Mandi Pagi

1177 Words
**Bab 036: Mandi Pagi** Semburat merah masih membekas di cakrawala ketika matahari baru saja muncul. Anindira, yang biasanya malas bangun pagi dan lebih suka berlama-lama di dekapan Halvir, kini bingung harus melakukan apa. Akhirnya ia bangkit dari tempat tidur dan membuka jendela. Udara dingin langsung menyambar wajahnya, membuatnya menggigil, tapi ia membiarkannya tetap terbuka, menikmati sejuknya pagi. Perlahan, matahari naik semakin tinggi, sinarnya yang menyilaukan membuat Zia menarik selimut lebih erat sebelumnya, merasakan hawa dingin yang masuk dari jendela yang terbuka. ''Zia, kalau kau sudah terjaga, ayo segera bangun!'' seru Anindira. Meski masih setengah mengantuk, Zia duduk di tepi tempat tidur, menggosok matanya. ''Apa kau sudah bangun dari tadi?'' ''Iya,'' jawab Anindira sambil kembali menatap keluar jendela. ''Kenapa pagi-pagi sudah bangun?'' keluh Zia, berbaring membelakangi sinar matahari yang masuk. ''Kau bisa tidur lagi, bangun nanti saat waktu makan…'' lanjutnya malas, menaikkan selimut menutupi kepala. ''Saat makan?!'' Anindira terkejut dan segera menghampiri Zia. ''Zia, ayo bangun sekarang!'' ''Ini masih terlalu pagi,'' jawab Zia, tenggelam dalam balutan selimut sambil merengek. ''Ayo kita mandi!'' ajak Anindira, menepuk bahu Zia. ''Tidak mau,'' Zia menggeleng, masih terbungkus selimut. ''Nanti saja, kalau gerah baru aku mandi.'' ''Zia!'' Anindira merengek, ''Jangan malas begitu!'' Ia mencoba membuka selimut Zia. ''Apanya?'' tanya Zia, wajahnya menunjukkan kesal karena tidur terganggu. ''Kebiasaanmu!'' dengus Anindira. ''Ayo bangun dan mandi!'' sambil menggoyangkan tubuh Zia. Zia yang masih mengantuk tampak bingung dengan kerasnya Anindira. Melihat itu, Anindira menepuk-nepuk wajah Zia lembut, mencoba membangkitkan kesadarannya. ''Hei, ayolah!'' seru Anindira dengan tegas, tapi senyum dan tawa masih terlihat di wajahnya. ''Ayo, kita segarkan diri!'' Zia akhirnya memaksa diri bangun, meski jelas wajahnya masih malas dan enggan. ''Kau bilang ingin penampilanmu sepertiku,'' Anindira membujuk sambil tersenyum. ''Kalau benar seperti itu, jangan bermalas-malasan!'' ''Apa hubungannya bangun pagi dengan semua itu?'' tanya Zia, merengek dengan raut wajah kesal. ''Tentu saja berhubungan!'' Anindira mencondongkan wajahnya dekat Zia, mata serius menatapnya. ''Konsistensi adalah kunci utama keberhasilan!'' lanjutnya. ''Jadi jangan malas… hal pertama adalah membiasakan bangun pagi dan mandi. Nanti akan kujelaskan langkah selanjutnya…'' Ia berusaha membantu Zia berdiri. ''Ugh…'' desah Zia sambil mengernyitkan dahi. ''Baiklah…'' katanya, menyerah pada bujukan Anindira, walau hatinya masih malas. ''Ayah!'' panggil Zia beberapa kali, menunggu tapi tidak ada yang datang. ''Apa kau di rumah?'' lanjutnya, lalu melangkahkan kaki keluar rumah. Tak lama kemudian, Ruvi muncul, menghampiri mereka berdua. ''Ada apa, Zia?'' tanya Ruvi sambil menepuk lembut kepala Zia. ''Mischa sedang pergi berburu,'' lanjutnya, sambil mengusap kepala Zia dengan penuh perhatian. ''Ayah, Ruvi!'' sapa Zia sambil tersenyum manja. ''Bantu kami turun dan temani ke sungai, boleh?'' Ruvi mengerutkan dahi, bingung dengan permintaan Zia. ''Tapi ini masih pagi, Zia. Mau apa ke sungai?'' ''Mau mandi,'' jawab Zia polos, tanpa ragu. ''Mandi?!'' seru Ruvi, wajahnya tercengang. ''Ini masih sangat pagi. Bagaimana kalau kau kedinginan nanti?!'' ''Tapi aku ingin seperti Anindira, dia punya kulit bagus…'' Zia merengek, dengan gaya khas gadis manja, menatap Ruvi dengan mata memelas. ''Anindira bilang, rajin bangun pagi dan mandi adalah salah satu cara mewujudkannya.'' ''Tidak boleh!'' seru Ruvi tegas. ''Aku khawatir kau akan sakit nanti.'' ''Anindira tidak apa-apa!'' Zia membantah, masih hati-hati. ''Dia sehat, kulitnya bagus, rambutnya juga rapi… Tidak seperti aku yang bergumpal…'' Wajah Zia memelas semakin membuat Ruvi menatapnya dengan campuran kekhawatiran dan kesabaran. Mischa, Ruvi, Koza, Kaj, dan Axel semuanya telah berpasangan, sehingga jarang memperhatikan wanita lain. Tidak heran jika mereka sebelumnya tidak menyadari bahwa Anindira sedikit berbeda dari wanita lain di dunia ini. Tapi ketika Zia mulai merengek, Ruvi menoleh, menatap Anindira dengan lebih saksama, dan baru sadar bahwa Zia benar. Penampilan fisik Anindira memang menonjol dibanding wanita kebanyakan. ''Eum…'' Ruvi memicingkan mata, meneliti Anindira dengan seksama. ''Anindira, apa itu benar?'' ''Aku rasa begitu,'' Anindira mengangguk mantap. ''Itu yang diajarkan padaku.'' ''Tapi bagaimana jika kalian sakit karena kedinginan saat mandi pagi?'' Ruvi masih menolak, suaranya lebih halus namun tetap tegas, menunjukkan kekhawatiran yang tulus. ''Aku tidak tahu di sini. Tapi di tempatku, kami diajarkan bangun pagi dan mandi. Bukan hanya untuk menyegarkan diri, tapi juga membersihkan diri. Dengan begitu, penampilan tetap terawat, dan kesehatan pun senantiasa terjaga karena bersih,'' jelas Anindira, berusaha meyakinkan. ''Tapi, Anindira… kedinginan sangat berbahaya bagi wanita. Banyak yang bisa sakit bahkan meninggal karena itu. Aku tidak mau mengambil risiko!'' Ruvi menekankan argumennya, nada tegas tapi penuh kepedulian. Anindira menunduk, bersabar, memikirkan kata-kata Ruvi. Pengalaman di dunia modern belum tentu bisa diterapkan di dunia manusia buas. Ia mulai ragu, tapi tetap ingin melihat situasi secara langsung agar lebih memahami kondisi di lapangan. ''Maaf, paman…'' Anindira menunduk hormat, sikap sopannya membuat Ruvi tergerak. ''Eum… begini saja… baiklah, tidak apa-apa. Kalian boleh pergi ke sungai,'' Ruvi akhirnya mengalah. Ruvi tersenyum lembut, senang melihat sopan santun Anindira dan kedekatannya dengan Zia. Melihat dua gadis remaja ini berinteraksi dengan akrab, hatinya luluh—dia tak sampai hati menolak permintaan mereka. ''Anindira, apa kau terbiasa melakukannya?'' tanya Ruvi sambil mengusap lembut kepala Anindira. ''Iya,'' Anindira mengangguk, senyum tipis terukir di wajahnya. ''Aku melakukannya karena nenek dan ibuku juga melakukannya.'' Mata Ruvi berkedut, memikirkan ucapan Anindira sambil menatap penampilan fisiknya yang menonjol. ''Aku akan mengantar kalian ke sungai. Tapi bukan untuk mandi, aku belum bisa membiarkan kalian mandi pagi begitu saja!'' seru Ruvi tegas, tetap khawatir. ''Bawa mantel dan sepatu, aku tidak mau kalian kedinginan!'' ''BAIK…'' Anindira dan Zia serentak menjawab dengan penuh semangat. Ruvi tak bisa menahan senyum, gemas melihat tingkah laku lucu dua gadis itu. Ia menggelengkan kepala, mengamati mereka sambil tersenyum dalam hati. ’Kau sebegitu bahagianya mendapat teman baru, Zia…’ pikir Ruvi, menatap anak perempuannya dengan lembut. ’Terima kasih, Anindira. Rumah ini terasa lebih meriah sekarang.’ Zia meminjamkan mantel dan sepatu miliknya kepada Anindira. Tubuh Anindira yang lebih kecil membuat mantel itu pas, seolah dibuat khusus untuknya. Sepatunya juga cukup pas, meski sedikit longgar di tumit. Ruvi sendiri hanya menggendong Zia; menggendong Anindira, wanita milik pria lain, bukanlah hal yang pantas dilakukan kecuali dalam keadaan terpaksa. Udara pagi yang dingin menggigit kulit wajah mereka. Angin lembut dari sungai meniup rambut Anindira, menari-nari mengikuti gerakan langkahnya. Wajahnya sedikit merona karena dingin, tapi matanya berbinar penuh semangat. ''Anindira, bagaimana jika kita beristirahat sebentar…?'' Ruvi bertanya sambil menurunkan pandangannya ke gadis itu, suara dan tatapannya lembut, menandakan kekhawatiran yang tulus. ''Hm, kenapa?! Apa paman lelah?'' Anindira menatap Ruvi dengan serius, sedikit heran sekaligus penasaran. ''Ha?!'' Ruvi terkejut. ''Aku lelah… tidak!'' serunya sambil menggeleng, ekspresinya campur aduk antara bingung dan geli. Anindira memiringkan kepalanya, menunggu jawaban yang lebih jelas. ''Anindira, aku takut kau lelah, makanya aku memintamu beristirahat…'' Ruvi menambahkan, canggung dan sedikit tersipu karena keseriusan pertanyaan Anindira. ''Tidak, aku tidak lelah… ini hal biasa bagiku. Meskipun sudah lama aku tidak melakukannya… itu karena Kak Halvir keras kepala. Dia sama sekali tidak mau dengar saat aku meminta untuk berjalan sendiri,'' jawab Anindira dengan tenang tapi tegas, langkahnya mantap meski udara dingin menyentuh kulitnya. ''Begitu, ya…'' sahut Ruvi, sedikit canggung, tapi tampak lega. Ia menyesuaikan langkahnya agar ritme mereka selaras. Beberapa langkah lagi, dan suara gemericik air semakin dekat. Di depan, permukaan sungai yang jernih memantulkan cahaya matahari pagi yang baru muncul, menciptakan kilauan keemasan yang memikat mata. Akhirnya, mereka sampai di tepi sungai, tempat di mana petualangan pagi baru saja dimulai.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD