Hari Pertama

1076 Words
Lamunan panjang Kirana buyar ketika suara ketukan di pintu kamarnya terdengar. Pintu dibuka setelah Kirana mengucapkan kata masuk. Dan terlihatlah sosok mamanya yang masih cantik diusia ke lima puluh tahun. "Semua barangnya sudah beres, Dek?" Kirana mengangguk untuk menjawab pertanyaan sang mama. Rasanya berat sekali meninggalkan keluarga, rumah dan kamar kesayangannya di sini. Hari ini ia akan berangkat ke Bandung. Karena besok ia harus sudah mulai bekerja di hotel milik Niko. Ah! Menyebut namanya saja rasanya lidah Kirana kelu. Belum terbiasa. Setelah banyak luka yang lelaki itu tinggalkan untuknya. "Ayo," Kalista lagi-lagi membawanya kembali ke alam nyata, membuat Kirana mengangguk sekali lagi. *** Di Bandung, Kirana akan tinggal di rumah Rini, adik dari Kalista. Kebetulan beliau tinggal sendirian. Suaminya sudah meninggal setahun yang lalu. Rini memiliki 3 orang anak, dan semuanya perempuan. Anak-anaknya sudah berkeluarga dan mempunyai rumah masing-masing. Sesekali mereka akan berkunjung dan menginap untuk menengok Ibunya, atau Tantenya Kirana itu yang akan menginap di rumah anak-anaknya jika ia merasa bosan di rumah. Saat ini Kirana sedang di perjalanan menuju Bandung diantar oleh kedua orangtuanya. Kebetulan sekali kemarin pagi suami Kayla pulang dari tugasnya menjadi pilot. Jadi Antonio dan Kalista mempunyai waktu untuk mengantarnya. Kalau tidak, mungkin Kirana akan diantar oleh Keenan. "Dek, kamu di sana jangan jajan sembarangan ya. Jangan kelayapan juga. Jangan bikin pusing tante kamu," Kirana menatap Kalista dengan jengah. Emangnya gue anak SD apa? Jajan sembarang? Yakali, Ma, jajan cogan yang ada, gerutunya di dalam hati sambil mencibir. Kalista selalu berlebihan. Maklum saja, baru kali ini ia akan berjauhan dengan anak gadisnya itu. Sedangkan Antonio hanya tersenyum geli. Kadang Kirana terlalu diperlakukan seperti anak kecil yang manja oleh Kalista. "Ana udah besar kali, Ma," sahut Kirana. Kalista mendengkus kemudian menatap tajam ke arahnya yang kebetulan duduk di belakang kursi Antonio yang sedang mengemudi. "Kalau udah besar seharusnya udah kawin." "Kawin mah gampang, Ma. Besok Ana juga bisa kawin. Yang susah tu nikah," balas Kirana. Kalista melotot ke arah anaknya. "Udahlah, Ma. Ana masih 22 tahun. Masih terlalu muda buat nikah cepat-cepat," Antonio menengahi. "Tuuhhh, masih mudaaa," ucap Kiran sambil mencibir. Kalista hanya memutar bola matanya kesal. Like father like daughter! Batin Kalista. "Terus kamu mau nunggu sampai tua? Yang ada cuma aki-aki yang mau sama kamu, Deeekkk." Kalista benar-benar gemas dengan anaknya yang satu ini. "Ish Mama, ih. Doanya gitu banget deh. Mama mau punya mantu aki-aki?" Kalista memberikan tatapan horor. "Ya enggak! Amit-amit ya Allah. Kamu ini!" jarinya menyentil kening Kirana membuat gadis itu mengusap-usap keningnya. Dijamin merah jidat gue ya Allah. Mama kejam banget! *** Setelah memakan waktu yang lumayan membuat p****t lelah karena terlalu lama duduk. Akhirnya Kirana dan orangtuanya sampai di kediaman Rini. Rumah yang terletak di komplek perumahan mewah dengan berbagai macam tanaman di sepanjang jalan, membuat orang yang memasuki perumahan ini merasa nyaman dengan udaranya yang asri. Berbeda dengan kediaman Atmaja di Jakarta. Memang rumah Kirana di sana nyaman. Sangat nyaman malahan. Tapi tidak ada tanaman seperti ini yang menyejukkan mata. Udaranya segar tidak tercemar polusi. Rumah Rini memiliki halaman depan yang luas. Di sebelah kiri rumah terdapat taman dengan berbagai macam bunga. Sedangkan di tepi pagar sebelah dalam perkarangan ada dua batang tanaman ceri yang tumbuh dengan rindang. Di bawahnya terdapat kursi santai melingkar dari kayu jati. Kemudian di tengah-tengah kursi ada sebuah meja mini dari kayu jati juga. Ah, rasanya sudah lama sekali gue nggak main kesini. Mungkin terakhir kali gue kesini saat kak Airin, anak bungsunya Te Rini menikah. Sekitar enam tahun lalu. "Anaaa," Sapaan dari arah teras rumah mengalihkan tatapan Kirana dari halaman yang dikaguminya. Rini berjalan menghampiri Kirana. Dengan sopan Kirana menyalami tangan tantenya, yang dibalas dengan ciuman di kedua pipi Kirana. "Duh, pangling aku lihat Ana kita ini loh, Mbak," Kirana tersenyum menanggapi pujian dari Rini. "Lama ya, An, gak pernah main lagi ke sini," lanjut Rini membuat Kirana mengangguk mengiyakan. "Ayo masuk, tante udah masak makanan kesukaan kamu." Masih sama. Rumah yang tertata rapi. Rini bekerja sebagain designer dan memiliki beberapa butik. Umur Rini sekitar empat puluh lima tahunan. Tubuhnya masih segar, masih sehat dan kuat. Kalista dan Rini terpaut usia lima tahun. Tapi Rini lebih dulu menikah. Perjodohan. Makanya anak-anak Rini sudah pada menikah. Anak sulungnya lebih tua dua tahun dari anak kembar Kalista, Keeni dan Keenan. Anak keduanya yang seusia dengan si kembar. Sedangkan anak bungsunya seusia dengan Kayla. "Kak Airin kapan main ke sini, Te?" tanya Kirana saat mereka melewati ruang tamu yang menampilkan potret diri kakak-kakak sepupunya dan juga potret keluarga besar mereka. "Dua hari lalu Ai nginep sini, An. Dia udah tahu kamu bakal tinggal sini. Katanya tunggu suaminya tugas ke luar kota dulu baru dia nginep sini lagi nemenin kamu." Kirana hanya mengangguk dan tersenyum. Di antara tiga anak Rini, hanya dengan Airin lah ia paling dekat. Anak Rini yang bungsu seumuran Kayla. Ah, semoga gue menikmati hari-hari baru di sini. Semoga. *** Kirana kembali menghadap cermin,memastikan penampilannya di hari pertama bekerja sebagai general manager sudah pantas atau belum. Semoga berhasil, An. Jangan sampai lo goyah hanya dengan tatapan tajamnya pada lo! Setelah beres, Kirana bergegas keluar kamar dan melangkah menuruni anak tangga. Saat ingin melangkah menuju dapur, ia berpapasan dengan Rini yang juga baru keluar kamar yang kebetulan terletak di lantai dasar. "Ayok sarapan, An," ajaknya sambil berlalu. Sepertinya Rini sibuk sekali pagi-pagi begini. Sebelah telinga dan bahunya mengapit ponsel. Dan kedua tangannya sibuk menulis sesuatu di buku kecil yang Kirana tahu untuk mencatat hal-hal penting. Kirana memasuki dapur dan duduk berseberangan dengan Rini. Di rumah ini ada lima anggota pekerja rumah tangga. Tiga di antaranya pria paruh baya yang bekerja sebagai satpam, supir dan tukang kebun. Kemudian ada dua wanita paruh baya juga. Satu untuk bersih-bersih dan satu lagi bertugas untuk memasak. Rini memiliki jadwal kerja yang padat. Kebanyakan waktunya dihabiskan di luar rumah, seperti di kantor atau di tempat lainnya saat bertemu dengan pelanggannya. "Mobil kamu baru nyampe tadi malam, An. Kamu udah keburu tidur, jadi tante yang nerima. Ini kuncinya." Rini menyodorkan kunci mobil ke arah Kirana. "Kenapa gak bangunin Ana aja, Te?" "Gak apa-apa. Kamu capek habis beres-beres kamar. Lagian cuma nerima doang masa harus ganggu istirahat kamu sih." Rini tersenyum. "Papa sama mama nginep, Te?" "Mereka nginep, tapi di hotel. Katanya mau berduaan aja." "Ish, kebiasaan deh. Udah tua juga." Gerutuan Kirana dibalas kekehan geli dari mulut Rini. Setelah menghabiskan sepiring nasi goreng dan segelas s**u hangat, Kirana berpamitan dengan Rini. Biasa, cipika-cipiki dulu. "Ana berangkat ya, Te." "Hati-hati, Sayang." Kirana mengangguk kemudian berlalu keluar rumah.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD