**Bab 025: Sayuran Liar**
Sinar matahari menyusup melalui celah-celah kayu, membentuk garis-garis tipis yang jatuh di lantai. Anindira terbangun dari tidur lelapnya—namun Halvir sudah tidak ada.
Ini pertama kalinya ia membuka mata sendirian, tanpa tubuh hangat itu di sampingnya.
Anindira segera bangkit dan membuka jendela. Cahaya pagi langsung membanjiri ruangan, membawa udara segar yang hangat dan bersih. Ia duduk di ambang jendela, menyandarkan punggungnya, membiarkan angin mengusap wajahnya sambil mengamati sekeliling.
Rumah pohon itu luas. Dua bingkai jendela di sisi kanan dan kiri memanjang menghadap ke batang pohon utama. Pintu ada di depan dan belakang. Terlalu besar untuk sebuah hunian seorang diri. Kosong pula—hanya sebuah alas tidur dari jerami berlapis bulu binatang dan lima peti besar tempat Halvir menyimpan barang-barang berharga serta pakaian.
''Ke mana Kak Halvir? Meninggalkan aku tanpa berpamitan…'' gumam Anindira.
Ia menarik nafas dalam-dalam. ''Mungkin karena ini rumahnya. Tidak perlu takut binatang buas…''
Lalu ia menambahkan pelan, nyaris berbisik, ''…lagi pula aku juga belum siap, setelah kejadian semalam.''
Ia terus bergumam sendirian.
''Kenapa dia melakukan itu?''
Wajahnya memanas. Ingatan tentang kecupan singkat itu muncul begitu saja, membuat pipinya memerah. ''Selama ini dia tidak pernah seperti itu…''
''Ahh…!!!'' pekik Anindira tiba-tiba, mengacak rambutnya sendiri. ''Memalukan! Sudahlah—lupakan! Bersihkan rumah saja!''
Ia bergerak ke sana kemari, mencoba menyibukkan diri. Namun saat keluar rumah dan menengok ke bawah, langkahnya langsung terhenti.
''Gimana caranya turun?!'' keluhnya frustasi.
Memanjat pohon bukan hal asing baginya—di dunianya. Tapi di sini? Pohon-pohon ini seperti raksasa. Dahan-dahannya berjauhan, masing-masing berdiameter lebih dari sepuluh meter. Tak heran rumah sebesar ini bisa bertengger kokoh di atasnya.
Melompat? Mustahil.
''Dasar bodoh!'' pekik Anindira kesal. ''Kebiasaan digendong. Sekarang ditinggal sendirian malah begini… Kalau begini caranya, tanpa laki-laki benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa.''
Ia mondar-mandir, merengek, mengeluh pada dirinya sendiri—hingga akhirnya menyerah.
Dengan nafas panjang, Anindira kembali masuk ke rumah.
Ia mematahkan ranting kecil dari cabang di belakang rumah, menggunakannya sebagai sapu darurat. Debu-debu lama beterbangan saat ia membersihkan lantai dan menyapu sarang laba-laba yang menempel di sudut-sudut. Pintu dan jendela dibuka lebar, membiarkan udara segar menggantikan pengap dan lembap yang lama terkurung.
Setidaknya… ia bisa melakukan ini.
Dan untuk sementara, itu sudah cukup.
Beberapa waktu kemudian, asap tipis terlihat mengepul dari bawah.
Jantung Anindira berdebar. Dengan hati-hati ia merunduk ke tepi rumah pohon dan menengok ke bawah. Dari jarak sekitar lima puluh meter, mustahil baginya memastikan siapa sosok itu. Namun entah kenapa, hatinya langsung tahu.
Itu Halvir.
''KAK HALVIR!'' seru Anindira refleks, suaranya meluncur penuh kegembiraan.
Tak lama setelah itu, Halvir muncul. Ia memanjat naik dengan sigap, lalu tanpa banyak bicara langsung menghampiri Anindira untuk menurunkannya.
''Kak, kenapa meninggalkan aku?!'' keluh Anindira tidak sabar, bahkan sebelum Halvir benar-benar berdiri tegak.
''Aku pergi berburu,'' jawab Halvir tenang sambil menggendongnya turun. ''Hanya sebentar. Di rumahku ada selimut, kau tidak akan kedinginan meski kutinggal beberapa jam. Lagi pula masih musim panas.''
Ia melanjutkan datar, ''Di desa ini, kau aman. Tidak ada yang berani menerobos wilayahku.''
''Eum,'' Anindira mengangguk. Lalu, saat pandangannya jatuh pada hasil buruan Halvir, alisnya terangkat sedikit. ''Kak… apa kau sangat lapar?''
''Aku lapar,'' jawab Halvir sambil mulai memanggang daging buruan itu utuh, memutarnya perlahan di atas api. ''Aku juga membawa beberapa sayuran liar dan buah yang biasa kau makan di hutan. Sudah kubersihkan. Makanlah. Kau bilang daun-daunan itu cocok dimakan dengan daging berlemak.''
''Eum, terima kasih,'' ucap Anindira tulus. Ia langsung mengambil daun poh-pohan itu dan mulai memakannya. ''Ini untuk memberi rasa sekaligus menyeimbangkan asupan. Aku tidak bisa hanya makan daging. Aku butuh sayuran dan buah.''
Ia mengunyah santai, lalu menambahkan, ''Di tempatku, aku tidak lazim memakan sayuran liar kecuali terpaksa. Tapi yang ada di sini berbeda. Kualitasnya benar-benar bagus. Bahkan bisa dimakan tanpa pendamping apa pun.''
Tangan Halvir tiba-tiba menahan pergelangan tangannya.
''Itu artinya,'' suara Halvir turun tajam, ''daun-daunan ini bukan yang biasa kau makan?''
Tatapannya mengeras. ''Kau memakannya karena terpaksa?''
Nada itu terdengar seperti hardikan.
''Lepaskan!'' Halvir menghentak, memaksa Anindira melepas daun di tangannya. ''Aku akan memberimu makanan yang biasa kau makan. Jangan memakan sesuatu yang kau terpaksa telan!''
Suaranya tegas, nyaris keras. ''Aku mampu memberimu makan. Jangan pernah merendahkan itu.''
Anindira tertegun.
''Ha?''
Ia benar-benar tidak mengerti.
''Bukankah aku sudah bilang, jangan menahan keinginanmu!'' lanjut Halvir. ''Katakan apa yang kau mau. Akan kucarikan!''
Untuk pertama kalinya, Anindira melihat Halvir menunjukkan emosi seterang ini. Tangannya masih menahan, sikapnya keras—bukan pada Anindira, tapi pada gagasan bahwa ia gagal memberi.
''Huft…'' Anindira menghela nafas pelan. ''Baiklah.''
Ia menyerah, lalu dengan sengaja menyelipkan jarinya ke mulut, memicingkan mata sedikit—menggoda, menenangkan.
''Anindira,'' tegur Halvir tegas.
''Kak,'' panggil Anindira lembut. ''Aku tidak sedang menahan keinginanku. Sungguh.''
Ia menatapnya serius. ''Kenapa kau hanya mendengar keluhanku, tapi mengabaikan pujianku?''
Ia tersenyum kecil, menunjuk sayuran di hadapannya. ''Aku memang tidak lazim memakannya jika bukan terpaksa. Itu benar. Tapi aku juga bilang—sayuran liar di sini kualitasnya terbaik. Rasanya enak.''
Ia memiringkan kepala sedikit.
''Apa sekarang kau mengerti?''
Halvir masih tidak mengerti.
Rahangnya mengeras, tatapannya tidak lepas dari sayuran yang tergeletak di dekat api. Bukan karena daun-daunan itu—melainkan karena perasaan yang menekan dadanya, perasaan yang tidak biasa ia akui.
Sebagai Safir, ia hidup dengan prinsip sederhana: apa pun yang berada di sisinya, harus terpenuhi.
Dan barusan, kata-kata Anindira—meski diucapkan tanpa maksud—terasa seperti menampar harga dirinya. Seolah-olah ia gagal. Seolah makanan yang ia berikan hanyalah pengganti darurat, bukan sesuatu yang layak.
Baginya, itu bukan soal sayuran.
Itu soal martabat.
''Kau tidak perlu membenarkan dirimu,'' ucap Halvir akhirnya, suaranya rendah, tertahan. ''Aku tidak suka mendengar kata terpaksa keluar dari mulutmu.''
Ia membuang pandangan, fokus membalik daging di atas api. Api berdesis, lemak menetes, aroma daging memenuhi udara—namun wajah Halvir tetap tegang.
''Jika kau bersamaku,'' lanjutnya pelan tapi berat, ''tidak boleh ada kata itu. Bukan untuk makanan. Bukan untuk apa pun.''
Anindira terdiam.
Ia baru menyadari bahwa kemarahan Halvir bukan ditujukan padanya, melainkan pada dirinya sendiri—pada ketakutan bahwa ia tidak cukup.
Halvir menghela nafas kasar.
''Aku tidak merasa… kurang,'' gumamnya lirih, nyaris tak terdengar. ''Selama bersamamu, aku tidak merasakan itu.''
Untuk sesaat, malam kembali sunyi.
Bukan sunyi yang dingin, melainkan sunyi yang penuh gesekan—dua dunia, dua cara memahami kepedulian, saling bergesek tanpa saling menyakiti… setidaknya, belum.