Suasana semakin memanas dari pihak Kyai Abdullah hanya diam tidak ada yang berani berucap. Hal ini membuat Habib Ahmad semakin geram.
"Kenapa tidak ada yang berani menyanggah kesimpulan saya? Apakah fakta itu benar yang diucapkan adik ipar saya ini Kyai Abdullah?" tanya Habib Ahmad memecah keheningan
"Saya pun tak bisa mengelak karena itu memang kenyataannya." balas Kyai Abdullah
"MasyaAllah sekali ya. Semua tertutupi dengan rapi tidak ada yang tahu padahal Kyai Abdullah sendiri adalah ulama tersohor." imbuh Habib Ahmad
"Maaf, Bib. Saya dan suami memang menutupi semua dan ini atas kemauan saya. Keluarga pastilah akan menanggung malu tatkala anaknya yang baru menikah seminggu kemudian menikah kembali dengan wanita lain."
"Wow. Saya tidak menyangka dalam waktu satu Minggu menikah sudah poligami."
flashback
Hari pernikahan antara Agus Abdullah dan
Ning Shema sudah tersebar seantero Bandung dan Jogja. Di kediaman Ning Shema yang terletak di Sleman sudah dipenuhi dengan hiasan bunga dan kursi kursi untuk acara nanti siang selepas sholat jumat. Keluarga serta mas dan mbak pondok hilir mudik menyiapkan persiapan hajat besar pengasuh Pondok Al Barokah.
Sementara itu, Agus Abdullah merasa tidak tenang seolah-olah pernikahan ini ada yang tidak menginginkannya. Ia merasa ada yang menunggunya. Tetapi fikiran itu ditepis langsung oleh Gus Abdullah. Keluarganya sudah sangat menantikan momen bahagia ini. Bersanding dengan keturunan Pondok Pesantren Al Barokah yang tersohor membuat kebanggaan tersendiri untuk dirinya dan keluarga.
Pernikahan itu berlangsung dengan meriah. Acara diadakan hingga larut malam karena tamu tak henti hentinya datang. Seluruh pemilik pondok di pulau jawa diundang dalam perhelatan akbar bertajuk Al Barokah mantu.
Setelah acara usai kedua mempelai dipersilahkan keluarga untuk beristirahat tentunya dengan segala godaan dari keluarga baik sesepuh maupun yang muda.
"Ya sudah Ning mari masuk."
"Nggih Gus."
"Udah nikah kok manggilnya masih Ning sama Gus yang lain dong ayang gitu." celetuk Gus Nayef kakak dari Ning Shema
"Njenengan ampun ngoten to mas mesakke buku nganten anyar isin." balas istri Gus Nayef
Seisi ruangan pun tertawa menanggapi gurauan pengantin lawas itu. Sedangkan kedua mempelai yang masih mengenakan baju pernikahan tersebut menunduk malu dan bergegas ijin ke kamar
"Hhhmmm Ning kulo atau antum duluan yang mandi?"
"Njenengan riyen mawon, Gus. Kulo siapke rumiyen keperluan e njenengan."
"Nggih Ning kulo tenggo ten kasur sekalian tidur sebentar nggih."
Ning Shema langsung menyiapkan keperluan Gus Abdullah. Usai menyiapkan keperluan suaminya Ning Shema bergegas membangunkan beliau. Selepas keduanya bebersih tidak ada percakapan yang mereka lakukan. Tidak ada malam pertama yang seperti saudara-saudara perempuannya ceritakan. Ia mau berharap apa dengan pernikahan paksa ini. Ia cukup tahu bahwa suaminya terpaksa menikahinya.
Enam hari selepas acara kehidupan kedua mempelai tampak masih seperti malam pertama pernikahan. Keduanya berbicara seperlunya saja dan berperilaku layaknya suami istri didepan keluarga. Hari ini adalah acara boyong manten. Dua Keluarga tampak sibuk mempersiapkan acara. Di Jogja keluarga Ning Shema sudah bersiap sebelum subuh untuk berangkat ke Bandung.
Malam ini, perkenalan Ning Shema dengan keluarga besar Gus Abdullah serta persiapan untuk acara hari berikutnya yang akan dihadiri oleh 2000 undangan serta dimeriahkan dengan penampilan para santri Karen bertepatan dengan acara milad pondok.
Sementara itu, diluar pondok ada seorang wanita dengan bayi tampan di gendongannya. Ia meminta ijin untuk menemui Gus Abdullah. Sudah terhitung seminggu dia bolak-balik ke pondok untuk menemui Gus Abdullah. Ia tahu dari percakapan kedua satpam pondok kemarin bahwa Gus Abdullah akan tiba hari ini dari Jogja. Karena tak mendapatkan ijin dari satpam ia memilih pergi dengan tangan kosong. Tetapi di belokan g**g dia melihat ada bak terbuka pengangkut sayur yang akan masuk ke pondok. Ia tak punya pilihan lain supaya bisa menemui Gus Abdullah. Bayi dalam gendongannya seakan mengerti keadaan ibunya. Bayi itu tak menangis sedikitpun sehingga ketika melewati gerbang pondok ia lolos.
Setelah dia turun dari bak terbuka tersebut dia turun dan pergi mencari rumah Gus Abdullah. Setelah lima menit berjalan dia melihat acara meriah yang di adakan di depan ndalem Gus Abdullah. Tanpa pikir panjang ia langsung menemui Gus Abdullah yang menjadi pemilik hajat malam itu.
"Mas Ula." teriak wanita itu
Seketika pandangan semua orang beralih ke wanita itu tak terkecuali kedua mempelai. Semua terheran melihat wanita yang tak mengenakan jilbab itu yang bisa lolos masuk ke area pondok. Gus Abdullah tampak terkejut dengan kedatangan wanita itu.
"Kamu siapa? Kenapa kamu bisa masuk ke pondok saya?" tanya Umi Fatimah ibunda Gus Abdullah
"Saya Safa Andreson dan saya kesini mau menemui Mas Ula."
"Ula siapa yang kamu maksud? Disini tidak ada yang namanya Ula."
"Dia yang ada diatas sana. Itu adalah Mas Ula dan dia adalah ayah dari bayi saya."
"APA." beo semua orang disana
Ning Shema yang mendengar penuturan wanita itu langsung tak sadarkan diri tapi dengan sigap Gus Abdullah langsung membopong Ning Shema untuk diajak ke ndalem. Tetapi sungguh sayang aksinya tersebut digagalkan oleh kakak iparnya yang langsung merebut Ning Shema darinya.
"Kau urus wanita itu! Adikku biar aku yang urus." ucap Gus Nayef penuh emosi
Umi Fatimah tak kuasa menahan dirinya. Ia limbung di pelukan suaminya. Ia berusaha tetap kuat dan sadar untuk mengetahui hukuman apa yang akan diberikan suaminya.
"Abdullah bin Husein Al Wahid kemari dan jelaskan kepada Abi." tegas Kyai Husein
"Abi ampuni Abdul. Kulo ngaku salah Abi."
"APA! Jadi ini semua benar? Sungguh Abi tak menyangka mempunyai anak seperti ini kelakuannya. Kamu Abi didik dengan ilmu agama yang bagus sedari kecil tapi itu semua tak menjamin. Berdosa sekali memiliki anak seperti kamu!"
"Ampun Abi ampuni Kulo. Saestu Niki terjadi bukan karena keinginan kami. Kulo kaliyan Safa mboten sengaja mabuk Abi dan setelah kejadian itu Kulo mboten menemukan Safa."
"Kamu memcoreng nama baik keluarga dan Abi tidak terima itu. Sekarang ceraikan Ning Shema dan pergilah dari sini! Abi tidak mempunyai anak sepertimu. Tidaklah pantas putra seorang Kyai mabuk bahkan dia sampai berbuat zina."
"Saya setuju dengan Kyai karna saya tidak mau adik saya dimadu. Tidak ad sejarah keluarga Bani Misbah poligami atau dipoligami." imbuh Gus Nayef yang datang dari ndalem.
"Gus ampun ngoten. Kulo nembe seminggu mbenjeng nikah kaliyan Ning Shema. ("Gus jangan seperti itu. Saya baru seminggu kedepan nikah dengan Ning Shema.")
Gus Nayef hanya diam tak berniat menanggapi Gus Abdullah. Sungguh malang nasib Gus Abdullah. ia bergegas menemui Abi nya lagi yang berniat pergi dari tempat acara yang telah gaduh itu.
"Mboten Abi ampun. Pripun acara besok Abi. Kulo ngaku salah dan Kulo siap di hukum dan bertaubat."
"Acara besok akan tetap berlangsung tapi setelah itu kamu ceraikan Ning Shema. Dan setelah acara malamnya persiapkan dirimu untuk hukuman cambuk. Selepas hukuman itu kamu nikahi dia dan pergi dari sini."
Semua tercengang dengan keputusan Kyai Husein.
"Bi nopo mboten kelewatan?"
"Lebih kelewatan mana dengan kelakuan anak kesayangan Umi itu! Abi hanya menjalankan hukuman yang berlaku buat dia. Abi tidak mau wanita sebaik dan Sholehah seperti Ning Shema mendapatkan laki-laki b***t seperti anak Umi."
"Mari semua bubar dan beristirahat karena besok adalah hari panjang untuk kita semua.
Semua orang pun bergegas untuk beristirahat selepas instruksi dari Kyai Husein
***
Gus Abdullah bergegas menemui Safa. Sungguh ia tak menyangka kejadian itu membuahkan benih dan sekrang bayi mungil itu ada dihadapannya.
"Kamu kenapa baru mencari ku sekarang, Fa! Keluarga ku baru berbahagia tapi kenapa kau renggut semua!" marah Gus Abdullah
"Kamu gak tahu yang aku alami Ula. Aku diusir dari rumah dan hidup sebatang kara dengan belas kasihan orang. Aku kerja serabutan serta sebagian uang ku sisihkan untuk modal menemui kamu. Bahkan untuk lahiran saja aku dibantu seorang nenek tua yang berprofesi sebagai dukun bayi."
"Aagggghhhh"
"Maafin aku karna aku gak tahu ternyata kamu sudah menikah dan sekarang malah menjadi kacau. Sebaiknya aku pergi saja daripada aku menghancurkan acara besok."
Selepas beberapa langkah Safa pergi Ning Shema bergegas mengejar dan memberhentikan wanita itu.
"Tunggu.... kamu jangan pergi dulu." teriak Ning Shema
"Maaf saya harus pergi dan maaf saya menghancurkan hari bahagia kamu. Seharusnya saya tidak ada disini."
"Sudahlah semua sudah terjadi. Kalaupun mau disesali tidak ada gunanya juga dan sekarang lebih baik kita perbaiki semua. Beristirahat di dalam dulu kasian bayimu kedinginan. Angin malam tidak baik untuk bayi nanti bisa sakit."
Ning Shema berlaku lembut seolah tidak terjadi apa-apa. Safa layaknya tamu yang harus ia muliakan. Terbuat dari apa hati wanita baik ini Ya Allah.
"Ning, apa maksud sampen?"
"Gus njenengan nopo mboten mesakne? kasian loh adek bayine. Kulo taseh gadah ati amargi Kulo niki wong wadon kan bakale dados calon ibuk. Seharuse njenengan perhatian terlebih Niki bayine sampean." ('Gus kamu apa gak kasihan? Kasihan loh adik bayinya. Saya masih punya hati karena saya adalah perempuan dan akan menjadi seorang ibu. Seharusnya anda perhatian terlebih ini adalah bayi kamu.")
"Ning ampuni garwone sampen niki. Hukum Kulo sak karepe njenengan. Tapi ampun ngeten Niki, Ning." ("Ning ampuni suami kamu ini. Hukum saya semau kamu. Tapi jangan seperti ini, Ning.")
"Ngapunten Kulo pamit rumiyen, Gus. Mangkih wonten mbak ndalem ingkang ngeterke Mbak Safa. Assalamualaikum."
"Ning, Astagfirullah. Ning ampun ngeten." balas Gus Abdullah lalu mengejar Ning Shema
Sementara itu, tak lama mbak ndalem yang dimaksud Ning Shema datang dan mengantar Safa ke kamar tamu.
Semua keluarga tak bisa tidur nyenyak akibat kegaduhan semalam. Hari esok adalah hari terberat untuk kedua keluarga.
Ning Shema tetap melaksanakan kewajibannya sebagai seorang istri. Ia tetap menyiapkan segala keperluan suaminya seolah olah tidak ada yang terjadi. Hal ini membuat Gus Abdullah kelabakan mengahdapi istrinya. Ia tak tahu harus berbuat apa.
Ning Shema pamit untuk tidur sekamar dengan adik perempuan Gus Abdullah karena dia sudah berjanji tadi siang dan dia sudah meminta ijin dengan Gus Abdullah tadi sebelum prahara terjadi.
Disepertiga malam, Ning Shema memanjatkan doa dan melangitkan rindu kepada Allah. Ia memohon untuk diberikan pertolongan dan kesabaran dalam menghadapi musibah ini. Dilain tempat Gus Abdullah pun melakukan hal yang sama. Biasanya mereka melakukan sholat disepertiga malam bersama tapi kini mereka melakukan sendiri-sendiri.
Safa nampak tidak tenang bahkan makan malam yang dibawakan mbak ndalem tadi tidak disentuhnya. Ia tak menyangka sebaik ini hati istri dari Ula. Ia jadi berdosa karena merusak hari bahagia Ula dan istrinya.
***
Pagi menjelang diiringi dengan sarapan bersama. Suasana sarapan hening tak ad suara dari siapapun karena semua tampak terkejut tatkala Ning Shema mengajak Safa bergabung.
Selepas sarapan usai perias yang diminta keluarga Kyai Husein datang dan persiapan pun dimulai. Acara berlangsung semestinya sesuai jadwal. Semua keluarga menampilkan senyum palsu untuk menutupi keadaan sebenarnya.
Acara usai saat adzan Ashar. Keluarga inti dari kedua belah pihak berkumpul di ruang tengah untuk membahas kelanjutan prahara kemarin.
"Jadi semua acara sudah selesai dan saya disini mewakili keluarga memohon maaf yang sebesar besarnya kepada Keluarga besar Kyai Misbah untuk kelakuan putra saya. Dan seperti yang sudah saya bilang kemarin bahwa saya akan meminta Abdullah untuk menceraikan Ning Shema. Saya tidak mau Ning Shema mendapatkan suami seperti Abdullah."
"Baik sebelumnya terima kasih Kyai Husein. Saya mewakili Umi dan sebagai pengganti Abah menyetujui usulan Kyai."
"Adek nggak mau. Adek sudah menikah dan adek hanya mau menikah sekali seumur hidup. Mas kan ngertos keinginan adek."
"Tapi ini lain cerita! Mas gak mau adek kesayangan yang biasa manja ke mas ini di madu. Dalam silsilah keluarga besar kita tidak ada namanya poligami, dek."
"Adek gak papa. Adek ridho, Mas."
Pernyataan Ning Shema membuat semua orang tercengang. Gus Abdullah menatap istrinya dengan perasaan campur aduk.
Setelah perbincangan alot yang terjadi selama hampir dua jam akhirnya diputuskan untuk melaksanakan pernikahan antara Gus Abdullah dan Safa. Ning Shema berbesar hati menerima madunya. Semua keluarga tampak tak terima dengan keputusan Ning Shema tapi ini semua yang menjalankan dia.
Semesta tidak akan tahu apa yang akan terjadi kedepan.
Acara pernikahan dilaksanakan selepas sholat Maghrib dan dilanjutkan hukuman cambuk untuk Gus Abdullah. Ning Shema sempat mengusulkan untuk besok saja hukumannya tetapi Kyai Husein tetap ingin malam ini pelaksanaannya.
Semua persiapan hukuman cambuk telah siap dan hukuman itu akan dimulai dengan disaksikan seluruh santri dan keluarga besar dari Gus Abdullah serta Ning Shema. Safa yang baru saja di nikahi Gus Abdullah pun turut hadir disana dengan bayi mungilnya.
Teriakan kesakitan dari Gus Abdullah membuat seluruh wanita disana histeris. Gus Abdullah berusaha menampilkan senyum ditengah kesakitannya. Bayi dalam gendongan Safa menangis tiada henti. Mungkin bayi itu merasakan kesakitan yang dialami ayahnya. Safa yang tak enak dia memilih undur diri takut semua orang tambah menjelekkan dirinya dan bayinya. Gus Abdullah tak berdaya dicambukan ke seratus dia tak sadarkan diri.
Ning Shema dengan penuh kasih sayang merawat suaminya yang dua jam lalu habis melewati hukum cambuk.
Kasih sayang yang diberikan Ning Shema membuat hati Gus Abdullah luluh. Tembok besar yang ia bangun telah roboh karena kebaikan hati istri Sholehahnya ini.
Pernikahan mereka bertiga berjalan baik-baik saja. Gus Abdullah berusaha adil kepada kedua istrinya setelah perdebatan panjang dengan istri tuanya.
flashback off
"Sungguh drama yang sangat bagus ya. Dan Kyai Abdullah ingin anak anda mengikuti jejak yang telah anda buat?" tanya Habib Ahmad penuh emosi
"Demi kebaikan bersama kenapa tidak kita lakukan saja saran saya."
"Tidak akan saya biarkan adik saya dipoligami. Menikah dengan seseorang yang tidak sekufu saja saya belom ridho apalagi untuk poligami. Dan tanpa mengurangi rasa hormat silahkan pintu keluar disana."
Gus Abdullah yang diperlakukan seperti itu pun merasa sakit hati. Ia bergegas pamit undur diri tetapi saat ia mengajak Gus Kenzo sungguh jawaban Gus Kenzo membuat semua orang disana diM seketika.
~to be continue~
"