**Bab 018: Jati Diri**
“Bagaimana mungkin wanita bisa berada di HUTAN LARANGAN?!”
Suara Hans meninggi, bukan marah—lebih seperti terguncang. Alu di tangannya berhenti di udara. “Apa kau sedang mengejekku karena aku tidak pernah menginjakkan kaki ke sana?”
Halvir tidak mengubah posisinya. Tubuhnya tetap tegak, bahu lebar itu nyaris tak bergerak.
“Berapa kali pun kau bertanya,” ujarnya datar, “jawabanku tidak akan berubah.”
Nada suaranya tenang. Terlalu tenang. Justru itulah yang membuat Hans semakin kesal.
“Huh…”
Hans mengembuskan nafas kasar, lalu memalingkan wajah. “Nama-mu Anindira…”
“Iya.”
Anindira mengangguk kecil.
Tatapan Hans beralih padanya. Tidak tergesa, tidak juga sembrono. Pandangannya menyusuri dari kepala hingga kaki—bukan menilai kecantikan, melainkan membaca tanda-tanda yang hanya dipahami oleh mereka yang terbiasa melihat tubuh sebagai medan kehidupan.
Ia mendekat. Jongkok. Jemarinya sempat berhenti beberapa senti dari pergelangan tangan Anindira, lalu menarik kembali—mengganti sentuhan dengan pengamatan tajam.
“Tidak ada masalah,” simpulnya akhirnya. “Tubuhmu sehat.”
Halvir langsung menoleh. “Kau yakin, Hans? Anindira melakukan perjalanan selama tiga bulan dari perbatasan Hutan Larangan ke Desa Hutan Biru.”
Hans mengangkat wajahnya. Sorot matanya mengeras.
“Dia wanita-mu, Halvir. Aku tidak akan main-main dengan kesehatannya.”
Nada suaranya tegas, nyaris tajam. Sesaat itu, aura dokter yang santai lenyap, digantikan keseriusan mutlak.
“Beberapa jalur peredaran darahnya memang agak tersumbat,” lanjut Hans, kini suaranya lebih lembut saat kembali menatap Anindira. “Tapi itu wajar. Kelelahan akibat perjalanan jauh. Kau hanya butuh istirahat yang layak dan makan cukup.”
Anindira mengerjap. Ia menangkap kesungguhan di mata pria itu—cara Hans bicara bukan menghibur, tapi memastikan.
“Pendengaran dan penciumannya berkali-kali lebih tajam dariku,” kata Halvir, menoleh pada Anindira. “Saat berkonsentrasi, dia bahkan bisa mengetahui ke mana aliran darahmu. Kalau dia sudah terbiasa denganmu, dia akan tahu bila ada yang salah dengan tubuhmu.”
Penjelasan itu keluar begitu saja, tanpa diminta.
Hans mengangkat alis.
“Hm.”
Ia melirik Halvir lama. Terlalu lama.
‘’Sejak kapan dia tahu bersikap ramah pada wanita?’’ gumam Hans dalam hati.
Rasa kesalnya perlahan memudar, digantikan keheranan. Ada sesuatu yang berbeda. Halvir masih Halvir—wajah datar, suara kaku—tapi ada kelembutan samar yang sebelumnya tak pernah ia lihat.
“Halvir,” ujar Hans akhirnya, “sepertinya ada banyak yang harus kau ceritakan padaku.”
“Berisik,” balas Halvir singkat.
Hans terkekeh. Mereka sudah saling mengenal hampir tiga dekade. Ia tahu betul—jawaban itu bukan penolakan, hanya kebiasaan.
“Setidaknya kabar baik disampaikan pada orang dekat, ‘kan?” kata Hans sambil tersenyum. “Jangan jahat padaku, atau aku tidak akan bisa tidur karena penasaran.”
Ia beranjak ke meja panjang. Beberapa peti kayu dan rak penuh rempah memenuhi sudut ruangan. Hans duduk bersila, mengambil alu, lalu mulai menumbuk ramuan—ritme duk… duk… pelan memenuhi rumah kayu itu.
“Anu… Kak Halvir…”
Anindira memegang pergelangan tangan Halvir dengan ragu.
“Hm?”
Halvir menoleh. Suaranya otomatis melembut.
Sekali lagi, Hans memperhatikan itu.
“Kak, apa…” suara Anindira mengecil, “dia… sama sepertimu?”
Dahi Halvir mengernyit. “Hm?”
“Bi—bisa berubah… wujud?”
Nada Anindira terbata. Matanya tidak berani menatap langsung.
Hening.
Hans berhenti menumbuk. Halvir terdiam. Keduanya mencerna maksud pertanyaan itu.
“Itu… emh…” Anindira menarik napas. “Berubah… menjadi Jaguar… seperti Kak Halvir…”
Keheningan pecah.
“Tentu saja aku bisa!” seru Hans spontan.
Anindira tersentak. Ia masih belum terbiasa dengan suara yang tiba-tiba terasa terlalu dekat—pendengaran Manusia Buas selalu membuat jarak terasa menipu.
“Tapi aku bukan Jaguar,” lanjut Hans santai. “Aku dari Klan Singa.”
“Hei!”
Nada Halvir mendadak ketus. “Apa dia bertanya padamu?!”
Hans meliriknya malas. “Kau tidak segera menjawab. Aku mendengarnya. Ini rumahku. Apa yang salah?”
“Maaf—maafkan aku!”
Anindira buru-buru menunduk. “Aku tidak bermaksud tidak sopan. Maaf kalau aku menyinggungmu, Tuan.”
“Hans,” potong pria itu cepat. “Aku Hans. Jangan dipikirkan. Aku sama sekali tidak tersinggung.”
“Terima kasih, Kak Hans…”
“Sama-sama. Anindira, ya?”
Anindira mengangguk. Senyumnya kecil, tapi tulus.
Keramahan Hans sebenarnya bukan untuk Anindira. Itu sekadar etika. Namun Anindira tetap merasakannya—dan itu cukup membuatnya nyaman.
“Kalian hebat!” seru Anindira tiba-tiba. Ia menoleh ke Halvir, lalu ke Hans. “Apa semua orang di sini bisa berubah?”
“Hebat?” Hans mengerutkan kening. “Apanya yang hebat? Semua bisa. Memangnya kau belum pernah melihatnya?”
Anindira menggeleng. Wajahnya polos, tanpa sedikit pun kebohongan.
Hans dan Halvir saling pandang.
“Bagaimana mungkin…” gumam Hans.
“Aku memang tidak tahu,” ujar Anindira pelan. “Aku manusia biasa. Aku tidak bisa berubah wujud seperti itu…”
Hening lagi.
“Anindira,” kata Halvir sambil menepuk lembut kepalanya, “tentu saja kau tidak bisa. Kau itu wanita.”
Hans terkekeh singkat.
“Anindira,” tanya Hans lugas, “apa kau pernah kehilangan pasangan?”
“Hans!”
Suara Halvir meledak.
“Maaf,” Hans mengangkat tangan. “Tapi kita harus mengerti ini. Aku yakin ini juga mengganggumu.”
“Kalian berdua, tenanglah!”
Anindira cepat menyela. “Maaf, Kak Hans… aku kurang mengerti maksudmu.”
Hans terdiam. Ia menghela napas, lalu menatap Anindira lebih serius.
“Pasangan…” katanya perlahan.
Anindira mengernyit. Ia tahu kata itu, tapi rasanya tidak pas di telinganya.
“Apa kaitannya denganku?” tanyanya akhirnya. “Kalau kehilangan pasangan… tidak. Aku tidak pernah punya. Jadi tentu saja aku tidak kehilangan.”
Hans tertegun.
“Anindira,” ujarnya pelan namun tegas, “wanita yang belum pernah memiliki pasangan masih membawa jati diri ayahnya. Kami para pria bisa mencium aromanya dengan sangat jelas.”
Alu di tangannya berhenti.
“Aroma itu akan memudar saat wanita berpasangan. Meski dengan pria dari klan yang sama, aromanya tetap berbeda. Ini pengetahuan umum.”
Tatapan Hans menajam.
“Lalu bagaimana bisa kau tidak tahu apa-apa tentang ini?”
“Hans!”
“Aku tidak bermaksud buruk,” jawab Hans cepat. “Kau tahu itu.”
Halvir menghela napas. “Aku tahu. Karena itu aku membawanya ke sini. Karena aku percaya padamu.”
Hans tersenyum kecil.
“Terima kasih.”
Lalu ia menoleh pada Anindira.
“Kau mendengarnya? Halvir mempercayaiku.”
Tidak seperti Halvir yang nyaris selalu berwajah datar, Hans mampu menampilkan beragam ekspresi. Alisnya hidup, sorot matanya fleksibel—kadang tajam, kadang hangat. Ia juga sopan, tahu kapan harus menekan dan kapan memberi ruang. Namun ada satu kesamaan mendasar antara dirinya dan Halvir: keduanya sama-sama lugas.
Dengan kebijaksanaan yang nyaris tak terasa dipaksakan, Hans perlahan membawa percakapan itu ke sebuah titik aman. Bukan interogasi. Bukan jebakan. Sebuah ruang di mana Anindira diberi keleluasaan untuk bicara jujur—tanpa ragu, tanpa takut pada konsekuensi.
Anindira menarik napas.
“Dari apa yang telah aku alami selama tiga bulan…” ucapnya pelan, tapi mantap, “…aku bisa tahu kalau Dunia ini bukan Duniaku.”
Ucapan itu menggantung di udara.
Kepercayaan yang Anindira berikan—menyamakan posisi Hans dengan Halvir—cukup mengejutkan. Bahkan bagi dirinya sendiri.
Halvir dan Hans yang semula hanya ingin memahami situasi, kini sama-sama terdiam. Postur mereka berubah. Bahu mengeras. Fokus sepenuhnya tertuju pada Anindira.
“Di duniaku,” lanjut Anindira, menatap lurus ke depan, “tidak ada hal di mana manusia bisa mengubah wujudnya menjadi binatang. Begitu pun kekuatan kalian.”
Ia berhenti sejenak, lalu menoleh pada Halvir.
“Meski aku hanya melihat Kak Halvir, dari pembicaraan kita sejak tadi… aku menyimpulkan kalau itu adalah hal biasa di sini.”
Nada suaranya jujur, nyaris polos. “Hal seperti itu tidak ada di duniaku.”
Hans menyandarkan siku ke lututnya. Ekspresinya berubah serius.
“Anindira,” katanya perlahan, “jika para prianya tidak bisa berubah wujud dan juga tidak punya kekuatan seperti kami… lalu bagaimana mereka melindungi kalian, para wanita?”
“Pria, wanita, sama saja,” jawab Anindira tanpa ragu. “Tidak ada yang bisa mengubah wujudnya di duniaku. Seperti yang pernah aku lihat pada Kak Halvir.”
Keheningan kembali turun.
“Halvir,” Hans melirik ke samping dengan tatapan menyelidik, “kau tidak tahu apa pun tentang ini?”
Halvir menggeleng.
“Dia bahkan bicara dengan bahasa yang berbeda,” tambahnya. “Kami kesulitan berkomunikasi di awal.”
Hans menghela nafas pendek.
“Tidak heran aksenmu sangat aneh…”
Anindira tersenyum kecil. Ia tidak sepenuhnya mengerti kata aksen, tapi nadanya cukup jelas untuk dipahami.
“Dengan siapa kau sampai di hutan itu?”
Pertanyaan Hans berikutnya terdengar tenang—terlalu tenang untuk sekadar basa-basi.