**Bab 135: Pamit yang Tak Terucap** Pagi itu, rumah Halvir masih dipenuhi udara dingin yang tertahan di antara papan-papan kayu dan anyaman kulit pohon. Cahaya matahari menyusup tipis dari sela dinding, jatuh tepat ke wajah Anindira yang masih terlelap. “Kau sudah bangun, Dira?!” sapa Halvir sambil menghampiri tempat tidur. Kelopak mata Anindira bergetar. Ia mengerjap beberapa kali, nafasnya masih berat oleh sisa kantuk. “Sudah, Kak,” jawabnya pelan. “Kau mau mandi?” tanya Halvir sembari menyelipkan lengannya, mengangkat tubuh Anindira ke pangkuannya. Gerakan itu sudah terlalu akrab untuk disebut kebiasaan; tubuh Anindira secara refleks merapat, lalu ia mengangguk manja, pipinya menempel di d**a Halvir. “Ayo kita ke sungai!” seru Halvir lagi. “Kita akan bertemu Ezra dan yang lainnya

