**Bab 009: Luapan Emosi**
Pemuda itu hanya bisa diam. Ia tidak mengerti sepatah kata pun dari yang diucapkan Anindira, namun rona wajahnya berubah tipis saat melihat alis Anindira berkerut.
Perubahan itu, meski kecil, cukup untuk menimbulkan respons pada Anindira—senyumnya merekah, tulus, sebagai ungkapan terima kasih atas perhatian pemuda itu.
“Jangan khawatir!” seru Anindira, menepuk-nepuk pergelangan tangan pemuda itu seolah memberi jaminan bahwa dia baik-baik saja.
Dengan perlahan, Anindira mengambil daun yang sudah diremas pemuda itu, menggosok-gosokkan ke tubuhnya.
Sesekali ia meringis, terdengar suara keluhan menahan pedih yang menusuk kulitnya.
Air matanya pun akhirnya mengalir—antara karena rasa sakit yang sulit ditahan dan luapan emosi yang selama ini ditekan, sejak ia tersesat di hutan malam itu.
Pemuda itu terkejut melihat Anindira menangis. Ia mencoba mengangkat wajah Anindira dengan ekspresi bingung dan hendak mengambil remasan dedaunan dari tangannya.
Namun, Anindira segera menangkup tangan pemuda itu dengan kedua tangannya. Matanya berlinang air mata, tapi bibirnya tersenyum, tatapannya menembus langsung ke bola mata pemuda itu.
“Tidak apa-apa,” ujar Anindira, menarik nafas dalam-dalam, “Tidak apa-apa… Jangan khawatir!” serunya sambil menggeleng-gelengkan kepala.
“Hehehe…” tawa aneh, campuran antara kesakitan dan lega, keluar dari bibirnya.
“Sakit sedikit… cuma sedikit… sebentar lagi juga sembuh… jangan khawatir!” Kata-katanya terus diulang, mata yang berlinang air mata tetap menatap pemuda itu dengan tulus.
Di dalam hati, pemuda itu berpikir, “Aku tidak tahu apakah ia menangis karena sakit atau karena hal lain. Aku ingin menghiburnya, tapi apa pun yang kukatakan, ia tidak akan memahaminya…”
Akhirnya, ia hanya duduk lebih dekat, mengangkat Anindira ke pangkuannya.
Perlahan, tangannya membelai kepala Anindira.
Ia tidak mengerti apa yang dirasakan gadis itu, juga tidak mengerti kata-katanya, tapi ia tahu dia harus tetap tenang dan hadir untuknya.
Anindira terkejut saat diangkat ke pangkuan pemuda itu, tapi kenyamanannya begitu nyata, menenangkan setiap ketegangan di tubuhnya.
Ia lelah untuk berpikir macam-macam, membiarkan emosinya meledak, menangis sejadi-jadinya, meluapkan semua keluh kesah yang tertahan.
Pemuda itu tetap diam, tangannya terus membelai punggungnya dengan lembut.
Beberapa jam kemudian, setelah puas menangis, Anindira akhirnya tertidur pulas di pangkuan pemuda itu, dalam rasa aman yang nyaman.
Matahari mulai menampakkan sinarnya, teriknya menyentuh kulit Anindira. Ia mengerjap-ngerjapkan mata, perlahan bangun dari tidur yang begitu lelap. Kesadarannya masih belum sepenuhnya terkumpul, pikirannya berputar mencoba mengingat kembali malam kemarin.
Bayangan dirinya yang menangis dan meraung-raung di pangkuan pemuda asing itu kembali menghantui benaknya. Ia tersipu, membayangkan wajahnya pasti memerah jika kulitnya putih, menutupi rasa malu yang tiba-tiba menyeruak.
Ia berharap itu semua hanya mimpi… tapi rasa sakit dan pedih yang masih terasa di tubuhnya segera menyadarkannya bahwa kejadian semalam benar-benar nyata. Di sekelilingnya, bertebaran remah-remah daun kayu putih yang telah mengering, menjadi saksi bisu dari perawatan sederhana pemuda itu.
Meski tubuhnya nyeri di sana-sini, ia tidak bisa menahan senyum tipis. Anehnya, ia merasa tidur semalam sangat nyaman, jauh dari kesan keras batang kayu di bawahnya. Ada kehangatan yang aneh, kehangatan dari sosok yang menjaganya—sebuah kenyamanan yang sulit dijelaskan, namun membuatnya merasa aman di tengah hutan belantara yang masih pekat.
''Emmhh... Ahh... Ini nyaman…'' gumam Anindira sambil meregangkan tubuhnya, bangun dari tidur yang lelap.
''AH!... Tuan, terima kasih semalam…''
Ucapan itu terhenti mendadak.
Mulutnya masih menganga, mata terbelalak sampai hampir keluar dari rongga matanya.
Jantungnya berpacu begitu kencang, terasa seperti ingin meloncat keluar dari d**a, aliran darah panas menusuk ke kepala.
Napasnya tersangkut, paru-parunya terasa sesak, lidahnya kelu.
Tubuhnya membeku, seluruh otot seakan mengeras.
Kurang dari satu menit, wajahnya berubah pucat pasi, ketakutan dan keterkejutan meledak begitu saja di hati dan pikirannya.
Matanya menatap tak percaya ke arah sesuatu yang menunduk di hadapannya—makhluk besar bermata biru, dengan bulu hitam pekat yang berkilau di bawah sinar matahari pagi yang menembus celah daun.
Aroma liar, tanah basah, dan rambut binatang memenuhi hidungnya, membuat Anindira meringis.
Seekor jaguar hitam—lebih besar dari jaguar yang pernah dilihatnya di dokumenter—duduk tenang, otot-ototnya tegang siap bergerak.
Bulu hitamnya berkilau gelap, seperti permukaan air yang diliputi bayangan, matanya biru safir memandang tajam ke arah Anindira.
Setiap napasnya terdengar berat, berdengung di udara pagi yang hening.
''Ja-jag-jag… JAGUARRR!!!'' suara Anindira lirih, hampir tidak keluar, tersangkut di tenggorokan.
Tubuhnya menggigil bukan hanya karena takut, tapi juga karena udara pagi yang sedikit dingin menyentuh kulitnya yang masih lemah dari luka semalam.
Dia ingin bergerak, ingin menjerit, tapi kaki dan tangannya kaku, seolah membeku oleh ketegangan. Segala inderanya menegaskan satu hal: makhluk ini bukan hanya besar dan kuat, tapi liar, dan bisa melancarkan serangan dalam sekejap.
Jaguar itu mengangkat kepalanya perlahan, matanya biru menyala, batu safir di antara bayangan hutan, bulunya berkilau hitam gelap.
Ia memandang Anindira dengan tenang, namun aura predatornya membuat Anindira merasakan dingin yang menusuk tulang.
Anindira berdiri gemetar, seluruh tubuhnya bergetar hebat. Matanya menatap makhluk besar di hadapannya—seekor jaguar hitam, lebih besar dan lebih mengintimidasi dari yang pernah ia lihat sebelumnya.
''Bagaimana aku akan menyelamatkan diri?'' gumamnya di dalam hati.
''Aku berada di ketinggian puluhan meter… Ough! Kenapa pria itu harus membawaku ke tempat tinggi…? Aku tidak tahu harus bagaimana dalam keadaan seperti ini…''
DEG DEG DEG
Degup jantungnya bergemuruh, terasa sampai ke tenggorokannya.
Napasnya terengah, dadanya terasa sesak.
Bulir keringat mulai menetes di pelipis, menciptakan jejak hangat yang mengalir di kulit dingin.
Wajahnya memelas, bibirnya sedikit menggemetar.
''Apa yang harus aku lakukan sekarang?!'' pikirnya panik.
''Adakah seseorang yang bisa menolongku?''
Matanya bergerak cepat, memindai sekeliling.
Cabang-cabang pohon menjulang tinggi, dedaunan menari diterpa angin tipis, bayangan mereka tampak seperti hantu-hantu gelap.
Hanya cahaya matahari pagi yang menembus sedikit celah, menciptakan sorot tipis di tanah hutan yang lembap.
''Dimana dia?!'' teriak hatinya penuh harap.
''Kemana dia meninggalkanku sendirian? Jahat sekali dia… Apa dia kerepotan untuk menjagaku? Setidaknya berpamitanlah padaku. Tolong aku… di mana kau, Tuan?''
GROAR!
Sebuah auman lembut tapi menggetarkan udara terdengar dari jaguar di hadapannya.
Tubuh Anindira tersentak, nyaris kehilangan keseimbangan di atas ranting pohon yang licin. Mata biru predator itu kini fokus menatapnya. Anindira menahan napas, seluruh sarafnya menegang.
''Huh?!'' teriaknya, mata terbelalak.
Tatapan jaguar itu membuatnya merinding—ada rasa familiar, seperti naluri yang berkata bahwa makhluk ini bukan sembarang predator.
Ia memicingkan mata, mencoba membaca gerak-gerik hewan itu. Suasana hutan terasa sunyi, hanya suara auman lembut jaguar yang bergema di antara cabang-cabang pohon, menambah rasa ngeri yang menusuk tulang.