**Bab 134: Hans dan Gavriel, Pamit.** Hans tertegun. Penolakan itu datang terlalu cepat, tanpa ragu, tanpa jeda. Kata-kata yang sempat berkumpul di ujung lidahnya runtuh begitu saja. Ia hanya tertunduk, membiarkan dadanya terasa sesak oleh perasaan yang tak sempat ia susun. “Aku tahu,” ujar Anindira akhirnya. Suaranya lembut, tapi jelas. Ia terdiam sejenak, wajahnya tampak sayu sebelum melanjutkan. “Apa pun yang aku katakan tidak akan mengubah keputusanmu.” Hans tetap diam. “Dira…” Anindira menarik nafas pelan. “Panggilan itu hanya untuk orang-orang terdekatku. Keluargaku. Di duniaku, teman-teman dekatku juga memanggilku begitu.” Ia menatap Hans lurus-lurus. “Tapi di dunia ini, aku ingin membatasinya.” Ia menegaskan keputusannya tanpa nada keras. Justru ketenangan itulah yang memb

