**Bab 060: Kabar Kehamilan** Hans terdiam cukup lama, mencari susunan kata yang paling tidak berbahaya. Ia sadar, satu kalimat yang salah bisa menjadi pemicu—dan ia tidak yakin Anindira masih punya ruang untuk menerima apa pun. “Ehm…” Hans membersihkan tenggorokannya. Tangannya mengepal dan melepas, berulang, berusaha menenangkan kegugupan yang jarang ia rasakan. “Anindira… aku akan bicara langsung.” Ia berhenti sejenak, memastikan napasnya stabil. “Kau sedang hamil.” Tidak ada pengantar. Tidak ada penyangga. “Ada janin di dalam perutmu. Kehidupan baru.” Hans menunggu. Satu detik. Dua detik. Tidak ada perubahan. Wajah Anindira tetap kosong. Tatapannya tidak fokus, seolah menembus dinding kayu di belakangnya. Hans kembali bicara, suaranya lebih berat. “Aku tahu kata-kata ini

