Saling Pengertian

1180 Words
**Bab 012: Saling Pengertian** ''Kau kembali!'' pekik Anindira menyambut kedatangan pemuda itu dengan wajah berbinar. Suaranya menggema di antara batang-batang pohon, memantul pelan bersama desir angin yang menggesek dedaunan. Pemuda itu berhenti beberapa langkah darinya, menatap senyum lebar Anindira yang hampir terlalu terang untuk kondisi hutan liar seperti ini. Di tangannya, sebuah bungkusan daun tampak masih segar, aromanya samar namun jelas. ''Sesenang itu kau melihatku membawa makanan...'' sahutnya datar, tapi sudut matanya sedikit melunak saat melihat mata Anindira yang berbinar-binar tertuju pada bungkusan di tangannya. Anindira sendiri sulit membedakan mana yang lebih membuatnya senang—pemuda itu kembali sebelum kebosanannya memuncak hingga nekat turun sendiri, atau aroma manis buah yang tercium jelas dari dalam bungkusan. Perutnya yang sejak tadi keroncongan seolah langsung memberi reaksi, berdenyut kecil penuh harap. ''Ini untukku?'' tanya Anindira berbasa-basi, meski tatapannya sudah mengkhianati antusiasmenya. ''Makanlah!'' seru pemuda itu singkat sambil menyodorkan bungkusan itu ke arahnya. ''Ma-kan...'' ujar Anindira, mengulangi kata itu dengan hati-hati, memenggal tiap suku kata seolah ingin mengukirnya dalam ingatan. ''Eum...'' angguk pemuda itu pelan. ''Ma-kan,'' ulangnya sekali lagi, nadanya jelas, tegas. ''Terima kasih,'' ucap Anindira dengan senyum manis yang refleks mengembang di wajahnya. Tangannya segera membuka bungkusan daun itu dan mulai menyantap buah-buahan di dalamnya. ''Aku sangat lapar… Terima kasih sekali lagi,'' tambahnya, hampir tanpa jeda, sambil menjejalkan tiap gigitan ke mulutnya seakan takut makanan itu akan menghilang. Pemuda itu mengamatinya sejenak. ''Semalam kau menangis tersedu-sedu. Tapi lihat sekarang... kau makan dengan lahapnya.'' ''Hm?!'' sahut Anindira dengan mulut masih penuh. Pipinya menggembung, suaranya terdengar aneh tapi jujur. ''Pelan-pelan,'' ujar pemuda itu sambil tersenyum tipis. ''Kalau masih kurang, akan kucarikan lagi untukmu.'' Anindira memang sempat tertekan oleh keadaan yang dialaminya. Dunia asing, bahaya di mana-mana, bahasa yang tidak dipahami. Namun setelah meluapkan emosinya semalam, beban di dadanya terasa sedikit berkurang. Keadaan ini tidak bisa dihindari. Tidak ada jalan kembali yang terlihat. Yang bisa dia lakukan sekarang hanyalah bertahan hidup—selangkah demi selangkah—di dunia yang bahkan belum dia pahami aturannya. ''Kau tampak sangat menyukai buah-buahan itu, tapi kau sama sekali tidak melirik kelinci yang kubawa.'' Anindira kembali menunjukkan reaksi yang sama seperti sebelumnya. Dahi sedikit berkerut, tatapannya kosong beberapa detik. Dia tidak mengerti apa yang dikatakan pemuda itu. Mau tidak mau, hanya ekspresi canggung—nyaris bodoh—yang bisa dia tampilkan sebagai jawaban. ''Kau...'' panggil pemuda itu perlahan. ''Tidak...'' lanjutnya lagi, berhenti sejenak, lalu menunjuk ke arah tangannya sendiri. ''Makan ini?'' tanyanya sambil menunjuk kelinci yang tergantung di tangannya. Kali ini jelas—dia sengaja memecah kalimatnya, mengucapkan kata demi kata, seolah sedang mendikte seorang anak kecil. ''Hmm?'' Anindira mengangkat alis, menatap pemuda itu penuh perhatian. Lalu senyum kecil muncul di wajahnya. ''Maksudnya makan itu?!'' Dia menegaskannya dengan gerakan tangan yang lucu, menunjuk kelinci lalu menunjuk mulutnya sendiri. Ada rasa puas kecil di dadanya—ternyata dia bisa memahami maksud pemuda itu, meski harus terbata-bata. ''Eum,'' angguk pemuda itu. ''Bagaimana makannya?'' tanya Anindira kemudian. ''Itu kan masih mentah?!'' Mereka berdua sama-sama bersabar. Kata-kata terbatas, bahasa berbeda, tapi niat untuk saling memahami membuat mereka terus mencoba. Tangan, gestur, ekspresi wajah—semua dipakai. ''Bagaimana makan kelinci masih penuh bulu begitu?'' lanjut Anindira heran. Dia mengernyitkan dahi, wajahnya membentuk ekspresi jijik tanpa ditutup-tutupi saat menatap kelinci mati di tangan pemuda itu. Tanpa berkata apa-apa, pemuda itu merogoh kantong kulit di pinggangnya. Dia mengeluarkan sebuah batu pipih, lalu dengan gerakan cekatan mulai menguliti kelinci itu. Kulit terkelupas rapi, perut disayat bersih, jeroan dikeluarkan tanpa ragu. Anindira, yang sejak kecil terbiasa membantu ibu dan neneknya di dapur, sama sekali tidak merasa jijik. Dia bahkan pernah ikut mengolah tupai hasil buruan bersama kakeknya. Tangan pemuda itu yang kini belepotan darah tidak mengusik selera makannya sedikit pun. ''Aku sudah membersihkannya, kau sudah bisa memakannya sekarang.'' Setelah selesai, pemuda itu menyerahkan kelinci tersebut pada Anindira. ''Ha?!'' pekik Anindira spontan, ekspresi jijik langsung kembali. ''Ini mau dimakan mentah?!'' Pemuda itu salah menangkap reaksi tersebut. Mengira Anindira benar-benar menolak, dia refleks hendak membuang kelinci di tangannya. ''APA?! TUNGGU!!'' seru Anindira keras. Tangannya bergerak cepat, refleks menahan tangan pemuda itu sebelum kelinci itu terlempar. ''Ada apa denganmu?!'' lanjutnya, suaranya terdengar tegas, nyaris marah. Anindira menatap pemuda itu tanpa ragu. Dia benar-benar tidak suka melihat makanan disia-siakan. ''Ada apa denganmu?'' pemuda itu balik bertanya, jelas kebingungan. ''Aku melakukannya untukmu, aku tidak ingin nafsu makanmu terganggu!'' Dia tidak mengerti kenapa Anindira menahan tangannya—dan lebih tidak mengerti lagi kenapa gadis itu berani menatap langsung ke matanya tanpa gentar. ''Jangan dibuang!'' seru Anindira. ''Kenapa kau menangkap dan mengolahnya kalau mau dibuang?! Kau menangkapnya, itu artinya kau ingin memakannya. Kau tidak akan memberiku sesuatu yang kau sendiri tidak makan, bukan?!'' Nada kesal terdengar jelas. Baginya, makanan—apalagi hasil buruan segar—bukan sesuatu yang bisa dibuang begitu saja. Keduanya terdiam sesaat. Menahan diri. Sama-sama berusaha bersikap bijaksana di tengah kesalahpahaman yang lahir dari bahasa yang tidak sejalan. ''Tuan,'' panggil Anindira akhirnya, menjadi pihak yang lebih dulu mengalah. Suaranya melembut. ''Aku tidak makan daging mentah.'' Dia mencoba menjelaskan dengan setenang mungkin. Dia tidak ingin jarak di antara mereka justru melebar hanya karena salah paham. ''Aahh!'' pekik Anindira tiba-tiba, wajahnya langsung cerah. ''API!'' Canggung, tapi kali ini benar-benar tulus. Dia menunjuk-nunjuk, menggerakkan tangan, memastikan maksudnya tersampaikan. ''API!'' ulang pemuda itu dengan nada datar. Alisnya terangkat. Ada kilat kecil di matanya—tanda dia mengerti. Seperti Anindira, dia juga ingin mereka bisa saling memahami. Bahasa boleh terbatas, tapi kenyamanan itu penting. Pemuda itu kembali merogoh kantongnya dan mengeluarkan dua bongkahan batu. Dengan satu hentakan terukur, kedua batu itu dipukul bersama. Percikan api kecil muncul. ''YA!'' pekik Anindira dengan senyum lebar, matanya berbinar penuh kemenangan. ''Hehehe...'' tawanya terdengar konyol, jujur. ''Tuan, kau pintar...'' ujarnya sambil mengangkat jempol—lengket oleh cairan manis buah yang masih membasahi jarinya. ''Maafkan aku,'' ujar pemuda itu, matanya sedikit sayu saat menatap Anindira. ''Selama dalam perjalanan, kami para pria hanya ingin menghemat waktu dengan memakannya mentah...'' ''Tuan, apa yang kau katakan?'' ''Hm,'' pemuda itu tersenyum tipis. ''Aku juga lebih suka memakan daging yang dimasak.'' ''Tuan, aku sama sekali tidak mengerti apa yang kau katakan...'' ''Jangan pikirkan. Tung-gu... di-sini!'' Dia kembali berbicara dengan cara mendikte, tangannya menahan pundak Anindira lembut, memberi isyarat agar gadis itu menunggu. Gesit dan lincah, pemuda itu menuruni pohon. Anindira kembali ditinggalkan di atas, menunggu dengan perasaan campur aduk. Namun tak lama kemudian, pemuda itu kembali dan membawa Anindira turun. Ternyata dia menyiapkan api unggun. Di bawah, api sudah menyala stabil. Pemuda itu mengambil dua ekor kelinci yang dibungkus daun lebar—mirip daun jati—menusukkannya ke kayu, lalu mulai membakarnya di atas api. Aroma daging perlahan menguar, bercampur dengan asap dan bau kayu terbakar. Sambil menunggu kelinci matang, mereka duduk berhadapan. Suasana menjadi lebih tenang. Dari situlah mereka mulai mencoba berbincang—lebih dari sekadar kata per kata. ''Halvir...'' ujar pemuda itu sambil menunjuk dirinya sendiri. ''Halvir. A-ku. Halvir,'' ulangnya perlahan, lalu menunjuk Anindira. ''Hal... vir?'' Anindira menirukannya, lalu menunjuk kembali ke arah pemuda itu. ''Eum,'' angguk Halvir. ''Kau?'' tanyanya sambil menunjuk Anindira. ''Anindira. A-nin-di-ra,'' jawab Anindira sambil menunjuk dirinya sendiri. Di tengah api unggun yang menyala dan bahasa yang patah-patah, benih pengertian itu akhirnya mulai tumbuh.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD