaku,” perintah Davis, namun Arthur tampak tidak setuju sebab Earl of Norwich tidak boleh dibiarkan bergitu saja tanpa sebuah tuntutan hukum. “Tapi hamba rasa Earl of Norwich telah melakukan tindakan kriminal, ia harus menerima hukuman, Your Grace. Belum lagi hamba curiga kenapa sang Earl memberikan perjanjian ‘apabila ia terbukti berkhianat’ seolah sejak awalpun ia memberimu petunjuk bahwa ia tidak sungguh-sungguh dalam hal ini.” Davis tampak berpikir sesaat, “bukti apa yang kau punya saat ini? bawa kemari dan siapkan kereta untuk kepergian kita ke Norwich.” Kepergian Arthur kembali membuat Davis larut akan segala kemungkinan terburuk tentang Nathaline dan perjanjian mereka. Sungguh Davis benar-benar telah jatuh hati pada wanita itu, jika sampai James Owen tidak menepati janjinya lagi ia akan menarik paksa Nathaline untuk ikut dengannya. Davis benar-benar sungguh gila saat ini, ia mangabaikan seberapa banyak ia dirugikan dalam nominal hanya untuk memikirkan seorang Nathaline, sebab kemungkinan besar James akan mengkhianati perjanjian untuk ke sekian kalinya. Beberapa menit berlalu akhirnya Arthur kembali tiba dengan beberapa dokumen pendukung mereka untuk mengungkap pengkhianatan James Owen terhadap mereka. Tanpa basa-basi lagi Davis meraih mantel serta topinya dan pergi menuju Norwich setelah baru saja ia kembali dari tempat itu beberapa jam lalu. Kereta kuda mereka baru sampai di halaman mansion James Owen setelah mentari terbenam. Davis banyak melamun selama perjalanan, padahal mungkin saja ia bisa beristirahat di dalam keretanya sendiri selama perjalanan. Sungguh ini tidak seperti Davis yang biasa berbuat santai namun tegas dalam eksekusi, alih-alih ia terlihat begitu memusingkan diri hanya untuk menangani seorang James Owen yang bukan apa-apa baginya. Davis kembali menginjakan kaki di halaman mansion sang Earl, dengan penuh percaya diri ia melenggang masuk tanpa bantahan pengawal sang Earl yang bisa menahan tamu-tamu yang datang saat petang menjelang. James terlihat heran saat Davis tiba-tiba saja masuk ke dalam mansionnya, kali ini ada aura berbeda yang James rasakan pada Davis dibanding kemarin malam. Ini benar-benar sisi dari diri Davis yang menakutkan, dan James harus menerima hinaan ketika Duke of Burlington ini melempar dokumen tanda tangan antara James dan Duke of Hamilton yang berhasil direbut Arthur bahkan sebelum Davis memerintahnya, dan itu membuat Davis sangat bersyukur mempekerjakan seorang Arthur. Keringat dingin mulai membasahi pelipis sang Earl, metode yang dipakainya tidak pernah gagal dalam mengelabui para bangsawan. Namun jelas itu sangat bodoh jika ditujukan pada seorang Davis, seperti sengaja ingin bermain-main dengan singa yang kelaparan. “Apa pembelaanmu?” tanya Davis, ia bahkan sama sekali tidak ingin basa-basi atau sekadar duduk sesaat. Ia menarik sebuah senjata api dan memeriksa peluru di dalamnya. Ini bukan pertama kalinya ia melakukan hal seperti ini untuk memberi pelajaran pada para pengkhianat, jadi jangan pernah menganggap Davis tidak akan tega melakukannya pada James. “A…aku—“ “Ayah!?” belum sempat James menjawab, Nathaline tiba dengan berlarian dari lantai atas. Davis gamang sejemang, ia menyurak rambutnya ke belakang dan hanya mampu memperhatikan apa yang akan dilakukan wanita itu saat melihat ayahnya akan ditembak seorang pria bar-bar yang sudah tergambar dalam benaknya bahwa Davis adalah pria bengis yang ditakuti banyak orang. “Apa yang anda lakukan, sir?” tanya Nathaline keheranan, ia melingkarkan tangannya pada tangan sang ayah seolah akan melindungi pria tua itu dari Davis. “Tanyakan pada ayahmu,” dan Davis mulai muak untuk bersikap sok manis, amarahnya hampir meledak saat tanpa James ketahui Davis melihat seringainya saat sang puteri tiba untuk melindunginya. “Apa yang terjadi, ayah?” tanya Nathaline dengan sorot manik penuh kekhawatiran. “Tidak ada, sayang. Mari kita bicara sebentar.” James memberi isyarat pada Davis untuk memberi waktu mereka bicara berdua, dan Davis hanya menggedikkan bahunya lantas pergi menghampiri sebuah sofa yang berada disana sembari menunggu mereka. “Aku tidak ingin menikahinya!!” jerit Nathaline, refleks Davis menoleh ke arah mereka berdua yang berbicara cukup jauh darinya. James meminta Nathaline untuk mengecilkan suaranya, lalu mereka kembali berbicara dengan pelan namun dengan gesture Nathaline yang demi Tuhan membuat Davis penasaran sebab Nathaline terlihat sangat emosi—apa sebegitu tak pantasnya ia bagi seorang Nathaline? “Maafkan aku, sir. Tapi dengan sangat amat menyesal aku tidak bisa menerimamu, sebab—“ “NATHALINE!!” James berteriak pada puterinya, bukan ini yang James inginkan keluar dari mulut Nathaline. Ia ingin Nathaline berpura-pura menyetujuinya agar James selamat setidaknya sampai bisnis dengan Duke of Hamilton sukses dan mampu menginjak-injak Davis yang ia pikir telah merendahkannya. “Aku akan membujuknya, Your Grace.” Lagi-lagi Davis harus menahan emosinya yang ingin sekali memukul James hanya karena ia berharap akan ada kesempatan untuk dirinya bersama Nathaline setelah ini. Entah rencana apa yang ia coba lakukan, namun Davis sungguh ingin mencabiknya ketika menyadari ada perubahan sikap yang mencolok dari James saat Nathaline tiba dan saat ia selesai berbicara dengan Nathaline. James terlihat gusar, ia merasa telah salah mengelabui seseorang. Dan yang menyulitkan baginya ialah Nathaline yang tidak ingin bekerja sama dengannya, padahal jelas jika Nathaline mau mengikuti perintahnya maka kemenangan akan ada pada dirinya. Kendati jauh di lubuk hatinya ia juga tidak ingin menyerahkan puterinya pada seorang pria seperti Davis, namun kehendaknya sang puteri memiliki pola pikir serupa dengan dirinya. Dan sekarang James harus memutar kembali otaknya untuk merubah kembali susunan rencana dalam menjatuhkan Davis dan memerasnya. Sedangkan Davis, kembali pulang ke Burlington dengan sia-sia. Arthur memaki tuannya dalam hati sebab telah kehilangan jati dirinya dan tidak bisa bersikap tegas dalam menangani seorang James Owen saja, namun ia tidak punya hak untuk membantah apa yang menjadi pilihan Davis jika masih menyayangi nyawanya sendiri. Beberapa hari pun berlalu, Davis masih meminta orangnya untuk menyelidiki Earl of Norwich lebih dalam, bahkan Davis menyuruh sepuluh orangnya untuk memantau semua gerak-gerik James di mansionnya. Hal itu membuat mansion James Owen dipenuhi oleh orang-orang suruhan Davis dan membuatnya sulit untuk keluar sedikitpun. Hingga satu minggu kemudian sebuah surat tiba dari Norwich. Dalam surat tersebut James berjanji akan membujuk puterinya. Namun berkali-kali pula Davis pergi ke Norwich dan hanya mendapatkan tatapan dingin Nathaline, hal itu semakin membuat Davis kecewa dan sakit hati sebab ia mampu menangkap adanya keterpaksaan dari Nathaline—an tiap kali Davis menawarkan Nathaline untuk tinggal di Burlington, tiap kali pula ia mengatakan lebih baik mati daripada ikut dengannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD