Keluarga Ezra

1132 Words
**Bab 035: Keluarga Ezra** Enam klan yang mendiami Desa Hutan Biru adalah tipe Predator sejati. Sebagian besar dari mereka memulai perburuan sejak fajar, meski beberapa justru memilih malam hari untuk menjejak mangsa. Akibatnya, tepi sungai di pagi hingga tengah hari selalu sibuk dengan aktivitas—para pria membersihkan kulit dan daging hasil buruan, mempersiapkan stok untuk hari-hari mendatang. Pada musim panas, manusia buas memanfaatkan waktu sebaik mungkin. Hanya di musim ini mereka bisa menyamak kulit binatang dengan sempurna, sekaligus mengawetkan daging untuk cadangan makanan. Setiap kulit dan potongan daging dipersiapkan dengan teliti, karena musim dingin yang akan datang menuntut persiapan matang. Saat itu, kulit binatang bukan sekadar hiasan, tapi penghangat vital bagi tubuh, terutama bagi wanita dan anak-anak di rumah tangga. Sementara ketersediaan hewan buruan sangat terbatas, kemampuan mengawetkan daging menjadi penentu hidup mati. Musim dingin di dunia ini sangat ekstrem. Suhu bisa menjangkau minus empat puluh derajat, ditambah badai yang kerap menerjang tanpa ampun. Kondisi itu membuat pergerakan menjadi sangat sulit, hampir mustahil untuk berburu. Jika musim dingin berkepanjangan—bisa menelan waktu hingga dua tahun—ancaman terbesar bukan sekadar kelaparan, tapi kematian massal. Setiap keluarga yang gagal bertahan berisiko hilang. Ancaman pun tidak berhenti pada cuaca. Klan-klan perusak yang oportunis sering memanfaatkan saat-saat kritis seperti itu untuk menyerang. Kombinasi dingin, badai, dan kelaparan membuat bertahan hidup menjadi perjuangan yang tiada ampun, di mana satu langkah salah bisa berakhir fatal. Langit kemerahan perlahan memudar menjadi gelap. Hari sudah petang. Anindira dan Zia masih asyik berbincang ketika suara panggilan terdengar dari kejauhan. ''Zia, Anindira, ayo kita makan!'' panggil Mischa. Kepala desa muncul, menjemput mereka satu per satu, membawa mereka turun. Di sana, keluarga Zia telah berkumpul di sekitar api unggun yang hangat. Zia duduk di samping ayahnya, sementara di sebelah Mischa tampak seorang wanita—Anindira yakin itu adalah ibu Zia. ’Wow, itu ibu Zia?! Tidak heran dia pasangan kepala desa… gumam Anindira dalam hati. Auranya dewasa dan bijaksana, penuh wibawa. Rambut karamel dan bola mata hazel, persis seperti Zia. Tapi parasnya… dia lebih terlihat seperti kakak perempuan Zia daripada ibunya.’ Penampilan ibu Zia tidak berbeda dari Zia. Kulitnya kering, tampak kusam dan kasar. Rambutnya berminyak, menggumpal dan kusut. Namun senyumnya menawan, gigi putih bersih memancarkan keramahan. ''Kamu Anindira?'' sapa ibu Zia ramah. ''Mischa memberitahuku, Halvir yang membawamu.'' ''Iya, salam kenal…'' Anindira membalas dengan senyum hangat, suaranya lembut tapi jelas. ''Semoga kamu betah bersama kami. Aku Ezra, ibu Zia,'' Ezra memperkenalkan diri sambil menyinggung pasangannya yang duduk di sebelah, ''Ini Ruvi, dia juga seperti Mischa. Keduanya berasal dari Klan Jaguar.'' ''Aku Ruvi, dari Klan Jaguar. Semoga kau betah di sini, Anindira…'' sapa Ruvi ramah, menyalami Anindira dengan hangat. Ruvi tampak seperti pria dewasa pertengahan tiga puluhan. Rambut hitamnya rapi, wajah tampan, dan auranya mirip dengan Mischa—mungkin itu alasan mereka bisa akur bersama wanita yang sama. Bagi Anindira, pemandangan keluarga Ezra terasa aneh. Seorang wanita diapit dua pria yang menjadi pasangannya. Di dekatnya, seorang pria berambut ikal tipe C2 berwarna coklat dengan mata emerald cerah tampak seusia dengan Halvir. Tubuhnya tegap dan tampan, sedang mengasuh empat ekor beruang seukuran anak balita. Di sisi lain, dua pria lain sibuk menyiapkan makanan. Wajah mereka mirip satu sama lain, menandakan hubungan darah—keduanya berambut pirang dengan mata emerald pekat. Seperti banyak pria di dunia ini, mereka tampan, gagah, dan berotot, memancarkan aura kuat dan disiplin. ''Anindira, yang di situ Koza. Dia bersama empat anak-anak kami yang lucu dan nakal,'' Ezra memperkenalkan pasangan-pasangannya yang lain. ''Aku Koza, dari Klan Beruang. Pasangan ketiga Ezra. Ini anak-anak kami. Mereka memang nakal, tapi nanti akan jadi pria tangguh pelindung desa…'' Koza memperkenalkan diri, suaranya bangga saat menyebut nama anak-anaknya, ''Brynjar, Cala, Cleon, Herleif… Mereka baru berusia tiga tahun.'' Anindira terperanjat. Tubuhnya membeku, pikirannya menerawang liar. Empat ekor beruang yang sedang bermain di hadapannya—anak-anak balita—lahir dari dua manusia, Ezra dan Koza. Fantasi liar dan spekulasi aneh langsung menyeruak di kepalanya, membuat kepala Anindira terasa penuh dengan pertanyaan yang sulit ia uraikan. ''Aku Axel, dari Klan Harimau. Baru enam tahun aku jadi pasangan Ezra…'' Axel memperkenalkan diri sambil terus menyiapkan makanan. ''Aku Kaj, sama dengannya, juga dari Klan Harimau. Kami sepupu dari pihak ayah. Baru lima tahun aku menjadi pasangan Ezra…'' Kaj menambahkan sambil tetap membantu Axel di dapur. Malam itu menjadi malam pertama Anindira melewatinya tanpa Halvir. Rasa kesepian bersembunyi di sela keramahan keluarga Ezra. Namun kehangatan api unggun, canda tawa, dan kebersamaan mereka sedikit meredakan kekosongan hatinya. Bersama Zia, ia perlahan mulai mencoba memahami dunia baru yang membingungkan ini. Meski daging yang dibakar sederhana, suasana keluarga yang hangat dan ramah menyentuh hatinya, sekaligus menghadirkan rasa pilu karena mengingat keluarganya sendiri. ''Anindira?'' Ezra memanggil, nada suaranya lembut tapi penuh perhatian. Tiba-tiba, Ezra duduk di sampingnya dan merangkulnya hangat. ''Kenapa?'' tanya Ezra, wajahnya cemas. ''Kau sedih?'' ''Maaf membuatmu cemas… Aku hanya sedang teringat keluargaku. Tapi tidak apa-apa… sebentar, aku akan tenang kembali,'' jawab Anindira, tersenyum tipis, namun matanya masih memancarkan kesepian yang sulit disembunyikan. Ezra menatapnya penuh pengertian. ''Aku mungkin tidak bisa sepenuhnya memahami kesedihanmu. Tapi kami akan mencoba sebaik mungkin agar kau tidak merasa sendirian di tempat yang asing ini…'' Ucapnya sambil membelai kepala Anindira. ''Iya!'' seru Zia, menimpali dengan keceriaan yang menular. ''Anindira, ibu benar. Kita sudah berteman, jangan bersedih lagi! Kita akan bermain bersama mulai hari ini…'' ''Eum,'' Anindira mengangguk, tulus berterima kasih atas keramahan mereka. ''Aku tahu, terima kasih…'' ''Kehilangan keluarga dan orang-orang yang kita kenal memang berat. Tapi jangan terpaku pada masa lalu. Lingkungan baru ini mungkin asing, tapi bersabar dan melakukan yang terbaik akan membawamu pada hal-hal baik. Anindira, kau memang kehilangan keluargamu, tapi semoga kau bisa membangun keluarga sendiri dan hidup bahagia di Desa ini,'' ujar Mischa lembut, tatapannya penuh perhatian. ''Mischa benar,'' Ruvi menambahkan, tersenyum. ''Kau harus menemukan kebahagiaanmu!'' ''Tentu saja, paman,'' Anindira menjawab, matanya kembali bersinar, bibir tersenyum lebar, menandakan semangatnya yang telah kembali. Ketakutannya terhadap orang-orang asing yang akan menampungnya lenyap, tergantikan oleh kehangatan keramahan keluarga Ezra. Senda gurau saat makan, tawa yang tercampur aroma daging bakar, dan percakapan ringan membuat hatinya lega. Meski mereka baru dikenal, Anindira bisa merasakan kebersamaan yang tulus, dan itu membuatnya bahagia. Tidak heran Mischa bisa menjadi kepala desa. Karakternya tenang, berwibawa namun tetap hangat, dan keluarganya menunjukkan keharmonisan yang langka. Mereka akrab satu sama lain, saling menghormati meski sesekali tampak perebutan perhatian terhadap Erza. Namun itu hanyalah bumbu rumah tangga di dunia manusia buas—selepas itu, mereka hidup akur, menghormati hierarki, dan tulus menyayangi empat anak beruang serta Zia. Pemandangan anak tiri dan ayah tiri yang hidup damai bersama ini terasa luar biasa bagi Anindira. Rumah tangga dengan lima pria berbagi satu wanita—fenomena yang ia kenal hanya dari legenda pewayangan di salah satu daerah dunia asalnya—tiba-tiba nyata di hadapannya. Siapa sangka, Anindira kini benar-benar masuk ke dunia yang sebelumnya hanya ada dalam fantasi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD