Pengubah Wujud

1535 Words
**Bab 011: Pengubah Wujud** Mata Anindira terbelalak. Begitu lebar hingga ia lupa caranya berkedip. Pandangan itu terpaku pada sosok yang memeluk pinggangnya—atau lebih tepatnya, pada ketiadaan yang mustahil. Jaguar hitam besar yang barusan ada di hadapannya… telah lenyap. Sebagai gantinya, kini ada seorang pria gagah yang memeluknya erat agar tubuhnya tidak terjerembap jatuh dari ketinggian puluhan meter. Dan pria itu— Bugil. Tidak ada sehelai kain pun yang menutupi tubuhnya. Kulit kecokelatan yang kencang, otot-otot yang terbentuk jelas, dan panas tubuh yang masih terasa asing di kulit Anindira. Semua itu menghantam kesadarannya sekaligus, membuat pikirannya seolah berhenti bekerja. ''Hati-hati!... Awas kau bisa terpeleset, tempat ini sangat tinggi!'' Suara itu terdengar datar, nyaris tanpa emosi. Dengan gerakan lembut namun mantap, pemuda itu menarik Anindira menjauh dari tepi dahan, memindahkannya ke pijakan yang lebih aman. Anindira menelan ludah. Tidak berhasil. Mata Anindira semakin melotot. Syok, bingung, malu, terkejut—semuanya bercampur aduk, bertabrakan di kepalanya tanpa urutan. Pemuda itu, seolah tidak terjadi apa-apa, melangkah pergi mengambil pakaian yang tergeletak tidak jauh dari sana. Ia mengenakannya kembali dengan tenang, gerakannya efisien dan tanpa ragu. Setelah itu, ia berjalan mendekat dan—tanpa bertanya—merangkul pundak Anindira, menuntunnya agar berdiri dengan seimbang. Etika sudah benar-benar menguap dari benak Anindira. Ia menatap sosok di hadapannya tanpa berkedip. Bukan karena berani—melainkan karena otaknya belum sempat menyusun reaksi. ''Tu-tu-tu-tu-tuan... Ja... Jaguar?!??'' Jarinyapun terangkat, menunjuk pemuda itu dengan gemetar. Kakinya bergerak mengikuti langkah pemuda itu, meski pikirannya tertinggal jauh di belakang. Kepala Anindira terus bergerak—menengadah menatap wajah pemuda itu, lalu lurus ke depan, lalu menunduk, lalu kembali lagi—berulang-ulang, seperti mesin rusak yang tidak bisa berhenti. Pemandangan beberapa detik yang lalu masih terpatri jelas. Terlalu jelas. Syok itu belum menghilang, namun rasa ingin tahunya jauh lebih kuat. Ia harus tahu. ''Huft,'' pemuda itu mendengus pelan, jelas terdengar frustrasi. ''Aku sama sekali tidak tahu apa yang kau katakan...'' ''Hah, kau bilang apa?!'' Anindira memekik refleks. ''Ah, lupakan itu, jawab dulu ini! Itu... tadi... aduh... bagaimana bilangnya?... Tadi... barusan, tuan... Tuan tadi berubah wujud... jadi jaguar... eh, bukan, dari jaguar ke manusia!... Eh, lah!!... Sama saja, kan... ADUH!!!... Bagaimana sih, ngomongnya?!'' Tangannya bergerak kacau, mencoba memperagakan perubahan wujud yang bahkan tidak bisa ia jelaskan dengan kata-kata. Anindira terdiam sesaat, napasnya memburu—lalu menghembuskannya kasar. Ia frustrasi. Sangat. ''Sebetulnya, apa yang sedang ingin kau katakan?!'' tanya pemuda itu akhirnya, menatap Anindira yang terlihat kelelahan oleh kehebohannya sendiri. ''Semalam kau menangis tersedu-sedu, tapi sekarang kau malah sangat berisik. Apakah suasana hatimu sudah baik sekarang?'' Anindira menatapnya dengan sungguh-sungguh. Kali ini, ia berusaha fokus. Mengamati ekspresi wajah pemuda itu, garis rahangnya, sorot matanya. Berharap—meski hanya sedikit—ia bisa menangkap makna di balik kata-kata yang tidak ia mengerti. Pemuda itu pun memperhatikannya balik. ''Hm.'' Senyum tipis tiba-tiba terukir di wajahnya. Senyum yang terlalu lembut untuk seseorang yang bisa berubah menjadi jaguar raksasa. Dan itu… membuat Anindira terdiam. ''Ada apa?'' tanya pemuda itu datar, meski dadanya berdegup lebih cepat. ''Kenapa melihatku begitu? Kali ini apa yang kau pikirkan?'' Anindira tidak menjawab. Ia hanya terus menatap—mata berbinar, penuh rasa ingin tahu, seolah sedang mencoba menghafal wajah pemuda itu. Dan tanpa disadarinya, senyum manis pun terlukis di wajahnya. Pemuda itu tersentak. Jantungnya berdebar keras. ''b******k!'' umpatnya pelan, kesal pada dirinya sendiri. ''Huft...'' Ia menarik nafas dalam, memaksa diri tenang. ''Hei, kau dan aku harus segera saling mengerti satu sama lain... Kau sendirian di hutan, aku menolongmu, aku jelas punya hak atas dirimu. Tapi... ini benar-benar membuatku sesak karena aku harus menahan diri. Aku sendiri bingung kenapa aku merasa kalau aku akan menyakitimu jika aku berpasangan denganmu sekarang...'' Anindira tidak mengerti kata-katanya. Namun ia mengerti emosinya. Ada kegelisahan. Ada tekanan. Ada sesuatu yang sedang ia tahan dengan susah payah. ''Ada apa?...'' gumam Anindira dalam hati. ''Dia tampak kesal tadi... lalu menarik nafas dalam... apa aku melakukan sesuatu yang salah?... Maafkan aku... tapi kumohon bersabarlah sedikit... Aku tidak punya pilihan... Aku masih ingin hidup... meski tidak tahu malu... aku akan bergantung padamu...'' KRRUUKK Suara itu memecah udara. Anindira membeku. Tangannya refleks menekan perutnya. Lima detik berlalu—dan suara itu terdengar lagi, lebih jelas. Wajahnya memanas. ''Lapar?'' tanya pemuda itu sambil mengangkat alis. Tidak ada jawaban. ''Lapar?!'' ulangnya, kali ini menunjuk langsung ke perut Anindira. Anindira terdiam sesaat. Lalu menghela nafas kecil. ''Sudahlah,'' pikirnya. ''Malu tidak akan menyelamatkanku dari mati kelaparan.'' ''Hehehe...'' tawa bodohnya keluar. ''Iya, la-par...'' ucapnya terbata, mengangguk dan cengengesan. Alis pemuda itu terangkat. Senyum tipis muncul, dan kali ini tidak ia sembunyikan. Ia berdiri. Anindira ikut berdiri refleks. ''Kamu tunggu di sini!'' katanya perlahan, sambil memperagakan gerakan duduk agar Anindira paham. ''Aku akan cari makanan untukmu. Jangan takut, aku tidak akan jauh darimu. Yang penting, kau harus berhati-hati pada pijakanmu... kau mengerti?!'' Anindira tertegun, lalu mengangguk. Pemuda itu segera pergi, tubuhnya melesat lincah menuruni pohon. ''UWAH!'' pekik Anindira begitu melihat ketinggian tempat itu dengan jelas. ''Tinggi. Kalau jatuh dari sini, langsung jadi ‘ayam geprek’ nih.'' Sunyi kembali menyelimuti. ''Dia ke mana, ya...'' ''Ditinggal sendirian begini...'' ''Mana di atas pohon lagi...'' ''Kenapa harus di atas pohon sih...'' Anindira bergumam tanpa henti, mencoba mengusir rasa bosan—dan kegelisahan yang pelan-pelan kembali merayap. Anindira menarik nafas dalam-dalam, lalu menghembuskannya perlahan. Tidak membantu. Dadanya masih terasa sesak, seperti ada sesuatu yang menekan dari dalam—bukan sakit, bukan juga panik murni. Lebih mirip perasaan seseorang yang baru saja melihat fondasi dunianya retak, tapi belum benar-benar runtuh. Dia menatap kedua telapak tangannya lagi. Kulitnya kotor, ada sisa getah, ada goresan halus, ada luka lecet yang sudah mengering. Semuanya terasa nyata. Terlalu nyata untuk disebut mimpi. ''Kalau ini mimpi… harusnya aku sudah bangun sejak tadi,'' gumamnya lirih. Ia mencubit pahanya sendiri. Pelan. Lalu sedikit lebih keras. Perih. Anindira mendengus pendek, setengah putus asa. ''Oke. Jadi aku benar-benar di sini.'' Pandangannya terangkat, menelusuri kanopi pepohonan yang rapat. Cahaya matahari menyaring di antara daun, menciptakan pola-pola terang dan bayangan yang terus bergerak mengikuti hembusan angin. Suara hutan pagi terdengar hidup—burung, serangga, gesekan dahan—ritme alam yang tidak peduli pada kekacauan di kepala manusia. Dunia ini berjalan normal. Yang tidak normal… adalah dirinya. Atau lebih tepatnya—apa yang ia lihat. Jaguar. Manusia. Satu makhluk. Dua wujud. Anindira menelan ludah. Sebagai seseorang yang tumbuh dengan logika modern, hal pertama yang otomatis muncul di pikirannya adalah penjelasan. Trik. Ilusi. Efek cahaya. Halusinasi akibat stres ekstrem, dehidrasi, atau trauma. Namun setiap hipotesis runtuh satu per satu. Ia tidak pingsan. Ia sadar penuh. Ia melihat perubahan itu dari jarak dekat. Ia merasakan lengannya ditarik, tubuhnya ditahan, berat badannya ditopang—semua sesuai hukum fisika. Dan yang paling mengganggu— Tidak ada jeda. Perubahan itu tidak terasa seperti sulap. Tidak ada asap, tidak ada kilatan aneh. Tubuh besar itu benar-benar… bergeser menjadi bentuk manusia seolah itu hal paling wajar di dunia. ''Seolah… dia memang dua hal itu sejak awal,'' gumam Anindira pelan. Pikirannya berputar ke malam sebelumnya. Cara pemuda itu bergerak. Ringan. Senyap. Nalurinya yang tajam. Kekuatan fisiknya yang jelas tidak biasa. Cara dia memilih tempat tinggi untuk bermalam. Cara dia mencium bahaya bahkan sebelum Anindira menyadarinya. Semua itu tiba-tiba terasa… masuk akal. Masuk akal dengan cara yang menakutkan. ''Jadi… sejak awal aku bersama seekor… atau seorang,'' bisiknya. Anehnya, pikiran itu tidak membuat dadanya kembali berdegup liar. Yang muncul justru perasaan asing—seperti potongan puzzle yang akhirnya jatuh di tempatnya. Tidak nyaman, tapi pas. Anindira memeluk lututnya lebih erat. ''Kalau dia memang jaguar…'' lanjutnya dalam hati, ''…aku seharusnya bukan sekadar ‘ditolong’. Aku seharusnya mangsa.'' Ia mengingat tatapan mata biru safir itu. Bukan tatapan pemburu yang menilai jarak lompat. Bukan tatapan hewan yang lapar. Tidak ada kilatan insting membunuh di sana. Yang ada… perhatian. Kesadaran. Bahkan—entah kenapa—kesabaran. ''Itu yang paling aneh,'' gumamnya. ''Dia tidak melihatku seperti makanan. Tapi juga tidak seperti… manusia lain.'' Anindira menyandarkan punggungnya ke batang pohon, menutup mata sejenak. Ia merasa kecil. Bukan secara fisik, tapi secara eksistensial. Selama ini, ia hidup dengan asumsi sederhana: dunia bisa kejam, tapi setidaknya bisa dipahami. Alam liar berbahaya, tapi mengikuti aturan. Manusia rapuh, tapi logis. Sekarang? Aturan itu kabur. Dunia ini punya hukum sendiri—dan dia tidak memegang buku panduannya. ''Kalau aku tidak bisa pulang…'' bisiknya tanpa sadar. Kalimat itu menggantung di udara, tidak berani ia lanjutkan. Ia membuka mata cepat-cepat, seolah takut pikiran itu akan menjadi kenyataan jika diteruskan. ''Tidak. Jangan pikir sejauh itu,'' katanya tegas pada dirinya sendiri. ''Satu masalah dalam satu waktu.'' Masalah pertama: bertahan hidup. Masalah kedua: makhluk yang bisa berubah wujud itu. Dan untuk saat ini—entah ia suka atau tidak—kedua masalah itu saling terikat. Anindira menatap kembali ke arah hutan. ''Aku tidak tahu siapa atau apa kau sebenarnya,'' gumamnya lirih, lebih jujur dari yang ia sadari. ''Tapi… sampai aku menemukan jalan keluar dari tempat ini… aku membutuhkanmu.'' Angin kembali berembus, menggerakkan dedaunan. Hutan tetap diam, seolah menyimpan rahasia yang belum siap ia buka. Anindira menarik napas, kali ini lebih stabil. Ketakutan masih ada. Kebingungan masih menekan. Tapi di balik semua itu, satu keputusan kecil mulai mengeras di dalam hatinya— Ia akan mengamati. Ia akan belajar. Ia akan bertahan. Karena apa pun dunia ini… dia belum selesai hidup.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD