FARIDA POV
Pagi telah tiba. Aku sudah bangun dan sedang membuat kopi di pantry butik. Semalam setelah mengambil keputusan tidurku terasa nyenyak, aku tak mau peduli lagi dengan kelakuan suamiku Rahmat. Aku tak mau sakit hati lagi. Pagi ini aku menjadi Farida yang baru, wanita yang bebas, akan aku buat Rahmat menyesal telah berselingkuh dariku.
Setelah berniat berubah, aku akan berusaha lebih berani lagi menghadapi lelaki. Di mulai dari berpakaian dulu. Kalau dulu memang aku cenderung memakai pakaian sopan beda dengan pagi ini aku sengaja memakai pakaian yang ketat dan seksi. Sengaja aku buka kancing blouse batikku lebih dari 3 kancing hingga belahan payudaraku terlihat mengintip. Rok ketat yang biasa aku gunakan sengaja aku potong lebih pendek hingga menjadi rok mini yang seksi. Kalau aku menunduk atau nungging sedikit saja akan terlihat cd ku. Aku berniat akan berbelanja ke mal mencari pakaian yang lebih seksi dan menantang.
Sedang asyik-asyiknya memikirkan rencana belanjaku, tiba-tiba Pintu pantry terbuka dan kulihat Iksan masuk. AKu akui Iksan memang rajin sekali selalu datang lebih pagi dibandingkan karyawan yang lain.
Perasaan deg-degan kurasakan setelah kepikiran apa yang dilakukan pemuda itu semalem kepadaku. Ungkapan hatinya yang bilang cinta denganku. Tapi kulihat pemuda itu biasa saja sikapnya. Apakah Iksan sudah menyerah denganku. Pikiran tersebut membuat hatiku kecewa.
"Pagi Bu," sapa Iksan ketika melihatku ada di dalam pantry.
"Pagi Iksan," sahutku sambil melirik Iksan yang langsung membereskan pantry dan menyiapkan minuman buat karyawan yang lain.
Pemuda itu seakan-akan tidak peduli dengan keberadaanku yang ada di pantry. Ia hanya sibuk sendiri membuat aku semakin penasaran kenapa secepat itu Iksan berubah padahal baru semalam Ia mencium dan menyatakan perasaannya. Apa mungkin perasaan yang Iksan bilang semalam sudah hilang begitu saja.
"Tolong buatkan saya kopi dan antar keruangan saya," ucapku akhirnya ketika kulihat Iksan seakan lupa akan kejadian tadi malam yang membuat aku sedikit kecewa. Aku memutuskan meninggalkan pantry menuju ke ruanganku.
Setelah di ruangan aku masih kepikiran tentang Iksan. Kenapa pemuda itu jadi terkesan cuek membuat aku penasaran.
Apa mungkin pemuda itu sudah menyerah dengan perasaannya kepadaku. Entah kenapa ada pikiran nakal merasuki kepala ku.
Kenapa tidak aku saja yang menggoda pemuda itu. Iksan pasti tidak mungkin segampang itu melupakan diriku. Aku bisa merayu Iksan dan pemuda itu bisa membantuku melupakan sakit hatiku akan pengkhianatan suamiku Rahmat. Iksan juga bisa membantuku membalas pengkhianatan suamiku Rahmat.
Aku merasa Iksan juga pemuda yang tampan dengan kulit kecoklatan, bertubuh tinggi besar. Malah tubuh Iksan lebih tinggi dari suamiku Rahmat. Iksan akan aku rayu, pemuda itu bisa menghapuskan kekecewaan aku kepada perselingkuhan Rahmat suamiku dengan Mia adikku.
Setelah memikirkan hal itu membuatku menjadi bersemangat dan kurasakan jantungku berdebar kencang.
Kulihat jam dinding menunjukkan pukul setengah delapan pagi yang berarti masih pagi buat karyawan yang lain untuk datang ke butik karena butikku baru buka pukul 10. Masih ada waktu sekitar dua jam buat aku berduaan dengan Iksan.
Sambil tersenyum kulihat pakaianku. Aku harus berpakaian lebih seksi lagi biar Iksan tergoda.
Sengajaku ganti blouse batikku dengan pakaian kemeja ketat berwarna putih transparan, aku buka tiga kancing teratas hingga belahan payudaraku terlihat jelas, dengan mengenakan bra berwarna hitam yang seksi, dan rok mini yang aku kenakan benar-benar membuatku terlihat seperti w*************a.
Terdengar suara pintu di ketuk dari luar, tanda Iksan datang membawakan kopi. Aku berdiri di depan manekin, pura-pura sedang memperbaiki pakaian pesanan pelanggan.
"Masuk," ucapku, menunggu Iksan masuk ke ruangan dengan berdebar.
IKSAN POV..
Aku masuk setelah mengetuk pintu ruangan kerja Bosku Farida. Semalam setelah mendapat penolakan dari Farida membuatku sangat kecewa tapi aku harus bisa menerima karena tidak mungkin Bos ku Farida mau denganku apalagi dia sudah menikah tidak mungkin Farida mau berselingkuh dari suaminya.
Aku putuskan untuk sementara menjaga jarang dulu dan bersikap biasa saja di depan Farida hingga bos cantik itu tidak risih denganku. Aku tentu saja belum mau menyerah. Aku cuma mundur sementara sebelum mencari celah untuk masuk ke dalam hati Farida. Aku yakin bisa menaklukkan hati wanita itu.
Setelah mendengar suara Farida yang menyuruhku masuk. Aku segera masuk keruangan sambil membawa kopi. Tertegun aku di depan pintu melihat wanita itu berdiri di depan manekin dengan begitu seksinya. Farida berdiri di depanku dengan berpakaian begitu terbuka. Mengenakan rok yang begitu pendek dan ketat serta kemeja putih tipis menerawang hingga bra hitam yang dikenakan wanita itu bisa kulihat membuat aku meneguk air liur, kurasakan celana jeans yang aku kenakan semakin ketat bagian depannya karena kejantananku tanpa malu-malu langsung mengeras tanda aku sudah terangsang. Aku berusaha menahan godaan yang terpampang nyata di depan mata ku.
"Ini Bu kopinya," ucapku
"Taruh saja di atas meja," sahut Farida.
Setelah menaruh kopi di atas meja, aku bermaksud untuk pamit tetapi sewaktu aku berbalik badan terlihat Bos cantikku yang sedang menunduk mengambil barang yang jatuh di lantai, mataku langsung terbelalak melihat p****t bahenol Bosku yang tertutup cd hitam terpampang nyata di depan mataku, karena rok mini yang dikenakan terlalu pendek hingga menunduk sedikit saja pantatnya pasti terlihat. Entah di sengaja atau tidak tetapi aku merasa melihat pinggul Farida bergoyang-goyang ke kiri kanan seakan menggodaku membuat kejantananku semakin meronta.
Setelah sekian menit aku mendapatkan pemandangan erotis, Bosku berdiri dan berbalik menatapku sambil tersenyum seakan menggodaku yang membuatku hanya bisa menahan napas melihat kecantikan wanita itu.
"Tolong saya membereskan dan membersihkan ruangan ini ya San," perintah Bosku.
"Baik Bu, saya ambil peralatan dulu," jawabku langsung bergegas keluar dari ruangan tersebut sebelum aku tak tahan lagi dan menerkam bosku itu.
AUTHOR POV..
Farida sedikit kecewa ketika Iksan tidak melakukan apapun setelah dia bertingkah nakal. Padahal Farida yakin kalau pemuda itu pasti bisa melihat bokongnya beserta celana dalam seksinya ketika dia membungkuk, pura-pura mengambil barang, tetapi pemuda itu malah segera keluar ketika Farida menyuruhnya membersihkan ruangan. Tapi Farida yakin Iksan pasti tergoda karena tadi matanya sempat melihat ada tonjolan di celana jeans pemuda itu tanda ia terangsang. Sebagai wanita dewasa dia tahu kalau Iksan telah bernafsu kepadanya mungkin pemuda itu cuma ragu atau takut kalau Farida nantinya menolak ia seperti semalam.
Pintu kembali di ketuk setelah Farida menyuruh masuk terlihat Iksan masuk sambil membawa peralatan bersih-bersih.
"Tolong, kamu bereskan kain-kain yang ada di lantai itu San," suruh Farida sambil menunjuk ke arah kain yang berserakan di lantai.
Iksan langsung melakukan apa yang diperintahkan oleh Farida. Ia membereskan kain-kain yang berserakan di lantai dalam diam.
Farida sengaja duduk di atas meja menghadap ke arah Iksan yang sedang membereskan kain-kain bahan pakaian yang ada di lantai sambil pura-pura membaca majalah. Sengaja kakinya disilangkan hingga rok mini itu semakin naik ke atas membuat paha putih wanita itu terlihat jelas oleh Iksan.
Farida yakin sekarang ini pasti pemuda itu sedang mencuri lihat ke arahnya. Memikirkan hal itu membuat Farida terangsang dan dirasakannya lembab di daerah kewanitaannya. Selama pernikahannya Farida tidak pernah menggoda atau berbuat nakal kepada Rahmat suaminya. Seks di antara mereka juga biasa saja, kepuasan memang di dapat tetapi perbuatan nakal dan erotis tak pernah mereka lakukan. Mungkin itu yang membuat Rahmat suaminya berpaling kepada wanita lain. Tetapi entah kenapa sekarang Farida merasa ingin melakukan hal-hal nakal kepada karyawannya sendiri yang malah usianya lebih muda dari dirinya.
Farida membuka ke dua kakinya lebih lebar membuat Iksan bisa melihat celana dalamnya, tindakan itu semakin membuat Farida terangsang, celana dalamnya sudah basah . Diturunkannya majalah yang pura-pura dia baca. Dan langsung Farida melihat Iksan yang sedang menatap kearahnya dengan pandangan sayu penuh nafsu membuat Farida merasa debaran di dadanya. Dilihatnya mata Iksan tertuju ke arah selangkangannya yang terbuka. Kemudian tatapan mata Iksan naik ke atas ke arah belahan p******a Farida terus naik sampai akhir pemuda itu menatap Farida dengan penuh nafsu.
Suasana ruangan yang dingin karena AC malah terasa panas karena aura birahi yang membara di antara Bos dan karyawan. Kedua insan beda jenis dan umur itu sedang sama-sama merasakan gejolak hasrat tetapi mereka berdua hanya bisa saling bertatapan dengan penuh nafsu tanpa satu pun diantara mereka yang berani memulainya.
To be continued
Jangan lupa vote tekan ⭐