**Bab 013: Amuk Anindira**
Perbincangan mereka terus berlanjut. Halvir menunjuk satu per satu benda di sekitar—ranting, daun, tanah, api—menyebutkan namanya dengan suara datar namun sabar. Anindira menyimak sambil sesekali mengangguk, menirukan pelafalan seadanya. Hingga akhirnya, daging kelinci di atas api matang dan siap disantap.
Rasanya hambar. Namun Anindira tetap memakannya tanpa banyak protes. Lagi pula, dalam situasi seperti ini, dia tidak punya ruang untuk bersikap manja atau pilih-pilih makanan.
''Hambar,'' ujar Anindira setelah menggigit secuil daging dan mengunyahnya perlahan. ''Meski begitu rasanya tidak buruk. Sayangnya alot, rahangku pegal.''
Dia mengangkat potongan daging yang telah dicuil, memperlihatkannya pada Halvir sambil sedikit meringis.
Daging kelinci itu memiliki rasa alami yang khas—bersih, sederhana—bercampur aroma kayu bakar dan daun pembungkus yang ikut terbakar. Bau asap masih menempel di jari-jarinya.
''Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan,'' ujar Halvir sambil memperhatikannya, ''tapi melihatmu makan dengan baik, itu artinya kau menyukai daging yang aku masak untukmu. Itu bagus. Kau tidak akan kelaparan kalau begitu.''
Anindira tidak mampu menghabiskan kelinci bagiannya. Perutnya sudah terlalu penuh. Tanpa banyak bicara, Halvir membungkus sisa daging itu dengan daun, lalu mengikatnya menggunakan serat kulit pohon agar mudah dibawa.
Tak lama kemudian, pemuda itu kembali menggendong Anindira dan melanjutkan perjalanan.
Anindira terkejut. Dia sempat mengira akan dibawa naik kembali ke atas pohon seperti sebelumnya.
''Anu... Kak Halvir... turunkan aku!'' serunya canggung.
Karena merasa sudah sedikit lebih akrab, Anindira tidak lagi memanggilnya dengan sebutan tuan. Dia mengganti panggilan itu dengan kakak—secara refleks, karena usia Halvir terasa tidak jauh dari kakaknya, Raffa, yang berusia dua puluh satu tahun.
''Anu, tolong turunkan aku...'' pintanya lagi, wajahnya memerah. ''Kalau mau berjalan, aku bisa jalan sendiri...''
''Tenanglah!'' seru Halvir tegas, namun nadanya tetap terkendali. ''Perjalanan masih jauh. Kalau aku tidak menggendongmu, akan memakan waktu lebih lama. Bagiku tidak masalah, tapi bisa buruk untukmu. Dengan begini akan lebih cepat. Kita tidak bisa terus berlama-lama di hutan... itu sangat berbahaya!''
Anindira hanya bisa terdiam. Dia tidak memahami kalimat panjang Halvir, tapi nada dan ekspresinya cukup jelas. Akhirnya, dia menyerah dan pasrah.
Bukan hanya karena keterbatasan bahasa, tetapi juga karena kekuatan Halvir yang jauh di atas dirinya. Melawan hanya akan sia-sia.
Perjalanan berlanjut. Langkah demi langkah berlalu sambil diselingi ocehan Anindira yang tak henti-henti—tentang apa saja yang terlintas di kepalanya. Halvir sesekali menanggapi, meski percakapan itu lebih sering terasa satu arah.
Tanpa terasa, langit mulai menggelap.
Halvir mendongak, matanya menyapu tajuk pepohonan seolah mencari sesuatu. Saat menemukannya, dia melompat—dari satu cabang ke cabang lain—ringan dan presisi, sambil tetap menggendong Anindira. Hingga akhirnya mereka tiba di puncak pohon yang tinggi dan relatif aman.
Di sana, Halvir menurunkan Anindira.
''Urgh...'' Anindira meregangkan tubuhnya yang kaku. Dia memutar bahu, lalu menepuk-nepuk pahanya. ''Eumh, otot-ototku tegang. Padahal aku digendong. Yang jalan Kak Halvir, tapi tetap saja lelahnya bukan main.''
''Kau lelah?''
Nada Halvir terdengar prihatin. Dia memperhatikan Anindira yang meluruskan kakinya, memijat pahanya sendiri dengan wajah meringis.
Sepanjang perjalanan tadi, Anindira memang tidak sepenuhnya memahami ucapan Halvir. Namun mereka hampir tidak berhenti berbicara—atau lebih tepatnya, Anindira yang berbicara tanpa henti. Sejak dulu, dia memang yang paling cerewet di keluarganya.
''Kemarikan kakimu!'' seru Halvir sambil duduk bersila tak jauh darinya. ''Sini, kupijat untuk melemaskan otot-ototmu yang kaku.''
''Kak, mau apa?!'' pekik Anindira terkejut saat Halvir meletakkan kakinya di atas pangkuannya. ''Jangan, Kak! Aku tidak apa-apa...''
''Kau tahu aku sama sekali tidak mengerti apa yang kau ucapkan,'' ujar Halvir tegas. ''Diamlah. Jika terjadi sesuatu padamu di tempat seperti ini, itu akan merepotkan. Aku tidak tahu harus bagaimana jika itu terjadi.''
''Aku tidak tahu kau bicara apa...'' suara Anindira melemah. ''Tapi Kak Halvir, sepertinya kau sedang kesal... Kenapa? Apa aku menyusahkan?''
Halvir mengernyit. Dia melihat ekspresi sedih di wajah Anindira, mendengar getaran di suaranya. Dia bisa merasakan tekanan yang mulai menumpuk lagi dalam diri gadis itu.
''Aku sungguh merasa kesal pada diriku sendiri sekarang,'' ucap Halvir akhirnya. ''Aku seorang Safir, tapi melihatmu seperti ini membuatku merasa tidak berguna. Selain namamu—Anindira—aku tidak tahu apa pun tentangmu. Kau dari klan apa? Desa mana asalmu? Apa yang terjadi sampai kau bisa tersesat sendirian di perbatasan Hutan Larangan? Tidak bisa berkomunikasi dengan benar sangat membuatku jengkel!''
Anindira memilih diam. Dia membiarkan Halvir memijat kakinya, mengurungkan niat untuk menariknya paksa. Ekspresi Halvir jelas menunjukkan kegelisahan yang tulus, bukan kemarahan padanya.
''Anindira,'' panggil Halvir dengan nada lebih lembut.
''Iya, Kak Halvir...''
Halvir terdiam sejenak, lalu tersenyum tipis. ''Setidaknya sekarang kau menjawab jika aku memanggilmu.''
SYUUU—
Angin malam tiba-tiba berembus, menyentuh kulit Anindira yang terbuka. Tubuhnya langsung menggigil.
''Huft,'' desah Halvir melihatnya. ''Aku tidak tahu apa yang dipikirkan orang tuamu saat memberimu pakaian setipis itu. Atau... ini bukan pemberian mereka? Entah kain apa yang kau gunakan, sangat tipis.''
Halvir membuka bungkusan sisa daging kelinci, lalu mengeluarkan beberapa buah yang dipetik selama perjalanan.
''Makanlah dulu. Setelah itu istirahat. Lalu tidur.''
Beberapa waktu berlalu. Mereka menyelesaikan makan malam sederhana itu. Anindira mulai mengantuk—kelelahan fisik dan mental menggerogotinya. Kelopak matanya berat.
Saat dia hendak merebahkan tubuhnya, Halvir menahannya.
Tiba-tiba, Halvir berdiri dan mulai melepaskan pakaiannya.
Mata Anindira yang semula sayu langsung terbelalak.
Di hadapannya, berdiri pemuda bertubuh kekar—bugil—tanpa ragu.
''KAK HALVIR!'' jerit Anindira, terkejut sekaligus marah.
Ketakutan menghantamnya seketika. Ingatan tentang pria yang sempat mengganggunya di pertemuan pertama kembali menyeruak, bercampur dengan rasa panik.
''Menjauh dariku!'' pekik Anindira, matanya melotot, air mata mulai menggenang. ''Apa pun yang kau pikirkan, jangan coba-coba melakukannya! Meski kau membantuku selama ini, aku tidak akan segan mengambil keputusan ekstrem!''
Halvir terkejut. Dahinya mengernyit dalam.
''Kau kenapa lagi?!'' pekiknya bingung. ''Ada apa denganmu?! Apa yang mengganggumu?!''
''AKU TIDAK TAHU APA YANG KAU KATAKAN!'' teriak Anindira histeris. ''Meski kau merayuku sekalipun, aku tidak akan mengerti!''
Mata Halvir terbelalak. Dia menahan napas, menahan emosi yang nyaris meledak.
''Anindira!'' panggilnya keras namun terkontrol. ''Tenangkan dirimu. Aku tidak mengerti apa yang terjadi. Kita sama-sama kesulitan berkomunikasi. Kau tiba-tiba mengamuk seperti ini... aku sungguh tidak tahu apa yang mengganggumu.''