First Meet (Lord Davis)

1698 Words
Lord Davis, sering kali mendengar sebutan si bengis tersemat untuk dirinya. Jelas bukan tanpa alasan, ia sendiri mengakui dirinya yang penuh ambisi dan bertempramen buruk. Entah berapa banyak bisnis yang jatuh ke tangan dirinya dengan cara yang ilegal, ia juga cukup keji dalam mengadili seseorang yang melakukan suatu kejahatan. Ia sama sekali tidak memiliki seorang teman dalam hidupnya. Satu dua orang mungkin hanya memanfaatkannya, seperti yang ia sadari His Majesty berdiri dipihaknya untuk mendapatkan keuntungan bagi kerajaan dan tahta yang ia duduki. Para pelayannya hanya takut, para gentleman sebayanya hanya berpura-pura sok baik,dan para wanita bangsawan yang hanya ingin mendapatkan status sebagai isteri dari pria tampan, kaya raya, dan tidak mampu terkalahkan. Lord Davis benci dengan kehidupannya yang seperti ini, namun sukar pula menjadi rendah hati dan mangasihani manusia-manusia yang berlagak seperti manusia. Lord Davis benar-benar seperti ini karena kemarahannya terhadap dunia, terhadap takdir, serta manusia-manusia munafik yang menganggap dirinya tokoh protagonis dalam hidup ini. Bisa ditangkap betapa bencinya ia pada siapapun atau apapun di dunia ini? untuk memilih orang kepercayaannya dalam mengatur parlemen pun ia akan menguji hingga berkali-kali tahapan, sampai ia menemukan seorang Arthur yang berkepribadian seperti dirinya. Namun tetap saja hubungan mereka benar-benar se-kaku atasan dan bawahan, kendati Arthur sendiri sudah bekerja padanya bertahun-tahun silam. Segala opininya, gambaran mengenai manusia dan dunia benar-benar gelap dalam pikirannya. Itu semua membuatnya berpikir untuk tidak pernah mengambil isteri sah dan hanya bermain dengan wanita-w***********g, atau para lady yang haus belaian tanpa dipersunting olehnya. Citranya memang sudah buruk, ia tidak peduli surat kabar memberikan berita bahwa dirinya telah menghamili seorang wanita bangsawan, toh keluarga wanita itupun tidak akan berani meminta pertanggung jawabannya, atau sekadar melabraknya sebagai pria berengsek. Salahkan saja puterinya yang mau saja ditiduri pria bar-bar seperti dirinya, kenapa percaya dengan omong kosong pria macam Lord Davis. Tiga diantara wanita yang ia hamili berakhir bunuh diri, itu membuatnya benar-benar tidak memiliki anak haram satupun. Serta mungkin beberapa wanita lain yang tak sampai mengandung benih darinya—entah berapa jumlahnya. Namun menurut surat kabar yang beredar wanita-wanita yang terakhir kali menemani tidurnya merasa sakit hati dan kecewa sebab Lord Davis selalu menyebut nama wanita lain di malam panas mereka, penulis surat kabar itu memberi inisial nama si wanita dengan huruf N.O. Banyak yang menduga bahwa N.O adalah puteri semata wayang Earl of Norwich seperti banyak kabar yang beredar di Burlington bahwa, Lord Davis tidak pernah tinggal di mansionnya dan mengerjakan tugasnya sebagai seorang Duke untuk melakukan p*********n ke Norwich. Kabar itu dipertegas ketika sang tuan terlihat begitu murka setelah menerima surat undangan yang datang dari Rutland atas pernikahan sang duke dengan puteri Earl of Norwich bernama—Nathaline Owen. Dibalik citra buruknya, dibalik sebutan Lord yang bengis, atau lebel pria b******k dikalangan para wanita—Lord Davis masih memiliki hati, dan hanya ia pergunakan saat bertemu Nathaline Owen saja. Saat itu Lord Davis melihat James Owen sebagai tipikal pria seperti dirinya, penuh ambisi, dan nafsu menggebu terhadap jabatan dan uang. Bagi dirinya berbisnis dengan seseorang yang memiliki ambisi dan usaha yang tinggi akan mendatangkan kesuksesan dimasa depan. Tuan dari Norwich itu bahkan memberikan puterinya sebagai jaminan apabila ia mengkhianati perjanjian, disana sang Earl hanya melihat Davis sebagai pria mata keranjang, dan Davis memang hanya berniat memakai puterinya satu kali dan mengelabui sang Earl setelahnya. James Owen mengundang dirinya untuk makan malam di Norwich, namun karena satu dua hal Davis melewatkan undangan tersebut dan baru bisa mengunjungi mansion James Owen seminggu kemudian. Hari itu mereka benar-benar tidak dalam keadaan siap untuk menerima tamu penting dari Burlington, bahkan Davis hanya datang seorang diri—ia mengaku hanya karena bosan di mansion dan berkuda seorang diri ke Norwich. James saat itu benar-benar merasa terhina sebab undangannya merasa tidak dihargai, alih-alih sang Duke pergi kesana hanya karena rasa bosan yang mengganggunya. Davis kira pergi ke Norwich akan menghilangkan rasa bosannya, namun James malah mengajaknya makan malam berdua dan itu sungguh membuatnya ingin mengutuk pria tua itu. Yang Davis inginkan saat itu ialah menemui puteri dari James, lalu diberikan kesempatan memasuki kamarnya dan bersenang-senang disana. “Sepertinya kau kemari untuk menemui seseorang, Your Grace?” sindir James, setelah mendapati Davis hanya memotong-motong daging dalam piringnya tanpa ia santap sedikitpun. Davis berdehem, ia melempar garpu dan pisaunya hingga mengeluarkan bunyi nyaring diatas piring, “kau tidak akan menolak keinginanku, bukan?” “Tapi perjanjian kita tidak seperti itu, aku akan memperkenalkannya denganmu hanya apabila aku tidak mampu membayar setengah lagi dari modal yang aku pinjam. Kedua, aku akan membiarkanmu menikahinya apabila aku telah terbukti berkhianat.” James memperingati lagi isi penting dari surat yang mereka berdua tanda tangani bersama. Saat itu James mengajukan modal sama banding, setengah dari Davis dan setenah darinya. Namun James berdalih ia diserang perompak di jalan saat akan membeli lahan dan berton-ton bibit yang ia beli dicuri perompak tersebut, Davis tanpa curiga memberinya dana kembali dan James berjanji akan mengembalikan dana yang itu, apabila ia tidak memenuhi janjinya tersebut, ia akan memberikan puterinya pada Davis untuk memuaskan hasratnya. “Baiklah, jadi aku kemari hanya untuk mendapatkan ini.” Davis berdecak kesal. “Aku akan menyiapkan kamar tamu terbaikku untukmu menginap malam ini, Your Garace.” Mendengar penuturan sang pemilik rumah membuatnya kembali berdecak, “aku yang akan memilih kamarku sendiri,” Davis beranjak, refleks James pun beranjak dari kursinya ingin mencegah Davis agar tidak seenaknya di mansionnya. Namun James urung menahannya ketika Davis memandang tajam seolah ingin membunuh pria tua di hadapannya itu. Davis berjalan melalui beberapa pelayan milik James, ia tak bergeming, tubuh tegapnya menjauhi ruang makan dan berjalan ke lantai atas seraya bersiul seolah ia adalah pemilik mansion tersebut. Seorang pelayan wanita menunjuk beberapa kamar yang semua di cek oleh Davis—bukan mencari mana yang paling nyaman atau paling luas, namun ia mencari keberadaan puteri semata wayang dari pria tua pemilik mansion ini. Davis terhenti ketika Ia melihat ruang perpustakaan yang terbuka, ada seorang wanita di dalam sana tengah berusaha meraih sebuah buku pada rak yang paling atas. “Aku akan memakai kamar yang barusan, tolong beritahu James satu jam lagi bahwa aku ingin beer, dan kirimkan seorang pelayan wanita muda ke kamarku,” ucap Davis tanpa mengalihkan pandangannya dari sosok wanita cantik yang kesulitan meraih sebuah buku. Setelah pelayan wanita itu pergi, Davis mendekat ke arah perpustakaan. Dari dalam sana sang puteri dari James Owen—Nathaline Owen, menyadari ada seseorang yang menghampirinya. Sesaat setelah Davis menemukan manik kebiruan itu menatap ke arahnya, ia menyadari untuk pertama kalinya ia menghadapi seorang wanita tidak hanya dengan nafsu sexsualnya, namun dengan hatinya. “Ada yang bisa kubantu?” ini adalah pertanyaan pertama kali pada seorang wanita yang ia lontarkan dengan tulusnya. Nathaline mengambil langkah mundur dan membungkuk hormat, wanita itu tidak mengetahui siapa pria di hadapannya namun ia paham bahwa pria ini bukan pria sembarangan. “TIdak, saya akan merepotkan anda,” ujar Nathaline, dan ucapan itu cukup membuat Davis sekali lagi jatuh hati. “Buku yang ini?” tanpa basa basi Davis meraih buku yang tadi hendak dibawa oleh Nathaline dengan begitu mudahnya. “Kurasa ini buku mengenai psikologi, bukan novel, nona—“ ucapan Davis mematung, sengaja ingin tahu siapa wanita ini dari mulutnya sendiri. “—Nathaline Owen,” sambung Nathaline. Davis tampak berpura-pura kaget, ia menarik bukunya kebelakang dan memberi hormat pada puteri semata wayang sang Earl dengan meraih tangannya untuk dikecup. “Senang bertemu denganmu, Milady,” kali ini Davis berucap sembari menyodorkan buku yang Nathaline butuhkan tadi. “Senang bertemu denganmu. Apa kau rekan bisnis ayah?” tanya Nathaline, dan Davis mengangguk membenarkan. Ia juga mengatakan akan bermalam di mansionnya hari ini. Beberapa detik berlalu dengan keheningan, mungkin Nathaline menunggu Davis berpamitan untuk beristirahat, sedangkan Davis memikirkan bagaimana caranya untuk bisa berlama-lama disana. “jadi apa kau menyukai sesuatu tentang psikologi, Milady?” “Ya, aku tidak terlalu sering membaca, namun kali ini agak penasaran tentang psikologi manusia. Apa kau merasa bahwa manusia memiliki kepribadian yang unik-unik?” tanya Nathaline dengan polosnya, ia beranjak memunggungi Davis dan duduk pada sebuah sofa. “Memang setiap orang memiliki kepribadian yang berbeda-beda,” Davis membenarkan ucapan Nathaline, namun jauh dilubuk hatinya ia merasakan suasana saat ini adalah impiannya sejak kecil dulu, dimana seseorang mampu berbicara santai padanya tanpa ketakutan dan berakhir dengan mengeluarkan ucapan-ucapan terbata—sungguh itu sangat tidak nyaman. “Benar, sekarang apa aku boleh menanyakan sesuatu dari perspektifmu, sir?” apa-apaan ini, Nathaline sangat handal mencairkan suasana dengan orang baru atau dirinya terlalu polos untuk itu? yang jelas Davis kaget dengan sikap seorang Nathaline. “Apa arti kehidupan menurut orang baik?” apa yang wanita ini lakukan? sungguh Davis tidak habis pikir pertemuan pertama mereka malah membicarakan sesuatu selayaknya kawan bertemu kawannya. Namun Davis tidak ingin menghentikan perbincangan mereka. “Mmm..menurut orang baik, kehidupan mungkin sesuatu seperti timbal balik, sama halnya seperti mereka seorang tani. Mereka merasa jika mereka menanam benih yang baik, mereka akan menghasilkan kebaikan dari sana untuk masa depannya.” Mendengar itu membuat Nathaline tersenyum senang, dan tanpa sadar hal sekecil itu telah menghangatkan kembali hati Davis yang dingin. “Kita memiliki pemikiran yang sama, sir!” seru Nathaline senang, “sekarang apa arti kehidupan menurut seseorang yang melakukan segala cara demi sebuah ambisi dalam dirinya?” Davis rasa ini pertanyaan yang tepat untuk dirinya, “bagi mereka hidup adalah bekerja seorang diri. Tidak ada yang bisa dipercaya kecuali dirimu sendiri. Dan di dunia ini untuk bertahan hidup saja tidak cukup kau harus memiliki sesuatu, untuk sesuatu. Kau harus melepas satu untuk mendapatkan satu.” Sungguh saat itu Nathaline tertegun akan setiap jawaban dari Davis, ia berniat untuk lebih mengenal Davis setelah malam itu, sebelum seorang pelayan memberitahunya bahwa hari sudah mulai larut dan sang Lady harus segera pergi ke kamarnya. “Milady, bisakah kau menemaniku berjalan-jalan di sekitar sini esok pagi?” tanya Davis sebelum ia membiarkan Nathaline kembali ke kamarnya, sedangkan Nathaline hanya membalasnya dengan sebuah senyuman seraya membungkuk hormat sebagai tanda berakhirnya percakapan dan ia harus pergi. Namun ketika Davis menunggunya keesokan paginya, Nathaline tidak pernah datang menemuinya pagi itu. Menurut kabar dari seorang pelayan, semalam sekembalinya Nathaline dari perpustakaan James mendatangi kamarnya dan memberitahu siapa sebenarnya pria yang bermalam di mansionnya semalam. Kendati Nathaline pada awalnya menolak untuk percaya sebab Davis terlihat seperti pria baik-baik dan sopan terhadapnya, namun beberapa surat kabar mengenai desas-desus serta skandal dari Burlington akhirnya membuat ia mengenali seperti apa seorang Davis—hanya dalam satu malam.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD