Perjalanan

1475 Words
**Bab 015: Perjalanan** ''Kak Halvir, berhenti!'' pekik Anindira mendadak. ''Poh-pohan—biarkan aku memetiknya!'' ''Apa?'' ''Itu, daun poh-pohan…'' Anindira merengek kecil sambil menunjuk ke arah rimbunan semak tak jauh dari posisi mereka. ''Daun apa lagi yang mau kau pungut?!'' ''Ayolah, ini lezat, Kak Halvir. Jangan melihatnya seperti itu!'' Halvir mendengus pelan. ''Dengan begini aku semakin yakin kalau kau itu herbifora.'' ''Apa maksudnya itu?!'' Anindira menatapnya bingung, jelas tak menangkap arti ucapan Halvir. ''Lupakan!'' Halvir mengibaskan tangan. ''Asal kau senang, lakukan saja. Selama itu tidak membahayakan dirimu…'' ''Jangan khawatir!'' sahut Anindira dengan senyum mengembang. ''Aku tahu betul mana tanaman yang bisa dimakan dan mana yang tidak. Untuk urusan itu, aku cukup percaya diri.'' ''Ya, ya… sesukamu…'' Nada Halvir terdengar acuh, tapi sorot matanya tetap mengawasi setiap gerak Anindira. Diam-diam, dari belakang, dia tersenyum tipis melihat betapa unik tingkah wanita yang telah menemaninya selama sebulan terakhir. Setelah memetik daun poh-pohan, mereka kembali melanjutkan perjalanan. ''Kita akan beristirahat di sini!'' seru Halvir setelah menemukan tempat yang dirasanya aman. ZRET! Satu tebasan cepat memutus akar pohon yang menjuntai. Dari rongganya, air bening segera mengalir. Anindira langsung mendekat, meneguk air itu dengan wajah lega. ''Terima kasih… segar sekali rasanya.'' ''Aku akan menyiapkan api untuk membakar daging.'' ''Okey!'' seru Anindira ceria. Kata itu—okey—jelas bukan bagian dari bahasa Dunia Manusia Buas. Namun, setelah sebulan lebih mereka jalan bersama, Halvir sudah mulai terbiasa dengan kosakata asing yang kerap meluncur begitu saja dari mulut Anindira. Sedikit demi sedikit, mereka saling memahami, bukan dari kata-kata, tapi dari nada dan ekspresi. ''Sobekan di pakaianmu bertambah lagi…'' ''Kak Halvir, jangan pasang wajah murung begitu!'' Anindira buru-buru menyela, seolah ingin memotong rasa iba Halvir. ''Dengan penciumanmu yang tajam, aku malah lebih khawatir soal aroma tubuhku. Aku nyaris tidak mandi selama berminggu-minggu.'' ''Tidak masalah bagiku. Kau selalu membersihkan dirimu dengan apa yang ada di hutan. Aromamu tidak buruk—untuk seseorang yang tidak mandi.'' ''Kak… apa harus sejujur itu?!'' Harga diri Anindira sebagai gadis modern langsung terusik. ''Dasar tidak peka!'' gerutunya. ''Paling tidak bilang saja, ‘kau tidak bau, jadi jangan khawatir.’ Kenapa harus dijelaskan panjang lebar kalau memang ada bau yang keluar dari tubuhku?!'' ''Lagi-lagi kau bicara dengan bahasa yang tidak aku pahami,'' jawab Halvir datar. ''Tapi aku tahu kau sedang kesal. Apa kata-kataku membuatmu marah?'' ''Ada. Banyak!'' Anindira menjawab dengan bahasa yang tetap tak dimengerti Halvir. Meski nadanya ketus, Halvir kini sudah bisa membedakan: mana marah sungguhan, mana kesal ringan, mana sekadar omelan. ''Perjalanan ini seharusnya berat bagimu,'' ujar Halvir kemudian. ''Kau seorang wanita. Tapi selama ini, hampir tidak ada masalah besar. Kau tahu banyak tentang alam. Itu membuatmu cukup pandai menjaga diri.'' ''Aku berterima kasih pada nenekku untuk itu,'' jawab Anindira lebih pelan. ''Dia ahli botani. Aku belajar banyak darinya…'' ''Kau beruntung,'' kata Halvir. ''Dengan begitu, hutan belantara tidak sepenuhnya memusuhimu.'' ''Hehehe… tanpa Kak Halvir aku tidak mungkin bertahan.'' Anindira tersenyum kecil. ''Meski hampir semuanya mirip dengan tempat asalku, ada beberapa hal yang di duniaku sudah tidak ada—kecuali fosilnya. Kak Halvir juga pengecualian. Aku tidak tahu apakah memang punah… atau memang tidak pernah ada.'' ''Tentu saja aku satu-satunya,'' sahut Halvir dengan nada bangga. ''Bagaimana kau bisa berharap ada banyak sepertiku?'' ''Bukan begitu maksudku…'' Anindira menggeleng. ''Hal supranatural yang Kakak lakukan itu—di duniaku—sama sekali tidak ada.'' Kata supranatural tidak dipahami Halvir. Namun dia memilih tidak bertanya. Sama seperti kosakata asing lain yang kerap muncul dalam ucapan Anindira—lambat laun, maknanya akan terbentuk dengan sendirinya. Hehehe… ''Kenapa lagi?'' tanya Halvir heran melihat Anindira tersenyum sendiri. ''Apa yang membuatmu cengengesan begitu?'' ''Hm? Oh, tidak…'' Anindira menggaruk pipinya. ''Aku cuma merasa senang. Kalau Kak Halvir tidak sabar mengajariku pelan-pelan, mungkin sampai sekarang kita masih berkomunikasi pakai gerakan-gerakan konyol.'' ''Hanya kau yang konyol. Aku tidak,'' bantah Halvir cepat. ''Kak Halvir?! Kau membuliku lagi…'' ''Di bagian mana?'' Perjalanan mereka—entah serius, entah konyol—selalu diiringi percakapan semacam itu. Dan tanpa mereka sadari, jarak di antara dua dunia yang berbeda itu perlahan semakin menyempit. Sudah dua bulan sejak Anindira dan Halvir bertemu. Waktu yang cukup lama untuk bertahan hidup bersama di hutan yang tak ramah, tapi masih terlalu singkat untuk benar-benar saling memahami bahasa satu sama lain. Meski begitu, setidaknya kosakata dasar kini sudah melekat di benak Anindira. Ia tak lagi hanya menebak-nebak lewat gerakan tangan atau mimik wajah. Untuk hal-hal sederhana, ia sudah bisa berbicara—atau setidaknya, berusaha. Anindira juga sudah mengetahui bahwa perjalanan mereka masih panjang. Sangat panjang. Tujuan akhirnya adalah kampung halaman Halvir. Pada awalnya, Anindira merasa risi setiap kali Halvir menggendongnya. Tubuhnya kaku, pikirannya penuh canggung. Namun waktu dan kebutuhan mengikis perasaan itu. Ia tahu, memaksakan diri berjalan sendiri hanya akan memperlambat segalanya. Bukan hanya karena ia tak beralas kaki, tapi juga karena langkahnya—sekencang apa pun ia berusaha—tetap tak akan sebanding dengan Halvir. ''Untuk wanita, staminamu bagus, Anindira.'' Anindira mendongak. Ada jeda sesaat sebelum ia menjawab, seolah menimbang kata itu. ''Benarkah? Terima kasih. Tapi pasti masih kalah jauh jika dibandingkan dengan para wanita di desa Kak Halvir.'' ''Tidak,'' jawab Halvir tegas, tanpa ragu. ''Kau sangat tangguh. Kau berbeda dengan kebanyakan wanita yang aku tahu.'' ''Kak Halvir hanya ingin menghiburku.'' ''Untuk apa? Kau tidak sedang bersedih…'' Ujung bibir Anindira tertarik tipis. Ada rasa kesal yang tak sepenuhnya ia pahami—bukan marah, lebih seperti tersandung oleh kejujuran yang terlalu lurus. ''Kak Halvir, apa kau selalu bicara dengan gaya seperti ini?!'' ''Eum.'' Jawaban singkat itu justru membuat Anindira mendengus kecil. ''Meski tidak memuja dan memuji, setidaknya perhalus kata-katamu. Kalau kau tetap seperti ini, wanita akan takut padamu… akan sulit bagimu untuk dapat pacar.'' ''Pacar?!'' Halvir mengernyit. Kata itu jelas asing baginya. Seperti biasa, ia memilih tidak bertanya. ''Wanita yang takut padaku sudah banyak,'' katanya datar. ''Jadi tanpa kau beritahu, aku sudah mengetahuinya.'' Anindira mengangkat alis. Ada banyak hal yang ingin ia katakan, tapi akhirnya ia memilih diam. Ia hanya berpikir—dalam hati—bahwa pria seperti Halvir sebenarnya terlalu berharga untuk disalahpahami hanya karena cara bicaranya. Padahal kau itu baik… Meski tak pandai bermanis mulut, justru di situlah daya tarik spesialmu bagiku. Halvir melirik sekilas. Ia tak tahu apa yang dipikirkan Anindira, tapi ia bisa merasakan ada sesuatu yang sedang disimpulkan gadis itu dalam diam. ''Kau termasuk tangguh untuk wanita yang sendirian di hutan,'' ucap Halvir kemudian. Nada suaranya lebih pelan, sorot matanya teduh. ''Aku tidak tahu bagaimana dengan wanita yang lain. Tapi kau… aku merasa kau kuat.'' Ia terdiam sejenak, seolah merangkai pikirannya sendiri. ''Selama ini aku bertemu banyak wanita. Dari yang aku tahu, mereka hampir selalu lemah dan manja. Rewel, mudah merajuk, dan cukup merepotkan…'' Anindira tidak memotong. Ia hanya menatap Halvir, mendengarkan. Kali ini Halvir tidak berbicara dengan cara mendikte. Tidak putus-putus. Tidak tergesa. Seolah ia sedang membuka sesuatu yang jarang ia ucapkan. ''Aku tahu tidak semua wanita seperti itu,'' lanjutnya. ''Seperti… dua wanita yang kukenal dengan sangat baik. Kau berbeda dengan kebanyakan wanita lainnya. Kau sedikit mirip Zia—nakal dan cerewet. Kau tahu, tidak banyak wanita yang bisa nyaman berlama-lama denganku selain Ezra dan Zia…'' Halvir berhenti. Anindira memeluk lututnya yang ditegakkan, satu kaki lain terlipat bersila. Ia menoleh, menatap Halvir yang kini tersenyum lembut. ''Seperti mereka, kau selalu menatap lurus ke mataku. Tidak ada ketakutan di matamu. Dan aku yakin itu tidak dibuat-buat. Kau tulus melihatku sebagaimana diriku…'' Jari Halvir sesekali menyibak rambut Anindira yang terjatuh ke dahinya. Gerakannya pelan, hampir ragu, tapi penuh perhatian. ''Aku tahu kau lelah. Sangat lelah. Walau aku tidak mengerti ucapanmu, aku tahu kau tidak mengeluh. Kau tidak manja seperti kebanyakan wanita…'' Ia melanjutkan, suaranya tenang dan rendah. ''Kau nakal seperti Zia. Tapi juga setenang Ezra. Aku tidak tahu bahasamu, tapi aku tahu kapan kau kesal, kapan kau tidak nyaman. Dan meski begitu, kau tetap bertahan. Tetap tersenyum. Aku menyukai semua yang kulihat tentang dirimu… termasuk matamu yang menatapku dengan tulus.'' Wajah Anindira memanas. Ia terkejut, tapi senyumnya tak bisa disembunyikan. Di bawah cahaya bulan purnama, Halvir tersenyum—indah, seperti lukisan yang hidup. Sejak mereka bersama entah sudah keberapa kalinya Anindira melihat senyum itu, dan jantungnya tetap bereaksi sama. Beberapa menit berlalu tanpa kata. Hanya tatapan, hanya napas, hanya perasaan yang mengendap perlahan. Lalu angin dingin datang. Hembusannya lebih tajam di puncak pohon. Anindira menggigil tanpa sadar. Bahunya bergetar, jemarinya mengerat memeluk lutut. Halvir bangkit dan berpindah ke belakangnya. Anindira terkejut, tubuhnya menegang sesaat. Namun tangan Halvir menahan dengan lembut—tidak memaksa, hanya memastikan. Ia duduk di belakang Anindira, memangkunya. d**a bidangnya menempel di punggung Anindira, membungkus tubuh mungil itu dengan kehangatan yang alami. Tidak ada niat tersembunyi. Hanya perlindungan. Dan entah bagaimana, Anindira bisa merasakannya. Ia tidak menolak. Tubuhnya perlahan rileks, tenggelam dalam kehangatan Halvir. Detak jantung mereka tidak lagi berpacu, hanya berdampingan, selaras dengan desir angin malam yang mengalir di antara dedaunan. Di puncak pohon itu, dua dunia yang berbeda kembali menemukan satu titik temu—tanpa bahasa yang sama, tapi dengan perasaan yang mulai saling memahami.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD