Bab 4 Sebuah Ciuman Dadakan

3027 Words
“Siapa namamu?” “Leslie Clarkson.” “Usia?” “28 tahun.” “Sejak kapan kau bekerja pada John M. Sheldon?” “Sekitar satu tahun lalu.” “Bagaimana kau bisa mengenalnya?” “Pria di dekat rumahku mengenalkannya padaku. Ia tahu aku membutuhkan uang. Hidupku benar-benar kacau saat itu.” “Apa yang biasa kau lakukan? Bagaimana pekerjaanmu sebenarnya?” “Mendistribusikan narkoba. Biasanya aku akan menemui seseorang yang sudah diatur oleh Tuan John. Lalu aku tinggal menemuinya, memberikan barangnya dan mengambil bayarannya.” “Dan seberapa banyak kau dibayar?” “Dua puluh persen dari bayaran setiap kali transaksi.” “Seberapa banyak kau melakukan transaksi?” “Aku melakukannya kira-kira tiga kali sebulan.” Denaya terdiam beberapa saat. Pria ini menjawabnya dengan tegas. Seolah tidak takut atas hal yang akan diakibatkan dari ucapannya. Ia tidak berbohong, Denaya tahu itu. Dan jika tidak mengingat bagaimana pria ini berniat membunuhnya kemarin, ia pasti mengira bahwa dia orang yang baik. “Kenapa kau mau melakukan pekerjaan ini?” Alis Leslie bersatu, ia menatap gadis di depannya penuh tanya. “Apakah itu akan mempengaruhi penyidikanku?” “Jawab saja pertanyaanku.” “Aku membutuhkan uang. Pendidikanku tidak cukup untuk memberikanku sebuah penghidupan yang layak. Aku memiliki tanggungan.” “Kau sudah menikah?” Mendengar pertanyaan itu, pandangan Leslie terlihat kosong. Pikirannya melayang jauh ke rumahnya. “Tunangan. Dan dua orang adik.” Denaya mengembuskan napasnya perlahan. Kembali memfokuskan dirinya. “Orang tuamu?” “Meninggal dua tahun lalu.” “Adikmu bersekolah?” “Adik perempuanku di sekolah menengah atas. Sementara kakak laki-lakinya sedang duduk di bangku universitas.” “Kau sadar bahwa setelah ini kau akan masuk penjara?” “Aku sadar sepenuhnya.” “Dan kau tidak takut?” “Tidak sebesar ketakutanku saat aku masih bertahan dengan pekerjaan itu. Entah kau percaya atau tidak, tapi selama setahun ini, aku bahkan tidak bisa tidur nyenyak. Merasa bahwa diriku dikejar-kejar oleh semua pihak,” jelasnya ragu sambil menatap meja dengan serius. “Apakah kau memakai narkoba?” “Tidak.” “Kenapa? Kau bisa dengan mudah memperoleh barang itu, kan?” “Karena aku tahu bahwa itu hanya akan membunuhku, menggerogoti hidupku tanpa sisa.” “Dan daripada mengorbankan hidupmu, kau tidak merasa keberatan untuk merusak hidup orang lain?” Kali ini tatapan mata Leslie berubah. Terlihat lebih tajam daripada sebelumnya, tapi tidak cukup kuat untuk membuat Denaya merasa ngeri. “Aku tidak bilang bahwa aku melakukannya dengan senang hati. Aku tahu, apa pun alasanku, aku tetap seorang pengedar, tidak ada pembenaran atas itu. Dan aku tidak berniat melakukan pembelaan diri yang sia-sia.” Kali ini Denaya terlihat berpikir. Ia lalu melanjutkan. “Setelah kau keluar dari penjara apakah kau akan kembali pada pekerjaan itu?” “Tidak.” “Kenapa?” “Karena aku tahu seberapa buruknya itu.” Setelah agak lama, keduanya tenggelam dalam keheningan. “Kalau memang kau tidak menyukainya? Kenapa kau tidak berhenti? Katakan pada Sheldon bahwa kau mengundurkan diri.” Leslie tersenyum sinis. Dengan kilat kemarahan ia menjawab. “Kalau memang semudah itu, maka aku sudah melakukannya sejak tahun lalu. Dia mengikatku, mengikat seluruh orang yang kusayang, mengikat seluruh kebebasanku. Dia bisa melaporkanku ke polisi tanpa menjebloskan dirinya ke penjara untuk ikut terseret. Dia bisa membunuh keluargaku, atau menjual tunanganku sesukanya, atau menghabisi adik-adikku. Aku tidak bisa membiarkan itu terjadi.” Denaya menatap pria di depannya lama. Ia lalu mengembuskan napasnya pelan dan mengangguk. “Baiklah. Bisakah kau memberiku informasi mengenai bandar yang lainnya? Tempat mereka berkumpul atau bertransaksi?” “Aku anggota baru, dan kami tidak memiliki jadwal perkumpulan rutin. Jadi, aku tidak mengenal anggota lain, juga tidak ingin tahu. Yang kulakukan hanya menuruti perintah Tuan John. Aku memberikan pendapatanku dua bulan sekali, itu pun kulakukan secara cepat. Kami biasanya bertemu di tempat-tempat umum. Toilet di stasiun kereta, café pinggiran, kedai makanan, berpapasan di jalan, atau bahkan di bus. Dan yang selalu kutemui hanya pegawainya saja, bukan Tuan John. Hanya dalam pertemuan besar kemarin aku bisa bertemu dengan semua kaki tangan Tuan John. Kau bisa menanyakan pada orangnya yang lain mengenai hal itu, mereka tahu lebih banyak. Juga untuk memastikan apakah aku berbohong atau tidak.” Setelah penjelasan itu, Denaya mengangguk. Ia lalu berdiri. Merasa sudah selesai dan bergegas pergi. “Kudengar kau meminta secara khusus untuk menemuiku,” tahan Leslie Clarkson. “Benar. Karena aku memiliki keinginan terpendam untuk memukul wajahmu.” Denaya menampilkan wajah kesalnya. Sementara pria di depannya hanya tersenyum maklum. “Baiklah. Kuharap itu sudah setimpal dengan apa yang sudah kulakukan padamu.” “Tentu saja. Nah, kalau begitu aku permisi. Urusan kita sudah selesai. Sekarang kau akan berurusan dengan pihak kepolisian dan pengadilan. Jangan mendekati narkoba lagi, kau mengerti?” Pria itu mengangguk. Membuat Denaya tersenyum. Baru satu langkah kaki Denaya bergerak, pria itu kembali menginterupsinya. “Tunggu,” tahannya. “Tolong sampaikan terima kasihku pada suamimu. Kalau bukan karena dia, mungkin aku sudah menjadi pembunuh. Pengedar narkoba sudah sangat buruk tanpa harus ditambah sebagai pembunuh aparat negara.” Denaya otomatis menatap ke arah Maxleon. Pria itu juga sedang menatapnya. Ia lalu tersenyum miring. “Padahal semalam kau tidak terlihat merasa bersalah, tapi baiklah. Kau beruntung bukan dia yang menginterogasimu. Lagi pula, aku bukan orang yang mudah mati.” Kali ini Denaya benar-benar meninggalkan Leslie. Berjalan menghampiri Maxleon yang sudah menunggunya. Mereka keluar bersamaan. “Kalian membicarakan apa? Lama sekali.” “Aku terlalu penasaran dengan hidupnya.” “Hah?” “Kita harus mengutus seseorang untuk menemui tunangan dan adiknya.” “Bisakah kau memberikan jawaban yang lebih spesifik?” Denaya mengedipkan matanya. Tidak merasa terusik dengan ekspresi Maxleon yang geram. Kesal karena jawaban atas pertanyaannya benar-benar tidak sesuai harapan. Maxleon hanya menggeleng-gelengkan kepala. Membiarkan istrinya itu melakukan apa pun sesukanya. *** Maxleon dan Denaya berjalan bersama menuju mobil. Keduanya baru saja pulang dari berbelanja beberapa barang kebutuhan mereka. Hal yang tidak begitu diperlukan karena toh mereka memiliki pegawai yang akan melakukan hal itu untuk mereka. Maxleon memasukkan kantong plastik ke bagasi mobil. Membukakan pintu untuk Denaya lalu mengitari mobil dan duduk di balik kemudi. Mengabaikan suara kerisikan karena gerakan Denaya yang sedang membuka kemasan makanan ringan. Mobil mereka melaju di atas aspal, meluncur dengan halus dan lincah. Suara penyanyi mengalun indah dari pemutar musik yang dinyalakan Maxleon. Membuat Denaya ikut menyanyi pelan. Tangan Denaya terulur, menyuapi Maxleon sebuah keripik yang sejak tadi sudah dilahapnya lebih dulu. Maxleon memakannya dengan senang hati. “Buka susunya,” pinta Maxleon. “Sebentar.” Denaya meletakkan bungkus keripik itu di paha. Tangannya meraih s**u kotak rasa stroberi yang tadi mereka beli. Ia menusukkan sedotannya, mendekatkan ke bibir Maxleon yang dengan senang hati menyambutnya. Tangan pria itu sibuk mengendalikan setir, membelokkan mobil ke kanan dengan mulus. Denaya menjauhkan kotak s**u itu saat Maxleon selesai. Ia kembali memakan keripiknya dan menyesap s**u itu dari sedotan yang tadi digunakan Maxleon. Denaya mengeluarkan ponselnya yang bergetar. Mendapatkan pesan dari Scarlett yang mengatakan bahwa ia benar-benar kesal atas sikap Jeffrey akhir-akhir ini. Membuat Denaya terkikik geli. Di sampingnya, Maxleon hanya melirik sekilas. Sudah terbiasa dengan sikap Denaya yang terkadang tidak terduga. Jari Denaya menggeser layar ponsel. Melihat keadaan rumah mereka dari kamera CCTV yang sudah ia atur agar bisa ia aplikasikan pada ponselnya. Pemandangan di sana seketika membuatnya tersedak. “Uhuk … uhuk … uhuk ….” Gadis itu lalu meletakkan kotak s**u bersama bungkus keripik itu ke atas dashboard mobil. Ia menegakkan duduknya. “Pelan-pelan, Denaya. Ada apa? Kau terlihat seperti habis melihat setan.” Denaya menoleh, menatap Maxleon dengan mata besarnya. “Ya Tuhan! Mereka ada di rumah!” Alis Maxleon mengerut, berusaha berpikir. Dan detik berikutnya, pria itu langsung menghentikan mobil. Menepikannya dan menghadap pada Denaya dengan penuh. “Apa? Mereka di rumah? Siapa saja?” teriak Maxleon begitu saja. Gadis itu lalu memeriksa kembali layar ponselnya. “Ada orang tuamu di rumah kita!” Maxleon mengamati layar ponsel yang Denaya sodorkan padanya. Menggeser-geser lalu mengamatinya dengan keseriusan meningkat. Ia lalu membuang napasnya kasar. “Bagaimana sekarang?” ujar Denaya panik. “Tidak perlu panik. Bersikap seperti biasa saja.” Maxleon menenangkan. Pria itu kembali melajukan mobil. Suasana seketika mendingin. Denaya bahkan berhenti makan. “Apa yang membuat mereka tiba-tiba datang ke rumah?” “Tidak tahu. Paling hanya kunjungan biasa. Memang sudah lama kita tidak berkunjung.” Maxleon berusaha terdengar meyakinkan. Sedangkan Denaya hanya mengangguk setuju. Sepuluh menit kemudian mereka sampai di rumah. “Maxleon Stanwood.” Denaya bicara pada interkom sekaligus alat pendeteksi suara di dekat gerbang. Setelah bunyi bip dan sambutan datar suara wanita dalam mesin. “Selamat datang di rumah, Nyonya Stanwood.” Pagar kemudian membuka. Mobil melaju masuk dan melesat mengikuti jalan yang bermuara di garasi. Denaya turun dari mobil. Berjalan menuju pintu yang menghubungkan dengan rumah utama. Sambil berkomat-kamit dalam hati, tiba-tiba tangannya digenggam oleh Maxleon. Kemudian pria itu membawanya ke dalam rumah. Tidak ada siapa pun di dalam. Mereka melanjutkan langkah, menghampiri rak sepatu beserta tempat meletakkan payung. Keduanya menanggalkan sepatu dan berganti pada sandal rumah. Namun, Maxleon sama sekali tidak melepaskan genggamannya. Tatapan mata Denaya lantas naik, tanpa sadar mengamati Maxleon. Pria itu tidak memandangnya, hanya menatap berkeliling mencari keberadaan orang tuanya. Pria ini masih orang yang biasanya, tapi Denaya merasa genggamannya berbeda. Tangannya seketika berkeringat, dan jantungnya tak bisa tenang. Apa yang …. “Oh, Denaya, Maxleon. Kalian sudah pulang.” Suara itu menyentaknya dari keirasionalan pikiran. Denaya menoleh dengan cepat, mendapati Ibu Maxleon kini berdiri di sana. “Ya, Ibu. Bagaimana kabarmu? Kapan kalian tiba di sini? Kenapa tidak menghubungiku dulu?” Denaya tersenyum paksa, masih kaget atas apa yang baru saja terjadi. Ia melepaskan diri dari Maxleon. Lega karena terbebas oleh genggaman yang membuat jantungnya berdesir. “Aku baik-baik saja. Kami sampai sekitar setengah jam yang lalu. Hanya ingin mampir saja. Rumah itu semakin sepi karena tidak ada kalian.” Ibu Maxleon memeluk Denaya erat. “Ibu, jangan berkata begitu. Ibu dan Ayah bisa datang kapan saja.” Denaya merengut, separuh kesal dan separuh malu. Mereka lalu duduk bersama di sofa ruang tengah. “Di mana Ayah?” “Di halaman samping, ingin menikmati udara segar katanya. Oh, dia bilang ada yang ingin dibicarakan denganmu.” Maxleon ikut menghampiri ibunya, membiarkan wanita itu memeluknya sejenak. “Baiklah. Aku akan menemuinya,” lapor Maxleon. “Baiklah.” Ibu Maxleon mengangguk. Maxleon bangkit. Memberikan isyarat pada Denaya sambil mengelus kepalanya sambil lalu. Tindakan amat sepele yang lagi-lagi membuat Denaya kelimpungan. Namun, Ibu Maxleon tampak lebih bahagia daripada sebelumnya karena melihat interaksi itu. Denaya tersenyum pahit. Berusaha mengabaikan nyeri di dadanya. Denaya, jangan berlebihan, ini hanya pura-pura. “Aku melihat belanjaan di dapur banyak sekali. Karena Ibu di sini, sekalian saja kita masak bersama untuk makan malam,” usul wanita itu dengan raut wajah cerah. “Baiklah. Ayo, Ibu, kita memasak!” balas Denaya tak kalah semangat. Denaya melangkah menuju dapur, mengekori mertuanya. Alisnya mengerut, ayah mertuanya ingin bicara dengan Maxleon? Tumben sekali. Ada apa? Mereka tidak mungkin mengetahui soal pernikahannya dan Maxleon, kan? Tidak secepat ini. Ya, tidak mungkin, tidak ada hal mencurigakan yang akan membuat mereka curiga soal itu. *** New York, The House of Mr. and Mrs. Stanwood. 15 November 2018. 07.00 PM Denaya menusukkan garpunya ke irisan buah yang tadi sudah disiapkan oleh pegawai. Pencuci mulut yang terasa nikmat. Mereka telah selesai menyantap makan malam. Kini ayah dan ibu mertuanya sedang asyik menonton televisi. Maxleon duduk di sebelahnya. Memperhatikan layar iPad putih andalannya. Memeriksa kasus yang selanjutnya akan mereka tangani. Sesekali ia menerima suapan buah dari Denaya. “Maxleon. Bagaimana pekerjaanmu?” tanya Ayah tiba-tiba. Maxleon meletakkan iPadnya ke pangkuan Denaya. Kali ini memberikan perhatian penuh pada pria paruh baya itu. “Baik-baik saja. Bisa ditangani dengan baik, aku agen yang hebat.” “Ya, dan aku juga yakin kalau Denaya juga seorang mitra yang hebat.” “Ah, Ayah tahu saja.” Denaya membalas ringan. Menyunggingkan senyum manis yang terlihat menawan. “Apa kalian keberatan kalau aku meminta kalian menginap di rumah kami?” tanyanya lagi. Maxleon terdiam, begitu juga Denaya. Belum bisa mencerna dengan baik maksud sebenarnya dari pertanyaan itu. Tidak tahu keputusan mana yang lebih baik. Mereka belum memikirkan matang-matang soal ini. Lagi pula, kenapa semuanya serba mendadak? “Sebetulnya, kami tidak masalah, tapi kenapa tiba-tiba begini, Ayah?” Pria paruh baya itu tersenyum. Begitu juga dengan istrinya. “Kakekmu yang menginginkannya. Ditambah lagi, Nenek juga merindukan Denaya.” Kepala Maxleon bagaikan tertimpa batu berat. Kakeknya? Ini berarti … mereka akan tinggal di rumah keluarga besar Stanwood. Tidak mungkin! Dan kalau itu terjadi, ia tidak akan bisa memastikan berapa lama hal itu akan terjadi. Maxleon bergidik ngeri mengingat bagaimana perawakan dan temperamen kakeknya dari pihak ayah itu, dan memikirkan bahwa ia akan membawa Denaya ke lingkaran menyeramkan itu malah memperburuk firasatnya. Apa yang akan mereka rencanakan padanya dan Denaya nanti? “Oh? Nenek merindukanku, ya? Wah, aku senang sekali mendengarnya. Bagaimana kabar mereka? Baik-baik saja kan, Ibu?” Denaya merespon lebih dulu. Nyonya Stanwood tersenyum penuh sayang. “Mereka baik. Dan mereka ingin bertemu denganmu.” Denaya tersenyum. Sekarang, entah kenapa kepalanya tidak dipenuhi oleh pemikiran mengerikan. Seharusnya ia kaget, panik, atau bahkan histeris. Mengingat betapa kuatnya hubungan keluarga serta peraturan di keluarga Stanwood. Namun, kini yang dirasakannya hanyalah kebahagiaan. Mengetahui bahwa keluarga Maxleon Stanwood, suaminya itu, merindukannya. Menginginkan kehadirannya. Ia benar-benar merasa senang. “Itu tidak masalah. Kami akan tinggal di sana untuk beberapa hari. Lalu kembali pulang setelah kakek dan nenek puas menebar rasa rindunya pada kami,” tukas Maxleon sambil bercanda. Denaya bersuara bagai orang yang ingin muntah. “Tapi, Ayah tahu kan kalau pekerjaan kami tidak bisa ditinggal? Jadi, sekalipun kami menginap di sana, kami akan tetap pergi bekerja.” Maxleon memastikan. Tuan Stanwood tidak tampak kaget. Ia malah tersenyum paham. “Tentu saja. Kalian boleh tetap bekerja. Lagi pula kakek juga tidak keberatan.” “Baiklah. Kalau begitu kami akan mendiskusikan beberapa hal lagi nanti. Mungkin besok atau lusa kami akan ke sana. Kuharap tidak lebih dari satu minggu.” “Maxleon, lihatlah kelakuanmu. Orang tua merindukanmu dan kau malah ingin cepat-cepat pergi?” “Hanya bercanda, Ibu. Ya Tuhan, kenapa Ibu tegang sekali. Jangan membuatku terlihat durhaka begitu.” “Bilang saja kau tidak suka karena tidak leluasa menggerecoki Denaya. Iya, kan?” “Nah, itu Ayah tahu. Benar-benar ya, like father like son.” Denaya menusuk potongan apel dengan bar-bar, geram karena merasa ingin menendang kepala Maxleon, tapi ada orang tuanya di sana. Belum sempat memakan, tangannya ditarik paksa oleh Maxleon. Terpaksa merelakan saat makanan itu malah berakhir di mulutnya. “Tapi, Ibu, Nenek sudah tidak kejam lagi padaku, kan? Terakhir kali bertemu, dia memaksaku melakukan hal yang aneh-aneh dengan tubuhku. Kuharap nanti aku tidak disuruh meminum yang aneh-aneh.” Denaya merengek pada ibu mertuanya. Terlihat benar-benar merana saat mengingat kenangannya bersama nenek suaminya itu. Membuat semua orang di sana tertawa keras. Ia bahkan nyaris memasukkan semangkuk buah-buahan penuh ke mulut Maxleon yang tidak bisa berhenti tertawa dengan suara yang juga menyakitkan telinga. Dasar suami kurang ajar! *** “Oh ya, Maxleon, ada yang harus kau urus. Stanwood Co.Tech akan meluncurkan produk baru. Kau harus memastikannya sendiri lebih dulu, beserta beberapa dokumen lain. Zelene sudah mengurus masalah perusahaan yang lain. Kau hanya perlu memberikan keputusan akhir saja.” Ayah Maxleon mengingatkan sebelum keduanya pamit pulang. Menyinggung posisi Maxleon sebagai dewan direktur utama dengan suara paling dipertimbangkan membuat pendapat pria itu sangat diperlukan demi keberlangsungan perusahaan. “Ah, begitu? Kapan aku harus mengeceknya?” “Besok juga bisa.” Maxleon melihat jam tangannya. Belum sampai pukul sembilan. “Bagaimana kalau sekarang?” “Tidak masalah.” Ibu dan Ayah berjalan menuju pintu. Sementara Denaya dan Maxleon mengekor di belakang. “Aku pergi sebentar,” pamit Maxleon. “Oke,” jawab Denaya biasa saja. Ia membawakan outer pria itu hingga ke pintu. “Hati-hati, Ibu, Ayah,” tukas Denaya saat ia sudah di depan pintu. Sebuah mobil yang dikendarai sopir berhenti di halaman, menunggu orang tua itu. “Tentu, Denaya. Kau juga, jagalah kesehatan. Kami pinjam Maxleon sebentar,” gurau Ibu Maxleon. “Lama pun tidak apa-apa,” balas Denaya bergurau. Membuat orang tua itu tertawa. Maxleon mendekati Denaya, mengambil outer dari tangan gadis itu lalu menepuk lengannya pelan. “Jangan lupa kunci pintu balkonnya.” “Iya-iya.” Denaya melirik orang tua Maxleon. Ibunya mengamati interaksi mereka dengan kening berkerut. Seolah sedang menantikan sesuatu, atau kecewa karena hal lain. Ia pura-pura melihat ke arah lain meski tatapan matanya berkali-kali mencuri pandang pada ia dan Maxleon. Denaya seketika terentak. Apa? Apa yang terjadi? Apa maksud tatapan itu? Kenapa … ada siratan kecewa di sana? Sebelum terlambat, dengan sigap Denaya menahan tangan Maxleon yang belum jauh. Ia benar-benar lega karena otaknya bisa bekerja secepat itu di saat genting. Maxleon menatap Denaya penuh tanya. Tangan gadis itu mencengkeram lengan atasnya dengan kuat hingga ia hampir berteriak. Dalam gerak samar dan suara lirih, Denaya mengatakan hal yang membuat nyawanya nyaris kabur. “Cium aku.” Bibir gadis itu tidak bergerak, tapi suaranya masih dapat didengar Maxleon. Dan ia tidak bisa memercayai telinganya saat mendengar bisikan itu. Denaya … istrinya itu tidak gila, kan? “Hah?” “Kubilang cium aku sekarang.” Pria itu masih terdiam. Tidak tahu harus melakukan apa. Melihatnya, Denaya tidak bisa menahan geram. Beruntunglah karena Maxleon sedang berada di anak tangga di bawahnya hingga ia tak perlu bersusah payah. Ia melingkarkan kedua tangannya ke leher Maxleon, lalu mencium pria itu tepat di bibir. Maxleon membeku di tempat. Tidak menyangka akan mendapat kejutan separah ini. Bibir gadis itu … tunggu, sebentar, ia tidak bisa berpikir. Apakah benda manis ini adalah bibir Denaya? Tunggu, ia … ia belum siap! Maxleon menolak memikirkan apa-apa. Yang bisa ia rasakan hanyalah rasa hangat dan manis, juga sedikit kesegaran buah. Selama ini, ia tidak pernah mengetahuinya. Bahkan saat pernikahan mereka pun, ia hanya menciumnya di dahi. Dan saat bibirnya menyatu dengan material lunak itu, jantungnyalah yang lebih dulu bereaksi, menggebuki dadanya dengan daya berlebih. Detakan itu terasa semakin mengentak setiap detiknya. Ia tidak tahu apa yang terjadi sekarang, tapi ia benar-benar tidak ingin menyudahinya. Jadi, ia melingkarkan tangannya di pinggang ramping Denaya, memejamkan matanya lalu mencium gadis itu semakin dalam. Kini ia yakin bahwa pasti ada yang salah dengannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD