**Bab 010: Jaguar Hitam**
Sempat berdegup tidak karuan, detak jantung Anindira kini perlahan mulai menemukan ritme yang lebih stabil, meski tiap napasnya masih terasa cepat dan terputus-putus.
''Sejak kapan jaguar punya bola mata seperti itu?!'' gumamnya pelan, suaranya masih tersendat.
Ia menatap mata biru safir predator di hadapannya—cerah, menembus, seolah menyimpan rahasia dunia lain.
''Bola mata biru seperti safir… bukankah itu mirip dengan mata… Si ‘Tuan’? Aneh… tapi… indah…''
Gemetar masih menyelimuti tubuhnya, namun sedikit keberanian mulai muncul dari relung hatinya.
Ia menertawakan dirinya sendiri, tawa aneh yang bergetar dan nyaris pecah, ''Hehehe… Masa’ sih?!… Tidak… Itu tidak mungkin!''
Ritme jantungnya sempat menenangkan diri, tapi segera kembali cepat, hampir seperti menandingi denyut kaki jaguar yang siap melompat kapan saja.
''T-T-TUAN!'' teriaknya, suara bergetar, terbata, menembus kesunyian hutan.
''TU-TUAN!... TUAN!...''
Nada paniknya semakin terdengar saat ia menjerit lebih keras, ''ANDA DI MANA?!''
Tidak ada jawaban.
Hanya bisikan angin dan suara dedaunan yang berdesir mengisi ruang sepi.
Anindira tetap waspada pada jaguar besar di hadapannya. Kepala tegak, tubuh kaku, matanya berkeliling, menelusuri setiap gerakan hewan itu.
Tapi kini, rasa takut mulai berubah menjadi ngeri—ketika ia menyadari bahwa dunia ini bukan lagi dunia yang ia kenal. Udara terasa lebih dingin dari biasanya, aroma hutan pekat dengan tanah basah dan daun lembap, cahaya remang dari sinar pagi membuat bayangan pohon tampak seperti raksasa mengintai.
''Tidak… kumohon… itu pasti tidak benar… Tolong… aku mohon… itu tidak benar… Aku masih ingin pulang… katakan itu tidak benar… aku masih punya harapan…''
Bibirnya gemetar, mata mulai berkaca-kaca.
Tangan kecilnya menekuk lutut, merangkul tubuh sendiri.
Energi dan harapan seakan terlepas perlahan, meninggalkan Anindira dalam kesunyian hutan yang menakutkan.
Ia bertahan, meski hanya seutas benang tipis harapan yang tersisa, menggenggamnya erat, berusaha tidak jatuh ke dalam kegelapan yang mengerikan itu.
Jaguar hitam itu berhenti sejenak, bulu pekatnya berkilau samar diterpa cahaya remang pagi. Bola matanya yang biru safir menatap tajam ke arah Anindira.
Segera, ia merasakan perubahan energi dari gadis itu—degup jantung yang cepat, nafas tersendat, aura ketakutan yang memancar keluar.
''Kenapa dia?!'' gumam Jaguar dalam benaknya, seolah terdengar hanya untuk dirinya sendiri.
Detak jantung predator itu seakan menyesuaikan ritme dengan denyut jantung Anindira, mencoba menangkap apa yang membuat emosi gadis itu memburuk.
''Ada apa dengannya?'' lanjut Jaguar, tubuhnya tetap tenang tapi seluruh ototnya siap bereaksi, ekor panjangnya bergerak pelan mengimbangi keseimbangan, telinga tajamnya menangkap setiap bisik angin dan desis daun.
Anindira, menyadari bahwa Jaguar itu memperhatikannya, menggigil di ketinggian pohon, tubuhnya masih kaku. Napasnya memburu, dan bulir keringat mulai menetes di pelipisnya. Pandangannya berputar, mencoba menilai bahaya sekaligus mencari titik harapan—mata biru Jaguar itu menembus seluruh kewaspadaannya, seolah menanyakan: apakah ia aman, atau apakah ia telah menyerah pada ketakutan sendiri?
Jaguar mendekat sedikit, langkahnya ringan tapi mantap di atas cabang pohon, menyesuaikan jarak agar tetap berada dalam jangkauan visual Anindira. Bau hutan pagi bercampur aroma tanah basah dan dedaunan lembap menyelimuti udara, membuat semua indera Anindira semakin waspada.
''M-Ma-mau… a-apa... J-ja-jangan mendekat, aku mohon... Pergilah... dagingku tidak enak... cari makanan yang lain...''
Suara Anindira parau, bergetar hebat. Napasnya tersengal, bulu kuduk berdiri, jantungnya berdegup liar. Tangannya gemetar menahan diri di dahan, sementara kakinya nyaris kehilangan pijakan.
Jaguar itu bergerak perlahan, setiap langkahnya mantap dan sunyi, meski tubuhnya dua kali lipat lebih besar dari normal. Cahaya remang menyoroti bulu hitam pekatnya yang berkilau, menciptakan siluet yang menegangkan di antara dedaunan dan kabut. Nafas hewan buas itu keluar seperti uap tipis di udara dingin pagi, aromanya mengisi indra penciuman Anindira, membuatnya semakin menegang.
DEG
Sekali lagi, bola mata biru safir Jaguar itu menatap langsung ke matanya.
Sekejap rasa takut yang menyesakkan d**a Anindira seakan membeku, seolah dunia berhenti berputar.
Namun, anehnya, ada kilau sesuatu yang berbeda di tatapan itu—tidak ada niat menyerang, tapi penuh kewaspadaan dan… perhatian.
Perlahan, tubuh Anindira merasakan ketegangan menurun.
Napasnya yang semula tersengal mulai teratur, meski masih bergetar.
Sorot matanya tak bisa lepas dari mata Jaguar, dan ada sensasi aneh yang menyelinap ke dalam hatinya: rasa aman yang membingungkan di tengah ketakutan.
Jaguar berhenti beberapa langkah dari Anindira, duduk di atas dahan dengan posisi tubuh siap siaga tapi tenang. Ekor panjangnya bergelung di sekitar kaki pohon, telinga bergerak mengikuti suara hutan, dan pandangannya tak lepas dari Anindira. Udara pagi yang dingin berhembus lembut, menggerakkan rambut Anindira, dan aroma tanah basah bercampur dedaunan semakin memperkuat momen magis itu.
Anindira, perlahan, menurunkan kedua tangannya dari dahan. Bibirnya sedikit bergetar, mata berkaca-kaca, tapi detak jantungnya mulai menenangkan diri.
Ada satu hal yang jelas: Jaguar itu… bukan sekadar predator biasa.
Jaguar hitam besar melangkah maju dengan langkah panjang dan mantap. Setiap pijakannya di dahan terdengar halus namun pasti, seperti alat musik yang berdenting pelan tapi teratur di udara pagi yang hening. Tubuhnya bergerak elegan, otot-ototnya yang berkilau di bawah cahaya bulan yang tersisa menunjukkan kekuatan luar biasa, sekaligus ketenangan yang mengintimidasi.
Anindira menahan napas, tangannya masih mencengkeram dahan, tubuhnya gemetar. Mata biru safir Jaguar itu menatapnya dengan intens, namun ada sesuatu yang aneh di dalam tatapan itu—bukan hanya predator dan mangsa, tapi seperti… penilaian, penasaran, bahkan rasa ingin tahu.
''Apa lagi yang dipikirkan gadis ini?!'' gumam Jaguar di dalam hati, nada suaranya terdengar jelas dalam pikiran Anindira, mengejutkannya.
''Aku betul-betul heran dengan kelakuannya. Apa yang membuatnya setakjub itu… tidak mungkin karena penampilanku, 'kan?!''
Anindira menunduk sejenak, kemudian menatap kembali ke mata Jaguar.
Ia menahan napasnya, mencoba menafsirkan gerakan kepala hewan itu yang tiba-tiba menggeleng.
''A-anu… Ja-jaguar, kau menggelengkan kepalamu?'' gumamnya dengan suara gemetar, alisnya berkerut mencoba mengartikan makna gestur itu.
''Apa aku salah? Tuan Jaguar… kau sepertinya sedang mengejekku?!''
Jaguar itu melengos, melewatkan ucapan Anindira, dengan ekor panjang bergelombang perlahan di udara.
Ia mendekat ke arah helai pakaian yang tergeletak di dahan, seolah mengenali sesuatu. Cahaya matahari pagi memantul di bulu hitamnya, menimbulkan kilau biru gelap di punggungnya.
''Itu… itu kan… pakaian yang dipakai pria itu!'' seru Anindira, lupa akan rasa takutnya beberapa saat lalu.
Tubuhnya menegak, mata membesar, nafas tersengal karena campuran antara takut dan penasaran.
''Tuan Jaguar!''
Anindira memanggil, suaranya bergema di antara pepohonan, hampir memecah keheningan hutan.
''Apa kau benar-benar dia?!''
Jaguar berhenti beberapa langkah di depannya. Mata biru safir itu menatap Anindira dengan intensitas yang membuat darahnya berdesir, seolah menembus langsung ke relung hatinya. Angin pagi menyapu rambutnya, menimbulkan aroma hutan yang segar bercampur tanah basah, sementara dedaunan bergesekan di sekeliling mereka, menambah kesan sunyi yang sarat misteri.
''TUAN!... TUAN!... TUAN!'' jerit Anindira, nadanya semakin panik.
''KAMU DI MANA?!'' Suara itu terdengar parau, mengiringi jantungnya yang berpacu tak karuan.
Jaguar itu hanya melengos, mengangkat kepalanya tinggi, seolah menilai, kemudian bisikan dalam pikirannya muncul: “Dari sekian banyak wanita, kenapa aku harus terimprint oleh wanita aneh seperti dirinya?!”
Anindira menelan ludah, tubuhnya gemetar.
Ia sudah mulai menebak bahwa Jaguar besar ini adalah makhluk yang sama dengan pemuda yang menolongnya. Tapi pikirannya menolak kenyataan itu; logika dan nalurinya berseteru, membingungkan hatinya.
Kepalanya tetap tegak, mata terus berputar, meneliti setiap gerakan Jaguar, setiap ranting yang patah, setiap bayangan yang bergerak di bawah sinar pagi. Ia mencoba menenangkan diri, menahan napas, mengatur keseimbangan di atas pijakan dahan yang rapuh.
''Bodoh, apa yang kau lakukan?!'' Hardik yang tegas dan mendesak, “Perhatikan kakimu!”
Jaguar itu kemudian meloncat secepat kilat. Tubuhnya yang besar meluncur di atas dahan-dahan, angin berdesir di sekitarnya.
Anindira terkejut, refleks mencondongkan tubuh mundur, tapi kakinya hampir terpeleset ke sisi dahan yang rapuh. Jantungnya seperti mau meledak, bulu kuduknya berdiri.
Setiap gerakan Jaguar begitu cepat namun terkontrol.
Setiap pijakan kakinya mantap dan anggun meski tubuhnya besar dan berotot, matanya yang biru safir tetap terpaku pada Anindira, penuh kewaspadaan sekaligus perhatian. Sensasi kehangatan yang aneh menyusup ke dalam dadanya, membaur dengan ketakutan—takdir dan misteri terasa bersatu dalam satu momen yang membeku di udara pagi itu.
Anindira membeku, tubuhnya kaku, napasnya tercekat. Jantungnya berpacu kencang, hampir melompat keluar dari dadanya.
Tiba-tiba, aura di sekeliling makhluk itu berubah. Udara berdesir kencang, dedaunan bergesekan, angin pagi menyalip rambut Anindira, membuatnya menahan napas. Sebuah cahaya tipis memantul dari bulu hitamnya, menyorot ke arah wajah Anindira.
WOOSSSHHH—suara itu terdengar seperti angin yang melaju kencang, mendesing di antara pohon.
Mata Anindira melebar, tubuhnya menegang, sementara yang dilihatnya seolah menentang semua logika.
Jaguar hitam itu… mulai bergetar, memendek, mengecil, dan perlahan… tubuhnya berubah.
Dalam hitungan detik, bulu hitam yang legam itu memudar, bentuknya mengecil, kemudian berganti—di hadapan Anindira kini berdiri seorang pemuda gagah yang sama persis dengan pria yang menolongnya kemarin.
Rambut hitamnya masih sedikit berantakan, sorot matanya biru safir yang memikat dan tajam, tubuhnya berotot dan gagah, aura kekuatannya sama menggetarkan seperti Jaguar tadi.
Anindira menelan ludah, matanya nyaris tak berkedip. Dia merasakan jantungnya seakan berhenti sejenak, lalu berpacu lebih kencang dari sebelumnya.
Pemuda itu menangkap tubuh Anindira tepat saat kakinya hampir terpeleset dari dahan tinggi. Tangan pemuda itu kuat dan mantap, menggenggam Anindira dengan presisi yang membuatnya tak jatuh meski berada puluhan meter di atas tanah. Tubuhnya terasa hangat, stabil, namun kekuatannya membuat Anindira terperangah.