Dunia Manusia Buas

1421 Words
**Bab 017: Dunia Manusia Buas** Halvir berhenti tepat di depan pintu kayu yang menyatu dengan batang pohon raksasa itu. Tangannya terangkat, menyentuh permukaan papan dengan ketukan pelan—bukan sebagai formalitas, tapi kebiasaan yang sarat penghormatan. Ia menunggu. Angin berdesir di sela dedaunan. Rumah itu diam, kokoh, seolah menjadi bagian dari pohon sejak awal tumbuhnya. Anindira menahan napas. Dari jarak sedekat ini, ia baru benar-benar menyadari betapa rapi sambungan papan-papan kayu itu. Tidak ada paku mencuat, tidak ada tali menggantung. Semuanya terkunci oleh potongan kayu yang saling mengikat, presisi dan kuat. Lantai rumah sedikit bergetar halus mengikuti ayunan pohon, membuat perutnya terasa mengambang. ''Ya.'' Suara itu terdengar dari dalam—tenang, rendah, tanpa tanya tambahan. Halvir mendorong pintu perlahan dan melangkah masuk. Ruang di dalamnya hangat. Cahaya matahari menembus sela papan dan daun, membentuk garis-garis tipis keemasan di lantai kayu. Aroma kayu tua bercampur getah dan sesuatu yang mirip ramuan kering memenuhi udara. Halvir menurunkan Anindira dengan hati-hati. Sebelum benar-benar melepaskannya, ia menoleh ke arah seorang pria berambut pirang yang berdiri di sudut ruangan. Sekali lagi, Halvir meminta izin—singkat, tanpa kata berlebih—agar Anindira bisa duduk di atas tempat tidur kayu yang ditutup lapisan kulit halus. Hans mengangguk. Anindira duduk perlahan. Kayu di bawahnya dingin, tapi kokoh. Jantungnya masih berdebar, bukan karena ketinggian—melainkan karena kesadaran bahwa ia benar-benar berada di rumah seseorang… di atas pohon, puluhan meter dari tanah. ''Siapa?'' tanya Hans, suaranya ramah namun tajam, matanya menilai. ''Anindira,'' jawab Halvir datar. ''Dari mana?'' Hans menyipitkan mata. ''Aku tidak pernah melihatnya.'' ''Aku menemukannya.'' Jawaban itu singkat. Terlalu singkat. Alis Hans terangkat, sudut bibirnya melengkung. Ia melirik Halvir dari ujung rambut sampai ujung kaki. ''Hm,'' gumamnya. ''Lagi-lagi kau menyelamatkan wanita?!'' ''Eum.'' Nada Halvir sama datarnya seperti lantai kayu di bawah kaki mereka. Anindira menelan ludah. Lagi? Ada sesuatu yang mencubit halus di dadanya. Tidak sakit, tapi mengusik. Ia menggeser pandangan ke samping, berpura-pura sibuk memperhatikan anyaman kayu di dinding. Ia tidak menyadari—atau mungkin tidak mau menyadari—bahwa rasa itu bernama cemburu. Hans melangkah mendekat. Tatapannya kini tertuju langsung pada Anindira, bukan mengintimidasi, tapi mengamati. Seperti seorang pemburu yang sudah lama berhenti berburu dan kini hanya menilai luka. ''Di mana?'' tanyanya. ''Di HUTAN LARANGAN,'' jawab Halvir santai, seolah menyebut nama sungai biasa. Wajah Hans berubah seketika. Matanya membelalak, kepalanya menoleh cepat ke arah Halvir, ekspresinya campuran antara tidak percaya dan ingin memastikan ia tidak salah dengar. Halvir menghela nafas pendek. ''Di perbatasan *HUTAN LARANGAN.'' Penekanannya jelas. ''Halvir,'' Hans terkekeh kering, ''sejak kapan kau tahu cara bergurau?!'' Nada suaranya ringan, tapi sorot matanya tidak tertawa. ''Kau yakin telingamu tidak sedang bermasalah?!'' balas Halvir datar, nyaris terdengar mengejek. Hans mendecakkan lidah. Tangannya terangkat, mengusap wajahnya. ''Tapi… Hutan Larangan itu sangat berbahaya!'' katanya, kali ini serius. ''Bahkan untuk para pria. Bagaimana mungkin ada wanita di sana?!'' Halvir menoleh ke arah Anindira. Hanya sepersekian detik, tapi cukup untuk memastikan gadis itu ada, bernapas, dan duduk di sana. ''Tapi aku menemukannya di sana. Bukan di dalam—di perbatasan,'' katanya. ''Dia hampir saja memasukinya.'' ''Yang benar?!'' ''Eum.'' Anggukan Halvir pendek. Tegas. Ruangan kembali sunyi. Hanya suara angin yang menggoyang dedaunan di luar, membuat rumah itu berderak pelan—seolah ikut meresapi betapa mustahilnya cerita yang baru saja terucap. DUNIA MANUSIA BUAS HUTAN LARANGAN Hutan itu selalu ada. Berdampingan dengan hutan biasa—hanya dipisahkan oleh batas yang tidak terlihat—namun tidak pernah benar-benar menyatu. Pepohonannya lebih gelap, udara di dalamnya lebih berat, dan keheningan yang menyelubunginya terasa salah. Seolah hutan itu bernapas… dan menunggu. HUTAN LARANGAN. Nama yang tidak pernah diucapkan dengan nada ringan. Hanya mereka yang kuat yang berani melangkah masuk ke sana. Bahkan itu pun tidak menjamin keselamatan. Paling rendah, seseorang harus berada di peringkat *Emerald—dan sekalipun demikian, tidak sedikit yang akhirnya hanya meninggalkan jejak darah dan tulang di dalamnya. Banyak pria masuk. Sedikit yang kembali. Di dalam Hutan Larangan, monster-monster buas berkeliaran. Makhluk-makhluk yang tidak pernah—dan tidak bisa—melintasi perbatasan menuju Hutan Biasa. Entah karena batas itu menahan mereka… atau karena hutan itu sendiri menolak melepas apa yang sudah menjadi miliknya. Sebaliknya, para Manusia Buas bisa memasukinya. Masalahnya bukan soal masuk. Masalahnya adalah keluar. Begitu kaki melangkah melewati batas, jalan kembali bukan lagi hak—melainkan ujian. MANUSIA BUAS & PERINGKAT KEKUATAN Di Dunia Manusia Buas, kekuatan bukan sekadar rasa—ia terlihat. Para Manusia Buas terbagi dalam peringkat yang jelas, dikenali dari warna bola mata mereka. Mereka yang lahir tanpa bakat alami memiliki mata seperti manusia pada umumnya. Namun mereka yang berhasil menembus batas kemampuan… matanya berubah. Bukan sekadar warna. Melainkan kilau. Seperti batu mulia yang diasah oleh waktu, darah, dan pertaruhan nyawa. Urutan peringkat dimulai dari yang paling rendah: Emas — bola mata berwarna keemasan Berlian — kristal bening, nyaris tembus cahaya Emerald — hijau berkilau Amethyst — ungu Safir — biru Ruby — merah Ruby diakui sebagai puncak tertinggi. Namun selama ratusan tahun, hampir tak seorang pun melihatnya. Karena itu, di berbagai wilayah, Safir menjadi peringkat tertinggi yang diakui—batas kekuatan yang masih dianggap “mungkin” dicapai manusia. Kepekatan warna mata juga memiliki makna. Warna yang gelap dan pekat menandakan kekuatan yang baru melonjak—belum stabil, liar, berbahaya bagi pemiliknya sendiri. Sebaliknya, warna yang terang dan jernih menunjukkan kestabilan. Sebuah tanda bahwa tubuh dan jiwa telah menyatu dengan kekuatan itu… dan bersiap melangkah lebih jauh. Kecuali untuk Safir. Bagi mereka yang telah mencapai titik itu, kejernihan bukan lagi pertanda naik—melainkan penguasaan. HUTAN LARANGAN & HARGA KEKUATAN Sebagian besar Manusia Buas berhenti di peringkat Emerald. Bukan karena tidak ingin lebih kuat, melainkan karena tubuh mereka tidak sanggup menanggung lonjakan berikutnya. Dari Emerald ke Amethyst, kekuatan tidak lagi tumbuh perlahan—ia melonjak, menghantam, merobek dari dalam. Ada satu jalan yang dikenal semua orang. HUTAN LARANGAN. Tempat di mana hidup dan mati tidak dibedakan oleh niat, melainkan hasil. Namun jalur ini kejam. Lonjakan kekuatan yang terjadi di sana bisa membunuh seseorang bahkan setelah ia selamat dari monster. Tanpa perawatan yang tepat, tubuh akan runtuh oleh kekuatannya sendiri. Tidak ada dokter. Tidak ada bantuan. Tidak ada yang menemani. Mereka yang masuk ke Hutan Larangan harus siap menghadapi semuanya… sendirian. Monster-monster di sana bukan sekadar buas. Mereka cepat, besar, dan ganas—makhluk yang membuat pemburu berubah menjadi mangsa dalam satu tarikan napas. Masuk ke Hutan Larangan berarti menerima satu kenyataan sederhana: Entah kau dimakan. Atau kau membunuh. Dan bila kau bertahan… kau harus menanggung konsekuensi kekuatan yang kau rebut sendiri. Karena itulah, mereka yang berhasil kembali dari Hutan Larangan disebut— TERBAIK DARI YANG TERBAIK. Namun bahkan gelar itu tidak menjamin kenaikan peringkat. Banyak yang selamat… dan tetap terhenti. Hutan Larangan bukan hanya tempat untuk naik level—ia adalah tempat bertahan hidup di Dunia Manusia Buas yang keras dan tanpa ampun. AMBER — JANTUNG MONSTER Monster yang dikalahkan di Hutan Larangan meninggalkan satu warisan. Jantung mereka. Jantung itu akan tereliksir menjadi Amber—sumber daya langka yang menjadi alasan lain mengapa banyak orang mempertaruhkan nyawa. Amber paling umum adalah Amber Emas. Kecil, berwarna kuning keemasan, digunakan untuk memulihkan dan menambah energi. Semakin terang dan tajam warnanya, semakin tinggi kualitasnya—dan semakin tinggi pula level monster yang ditaklukkan. Lebih langka adalah Amber Hijau. Amber ini mampu mempertahankan regenerasi usia hingga tiga puluh tahun hanya dengan sekali konsumsi. Namun setelah masa itu berakhir, tubuh memerlukan jeda minimal tiga tahun sebelum dapat menerima Amber Hijau berikutnya. Yang paling berbahaya—dan paling berharga—adalah Amber Merah. Amber ini mampu menetralisir segala jenis racun. Baik Amber Hijau maupun Amber Merah hanya dimiliki oleh monster berlevel tertinggi. Dan untuk mendapatkannya… kematian selalu berjalan sangat dekat. HALVIR & KESEIMBANGAN KEKUATAN Halvir adalah seorang Safir. Peringkat yang jarang. Peringkat yang sulit dicapai. Di Desa Hutan Biru, hanya ada satu Safir—dan itu adalah Halvir. Desa itu dipimpin oleh enam tetua klan. Salah satu dari mereka berasal dari Klan Jaguar, klan yang sama dengan Halvir. Selain Halvir, hanya ada tujuh orang yang mencapai peringkat Amethyst: keenam tetua dan satu rekan pasangan dari salah satu tetua. Satu Safir. Tujuh Amethyst. Delapan orang itu dihormati bukan hanya karena kekuatan mereka—melainkan karena kebijaksanaan yang lahir dari bertahan hidup terlalu lama di dunia yang kejam. Halvir lebih kuat daripada para tetua. Namun ia tetap menghormati kepemimpinan mereka. Ia tidak tunduk— tetapi ia tidak meremehkan. Di Dunia Manusia Buas, keseimbangan seperti itulah yang menjaga desa tetap berdiri. ##Info: Rumah di Desa Hutan Biru terinspirasi dari rumah Suku Korowai di Papua.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD