Rayuan

1017 Words

**Bab 218: Rayuan** Di dalam gua di dinding tebing itu, ancaman Mateo justru tidak menumbuhkan rasa takut pada Anindira. Sebaliknya—amarahnya menyala. Anindira masih duduk melipat kaki, dagunya bertumpu di atas lutut. Api unggun di depannya berderak pelan, bayangan merah-oranye menari di dinding batu. Sejak tadi ia hanya menatap nyala api itu, diam, membeku. Namun kini, perlahan, matanya bergeser. Tatapan itu tajam. Ia melirik ke arah Mateo—bukan dengan ketakutan, melainkan dengan sorot menantang. Anindira tidak berkata apa-apa. Tidak perlu. Sorot matanya sudah cukup. Dalam keheningan gua yang dingin, situasi berbalik arah. Bukan lagi Anindira yang terancam—melainkan Mateo yang merasakannya. Mateo terdiam. Dari ratusan wanita yang pernah ia culik, tidak satu pun pernah menatapny

Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD