Pengagum Berwujud Pesaing

1422 Words
**Bab 023: Pengagum dengan Wujud Pesaing** Pemuda tanggung itu masih berdiri di tempatnya. Bahu dan punggungnya tegang, napasnya tertahan pendek—jelas gugup. Namun kedua kakinya tetap menancap kuat di tanah, menolak mundur selangkah pun. Tatapannya lurus ke depan, menembus tekanan yang sengaja dilepaskan Halvir. Ia ingin diperhatikan. Ingin keberadaannya diakui. Dan di situlah letak keberaniannya. ''Aku datang tiba-tiba, aku mengerti. Aku akan pergi sekarang tapi aku pasti akan datang lagi,'' ujar pemuda itu, suaranya mantap meski tenggorokannya kering. Dadanya naik-turun sekali, lalu ia melanjutkan dengan keyakinan yang nyaris menantang, ''Halvir, aku pasti bisa mendapat pengakuanmu!'' Ia menundukkan kepala dengan sopan—gerakan singkat, penuh hormat—lalu berbalik. Langkahnya ringan namun tegas saat meninggalkan mereka, membawa serta rasa bangga yang tidak ia sembunyikan. Halvir tidak langsung mengalihkan pandangan. Tatapannya tetap menempel pada punggung remaja nekat itu hingga sosoknya semakin menjauh. Sorot matanya tajam, mengandung tekanan yang biasa membuat banyak orang ciut. Namun, di balik ketegangan itu, ujung bibirnya sedikit melengkung. Hampir tak terlihat—tapi nyata. Sorot matanya pun berkilat samar. Sebagai seorang dewasa yang telah melewati banyak pertempuran dan kegagalan, Halvir tahu betul apa yang baru saja ia lihat. Bukan sekadar keberanian kosong, melainkan potensi mentah yang masih belum diasah—dan itu membuatnya bangga. Tidak jauh dari situ, beberapa pasang mata diam-diam mengamati kejadian tersebut. Mereka adalah generasi muda yang sama-sama mengagumi Halvir, namun memilih bersembunyi di balik bayangan pepohonan dan suara air sungai. Kepercayaan diri mereka belum cukup untuk melangkah maju. Tidak seperti remaja barusan—yang berani berdiri tepat di hadapan Halvir, meski hanya seorang Manusia Buas berperingkat *Berlian. ''Dia terlalu nekat...'' gumam salah satu dari mereka, suaranya rendah. ''Beraninya dia menghampiri Halvir yang sedang bersama wanitanya.'' Kelompok kecil itu berdiri di tepian sungai. Pantulan cahaya di permukaan air memperjelas raut wajah mereka—tegang, kagum, sekaligus iri. Dengan pendengaran tajam khas Manusia Buas, mereka menangkap percakapan tadi meski jarak memisahkan dan suara air mengalir tak pernah benar-benar sunyi. ''Tapi, dia mendahului kita. Padahal dia lebih muda...'' ''Itu benar, aku juga merasa iri padanya.'' ''Kau memujinya, lalu kenapa kau tidak menyusulnya tadi?!'' Salah satu dari mereka mengalihkan pandangan, rahangnya mengeras. ''Aku belum siap untuk menghadapi Halvir.'' ''Jadi kau mengakui kalau dia lebih punya nyali dari pada dirimu!'' Ada jeda singkat sebelum jawaban keluar, seperti pengakuan yang terpaksa. ''Apa boleh buat, itu memang kenyataannya...'' Hening sesaat, sebelum suara lain menyusul—lebih tenang, lebih berat. ''Meski kedahuluan olehnya. Setidaknya, bisa membuatku untuk lebih berani dan berusaha untuk tidak kalah darinya.'' Di hadapan mereka semua, Halvir bukan sekadar nama besar. Ia adalah salah satu petinggi desa yang dihormati—seorang pejuang yang telah mengukir reputasinya dengan darah dan kemenangan. Namun lebih dari itu, ia dikenal sebagai orang dewasa yang tidak pelit arahan. Seseorang yang keberadaannya menjadi tolok ukur, sekaligus tujuan. Dan bagi generasi muda itu, keberanian satu pemuda hari ini telah menyalakan sesuatu yang sulit dipadamkan. Anindira menatap Halvir, dia merasakan sesuatu yang berbeda. Bukan hanya dari Halvir—tetapi juga dari pemuda itu. Ada getaran samar yang tidak bisa ia jelaskan, seperti benang tak kasatmata yang sempat tertarik sesaat, lalu dilepaskan kembali. Bukan permusuhan. Bukan pula keramahan. Lebih seperti pengakuan diam-diam yang hanya dipahami oleh mereka berdua. Anindira tidak tahu apa artinya. Namun nalurinya mengatakan—itu bukan sekadar pertemuan biasa. “Teman kakak?” tanya Anindira akhirnya, sambil kembali melanjutkan mengunyah makanannya, seolah mencoba menutupi rasa penasaran yang mendadak muncul. “Siapa?” Halvir balik bertanya. “Hmh?!” Anindira mengernyitkan dahi mendengar jawaban itu. “Yang barusan?!” sahutnya, masih dengan mulut penuh, suaranya sedikit terdengar cadel. “Bukan,” jawab Halvir singkat. “Bukan?!” Anindira membeo, alisnya terangkat tinggi. “Tapi aku mengenalnya,” lanjut Halvir dengan nada datar, seolah itu bukan hal penting. Anindira menatap Halvir, bingung. Tatapan itu bertahan beberapa detik lebih lama dari yang ia sadari. “Dia menyukaimu,” ujar Halvir lagi, santai. Terlalu santai. “HA?!” Anindira terpekik kaget. Tangannya berhenti di udara, kunyahan terhenti. Ia menatap Halvir dengan wajah kosong, seperti orang yang baru saja mendengar sesuatu yang sama sekali tidak masuk akal. “Dia menghampiriku untuk memberi tahu kalau dia akan mendekatimu,” lanjut Halvir tanpa perubahan ekspresi. “Apa kau juga menyukainya?” “Kak!” panggil Anindira dengan nada kesal. Wajahnya langsung memerah. “Aku tidak tahu dia… Kami baru saja bertemu… berbicara pun tidak!” bantahnya cepat, kalimat demi kalimat meluncur tanpa jeda. “Lagi pula dia hanya melihat padamu.” “Eum.” Halvir mengangguk singkat, acuh. Namun sudut bibirnya terangkat tipis, hampir tak terlihat. “Sudah hampir gelap. Sebaiknya kita pulang.” Nada itu terdengar biasa. Terlalu biasa. Halvir segera membereskan sisa makanan, mencuci tangannya di sungai, lalu tanpa banyak bicara menggendong Anindira dan membawanya pulang—seolah keputusan itu sudah final sejak awal. Api unggun dibiarkan padam perlahan di belakang mereka. Dan tanpa disadari Anindira, senyum tipis di wajah Halvir masih bertahan cukup lama… sebuah senyum kecil, sunyi, dan penuh rasa kemenangan. Sesampainya mereka di rumah, hari sudah sepenuhnya gelap. Hutan di luar tenggelam dalam kegelapan pekat, nyaris tak menyisakan apa pun untuk dilihat selain suara malam yang samar. Setelah mengganti seprai dari bulu binatang yang menutupi jerami, alas tidur mereka yang sebenarnya cukup besar terasa mendadak menyusut saat keduanya duduk di atasnya. Seperti yang biasa mereka lakukan di hari-hari sebelumnya, Anindira duduk di pangkuan Halvir dengan punggung menghadap dadanya. Halvir mendekap tubuh kecil itu dari belakang, lengan-lengannya mengurung bahu Anindira dengan mantap namun tenang. Perhatian semacam itu tidak lagi membuat Anindira canggung. Justru terasa… wajar. “Anindira,” panggil Halvir, membuka percakapan pertama mereka malam itu. “Dira, kak,” jawab Anindira sambil mendongak ke arahnya, meski ia tahu tak akan melihat apa pun dalam gelap. “Hmh?” Halvir terdengar heran. “Dira. Itu panggilan kesayanganku di rumah,” jelas Anindira, senyum kecil mengembang di wajahnya. Tangannya mengelus-elus punggung tangan Halvir yang mendekap bahunya—kebiasaan kecil yang selalu ia lakukan setiap malam. “Kakak bisa memanggilku seperti itu.” “Jadi itu panggilan spesialmu?” tanya Halvir. “Iya. Keluargaku selalu memanggilku seperti itu.” “Baiklah,” sahut Halvir. Matanya berbinar dalam gelap. “Kau juga ingin aku memanggilmu begitu?” tambahnya, bibirnya melengkung tinggi. Andai Anindira bisa melihatnya, ia akan tahu betapa bahagianya Halvir saat itu. “Tentu!” seru Anindira sambil mengangguk bersemangat. Halvir dan Anindira sudah terbiasa menghabiskan waktu hanya berdua sepanjang hari—dan malam menjadikan kebersamaan itu terasa lebih eksklusif. Sunyi hutan yang pekat seakan menutup dunia mereka dari apa pun di luar. “Dira,” panggil Halvir lembut. Dagunya kini bertumpu di bahu Anindira. “Kau bicara banyak dengan Hans. Kau juga memanggilnya kakak, sama seperti kau memanggilku.” “Iya?” jawab Anindira, tapi nadanya terdengar ragu. “Apa ada yang salah?” tanyanya hati-hati, mengingat ia kini berada di dunia yang berbeda. “Kalian berdua terlihat sepantar dengan kakakku.” Sekali lagi Anindira mendongak untuk menjawabnya. Tanpa ia sadari, wajah mereka nyaris bersentuhan. Halvir terkejut, refleks menegang, pipinya menghangat—canggung dan salah tingkah. Namun Anindira sama sekali tidak menyadarinya. “Kau menyukainya?” tanya Halvir. Nada suaranya jelas menunjukkan ketidaknyamanan. “Kak?!” Anindira berseru heran. “Aku bingung denganmu. Hari ini saja kau sudah dua kali menanyakan pertanyaan seperti itu. Memangnya kenapa?” tanyanya polos. “Kau bicara dengan sangat mudah pada para pria,” jawab Halvir, suaranya terdengar berat. Ada kekecewaan yang tidak ia sembunyikan. Anindira sama sekali tidak menyadari bahwa itu adalah rasa cemburu—dan bahwa Halvir memperlihatkannya dengan sangat kentara. “Kak, apa ada yang salah?” Anindira mengernyitkan dahi. “Aku hanya bicara dengan mereka. Apa itu tidak diperbolehkan?” Baik Anindira maupun Halvir sama-sama tidak memahami konsep bersosialisasi satu sama lain. Di dunia ini, wanita selalu menerapkan batasan. Baik pria maupun wanita akan menjaga jarak aman saat berinteraksi. Imprint—sebuah hal yang menguntungkan sekaligus berbahaya. Ikatan supranatural yang mengunci alam bawah sadar tanpa bisa dikendalikan sepenuhnya. Baik pria maupun wanita, secara naluri akan menjaga diri agar tidak ter-imprint secara sembarangan. Karena itu, banyak wanita yang memilih menunduk saat berbicara dengan pria. Tak jarang pula mereka mengacuhkan pria yang mencoba mendekat, jika merasa tidak akan menjalin hubungan dengannya. Hal itu sangat berbeda dengan kultur tempat Anindira dilahirkan. Di dunianya, beramah tamah dan saling menyapa—meski dengan orang asing—adalah hal biasa. Dalam aturan tak tertulis yang ia kenal, mengalihkan pandangan atau wajah saat berbicara, terlebih jika disengaja, justru dianggap tidak sopan. Dan di situlah, tanpa mereka sadari, dua dunia dengan aturan yang sama sekali berbeda mulai saling bergesekan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD