**Bab 055: Trauma yang Belum Selesai** Baru tadi pagi Anindira siuman. Ia bahkan sudah bisa berbicara dan merespons dengan baik. Kesadarannya tampak stabil—nafas teratur, tatapannya fokus. Namun kini, tanpa tanda peringatan yang jelas, tubuh itu kembali terkulai. Kolaps begitu saja. Halvir duduk di sisi ranjang, bahunya turun, seolah tenaga ikut tersedot bersama kesadaran Anindira yang kembali hilang. “Hans, ada apa dengannya?” Suara Halvir terdengar lemah, nyaris habis. “Aku tidak tahu…” Hans menjawab datar. Pandangannya tak lepas dari wajah Anindira yang tertidur. Ia mengamati napasnya, warna kulitnya, setiap perubahan kecil yang bisa luput dari mata orang awam. “Biasanya kejang terjadi saat seseorang demam tinggi. Masalahnya, demam Anindira sudah mereda sejak semalam. Dan tadi, di

