**Bab 037: Gavriel**
Di sepanjang perjalanan, suara aliran sungai mulai terdengar. Air jernih yang mengalir deras menambah kesegaran udara pagi. Burung-burung berkicau di pepohonan di pinggir sungai, beberapa beterbangan dari ranting ke ranting, menciptakan irama alam yang menenangkan.
Anindira berjalan di depan, mantel Zia mengibarkan sedikit di belakangnya, rambut hitamnya tertiup angin. Sesekali ia tersenyum menatap Zia yang digendong Ruvi. Zia, dengan pipi merah karena dingin dan semangat, terkekeh kecil melihat gerakan mantelnya yang terlalu besar.
Ruvi, menahan tawa di balik wajah seriusnya, terus menggendong Zia dengan hati-hati, sesekali melirik ke arah Anindira dengan campuran kekhawatiran dan hiburan. Aura perlindungan terpancar dari tubuhnya, namun matanya tak bisa menahan senyum kecil melihat dua gadis itu begitu riang.
Beberapa waktu kemudian, mereka sampai di tepi sungai.
‘’Dia tidak berbohong. Anindira berjalan cukup cepat untuk seorang wanita, dan dia tidak tampak lelah meski kami sudah hampir satu jam berjalan…‘’ gumam Ruvi dalam hati sambil menatap Anindira. ‘’Apakah benar-benar sepenting itu bangun dan mandi pagi, seperti yang dia katakan?’’
''Anindira, apa semua wanita di desamu sama sepertimu?'' tanya Ruvi, penasaran, ingin tahu lebih jauh.
''Mm…'' Anindira tampak bingung. ''Maksudnya?!''
''Maksudku, tubuh mereka… fisik. Eum, apa mereka sama kuatnya sepertimu?'' Ruvi menatapnya serius, menanyakan dengan polos.
''Kuat?!… Siapa… aku?!'' seru Anindira terkejut. ''Tidak, paman. Tidak begitu… biasa saja…''
''Tidak!'' sanggah Ruvi tegas. ''Bagiku, kau punya fisik yang lebih kuat dibanding kebanyakan wanita.''
''Begitukah…? Entahlah, aku tidak tahu itu…'' jawab Anindira jujur, sedikit malu.
Ruvi menatapnya dengan serius, menyadari kerasnya kehidupan di dunia manusia buas telah membentuk tubuh manusia, termasuk wanita, menjadi lebih kuat. Namun sikap protektif dan over-perhatian para pria kadang membuat wanita di sini terlihat manja, bahkan lemah, seolah tidak mampu melakukan apa pun tanpa pria. Itu adalah sisi negatif dari ‘’terlalu berharga’’ perlakuan yang terlalu “memanjakan” diterima oleh para wanita.
''Zia bilang, kamu terbiasa bangun pagi.''
''Eum,'' Anindira mengangguk.
''Apa itu tidak melelahkan?''
''Tidak. Tidur cukup, lalu bangun pagi. Itu bagus untuk kesehatan fisik dan mental,'' jawab Anindira percaya diri, wajahnya memancarkan kebanggaan.
Ruvi dan Zia sedikit bingung, tapi mereka ikut terhipnotis oleh penjelasan Anindira tentang manfaat bangun pagi dan mandi pagi dengan air segar.
''Eum… paman, boleh aku mandi?'' tanya Anindira, mencoba keberuntungan. ''Ini sudah siang, air juga tidak akan terlalu dingin…'' lanjutnya sambil menatap Ruvi dengan wajah imut merayu.
Ruvi memicingkan mata, memikirkan permintaan itu. Di satu sisi, Anindira tampak kuat untuk seorang wanita. Tapi di dunia manusia buas, wanita bisa sakit atau bahkan parah akibat kedinginan.
''Maaf, Anindira, aku tidak bisa mengizinkannya. Mengertilah!'' tegas Ruvi, namun suaranya tetap ramah. ''Halvir menitipkanmu pada kami untuk dijaga. Aku tidak boleh lengah. Jadi bersabarlah dan tunggu Halvir kembali.''
Anindira menghela nafas panjang, pasrah. ''Hufth… baiklah, paman. Aku paham. Tapi aku hanya akan mencuci wajah saja. Tidak apa-apa, kan?''
''Baiklah. Hanya cuci muka, tidak mandi!'' Ruvi mengizinkan dengan tegas namun lembut.
Mendapat persetujuan, Anindira segera menepi ke sungai. Ia membungkuk, mengambil air, berkumur-kumur, menggosok gigi dengan rumput, lalu mencuci wajahnya. Rambutnya yang hitam basah ia sisir dengan jari-jari tangannya, menikmati kesegaran air.
''Kalian tidak mau cuci muka juga?!'' seru Anindira sambil melambaikan tangan ke Zia dan Ruvi. ''Air ini segar sekali… Zia, ini menyenangkan!''
Meski hanya mencuci muka, Anindira merasa puas. Kesegaran pagi, air sungai yang dingin, dan momen kecil ini sudah cukup untuk menenangkan pikirannya setelah sedikit beradu argumen. Senyumnya lebar, penuh semangat dan kebahagiaan sederhana.
Anindira menyadari dirinya hanya menumpang dan bergantung pada mereka. Ia tak ingin menjadi lebih tidak tahu diri atau anak nakal yang tak menghargai kebaikan orang lain. Ia meyakinkan diri, cukup bersabar menunggu Halvir pulang.
Melihat Anindira begitu menikmati kesegaran air, Zia merasa sedikit iri. Dengan semangat, ia melangkah maju ingin mencoba. Namun baru saja memasukkan jari ke air, tubuhnya langsung menegang karena dinginnya sungai.
''Aah… Tidak!'' seru Zia, melompat menjauh, wajahnya memerah. ''Itu dingin, Anindira!''
Anindira meledak tertawa, melihat ekspresi panik Zia yang lucu. Suaranya bergema di tepian sungai.
''Bagaimana kau bisa tahan?'' Zia bertanya, masih setengah terkejut tapi penasaran, matanya menatap Anindira penuh kekaguman.
''Itu karena kau tidak terbiasa,'' ledek Anindira sambil tersenyum nakal. ''Cobalah perlahan-lahan, biasakan dirimu. Nanti kau pasti bisa menikmatinya.''
''Anindira, kau tidak sedang membohongiku kan?!'' Zia menatap serius dengan alis berkerut. ''Apa benar dengan begini bisa menjaga penampilan kita?!''
''Tentu!'' seru Anindira yakin, menegaskan kejujurannya. ''Untuk apa aku membohongimu? Buktinya, lihat saja…'' Ia merentangkan tangannya, membiarkan matahari pagi menyoroti tubuhnya yang basah dan segar, seakan memperlihatkan hasil dari rutinitas yang ia jalani.
''Baiklah, baiklah…'' Ruvi menyela sambil terkekeh, ikut terhibur melihat tingkah dua gadis itu di pinggir sungai. ''Kalian masih ingin bermain-main sebentar? Sebentar lagi waktunya makan, ayo kita kembali.''
''Baik!'' mereka serempak menjawab, wajah mereka masih ceria dan basah, tawa kecil menghiasi udara pagi.
''Paman, sambil jalan boleh aku memetik sayuran liar?'' tanya Anindira, matanya berbinar penuh antusiasme.
''Sayuran liar…? Untuk apa?'' Ruvi menatap heran.
''Untuk dimakan tentunya!'' jawab Anindira dengan ceria. ''Aku biasa memakannya bersama daging, dan Kak Halvir selalu mengizinkanku… bahkan membantu mencarinya.''
''Tentu!'' Ruvi tersenyum, menyetujui, ''Aku tahu ada beberapa klan yang rutin mengkonsumsi sayuran liar juga, tidak masalah.''
''Terima kasih!'' Anindira membalas dengan wajah semringah, langkahnya ringan penuh semangat.
''Ruvi, pagi…''
Tiba-tiba terdengar suara seorang pemuda menyapa Ruvi. Di bahunya tergantung seekor rusa, jelas baru ia bawa dari hasil berburu pagi itu. Langkahnya mantap, gerakannya luwes, namun aura muda dan semangat terpancar jelas.
''Zia, kau bangun pagi hari ini,'' sapa pemuda itu, matanya menatap Zia penuh keceriaan.
''Eum…'' jawab Zia singkat, malas menanggapi, tapi tetap menunduk sedikit karena etika menuntutnya menjawab.
Pemuda itu kemudian melirik ke Anindira. ''Jadi, kau suka makan sayuran?'' tanyanya sambil tersenyum ramah. ''Aku Gavriel, dari Klan Singa…'' Ia memperkenalkan diri dengan percaya diri. ''Hari ini kau tidak bersama Halvir?''
Dia adalah pemuda berambut keperakan yang datang menemui Anindira dan Halvir saat makan ikan bakar di tepi sungai beberapa hari yang lalu.
''Gavriel, jaga jarakmu!'' seru Ruvi tiba-tiba, nada suaranya berubah menjadi tegas dan tajam, berbeda dengan saat ia bicara lembut pada Anindira dan Zia. Aura kewibawaannya membuat udara di sekitarnya seolah menegang.
Gavriel segera mundur beberapa langkah, tubuhnya tetap tegap, matanya menatap Anindira tanpa ragu. Meski wajahnya tampak ceria, kehadiran Ruvi membuatnya tegang.
''Baik,'' jawab Gavriel tegas, mencoba menenangkan diri, ''Tapi aku tetap ingin bicara dengannya, bolehkan?!'' Ia menegaskan dengan nada sopan tapi berani. Meski masih remaja, ia berusaha keras menahan tekanan intimidasi dari Ruvi, seorang Amethyst yang wibawanya terasa menakutkan bagi pemuda mentah sepertinya.
''Selama dua minggu, keluarga Ezra akan jadi wali sementaranya, jadi sebaiknya kau jaga sikap!'' tegas Ruvi kembali, matanya menatap tajam, ''Sampai Halvir kembali, jangan bertindak berlebihan, jika kau tidak ingin berurusan dengan kami, apalagi Halvir!''
Gavriel menunduk sejenak, menyerap setiap kata dengan serius. ''Aku mengerti,'' jawabnya dengan tulus. ''Aku juga tidak ingin bermasalah dengan kalian apalagi Mischa atau Halvir.''
Raut wajahnya serius, menunjukkan bahwa ia benar-benar menerima nasihat Ruvi. Meski berani, ia tetap menghormati hierarki dan aturan yang berlaku di dunia manusia buas ini.
Anindira dan Zia berdiri agak jauh, menyaksikan interaksi itu dengan campuran rasa kagum dan penasaran. Pagi yang awalnya tenang di tepian sungai kini terasa lebih hidup, dipenuhi aura wibawa, keberanian, dan aturan tak tertulis yang mengatur hubungan antar individu di desa manusia buas ini.