**Bab 140: Mempertahankan Ikatan** Akhirnya, setelah beberapa waktu, Halvir berhasil membawanya ke tempat tidur. Dengan begitu Balder bisa memeriksa keadaannya dengan lebih leluasa. Balder mengamati nafas Anindira, denyut nadi, reaksi tubuhnya—semuanya normal. "Tidak ada yang aneh padanya," ujar Balder akhirnya. "Kandungannya juga baik-baik saja…" "Kemudian kenapa dia seperti ini?!" seru Halvir keras. Nada suaranya tajam, nyaris menekan. Ia tidak menerima jawaban itu. Balder terdiam—bingung—karena memang tidak menemukan apa pun yang bisa ia jelaskan secara medis atau naluriah. Tiba-tiba Anindira bersuara. "Maaf… maaf… maafkan aku…" Semua menoleh. "Bisa kalian tinggalkan aku?" pintanya lirih. "Tolong… kumohon…" Suaranya serak, bergetar. Matanya sembab, air mata masih menetes perla

