Bab 5 Perintah Misi Berbahaya

2627 Words
Denaya terpaku di tempat. Tidak-tidak-tidak. Bukan begini yang ia maksudkan tadi. Ia hanya ingin mencium Maxleon sekilas saja. Agar ibu dan ayahnya yang kini sedang melihat mereka akan mengira bahwa pernikahan mereka baik-baik saja seperti pasangan lain. Tapi, kenapa … kenapa pria ini malah balas menciumnya? Benar-benar menciumnya! Dan sekarang malah ia sendiri yang tidak bisa berkutik. Ini benar-benar di luar rencana! Denaya kalah. Kalah oleh keinginan diri dan seluruh naluri yang ia punya. Lupakan saja tentang dua orang manusia yang kini pasti sedang memperhatikan mereka. Ia benar-benar tidak bisa berpikir jernih. Tangannya meremas lengan Maxleon dengan erat. Sementara otaknya kacau balau. Sentuhan lemah Maxleon di punggungnya tiba-tiba saja membuatnya merinding. Maxleon melepaskan diri. Mendapati pipi gadis itu yang merona dan mata yang menolak bertatapan. Ia sendiri tidak tahu harus berekspresi macam apa. Serangannya terlalu mendadak. “Baiklah. Kami akan pergi sekarang.” Tuan Stanwood bersuara sambil menatap nakal pada anak dan menantunya. Denaya menjauh dari Maxleon secepat kilat. “Aku pergi dulu.” Maxleon langsung berpamitan. Pria itu melangkah menuju mobilnya sendiri. Melaju menyusul orang tuanya yang lebih dulu berangkat. Maxleon mencengkeram setir dengan kuat. Berusaha mengabaikan debaran keras jantungnya yang sejak tadi tak bisa mereda. Meskipun entakan itu menyisakan perasaan menyenangkan, tapi Maxleon merasa ngeri. Ya Tuhan, ada yang aneh dengan dirinya. *** New York, NIA building, 20 November 2018, 06.05 AM Matahari sudah terbit. Maxleon sudah bangun sejak tadi. Tidak terhitung lagi berapa kali ia mengumpat sepagian ini. Ia sudah gila. Benar. Ia pasti sudah benar-benar gila! Bagaimana bisa ia berdebar-debar hanya karena bangun tidur dan mendapati wajah Denaya di depannya? Bukankah selama ini mereka memang tidur bersama? Lalu kenapa tadi pagi terasa begitu berbeda? Ia bahkan berusaha sekuat tenaga agar tidak menyentuh Denaya di sembarang tempat. Masalahnya, Denaya malah memperburuk segalanya dengan menempel padanya seperti ulat bulu. Bukan salahnya juga, karena mereka memang terbiasa bersama sejak kecil. Interaksi seperti itu seharusnya tidak membuatnya berdebar. Jadi, tidak ada yang membuatnya terasa aneh, tapi kenapa Maxleon merasa sangat aneh sekarang? Maxleon mengembuskan napasnya lagi. Menghirup udara pagi dengan rakus. Ia belum pernah bangun sepagi ini. Ditambah lagi, ia kini sedang berdiam diri di balkon. Di tengah udara pagi yang segar dan menusuk tulang. Berusaha melakukan meditasi—tidak sepenuhnya berhasil. Ia tidak yakin apakah bisa bertahan di dalam sana. Ia merasa agak sesak. Ini tidak bisa dibiarkan. Ini harus dihentikan. Denaya adalah sahabatnya, tidak ada apa-apa di antara mereka. Bersikaplah seperti biasa, Maxleon. Kau sudah berhasil melewati beberapa bulan tanpa ada hal-hal aneh, seharusnya kau bisa mengatasi ini. Lagi pula, memangnya sejak kapan kau menganggap gadis itu sebagai seorang gadis? Selama ini kau menganggapnya sebagai saudara, kan? “Max? Kau sudah bangun?” Maxleon berbalik saat mendengar suara itu. Dan hal yang dilihatnya malah membuatnya menyesal. Denaya berdiri bersandar pada pintu geser kamar mereka yang mengarah ke balkon. Rambutnya terlihat agak kusut karena baru bangun tidur. Celana pendeknya memamerkan kaki jenjang yang putih tanpa alas kaki. Dengan kaus longgar yang membalut tubuh atasnya dengan menggoda. Didukung pula dengan wajah polos yang terlihat menggemaskan. Bibirnya agak pucat, kedua pipinya putih dan matanya setengah tertutup. Maxleon mengalihkan pandangan. Memutuskan segala jembatan yang membuat otaknya semakin miring. “Tiba-tiba saja terbangun lebih awal. Kalau kau masih mengantuk, tidurlah lagi. Di sini dingin,” balasnya. Denaya menulikan telinganya. Melangkah ke sofa nyaman di sana. Meringkuk di atasnya seperti bayi. Mengabaikan udara dingin yang menyerbu. Ia memejamkan matanya lagi. Kalah dengan rasa kantuk. Kembali hanyut ke alam mimpi. Maxleon mengernyit. Merasa aneh karena situasi yang seketika hening. Ia menoleh. Mulutnya menganga melihat Denaya yang kini malah tidur meringkuk di sofa hijau itu. Maxleon mengembuskan napas pelan. Ia lalu berjalan menghampiri gadis itu. Berjongkok di depannya sambil lagi-lagi memandangi wajah itu. Anehnya, tidak ada lagi debaran mengganggu atau getaran yang mengusik hati. Yang ada hanya kedamaian saat melihat wajah tidur Denaya. “Denaya, terkadang kau ini benar-benar menyulitkan,” bisiknya sepelan mungkin. Denaya masih bergeming. Tubuh Maxleon bergerak. Tangannya menyelip di bawah lutut Denaya, sementara tangan yang lain ke balik punggungnya. Kemudian tanpa merasa kesulitan ia mengangkat gadis itu dari sofa. Menggendongnya masuk kembali ke kamar. Menidurkannya kembali ke ranjang yang melesak ke dalam saat tubuh Denaya terbaring di atasnya. Maxleon menyelimuti Denaya hingga sebatas leher. Ia menyingkirkan helai rambut dari wajahnya, mengamati lagi. Ia sudah melihat wajah itu sepanjang hidupnya. Lantas kenapa kemarin ia merasa seolah baru melihatnya? Maxleon menepuk-nepuk tubuh Denaya dengan pelan, seolah ingin menidurkan bayi. “Kita akan baik-baik saja,” bisiknya pelan. *** New York, NIA building, 20 November 2018, 12.15 PM Denaya sedang memperhatikan komputernya dengan keseriusan tinggi. Berusaha memahami sedetail-detailnya tentang kasus yang sudah ditangani oleh departemen mereka sebulanan ini, mengenai penjualan perempuan yang semakin marak. Permasalahan yang belum mencapai titik terang yang memuaskan. Setiap kali mereka hampir menemukan solusi, penyelesaian itu pasti lepas secara perlahan. Membuat semua anggota mereka geram minta ampun. Konsentrasi Denaya pecah saat sebuah minuman kaleng menempel di keningnya. Ia melirik ke atas. Mendapati sosok yang kini sedang berdiri di depannya dengan wajah datar. “Aku tidak minta minum.” Denaya berkata ketus sambil mengambil minuman itu dari tangan Maxleon. Ia lalu membuka dan meminumnya dengan tegukan besar. Baru sadar bahwa ia benar-benar haus. “Kau belum makan siang.” Maxleon memberi peringatan yang tak diacuhkan Denaya. “Kau tidak salah.” Denaya membalas sambil lalu. Masih fokus mempelajari petunjuk yang ada di layar komputer. “Ayo makan.” Maxleon menyandarkan tubuh di meja Denaya. “Sebentar lagi.” Denaya melakukan tawar-menawar. Matanya bergerak cepat mengikuti kata demi kata di layar. Sesekali memperbesar gambar yang juga tertera. “Sekarang, Denaya Stanwood.” Maxleon menarik tangan Denaya sekaligus perhatiannya. Membawanya meninggalkan kubikel Denaya. “Hei, tugasku belum selesai!” protes Denaya. Belum apa-apa, Denaya sudah duduk di kursi kantin NIA. Lengkap dengan menu makanan yang sudah tersaji. “Wah, kau benar-benar sudah lapar, ya?” sindir Denaya. “Memang. Rasanya aku ingin memakanmu juga,” tukas Maxleon jutek. Maxleon duduk di hadapan Denaya. Yah, ia memang lapar. Tanpa banyak bicara mereka langsung menikmati makan siang sambil mengobrolkan banyak hal. Maxleon sudah selesai dengan makanannya. Kini ia hanya duduk tenang menunggu Denaya menyelesaikan makan. Tersenyum geli saat melihat sisa saus di sudut bibir Denaya. Tanpa diperintahkan, tangannya langsung terjulur. Membersihkan dengan ibu jarinya. Denaya tidak merasa terganggu. Masih berusaha menghabiskan makanan. “Selesaikan makanmu. Setelah ini kita akan menemui Ketua Richard.” Denaya tersedak. Tangannya sibuk menepuk-nepuk dadanya. Sementara tangan yang lain mengambil segelas air yang disodorkan Maxleon. “Apa? Memangnya ada urusan apa? Aku kan tidak melakukan apa pun yang melanggar aturan.” “Aku tidak bilang ini karena kelakuanmu. Dia bilang ingin bicara dengan kita.” Maxleon berkata dengan wajah serius. Membuat Denaya tiba-tiba merasa menciut. “Kita? Kau dan aku? Kita berdua saja?” heran Denaya. Maxleon mengangguk, tampak muram. Sementara Denaya berpikir keras. Mengira-ngira sebab apa yang membuat atasan mereka itu ingin bertemu dengan mereka berdua. “Menurutmu, kenapa Ketua Richard memanggil kita berdua?” Tangan kanan Maxleon menopang dagu, dengan telunjuk menempel di bibir bawahnya. Sibuk berpikir. Menampilkan ekspresi yang membuat Denaya tiba-tiba merasa senang. “Aku tidak tahu. Tapi aku merasa kalau ini bukan pertanda baik. Memangnya apa yang dia ingin kita lakukan?” “Aku juga tidak tahu.” Denaya menggeleng. Ikut-ikutan berpikir. Lima belas menit kemudian, mereka berdua sudah duduk di ruangan Richard Johnson, kepala National Intelligence Agency. Departemen yang menangani masalah kejahatan yang biasanya tidak bisa lagi diselesaikan oleh pihak kepolisian. Maxleon duduk santai di sebelah Denaya. Pria itu menyandar di kursi, dengan tangan terlipat di depan d**a dan mata yang menatap tegas ke depan. Sementara Denaya duduk tegak di kursi. Aura Ketua Richard terasa tidak bersahabat. “Apakah ada yang punya gambaran kenapa kalian berdua kupanggil kemari?” “Menurutku itu pastilah hal penting, tidak mudah dan bukan hal yang baik.” Maxleon menjawab dengan tanpa keraguan. “Aku tidak berniat untuk menduga-duga.” Denaya angkat bicara. Membuat Ketua Richard tiba-tiba menyunggingkan senyum. Membuat Denaya merasa lebih tidak enak dibanding sebelumnya. Ketiganya terdiam beberapa saat. “Jadi, sebetulnya aku mempunyai misi untuk kalian berdua. Misi yang penting. Kuharap kalian paham tentang kasus penjualan perempuan yang kini sedang kita tangani,” buka Ketua Richard. Maxleon dan Denaya kompak mengangguk. “Nah, Edrick Wedley berhasil menemukan tangan kanan dari bos besar itu. Segala sesuatunya selalu dilakukan oleh pria itu. Sementara ketua mereka tidak pernah terjun langsung, tapi ia merupakan otak yang hebat. Bukan hal yang mudah untuk mengatur organisasi dan pergerakan anggota tanpa ikut turun langsung.” “Dan siapakah orang itu?” Maxleon bertanya tanpa mengalihkan pandangan dari wajah pria berwibawa itu. “Marvin Twain, pria 34 tahun. Tidak memiliki istri ataupun saudara. Orang yang hati-hati dan waspada.” “Hati-hati dan waspada. Jadi, apa yang membuat Anda yakin bahwa orang semacam ini akan kalah oleh kami berdua saja?” Kali ini Ketua Richard benar-benar tersenyum. “Karena ia punya satu kelemahan; wanita. Dia adalah pecinta wanita kelas berat.” Denaya mengernyit tidak suka. Sementara Maxleon mengangguk-angguk. “Tapi kenapa harus kami? Kenapa tidak orang lain saja? Banyak kan anggota lain yang juga berpengalaman, dan pastinya mampu mengatasi si Marvin Twain ini.” Denaya menanyakan hal mengganjal yang sejak tadi memenuhi otak dan perasaannya. “Alasan yang cukup klise, mungkin. Karena kalian berdua sudah menikah.” Denaya sepenuhnya melongo. Terpaku dengan dahi mengernyit. Sementara Maxleon terdiam dengan wajah muram. “Apa? Memangnya apa hubungannya dengan status pernikahan?” Denaya duduk makin tegak, masih bukan main bingung. “Tidak. Tidak akan.” Belum sempat Ketua Richard menjawab, Maxleon sudah berkata dengan tegas. Dengan tatapan tajam dan tampak tegas. Mengisyaratkan penolakan yang keras. “Tidak? Tidak, apanya? Ketua Richard, apa maksud Anda?” “Hanya ini yang bisa kita lakukan, Maxleon. Minggu depan mereka akan bergerak lagi. Melakukan operasi dengan jumlah korban yang semakin membengkak. Mencakup semua gadis yang disayangi oleh orang tuanya. Dan sebelum itu terjadi, kalian harus bisa mendapatkan informasi lebih dulu, berikut dengan rencana mereka. Agar kita bisa melempar jala yang akan menangkap mereka semua dan membebaskan para korban.” “Dengan menggunakan aku dan Denaya sebagai umpan? Tidak bisa begitu!” “Bisakah kita membicarakan hal ini dengan jelas? Karena aku benar-benar tidak paham.” Denaya mengutarakan kekesalan, mengamati dua orang itu bergantian. Richard Johnson menatap Denaya, meminta pengertian. Ia lalu mulai menjelaskan. “Aku berencana mengirim kalian berdua untuk menyusup ke area Marvin Twain, bergabung dengan kegiatan mereka, lalu mengorek informasi apa pun yang bisa kalian dapatkan.” Denaya memproses kata demi kata itu sebaik mungkin. Mengabaikan getaran mengerikan yang mulai menjalari tubuhnya. “Dengan cara?” “Mengunjungi pub mereka. Tempat Marvin Twain biasanya bersenang-senang.” “Kau tidak berniat menyuruhku menyamar menjadi w*************a, kan? Ketua Richard, kau tahu sekali bahwa itu bukan keahlianku. Kau bisa suruh yang lain yang lebih berpengalaman.” “Bukan itu, Denaya, aku ingin kau dan Maxleon menghadiri pesta. Menurut informasi terakhir mereka akan mengadakan pesta.” “Lalu kau meminta kami menyusup ke sana sebagai salah satu tamu undangan?” “Benar. Aku memilih kalian karena kalian sudah menikah. Kupikir itu adalah keputusan yang bijak, kita tidak tahu akan seperti apa situasi di sana. Sejauh ini Denaya adalah anggota wanita paling potensial. Dan aku tidak bisa memikirkan pasangan yang lebih tepat selain kau, Maxleon. Aku yakin kalian bisa melakukannya.” Maxleon mendengus tidak suka. “Kenapa begitu yakin bahwa ia akan memercayai kami?” “Aku sudah menyiapkan semuanya. Identitas samaran, pakaian, kendaraan, peralatan, semuanya.” “Wah, wah. Sudah siap semua ternyata,” sindir Maxleon lagi. “Aku masih tidak tahu apa hubungan status pernikahan dengan ini semua,” komentar Denaya. “Hanya antisipasiku saja,” balas Ketua Richard. “Antisipasi macam apa itu,” sungut Denaya. “Yah, setidaknya aku bisa yakin kalau kalian akan bisa mengatasi situasinya di pesta seks itu. Tidak akan ada yang bisa mengatasinya lebih baik daripada pasangan agen yang sudah menikah,” jelas Ketua Richard lagi. Maxleon membatu di tempat. Menatap atasannya seolah tengah melihat pelaku teroris. “Apa katamu?” “Pe-pesta apa?” geragap Denaya setelah menyadari kalau telinganya menangkap sesuatu yang mungkin saja salah. “Lho, aku belum bilang kalau pesta ini adalah pesta seks? Kan sudah kukatakan kalau Marvin Twain adalah pecinta wanita kelas berat. Kupikir kalian langsung memahaminya,” ujar Ketua Richard agak bingung, tapi juga santai. “Tidak, kau belum bilang sama sekali!” jawab Denaya tanpa berpikir dan nyaris berteriak. Ketua Richard tampak agak kaget, tapi tak butuh waktu lama baginya untuk tenang kembali. “Baiklah, hanya itu yang perlu aku sampaikan. Kuharap kalian bisa memberikan jawaban sebelum pulang kantor nanti,” ujarnya lagi sebelum meninggalkan ruangan. Maxleon menjambak rambutnya gemas. Merasa terjebak di antara pilihan yang keduanya berduri tajam dan membahayakan. “Lalu, sekarang bagaimana?” Denaya bertanya lirih, merasa dilema dan cemas. “Aku tidak yakin. Menurutmu bagaimana?” “Aku tidak tahu. Kita tidak punya alasan untuk menolak. Dia selalu membuat kita tak bisa menolak.” Denaya menggerutu, kepalanya tertunduk dengan dahi menempel di tepian meja Ketua Richard. Maxleon merasa jauh lebih buruk dibandingkan tadi pagi. Menghadiri pesta yang digelar oleh bos besar kasus prostitusi kelas berat? Ya Tuhan, kenapa pula ia harus melakukan tugas ini dengan Denaya! Ia lebih suka pergi sendiri saja, tapi jika dia menolak Denaya bisa saja ditugaskan dengan orang lain. Argh! Ini benar-benar membuatnya gila. “Kalau kau memang keberatan, aku akan mengusulkan agar aku saja yang bertugas,” hibur Maxleon, tidak ingin mengintimidasi Denaya lebih lama lagi. “Apakah menurutmu kita akan berhasil mendapatkan informasi?” Gadis itu menatap Maxleon dengan ragu. “Tentu saja. Memangnya kapan kita pernah gagal kalau kita bertindak berdua?” “Ya sudah. Ayo, kita lakukan.” Denaya memberikan keputusan final. Tiba-tiba Maxleon merasa agak bodoh karena berpikir terlalu keras, sementara Denaya seolah tidak mempertimbangkan apa pun. Ia benar-benar mencemaskan hal yang tidak penting. “Lho, kalian masih di sini?” Ketua Richard masuk kembali, tampak agak kaget. “Kami sudah memutuskan,” putus Maxleon. “Tapi kami memiliki syarat.” Denaya menoleh bingung. Karena ia merasa tidak pernah membahas soal syarat tadi. “Syarat? Apa itu?” “Kami akan melakukannya, tapi tanpa alat komunikasi. CCTV, kamera tersembunyi, atau alat komunikasi lainnya, tidak akan menggunakan itu. Tanpa itu semua, kami akan berusaha mengendalikan situasinya.” Ketua Richard terdiam lama. Memandangi Maxleon dengan tatapan tajam. “Alasannya? Kalian tentu tahu bahwa itu demi keselamatan kalian juga.” “Itu akan merepotkan, belum lagi dengan risiko jika ketahuan. Kami akan lebih leluasa bertindak jika tidak perlu mengkhawatirkan penyamaran.” Ketiganya terdiam, ruangan itu hening. Denaya bahkan tidak berani bersuara. “Itu syarat dari kami. Jika tidak bisa memenuhinya, kami akan mundur dari misi ini. Anda bisa mencari anggota lain yang bisa melakukannya. Kami permisi dulu.” Maxleon berdiri lebih dulu, disusul oleh Denaya. Tangan pria itu terulur, menangkap pergelangan tangan Denaya dan menggandengnya. Keduanya melangkah meninggalkan ruangan. Belum sampai di pintu, suara Ketua Richard sudah menginterupsi gerakan mereka. “Baiklah. Tidak akan ada alat komunikasi apa pun. Semuanya bergantung pada kemampuan kalian mengatasi masalah di dalam sana.” “Kalau begitu kita sepakat.” Keduanya berbalik, Maxleon tersenyum pada atasan mereka. “Kuharap kalian siap dalam waktu dekat, karena aksi kalian akan dimulai malam ini.” Mata Denaya melebar seketika. “Malam ini? Kenapa terburu-buru sekali? Anda tidak tahu bahwa kami juga butuh persiapan?” Denaya menjawab dengan sebal, merasa dikhianati. “Kalian hanya tinggal mempersiapkan diri. Bukankah aku sudah bilang bahwa semua hal sudah disiapkan?” Kali ini Ketua Richard yang tersenyum penuh kepuasan pada mereka. Membuat Maxleon mendengus kesal. “Tentu saja. Beritahu saja waktu detailnya. Kami pergi dulu.” Maxleon melingkarkan tangannya ke bahu Denaya. Menggiring istrinya itu keluar ruangan. Bersikap seolah tidak apa-apa, meskipun sekarang jantungnya berdebar kencang seolah sedang dikejar peluru berapi. Ya Tuhan. Ini benar-benar uji nyali!
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD