**Bab 014: Salah Paham**
''Anindira!''
Halvir melesat. Tangannya langsung merengkuh lengan Anindira yang terpeleset, tubuh gadis itu nyaris terjungkal ke jurang di bawah mereka.
''Ada apa denganmu!'' seru Halvir, suaranya memekik panik. ''Hati-hati!''
Tanpa ragu, Halvir menghardiknya sambil menarik Anindira ke dalam pelukan. Dekapannya kuat—terlalu kuat bagi tubuh mungil Anindira yang masih gemetar.
Tubuh Anindira bergetar hebat di dalam pelukan itu. Jantungnya nyaris meloncat keluar. Dia sendiri terkejut ketika menyadari betapa dekatnya dia dengan kematian—jatuh dari ketinggian puluhan meter hanya karena satu langkah panik.
''Le—lepaskan... aku!'' serunya terputus-putus sambil mendorong d**a Halvir sekuat tenaga.
Percuma.
Dorongan Anindira sama sekali tidak menggoyahkan Halvir.
''Lepaskan aku...'' pintanya lagi, suaranya bergetar. Tubuhnya meronta, berusaha keluar dari dekapan yang justru terasa semakin menyesakkan.
‘’A-aku mohon… j-jangan apa-apa kan aku… t-tolong tetaplah jadi orang baik…’’
Halvir tidak mengerti apa yang terjadi. Namun satu hal sangat jelas baginya—tubuh Anindira gemetar hebat. Rahangnya mengeras, napasnya memburu. Emosi yang bergejolak itu terasa jelas di lengannya. Karena tidak tahu harus berbuat apa, Halvir justru memeluknya semakin erat.
Hik…
Hik…
Hik…
Akhirnya, Anindira menangis.
Masih dalam pelukannya.
Halvir terdiam. Dia tidak tahu bagaimana cara berbicara dengannya. Dengan gerakan yang sangat hati-hati, dia membelai kepala Anindira, jemarinya menyusuri rambut hitam itu perlahan, sabar—menunggu hingga tubuh dalam dekapannya sedikit demi sedikit kehilangan ketegangan.
Beberapa waktu berlalu.
Saat Halvir merasa getaran itu mulai mereda, dia perlahan mengendurkan pelukannya.
Dia memegang kedua lengan Anindira, lalu setengah berlutut agar wajah mereka sejajar. Gadis itu masih terisak.
''Maafkan aku...'' ucap Halvir lembut, wajahnya sendu, begitu dekat dengan wajah Anindira. ''Aku tidak tahu apa yang membuatmu bereaksi seperti itu. Tapi setidaknya pikirkan keselamatanmu—semarah apa pun dirimu.''
Dengan gerakan sangat pelan, jari-jarinya yang kasar menghapus sisa air mata di pipi Anindira.
Jantung Anindira masih berdetak cepat. Mau tak mau, dia menatap bola mata safir biru itu—jaraknya kurang dari dua puluh senti. Terlalu dekat. Terlalu jelas.
Perlahan, rasa resah di dadanya mereda. Ada kekhawatiran tulus di sana. Bukan nafsu. Bukan ancaman.
''Kenapa kau membuka pakaianmu?'' tanya Anindira dengan suara parau.
Halvir memiringkan kepalanya, ekspresinya penuh tanda tanya.
''Apa yang ingin kau lakukan dengan membuka pakaianmu?''
Anindira bertanya lagi. Suaranya masih serak, tenggorokannya perih.
Halvir tetap menunjukkan wajah bingung. Dia menatap Anindira, mencoba menangkap makna dari setiap gerak bibir, setiap perubahan ekspresi.
''Kau sungguh tidak akan melakukan hal yang buruk padaku, kan?!''
Halvir masih diam. Tatapannya serius—bukan dingin, tapi penuh konsentrasi. Sayangnya, bukan hanya bahasa yang menjadi penghalang. Norma, budaya, dan cara berpikir mereka berasal dari dunia yang berbeda. Keduanya sama-sama salah menafsirkan.
''Dunia ini benar-benar asing bagiku,'' suara Anindira bergetar. ''Aku sendirian di sini... selain Kak Halvir, aku tidak punya siapa-siapa untuk bergantung. Jadi kumohon, Kak... jangan rusak penilaianku padamu. Kalau itu terjadi, aku tidak tahu lagi harus mempercayai siapa.''
Huhuhu…
Tangisnya pecah kembali.
Mata Halvir terbelalak. Dadanya terasa sesak. Melihat gadis itu menangis seperti itu membuat hatinya nyeri. Luka-luka di tubuhnya terasa tidak seberapa dibandingkan perasaan yang menekan dadanya sekarang.
''Aku sungguh bingung sekarang...''
Tangannya masih memegang lengan Anindira. Kepala mereka sejajar. Namun kali ini, Halvir menunduk—frustrasi, putus asa.
''Sampai kapan kita akan terus seperti ini?'' keluhnya lirih. ''Kau adalah milikku. Tapi entah kenapa, aku tetap merasa tidak nyaman dengan itu. Aku Safir. Aku seharusnya percaya diri. Tapi saat menghadapimu... semua itu terasa tidak berguna. Apa yang harus aku lakukan? Apa yang kau mau sebenarnya?''
Amarah dan ketakutan Anindira perlahan menguap. Berganti dengan rasa iba.
Di hadapannya, seorang pria besar bertubuh kekar—berotot, penuh bekas luka—terlihat begitu tertekan.
''Kak... apa kau menangis?''
Anindira bertanya serius. Perlahan, kedua telapak tangannya menangkup pipi Halvir, mengangkat wajahnya.
Ekspresi Halvir terbuka sepenuhnya—rapuh, hampir pecah.
''Ternyata tidak...'' gumam Anindira setengah bergurau, terkejut melihat sisi Halvir yang sama sekali berbeda dari sosok yang selama ini dia lihat.
''Kau sudah tenang sekarang?'' tanya Halvir hati-hati.
''Aku tidak mengerti...'' Anindira menggeleng. ''Tapi sepertinya aku memang tidak perlu takut. Kau tidak akan melakukan sesuatu yang buruk padaku...'' Dia berhenti sejenak. ''Sepertinya.''
''Kau tidak akan melakukan sesuatu yang membahayakan dirimu lagi, bukan?!'' Tegas Halvir dengan kekhawatiran penuh yang masih membuncah di dadanya.
''Sudah kubilang aku tidak tahu apa yang kau katakan,'' Anindira memalingkan wajahnya. Wajahnya memerah. ''Tapi situasi ini... aneh.''
Halvir mengernyit, tapi dia merasa lega. Kepanikan Anindira sudah jauh berkurang.
''Sebenarnya, apa yang ingin kau lakukan dengan membuka pakaianmu?!'' tanya Anindira kesal. ''Aku satu-satunya anak perempuan di keluargaku. Tapi itu bukan berarti aku kebal melihat pria bugil! Ini memalukan...''
Dia berusaha keras menghindari bagian bawah tubuh Halvir.
''Tidur!'' serunya tiba-tiba, lebih sebagai pelarian. ''Sebaiknya tidur. Aku sangat lelah.''
''Kak Halvir, ayo tidur saj—Heup!''
Anindira menangkup mulutnya sendiri.
''Bodoh!!!'' jeritnya dalam hati. ''Baru saja lolos dari masalah aneh, kenapa aku malah seolah mengundangnya?!''
''Huwah, masa bodoh!'' teriaknya kesal.
''Anindira!''
Halvir terkejut, namun tidak panik. Dari nafas Anindira yang mulai melambat dan tubuhnya yang tidak lagi meronta, dia bisa merasakan bahwa gadis itu sudah jauh lebih stabil.
Dia mengambil pakaian yang sejak tadi menutupi bagian bawah tubuhnya—sehelai kain dari kulit hewan, diikat di pinggang, panjang hingga mata kaki. Dengan gerakan pelan dan penuh kehati-hatian, Halvir menyelimutkan kain itu ke tubuh Anindira.
''Selimuti dirimu agar tidak kedinginan…'' ucapnya lirih.
Masih dengan sikap setenang mungkin, Halvir membantu Anindira duduk bersandar. Dia memposisikan gadis itu tepat di hadapannya, lalu mendekapnya kembali—kali ini lebih longgar, lebih berhati-hati.
''Tenanglah,'' ucap Halvir lembut. ''Kau bisa mati kedinginan jika menjauh dariku.''
Anindira merasa risih. Jantungnya kembali berdetak lebih cepat. Namun dia memaksa dirinya untuk tidak bereaksi berlebihan.
Tenang, Dira… tenang!
Mudah bilangnya… bokongku nempel di pangku cowok bugil. Aneh kalau enggak gugup!
''Anindira, perjalanan kita masih sangat jauh. Kau harus banyak beristirahat agar tidak sakit...'' ujar Halvir, sama sekali tidak tahu kekacauan pikiran di kepala gadis itu.
Saat Anindira mulai sedikit menenangkan diri, suara Halvir bergetar di tengkuknya.
Lalu—kejadian itu terulang.
Kali ini, kebalikannya.
Tubuh manusia Halvir berubah. Otot, tulang, dan daging bertransformasi menjadi wujud jaguar hitam besar.
Anindira kembali syok.
Namun kali ini, dia tidak berteriak. Tidak melawan. Tubuh dan jiwanya sudah terlalu lelah.
Anindira tertidur di atas tubuh jaguar Halvir yang hangat dan lembut. Kain yang sebelumnya hanya menutupi bagian bawah tubuh Halvir kini menjadi selimut tipis yang cukup untuk tubuh mungilnya.
Malam menelan mereka dalam diam.