Destroy The Portal

1424 Words
Atmosfer menegangkan berkumpul dalam satu ruangan, dua orang pria saling melempar pandangan aneh satu sama lain sampai si pelayan pembawa minuman pergi dari ruangan tersebut. Demi tuhan, jika tidak terlalu membutuhkan Lord Morris tidak akan mau repot-repot memgundang pria itu kemari, sebab jelas gestur tubuhnya menandakan ia tidak mau beramah tamah dengan si pemilik rumah. Duke dari Burlington itu berdecak meremehkan sebab hanya disajikan secangkir teh di hadapannya. "Aku jauh-jauh kemari hanya untuk diberi teh?" ia menjatuhkan tubuhnya dalam sandaran sofa, bola matanya memutar jengah dengan situasi yang tampak tidak menghargainya. "Ini tradisi kami di pagi hari," tutur Lord Morris, dan si pria pemilik kulit agak gelap itu membentuk huruf 'O' dari mulutnya. "Kau tidak punya whisky?" lanjutnya. "Kami tidak meminum itu di pagi hari. Jika kau mau, aku akan meminta pelayan membungkuskan beberapa botol untukmu." Lord Davis, si bengis itu tertawa nyaring di hadapan Lord Morris. "Your Grace, kau mempermalukanku. Hahaha, sepertiga tempat tinggalku adalah tempat penyimpanannya. Seberapa tinggi harga whisky mu jika harus ku bawa pulang dan menjajarkannya bersama koleksi minumanku?" "Kalau begitu kau tidak perlu minum whisky murahan disini, minumlah yang tidak ada di mansionmu." Lord Morris mengangkat secangkir tehnya lantas berlaga melakukan sulangan sebelum meminumnya. "Jadi apa yang membuatmu ngirim surat undangan padaku? apa akhirnya kau akan menyerahkan isterimu padaku?" Lord Morris menyunggingkan sebuah senyuman manis, ia menaruh cangkirnya lantas mengangkat kakinya menumpang pada satu kaki lainnya. "Terima kasih karena telah mencintai isteriku, alih-alih takut kau curi, aku merasa rasa itu juga telah melindunginya. Jadi aku berterima kasih. Terima kasih juga karena mau repot-repot datang ke mansionku yang murahan ini, kutahu kau tidak sembarang menerima undangan." "Menjijikan, tolong jangan basa-basi lagi. Ohh ya, lagipula aku tidak merasa melindungi isterimu, aku hanya berusaha mengambil apa yang seharusnya menjadi miliku" ucap Lord Davis, sungguh ia tidak merasa melindungi Nathaline, justru bagi wanita itu Lord Davis lah pengganggu kehidupannya. "Dan dengan seluruh koneksi yang kau punya, mustahil kau tidak mampu mempenjarakan ayahnya. Kau lebih fokus merebutnya—sesuatu yang kau katakan seharusnya menjadi hakmu itu, alih-alih mengungkap seberapa b***t ayahnya." Lord Davis mengadah seraya tertawa terbahak-bahak atas ucapan Lord Morris, "kau baru saja membicarakan mertuamu." "Dan aku mengatakannya dengan sadar," singkat Lord Morris. "Yang lucu disini, kau mati-matian melindunginya dariku kemarin. Kau tahu yang menyulitkanku mengadilinya adalah dirimu? sebab kau berdiri di pihaknya, dan sebab yang lain adalah puterinya. Sekarang kau seolah mengakui serigala berbulu domba itu berbahaya," tawa Lord Davis terdengar lagi. "Kau dan dia hampir tidak ada bedanya," sindir Lord Morris. "Setidaknya aku tidak pernah berpura-pura bahwa diriku baik. This is me, with my bad temperament and ambition." Lord Morris beranjak dari sofa, "harus kuakui bahwa aku juga tertipu olehnya, aku telah mengalami banyak kerugian juga. Banyak yang kupikirkan sebelum mengundangmu kemari. Meski ragu, sebab ia memang orang tua dari wanita yang kucintai juga, namun tetap harus ada harga yang dibayar atas apa yang diperbuat." Lord Morris mengambil tumpukan berkas di meja kerjanya, lantas menyodorkannya pada Lord Davis. "Aku mengundangmu tidak lain untuk memperkuat bukti ke pengadilan. Sungguh, kita tidak bisa membiarkan kebiasaannya ini menelan lebih banyak korban lagi. Dan entah apa jadinya jika Nathaline mengetahui hal itu." Lord Davis mengamati berkas-berkasnya. Metode yang digunakan James Owen itu sama ketika mengelabuinya, hanya saja perjanjiannya dulu dimulai dari sebuah bisnis. "Sungguh aku muak pada pria tua itu," ungkap Lord Davis. "Aku berjanji akan membawanya kepengadilan, kau hanya perlu memberi buktimu dan berdiri dipihakku." Sebelah alis Lord Davis terangkat, tampak pasrah dan ikut saja alurnya. "Nathaline, ngomong-ngomong bagaimana keadaan wanita itu sekarang?" "Masih sama seperti terakhir kali kita melihatnya di lubang kecil dalam ruangan tak terpakai di belakang mansionku." Lord Davis hanya mampu mengusap kasar wajahnya, tidak habis pikir apa yang terjadi pada Nathaline. "Jujur, aku kaget ketika kau menghentikan penyeranganmu saat itu hanya karena melihat Nathaline tidak sadarkan diri. Baru tahu kau ternyata secinta itu pada isteriku." "Kurang ajar, dan kau tidak bisa melindunginya. Siapa tahu di lubang itu ada roh jahat yang membawanya." "Tidak logis, Nathaline kekurangan oksigen." "Hingga koma? seharusnya kau—" ucapan Lord Davis terhenti sebab terdengar ketukan dari luar. Lord Morris mempersilakan seseorang di luar sana untuk masuk, dan sosok Anna bersama wanita yang tidak dikenali olehnya masuk hendak mengatakan hal penting demi kesembuhan Nathaline. *** Jonathan menyadari tidak ada perbedaan persfektif mencolok manusia dari masa ke masa, perbedaan itu hanya terdapat pada teknologi dan fashion yang berkembang seiring perkembangan jaman, selebihnya manusia memang gila harta. Ada yang mengatakan bahwa seorang pria muda harus berhati-hati akan nafsu seksualnya, setelah berumur mereka harus berhati-hati akan kehausannya pada pangkat dan jabatan. Ironinya wanita sebaik Nathaline Owen yang malah memiliki ayah yang tidak mampu menahan itu semua. Seberapa hancurnya perasaan Nathaline saat mengetahui ayahnya ternyata sumber dari penderitaannya selama ini—Jonathan sudah mampu membayangkannya. Nathaline jelas berbeda dengan sang ayah kendati ia tidak banyak mengenal wanita bangsawan ini, namun jelas tutur bahasanya tidak seapatis orang-orang yang merasa punya segala. Ia hanya wanita lemah yang memiliki kecemasan berlebih dan tidak tahu jalan pulang, Jonathan menolongnya karena jauh di lubuk hatinya ia kehilangan sosok Peony Powell yang selalu mencari perhatiannya. Ia hanya menginginkan Peony Powell kembali pada tubuhnya dengan selamat, lantas sukar jika harus mengaku menyukainya. Jonathan terduduk di samping ranjang seraya memandang redup pada sosok Nathaline yang terbaring di ranjang tersebut. Satu jam yang lalu selepas menulis catatan untuk Jonathan Mason ia datang kemari dan hanya mampu memandang penuh prihatin pada sang Duchess. Nathaline begitu mirip dengan Peony Powell, terkadang ia merasa bahagia berada di samping Nathaline. Hanya saja, dimensi yang berbeda memang mengharuskannya hanya menyukai satu wanita, jika Jonathan Mason hanya menyukai Nathaline Owen, maka ia hanya menyukai Peony Powell—semirip apapun mereka. Terbersit ingatan saat berada di ruang kerja Lord Morris, ucapan mengejutkan baginya yang sukses membuatnya hilang kata dan tidak tahu harus mengambil pilihan seperti apa. "Apa bisa kau membahagiakannya untukku—jika kulepas dirinya.?" Jonathan menunduk, meraih tangan putih nan halus sang Duchess lantas menciumnya cukup lama. "Nath, Jonathan Mason sangat mencintaimu. Kamu mau tinggal dengannya? jika kamu mau kembalilah pada tubuhmu dengan selamat, dan kembalikan Peony Powell padaku." Setetes air mata yang jatuh membuktikan seberapa dalam ucapan Jonathan kali ini. "Nathaline tidak mencintaiku, atau mungkin ia bahkan tidak pernah menyukaiku. Ia masih memperkenalkan nama belakang ayahnya setelah menjadi isteriku, aku bahkan belum pernah menyentuhnya meski aku ingin. Kebahagiaan di sisinya adalah kebahagiaan yang semu. Sampai pagi tadi kelancanganku akhirnya membuktikan segalanya. Ia mencintaimu, Jonathan, begitupun dengan kau. Kalian saling mendamba dan menginginkan satu sama lain." Jonathan mengetahui sesal dan kesal yang tercipta jelas dari raut wajahnya. "Tumpukan kertas curahan hatimu, sajak-sajak cinta, surat-surat berbalas ungkapan kerinduan yang kau simpan dalam sebuah kotak di bawah ranjangmu—aku telah membaca semua. Aku ingin memakimu, memecatmu, mengusirmu dari pandanganku, bahkan ingin sekali aku menghabisi nyawamu saat aku membacanya. Itu semua bisa aku lakukan jika aku mau, tapi aku akan terlihat semakin menyedihkan, egois, memaksakan perasaan orang lain agar menyukaiku. Itu bukan lah diriku. Selagi aku bisa terima, pergilah bawa Nathaline bersamamu. Penuhi kebahagiannya untukku, aku bisa menjamin kehidupan kalian jika alasanmu tidak mampu memberinya kecukupan materi." Demi tuhan, ia baru mengetahui alasan kotak di bawah ranjang itu tidak dikunci sebab ternyata telah di buka paksa oleh Lord Morris, jelas Jonathan Mason tidak mungkin seceroboh itu menyimpan barang rahasia. Sekarang, Jonathan tidak tahu apa yang akan Jonathan Mason lakukan jika mendengarnya tadi. Pria itu pasti dalam kebimbangan, itu sebabnya ia menulis catatan rahasia dari Jonathan abad 21 reinkarnasinya setelah kematian. Mungkin akan sedikit membantu kendati akan sulit Jonathan Mason pahami, namun Jonathan abad 21 inginkan kebahagiaan Jonathan Mason bersama Nathaline dan dirinya bersama Peony Powell. Derap langkah kaki disertai bising di luar sana membuat Jonathan mengalihkan pandangan pada pintu kamar Nathaline. Cukup sudah larutnya akan kerinduan pada Peony dan memikirkan nasib Jonathan Mason beserta Nathaline. Ia beranjak, menghampiri pintu dan membukanya. Samar-samar ia mampu mendengar suara seorang wanita di lantai bawah yang terdengar sedikit panik. "Ruangan kosong itu harus segera kita hancurkan agar Her Grace segera kembali," ucapan itu terdengar seiring langkah cepat beberapa orang lainnya. Jonathan mendekat, melihat dari atas sana Lord Morris, Lord Davis, bersama dua orang wanita lainnya yang berjalan menuju ruangan aneh di mansion ini. Jonathan baru mengingat, Nathaline pernah bercerita bahwa terakhir kali ia berada di Rutland adalah pada saat peperangan dan ia bersembunyi di ruangan itu. Satu yang mampu Jonathan sadari adalah kemungkinan terhubungnya ruangan tersebut dengan mesin kuno sialan di tangan Jimmy. Jonathan merasa ia harus mencegah mereka menghancurkan ruangan tersebut, namun pukulan keras di pundaknya tiba-tiba membuatnya kehilangan kesadaran.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD