Bastard Sialan

1082 Words
"Selamat pagi, Mbak," ucap Kirana pada resepsionis di hotel milik Niko. "Selamat pagi, Mbak. Ada yang bisa saya bantu?" tanyanya ramah. Ya, pelayanannya cukup memuaskan. Karyawan perempuan di sini tidak ada yang berdandan berlebihan seperti kebanyakan perempuan di Jakarta. Lagaknya bekerja, tapi niatnya menggoda. "Saya Kirana Atmaja. Menejer baru di sini. Bisa tunjukkan di mana ruangan saya?" "Oh, selamat datang, Bu Kirana. Maaf saya tidak mengenali Ibu. Mari saya antar ke ruangan Ibu," ucap Nella sedikit menunduk. Kirana tahu namanya dari name tag yang berada di d**a sebelah kirinya. "Jangan panggil saya Ibu dong. Panggil Mbak aja. Berasa tua banget saya," ucap Kirana saat mereka mulai melangkahkan kaki menuju lift. "Baik, Mbak," balas Nella tersenyum. Kebetulan resepsionis di hotel ini ada empat orang. Jadi tidak masalah kalau Nella mengantar Kirana sampai ke ruangan barunya. Lift berhenti bergerak di lantai 10. Mereka keluar kemudian melangkah ke sisi kanan. Ruangan Kirana ternyata tidak terlalu sulit untuk mencarinya. "Itu meja siapa?" tanya Kirana saat melihat meja kosong di seberang ruangannya. "Itu meja sekretarisnya Pak Niko, Mbak. Kebetulan sedang ada rapat jadi beliau ikut kemana Pak Niko pergi," Jelas Nella. Kirana hanya mengangguk. Pasti betah banget deh si bastard sialan itu dipepetin sekretarisnya kemana-mana. Kebanyakan sekretaris kan seksi-seksi dan menggoda. Atau jangan-jangan di jadiin simpanan kali, ya. Mayan kan? Di rumah ada. Di hotel juga ada. "Silakan, Mbak." Suara Nella mengejutkan Kirana. Dia mengusap d**a karena kaget. "Astaga, Nel. Jantungan saya," ucapnya kesal. "Habisnya Mbak Kirana melamun. Dari tadi saya panggil nggak nyahut," belanya. Pintar. "Umur kamu berapa?" "Hah?" "Umur kamu berapa?" tanya Kirana sekali lagi. "22, Mbak." "Panggil nama aja deh. Gak usah pake embel-embel mbak atau apapun. Kita seumuran. Gimana?" Kirana memang kurang suka dipanggil Mbak atau Ibu padahal seusia. "Kecuali di kondisi-kondisi tertentu aja sih. Kamu anak Jakarta?" lanjutnya bertanya. Nella mengangguk. "Kok tahu?" tanyanya. "Kebaca dari tampang yang sok polos." "Anjir." Kirana tertawa mendengar umpatan Nella yang spontan. "Dan panggil Lo-Gue aja pas berdua. Masih kaku ini lidah pake Saya-Kamu. Formal banget." "Oke," balas Nella. Gadis itu hanya pasrah saja. Kirana terkekeh. "Okee Nella, perkenalkan nama gue Kirana. Semoga kita menjadi teman baik ke depannya," ucap Kirana memperkenalkan diri sambil mengulurkan tangan. Nella tertawa dan membalas uluran tangannya. "Oke Kirana, perkenalkan nama gue Nella Angraini. Dan semoga lo betah kerja di sini," kata Nella. *** Kirana POV Sejak menginjakkan kaki di hotel ini, dan sejak aku mendudukkan pantatku di kursi kebeseranku di sini. Aku sama sekali belum bertemu dengan Niko yang notabennya adalah bosku di sini. Kalau bisa memilih, aku lebih baik bekerja sebagai karyawan biasa di perusahaan Bang Keenan. Daripada harus di sini menjadi manajer tetapi menyesakkan. Ketukan dipintu ruangan membuatku tersadar dari lamunan. "Masuk," ucapku kembali sibuk dengan kertas-kertas di hadapanku tanpa melihat siapa yang sudah memasuki ruanganku. "Kamu ada waktu sebentar?" DEG! Suara itu. Kenapa tiba-tiba begini dia muncul? Sial! Aku mendongak. Menatap sang empunya suara. Ciptaan Tuhan yang hampir sempurna. Matanya, mampu menghipnotisku. Bibirnya, bibir yang selalu menenangkanku dengan kata-kata manisnya. Hidung itu, hidung yang selalu membuatku tergelitik saat ia menciumku. Tangan itu, tangan yang selalu menggemgamku, membelai dan mengelus lembut rambutku. Pundak itu, pundak yang selalu aku jadikan tempat sandara. Dan tubuh itu, tubuh yang selalu aku peluk dan balas memelukku dengan sayang. Dulu. Empat tahun lalu. Dan semuanya sirna. Hanya tersisa luka. Luka yang aku sendiri tidak tahu apakah ada penawarnya. "Ada apa? Apa kamu mau merayakan kedatanganku di sini?" Aku mencoba tersenyum tulus. Mencoba untuk tidak terganggu dengan tatapan dinginnya. Dia berjalan ke arahku. Aku tidak mengalihkan sedikitpun tatapanku padanya. Aku tidak ingin terlihat seperti perempuan lemah yang harus dilindungi. Aku kuat. Aku bisa menjaga diriku sendiri. "Silakan duduk," ucapku saat ia hendak sampai di kursi kebesaran yang aku duduki sekarang. Aku segera berdiri kemudian hendak melangkah ke sofa yang berada di seberang mejaku sebelum lengan kekarnya memelukku dari arah belakang. Badanku seketika kaku. Tidak bisa digerakkan sama sekali. Aku benar-benar syok dengan tindakan tiba-tibanya seperti ini. "Nik," Bahkan suaraku serasa tertelan di tenggorokanku sendiri. Napasnya berhembus lembut di tengkukku. Kemudian kecupan-kecupan yang dulu membuatku tersenyum geli aku rasakan kembali mendarat di tengkukku. Ada apa ini? Ini salah! "Nik, lepas!" Aku berusaha melepaskan diri dari pelukannya. Tidak bisa. Dia begitu erat memelukku. Aku pasrah. Jujur, aku merindukan pelukan ini. Merindukan sikap manjanya kepadaku. Merindukan segala sikap posesifnya atas diriku. Rasanya aku ingin menangis sekarang, tapi aku tahan. Walau genangan di pelupuk mataku seakan siap tumpah saat ini juga. "Jangan menghindar lagi," bisiknya setelah kami berdiam cukup lama. Aku hanya diam mendengarkannya. Memang selama ini aku selalu menghindar jika tidak sengaja bertemu dengannya. Seperti di sekolah Obi waktu itu. Aku menghindar bukan tanpa alasan. Hatiku belum sembuh, Nik! "Aku mohon, An." Dia kenapa? Ini bukan seperti Niko yang aku kenal. Dia seperti orang putus asa. Apa dia ada masalah? Ah! Tidak-tidak. Itu bukan urusanmu, An. Lupakan dia. "Nik, ini salah." Suaraku sudah bergetar. Kondisi seperti inilah yang aku hindari. Aku akan sangat terlihat lemah jika berhadapan dengan lelaki ini. "Aku merindukanmu, An." Aku menunduk, dan akhirnya genangan yang dari awal sudah aku tahan menetes juga. Mengenai tangannya yang sedang memelukku. "Maaf. Maafkan aku." Tidak! Aku tidak butuh maaf darimu, Nik. Aku TIDAK BUTUH! Aku merasakan dia kembali mengecup tengkukku, cukup lama. Dia? "Nik!" bentakku. Aku berhasil lepas dari jeratan lengannya. Aku menatapnya tajam. Aku menghapus dengan kasar sisa air mataku yang membasahi pipi. "Kenapa kamu meninggalkan bekas?" jeritku saat melihat bayanganku di cermin yang melekat di dinding sebelah kiriku. Ditengkuk ku jelas sekali ada bekas kecupannya. Ah, sialan! Dia terkekeh. What the f**k! Aaaaaa. Rasanya aku ingin pulang ke Jakarta sekarang juga. Aku benar-benar tidak tahan berdekatan dengan bastard ini, Tuhan! *** Sejak kejadian menjengkelkan di ruanganku kemarin, aku jadi malas berurusan dengan lelaki sialan itu. Benar-benar membuatku marah sekaligus malu. Bagaimana tidak? Saat aku keluar ruangan, Nella sudah berdiri cantik di depan pintu ruanganku sambil tersenyum centil. Dan matanya itu, astagaaaa. Selalu mengarah ke atas dan ke bawah, seolah sedang menscan diriku. Memalukan! Sedangkan bastard sialan itu? Hanya berdeham kecil kemudian melangkah pergi melewati aku dan Nella begitu saja. Tentu dengan ekspresi dingin yang kembali menghiasi wajah tampannya. Tampan? Hah! Memang benar. Lamunanku buyar ketika ponselku berdering nyaring. Ah, siapa lagi yang menelponku siang bolong begini? "Halo?" "Te, Ana. Ini Obi. Mama. . Maaa. . maa, Te." "Obi, Sayang. Tenang dulu ya jangan nangis. Bilang pelan-pelan ke Te Ana. Ada apa? Mama Obi kenapa, sayang?" Mendengar suara Obi bergetar menahan tangis seperti ini membuatku panik. "Mama masuk rumah sakit, Te. Mama jatuh." Deg! "Ob. ."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD