Gara-gara Sayuran

1401 Words
**Bab 026: Gara-gara Sayuran** Halvir masih tampak bingung. Wajahnya jelas memperlihatkan ekspresi tidak puas. Anindira menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya agak keras. Ia tersenyum lagi dan kembali menjelaskan dengan sabar. ''Kak,'' panggil Anindira lembut, ''sayuran yang biasa aku makan adalah sayuran yang dibudidaya.'' ''Apa itu budi-daya?'' tanya Halvir dengan wajah serius. ''Hm...'' Anindira bergumam pelan, berpikir mencari cara menjelaskan, ''begini... sayuran budidaya adalah tanaman yang sengaja kita tanam sendiri. Kita rawat sampai waktunya panen. Kurang lebih seperti itu.'' ''Sepertinya aku tahu,'' sahut Halvir, ''beberapa herbifora melakukan hal yang mirip dengan itu.'' ''H-her… her?'' Anindira mencoba mengulang kata asing itu, lidahnya sedikit terpeleset. ''Her-bi-fo-ra,'' Halvir mendikte perlahan, mengajarkan kata baru padanya. ''Jadi di antara kalian ada yang melakukannya juga?!'' seru Anindira penuh semangat. ''Ya. Herbifora melakukannya. Mereka tidak suka berburu, jadi mereka menanam. Kebanyakan tanaman itu digunakan untuk obat, karena itu Hans cukup akrab dengan mereka.'' ''Oh… jadi lebih banyak untuk obat daripada dimakan.'' ''Tidak juga,'' Halvir langsung mengoreksi dengan tegas. ''Herbifora memakannya. Kami tidak.'' ''Maksudnya?'' Anindira mengernyit heran. ''Mereka menanam karena memang memakannya. Kami hanya menukar kulit atau daging jika membutuhkan tanaman itu untuk obat,'' jelas Halvir. ''Jadi… kalian sama sekali tidak makan sayuran?'' tanya Anindira, memastikan. ''Kami akan memakannya,'' jawab Halvir sambil mengangguk, ''jika ada yang salah dengan tubuh kami.'' ''Ha! Kebiasaan itu tidak baik!'' seru Anindira tegas. Halvir yang tadi terlihat acuh sambil memutar daging di atas api, kini menghentikan gerakannya dan menatap Anindira dengan serius. ''Pola makan seperti itu salah!'' lanjut Anindira dengan suara lantang. ''Antara daging, sayuran, dan buah harus seimbang. Jangan menjadikan makanan sebagai obat hanya saat kita sakit. Kita makan justru supaya tidak jatuh sakit!'' ''Apakah itu seperti pola makanmu?'' tanya Halvir, sorot matanya tajam. ''Ya,'' jawab Anindira mantap. Ia sudah terbiasa dengan wajah datar dan sorot mata Halvir yang tajam, jadi ia tidak lagi terkejut saat Halvir bersikap sangat serius. Pria itu menatapnya lekat, seolah menilai ulang seluruh kondisi fisik Anindira. ''Kenapa harus begitu?'' tanya Halvir lagi. Kali ini nadanya lebih lembut—tanda ia mulai berusaha memahami. Pembicaraan ini menyangkut Anindira, dan itu cukup untuk membuatnya benar-benar memperhatikan. ''Aku sudah bilang,'' jawab Anindira tegas, ''makan untuk mencegah sakit. Bukan makan hanya setelah sakit.'' ''Memakannya saat kita sakit… itu tidak masalah, bukan?'' Dua makhluk dari dunia yang berbeda itu sama-sama belum memahami cara hidup dan pola pikir satu sama lain. Halvir memandang semuanya dari sudut pandangnya sebagai makhluk buas yang kuat—tubuh yang jarang sakit, jarang rapuh. Ia tidak terbiasa memikirkan wanita, apalagi kesehatan mereka, karena keberadaan wanita di dunia ini sangat langka. Karena itu, selama ini ia hanya peduli pada hal-hal yang dianggap penting baginya… atau penting menurut dunia tempat ia dilahirkan. Padahal, wanita yang dibesarkan oleh dua manusia buas akan memiliki kondisi tubuh yang berbeda. Fakta itu belum sepenuhnya disadari oleh mereka yang sudah terbiasa hidup dengan cara-cara turun-temurun di dunia ini. ''Huft...'' Anindira mendesah panjang. ''Baiklah. Aku tidak akan berargumen lebih keras lagi soal ini. Sudahi saja.'' Ia menyadari dirinya masih terlalu sedikit tahu tentang dunia ini. Anindira tidak ingin perdebatan sepele justru merenggangkan hubungannya dengan Halvir. Dalam pikirannya, pembahasan ini bisa dilakukan lagi nanti—saat ia sudah lebih memahami dunia tempat ia berada sekarang. ''Terserah padamu,'' ujar Halvir akhirnya. Namun ia kembali menegaskan, ''tapi kau tetap menyukai sayuran liar itu, bukan?'' Ia ingin memastikan Anindira tidak memakannya karena terpaksa. ''Ya. Aku tetap memakannya, untuk menyeimbangkan gizi.'' Anindira tidak tahu bahwa Halvir sama sekali tidak memahami kata terakhir yang ia ucapkan. Namun, karena gengsinya, Halvir tidak bertanya. Ia sudah terbiasa mendengar istilah-istilah asing dari dunia Anindira. Selama ia masih memahami inti kalimatnya, ia tidak peduli jika satu atau dua kata terdengar membingungkan. ''Apa bedanya sayuran liar itu dengan sayuran yang ditanam oleh orang-orangmu?'' tanya Halvir lagi. Ia tampak masih ingin berbincang. ''Kau bilang rasanya berbeda.'' ''Ya,'' jawab Anindira. ''Di tempat asalku, sayuran liar biasanya pahit, getir, dan meninggalkan bau rumput atau tanah yang tajam. Karena itu, banyak orang meninggalkannya dan tidak lagi mengkonsumsinya,'' jelasnya sambil menunjuk beberapa tanaman di sekitar. ''Lihat itu—seperti bayam dan anting-anting liar. Ini juga...'' Anindira mengangkat seikat daun poh-pohan yang dipetik Halvir untuknya. ''Di kampung-kampung masih banyak yang memakannya. Tapi di kota, tidak banyak yang tahu. Aku dilahirkan dan tumbuh besar di kota, tapi aku sering pulang kampung. Ibuku dan nenekku adalah praktisi kesehatan. Dari didikan mereka, kami sekeluarga sangat terbiasa makan sayuran.'' Ia berhenti sejenak, menarik nafas sebelum melanjutkan. ''Sayuran liar di sini berbeda,'' lanjut Anindira pelan. ''Mungkin karena udaranya bersih, tidak ada polusi, dan air tanahnya belum tercemar. Itu yang membuat rasanya enak—tidak kalah dengan sayuran budidaya. Aku benar-benar menikmatinya.'' ''Apa kau hanya makan sayuran yang ditanam?'' tanya Halvir menyelidik. Ada kekhawatiran di balik nadanya. ''Bagaimana dengan daging?'' ''Daging yang kau berikan padaku sangat banyak,'' jawab Anindira sambil tersenyum polos. ''Porsi sehari yang kau berikan itu cukup untuk porsi daging selama seminggu bagiku.'' Percakapan mereka belum juga selesai. Ekspresi Halvir masih menunjukkan ketidaksenangan—harga dirinya sebagai seorang *Safir terasa terusik hanya karena urusan sayuran liar. ''Kenapa sedikit sekali?'' tanya Halvir. ''Kau makan daging, berarti kau bukan herbivora,'' lanjutnya mantap. ''Berarti benar kata Hans—klanmu lemah. Ayahmu tidak bisa memberimu cukup daging untuk dimakan.'' Setelah mengutarakan pikirannya, Halvir merasa lebih lega dan kembali memutar daging di atas api. Ia tidak menyadari perubahan wajah Anindira yang seketika mengeras. ''Kak, aku marah!'' seru Anindira dengan sorot mata tajam menatap Halvir. ''Aku tidak suka jika ada yang menghina ayahku.'' Suaranya menegang, matanya sedikit melotot. ''Jangan menghina ayahku. Dia adalah pria terbaik yang mendidik dan membesarkanku. Aku tidak suka jika ada yang menghinanya—meskipun itu kau!'' Tatapan Anindira lurus dan penuh amarah, menancap tepat ke arah Halvir. Reaksi Anindira jelas menunjukkan bahwa ucapan Halvir telah menyinggungnya—meski Halvir sendiri tidak tahu di bagian mana ia telah melangkah terlalu jauh. ''Dia marah karena aku mengungkit ketidakmampuan ayahnya?!'' pekik Halvir di dalam hatinya, sorot matanya tak lepas dari Anindira. ''Haruskah aku meminta maaf padanya?!'' Anindira membalas tatapannya tanpa menghindar. Sorot matanya masih tajam, menyimpan amarah yang belum sepenuhnya surut. ''Tidak!'' suara Halvir kembali bergema di benaknya setelah beberapa saat berpikir. ''Aku tidak salah. Itu kenyataannya.'' Namun tubuhnya tidak sepakat dengan pikirannya sendiri. Rahangnya menegang, bahunya kaku, dan tatapannya—yang seharusnya dingin dan menekan—justru terlihat ragu. ''Berlagak galak, tapi sorot matamu tampak sedih,'' gumam Anindira di dalam hati, kesalnya masih tersisa. ''Dasar!'' Ia mendesah pelan. Halvir terdiam terlalu lama, menatapnya tanpa berkata apa-apa. Anindira bisa merasakan naik-turunnya emosi pria itu—getaran halus yang merambat di udara sejak ia menghardiknya barusan. ''Dira, hati-hati!'' Anindira memperingatkan dirinya sendiri. ''Bagaimanapun baiknya Halvir padamu, ini bukan saatnya memancingnya. Kau belum memahami dunia ini sepenuhnya. Bersabarlah. Jangan gegabah!'' Naluri bertahan hidupnya ikut bicara. Ada ketakutan tipis yang menyusup—peringatan bahwa mengalah kadang adalah satu-satunya cara untuk tetap hidup. Anindira menarik nafas dalam-dalam, menghirup udara malam hingga dadanya terasa penuh. Degup jantungnya perlahan mereda. Ia menenangkan dirinya—dan tanpa sadar, juga mencoba menenangkan Halvir. ''Kak,'' panggilnya lembut sambil meraih tangan Halvir. Sentuhan itu membuat Halvir sedikit terkejut. ''Duniaku berbeda dengan duniamu,'' lanjut Anindira dengan suara yang dijaga tetap tenang. ''Tapi sama seperti kalian yang menjaga para wanita dengan segenap kemampuan… di duniaku, para pria juga melakukan hal yang sama.'' Ia menatap tangan mereka yang saling bersentuhan, lalu kembali menatap wajah Halvir. ''Sebagai seseorang yang dijaga sepenuh hati, tentu aku juga akan memberikan dukungan terbaikku.'' Ia berhenti sejenak, lalu menegaskan, kali ini dengan sorot mata yang mantap. ''Kekuatan fisik bukan segalanya di duniaku.'' Halvir tidak memalingkan wajahnya. Ia mendengar setiap kata. ''Aku tidak tahu bagaimana menjelaskannya dengan baik,'' Anindira melanjutkan, menelan ludah karena gugup. ''Tapi kau sudah tahu—populasi manusia di duniaku jauh lebih banyak. Berkali-kali lipat dari jumlah penduduk di sini.'' Ujung bibirnya terangkat tipis, bukan sombong, melainkan bangga. ''Bukankah itu sudah cukup membuktikan bahwa kami tidak selemah dugaan kalian?'' Namun senyum itu segera memudar. ''Meski begitu, jumlah juga bukan penentu segalanya. Kemenangan, keberhasilan—semuanya bergantung pada banyak aspek. Situasi dan kondisi selalu ikut menentukan.'' Ia menghela nafas panjang. ''Hanya itu yang bisa kukatakan. Aku tidak terlalu pandai menjelaskan hal seperti ini.'' Kata-kata itu terlepas, membawa sedikit kelegaan. Setidaknya, ia telah menyampaikan alasan kemarahannya—terutama soal ayahnya. Setelah itu, keduanya terdiam. Api unggun tetap menyala. Malam terasa semakin dalam. Dan di antara mereka, tersisa keheningan yang sarat—bukan lagi sekadar ketegangan, melainkan proses saling mencoba memahami dunia satu sama lain.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD