**Bab 024: Kebersamaan**
Malam itu, pembicaraan di antara Anindira dan Halvir belum juga usai. Cahaya rembulan menyelusup masuk diantara celah, memantulkan cahaya redup di dinding kayu dan kulit binatang. Suasana sunyi, hanya suara nafas mereka yang saling bersentuhan di ruang sempit itu.
“Kak, apa ada yang salah?” tanya Anindira sambil mengernyitkan dahi. Tubuhnya sedikit menegang di dalam pelukan Halvir. “Aku hanya bicara dengan mereka. Apa itu tidak diperbolehkan?!”
“Tidak ada yang salah dari itu,” sahut Halvir. Nadanya terdengar acuh, tapi intonasinya tegas—tidak membuka ruang untuk disanggah. “Tapi mereka harus bisa menjatuhkanku dulu!” tambahnya, suara itu mengandung keyakinan mutlak, nyaris angkuh.
“Kenapa harus begitu?!” seru Anindira heran. Ia berbalik sedikit, meski tetap duduk di pangkuannya. “Kak, aku tahu kau kuat. Tapi terlalu sombong itu tidak baik!”
Nada suaranya tegas. Bukan marah—lebih seperti prinsip yang tak bisa ia lepaskan.
Didikan itu tertanam kuat dalam dirinya. Ayahnya seorang dosen psikologi di universitas ternama, ibunya dokter bedah, dan meski hidup berkecukupan, gaya hidup keluarganya sederhana—dipengaruhi kakek dan nenek dari kampung di pedesaan yang asri. Kerendahan hati bukan sekadar ajaran, tapi kebiasaan.
“Kak,” lanjut Anindira, suaranya sedikit melunak tapi tetap mantap, “sekuat apa pun seseorang, tidak akan bisa hidup sendirian. Entah kapan, akan ada masanya kita butuh bantuan orang lain. Karena itu lebih baik membina hubungan baik dengan sesama. Apalagi mereka semua berasal dari desa yang sama denganmu.”
Gadis belasan tahun itu menasihati seorang pria yang usianya hampir setengah abad—tanpa ragu, tanpa gentar.
Halvir tersenyum tipis. Senyum yang nyaris tak terlihat dalam gelap, tapi terasa dari napasnya yang menghangat di tengkuk Anindira. Baru kali ini ada wanita seusia itu yang berbicara padanya dengan kebijaksanaan semacam itu.
“Tentu aku tahu,” jawab Halvir akhirnya. Suaranya lebih dalam, lebih pelan. “Mungkin kau belum memahaminya, tapi dunia ini sudah memperlihatkan hal itu berkali-kali padaku. Aku *Safir, tapi aku tidak bisa sendirian… sebelum ada kau mungkin iya. Tapi sekarang,” jedanya terasa berat, “aku harus memikirkannya.”
Jawaban itu terdengar penuh makna. Anindira menangkap kedalamannya, tapi belum sepenuhnya mengerti. Terlebih, ia tidak bisa melihat ekspresi wajah Halvir.
“Kau lebih mirip Ezra daripada Zia,” lanjut Halvir. “Meski begitu, aku tetap tidak suka jika kau terlalu ramah dengan pria lain. Kau harus tahu bagaimana menjaga jarak. Tidak peduli apakah mereka temanku atau bukan.”
“Eum…” Anindira mengangguk kecil. “Begini, Kak,” katanya hati-hati. “Belum dua hari sejak aku masuk desa ini. Kau juga tahu, selain dirimu aku tidak pernah bertemu siapa pun sejak masuk ke dunia ini.”
Ia menarik napas, nalurinya mendorongnya untuk menjelaskan.
“Kak Hans… dia satu-satunya orang yang pernah berbicara denganku, dan itu pun melalui dirimu. Aku bicara dengannya karena dia orang pertama yang kau temui setelah masuk desa. Jadi aku berasumsi kau sangat mempercayainya,” ucap Anindira pelan. “Apa aku benar?”
“Ya, kau benar,” jawab Halvir tanpa ragu. “Tidak seperti kebanyakan orang lain, entah kenapa aku cocok dengan Hans. Teman—kau bisa menyebutnya begitu. Aku cukup akrab dengannya. Dia gigih, dan tidak mudah terganggu oleh omongan orang.”
“Aku tidak tahu banyak tentang Kak Hans,” ujar Anindira. “Tapi aku percaya penilaianmu. Kau memperkenalkannya padaku karena kau yakin dia bisa dipercaya. Aku juga melihatnya seperti kakakku. Kalian terlihat sepantaran.”
“Aku tidak tahu tentang kakakmu,” jawab Halvir. “Tapi aku tahu Hans. Aku sepuluh tahun lebih tua darinya.”
“Hm?!” seru Anindira terkejut. Ia menoleh cepat meski gelap. “Benarkah?! Kalian tampak sepantar bagiku,” katanya spontan. “Eum… kakakku yang tertua dua puluh satu tahun. Kalau begitu, berapa usiamu, Kak?”
“Kakakmu bahkan jauh lebih muda dari Hans,” jawab Halvir sambil terkekeh. “Aku sudah berusia empat puluh lima tahun.”
“Bohong!” seru Anindira refleks.
“Dira, aku bukan pembohong,” balas Halvir. Nadanya lembut, tapi tegas.
“Maaf, Kak,” sahut Anindira tulus. Namun ia tak mundur. “Tapi kenapa aku merasa kau sedang mempermainkanku?” tanyanya menyelidik. “Kalau kau empat puluh lima tahun dan Kak Hans lebih muda sepuluh tahun, berarti dia tiga puluh lima. Apa kalian minum Black Orchid seperti di film Anaconda?!”
Nada curiganya jelas. Sifat keras kepalanya—yang gemar mengamati dan mempertanyakan—muncul begitu saja. Sifat yang sangat mirip dengan Hans.
“Apa itu Black Orchid?” tanya Halvir penasaran.
“Obat abadi. Yang bikin orang awet muda!” jawab Anindira ketus.
“Oh,” Halvir terkekeh. “Jadi di tempatmu disebut seperti itu?”
“Hah, memang benar ada?!” seru Anindira spontan. Wajahnya langsung berbinar—lalu seketika kembali cemberut.
“Ya. Walau tidak bisa disebut abadi,” jawab Halvir santai. “Tapi membuatmu terlihat lebih muda dari usia sebenarnya—itu benar.”
Senyumnya makin lebar, jelas menikmati ekspresi Anindira.
“Kak!” seru Anindira kesal. “Apa aku sebodoh itu?!” matanya melotot meski tak terlihat. “Senang membuatku kelihatan bodoh?!”
Dan di dalam gelap, Halvir tertawa pelan—tanpa beban.
Ia segera keluar dari dekapan Halvir, memutar tubuh hingga kini mereka berhadapan. Meski begitu, kegelapan tetap menelan segalanya—Anindira tidak bisa melihat apa pun. Namun jarak yang tiba-tiba terbuka itu terasa nyata.
''Kak, kau senang melihat wajah bodohku?'' lanjutnya. Bibirnya mengerucut kesal. ''Kau pasti senang, bisa melihat semuanya di kegelapan ini. Sekarang terlihat jelas olehmu, kalau aku sedang marah!''
Ekspresinya jelas buruk—ia tidak peduli. Kekesalan itu tumpah begitu saja.
''Hahaha…''
Tawa Halvir terdengar. Tidak keras, tidak meledak-ledak. Namun cukup untuk membuat Anindira terdiam sesaat. Itu bukan tawa ejekan—melainkan tawa yang hangat, jarang, dan jujur.
''Kak Halvir, kau tertawa?!'' Anindira mendengus. ''Kau jahat… Kau mempermainkan aku… Jahat! Kau mengerjaiku! Hampir saja aku percaya!''
Ia merengek, tangannya menggoyang bahu Halvir tanpa sadar.
Tanpa ia sadari, wajahnya kembali mendekat. Terlalu dekat.
Halvir menahan napasnya.
CUP.
Kecupan singkat itu mendarat di bibir Anindira—cepat, ringan, namun cukup untuk menghentikan segalanya.
Anindira membeku.
Rengekannya terhenti. Dadanya terasa panas. Wajahnya memanas, dan entah kenapa… ia tidak menolak. Justru ada getaran aneh yang membuat jantungnya berdebar lebih kencang.
Halvir tersadar lebih dulu.
Ia segera memegang kedua bahu Anindira, memutarnya perlahan, mengembalikannya ke posisi semula—duduk membelakanginya. Jarak aman kembali diciptakan.
Jika Anindira bisa melihat, ia akan tahu—wajah Halvir memerah hebat, seolah uap panas mengepul dari kulitnya.
''Dira,'' panggil Halvir. Suaranya sangat lembut, bergetar tepat di dekat telinga Anindira.
''Aku tidak sedang membodohimu. Usiaku empat puluh lima tahun. Hans tiga puluh lima. Itu benar.''
Ia menundukkan kepala, rahangnya menyentuh bahu Anindira.
''Di duniamu ada ‘Black Orchid’. Di sini ada *Amber hijau. Aku tertawa bukan karena mempermainkanmu… tapi karena ekspresimu.''
Nada suaranya menghangat.
''Kau lucu. Menggemaskan. Apa salahnya aku tertawa? Aku senang saat bersamamu. Nyaman. Dan itu jarang terjadi bagiku.''
Hembusan napasnya menyapu leher Anindira, hangat dan perlahan. Tangannya yang besar membekap bahu Anindira, sementara tangan lainnya melingkari perutnya—protektif, menenangkan.
Jantung Anindira berdegup tak karuan. Napasnya tercekat. Tubuhnya kaku, seolah membeku.
Ia mendengar suara Halvir…
namun pikirannya kosong.
Sadar, tapi seperti melayang.
Sunyi malam menyelimuti mereka. Biasanya hening, kini terasa penuh—dipenuhi degup jantung Anindira yang gaduh di telinga Halvir.
Halvir tersenyum pelan, menyadari perubahan itu.
Ia bangkit perlahan, melepas pakaiannya, lalu berubah ke wujud binatangnya. Dengan hati-hati, ia mengangkat Anindira—yang masih terjebak dalam mimpi sadar—dan membawanya menuju tidur yang sesungguhnya.