5. Rasa di Antara Persahabatan

1049 Words
*** Lily menahan lapar semalaman karena sudah terlalu kesal pada bapaknya. Esoknya ia langsung pergi sekolah tanpa sarapan. Gadis itu berangkat sepagi mungkin karena harus sarapan di kantin terlebih dahulu sebelum masuk kelas. Maklum jarak antara rumah dan sekolahnya cukup jauh. Ia harus berkendara 30 menit menggunakan sepeda ontel. Pagi ini ia memilih menu nasi sambal dan makan dengan cepat sebelum bel masuk kelas berbunyi. Menu nasi sambal mungkin tak enak bagi sebagian besar orang, tapi Lily memilihnya karena terkadang ia kesulitan dengan menu yang ada. Maklum ia alergi kacang dan ada banyak menu yang tanpa sengaja mengandung kacang. Bahkan rempeyek pun nyempil kacang di sana. Soal alergi ini ia merahasiakannya dari teman-teman sekolahnya khawatir nantinya itu disalahgunakan. Mungkin hanya teman masa kecilnya seperti Ahmad yang tahu. Perlahan sekolah mulai penuh oleh seragam abu-abu putih. Parkir yang tadinya kosong telah penuh oleh banyaknya kendaraan mewah. Maklum saja sekolah Lily adalah SMA 21, SMA favorit di kotanya. Hebatnya Lily, kepandaiannya tetap bisa disandingkan dengan anak-anak kota yang telah mendapat banyak les dan kursus di luar jam sekolah. Bahkan bisa dibilang Lily masih lebih pandai dari mereka semua karena ia terus menerus mendapat peringkat. Saat bel berbunyi, gadis itu segera membayar makanannya dan mengikuti arus anak-anak menuju halaman untuk upacara. Ia berdiri di baris belakang demi menghindari matahari, tapi matahari rupanya tak mau menghindarinya hingga wajahnya langsung memerah. Itu adalah salah satu kelemahan Lily yang lain. Kulitnya akan terbakar dan rambutnya yang merah itu akan semakin memerah di bawah matahari. Anak-anak memandangi Lily karena rambut keritingnya tetap tampak menyala kendati telah dikelabang sedemikian rupa. “Lily pakai semir rambut bukan, sih?” “Bukan itu,” sahut yang lain. “Itu asli. Dia memang rambutnya merah. Bahkan alisnya juga. Kalau kepanasan kayak gini wajahnya juga memerah.” Suara-suara sumbang sering terdengar karena fisik Lily tidak seperti fisik orang-orang lokal pada umumnya. “Lily … Lily …,” panggil seseorang. Lily menoleh. Ahmad mengangsurkan topinya kepada Lily. Lily menerimanya dengan senang hati daripada wajahnya gosong. Ahmad memang sudah item dari sononya. Jika ia tidak pakai topi juga gak bakal kenapa-napa gak kayak Lily. Usai barisan dibubarkan, gadis itu melepas topinya dan mengembalikannya kepada Ahmad. “Terima kasih, ya!” ucap Lily. Sekarang mereka bersisian masuk ke kelas yang kebetulan sama di tahun terakhir mereka di SMA “Kamu tadi dari mana? Kutunggu depan rumah gak lewat juga akhirnya aku berangkat sendiri. Tak tahunya kamu sudah tiba di sekolah.” “Iya. Aku memang berangkat lebih awal.” “Tumben.” “Iya, tadi sarapan dulu di kantin tadi.” “Lah ibumu gak masak?” “Gak tahu!” “Kamu ngambekan lagi? masih lanjut lagi yang kemarin?” “Kali ini jadi bertambah alasan ngambeknya.” “Apa alasannya?” “Uhm ….” Lily ragu bercerita. Apa Ahmad mau mendengarnya? Bapaknya saja yang ada di tempat, tidak menganggap serius kejadian tersebut. “Kamu ini kayak ke orang lain saja. Ngomong saja terus terang.” “Uhm, sebenarnya ini gara-gara tamu bapak. Dia sangat tidak sopan. Dia itu ….” “Lily! Ahmad!” seru Zaki teman sekolah mereka. Zaki ada di kelas sebelah. “Ada apa?” Ahmad balik bertanya. “Kalian kemarin ikut apply beasiswa kan? Ada pengumuman dari Pak Mul di kelasku.” “Oh, ok!” Lily dan Ahmad buru-buru mengikuti Zaki. Rupanya anak-anak yang kemarin daftar program beasisiswa dikumpulkan menjadi satu dan sisa kelas lain masuk menjadi satu untuk pelajaran. Pak Mulyadi atau biasa dipanggil Pak Mul telah siap di depan mendata anak-anak. Beliau guru yang tergolong masih muda, usianya baru 35 tahun tapi nama panggilannya sering membuat orang salah paham dengan usia aslinya. Pak Mul membagikan berkas kepada anak-anak. “Kemarin yang ikut beasiswa jalur prestasi siapa saja? Angkat tangan.” Lily dan dan belasan anak lain mengangkat tangan. “Hasil akan diumumkan seminggu lagi.” Lily tampak cemas mendengarnya. Ia berharap bisa lolos jalur prestasi agar tidak perlu ikut tes seleksi bersama. Yang mana ia akan ketahuan orang tuanya kalau daftar kuliah. Maunya ia kabur saja segera setelah lolos beasiswa tersebut. “Untuk yang seleksi bersama, tes akan dilaksanakan sebulan kemudian. Bapak menghimbau agar kalian mempersiapkan dengan baik. Untuk itu, dalam sebulan ini bapak sudah meminta kepada pihak sekolah meniadakan pelajaran bagi kalian agar bisa fokus melaksanakan simulasi tes ini. Tentunya agar peluang untuk lolos bisa lebih besar.” Lily mendengarkan penjelasan Pak Mul dengan ogah karena dia tahu pasti ada biaya tambahan untuk les-les ini. Kalau bukan biaya guru, pasti biaya penggandaan soal dan buku. Ingin sekali rasanya bertanya apa bisa belajar sendiri, tapi ia mengurungkan itu karena semua orang akan memandanginya dengan tatapan aneh. Ahmad rupanya mengerti apa yang dikeluhkan Lily jadi ia segera mengangkat tangan untuk bertanya. “Iya, Ahmad.” “Apa ini wajib, Pak? Bagaimana kalau kita sudah ikut kursusan di tempat lain misalnya.” “Bukan wajib sebetulnya, tapi ini sangat dianjurkan. Bapak jadi bisa mengoordinir kalian dan melihat perkembangan kalian untuk mengetahui apa yang harus dibenahi. Kalau kalian memang tengah mengikuti kursus harusnya tak apa malah bagus. Toh, ini tak akan mengganggu soalnya kita mengambil jam pelajaran. Apa ada pertanyaan lain.” “Apa kita harus membayar untuk ini?” tanya Ahmad lagi. Tentunya mewakili Lily. “Tentu ada, tetapi bisa dicicil perminggu. Toh, hanya untuk menggandakan soal. Untuk sehari-harinya kita bisa gantian membahas soal di depan kelas. Bagaimana?” Karena tak ada lagi yang bertanya, Pak Mul segera memulai pembahasan dengan membahas soal permata pelajaran. Meski urusan uang selalu membuat Lily tak bersemangat, tapi begitu tiba saatnya membahas pelajaran, gadis itu seolah menjelma menjadi orang lain. Ia begitu fokus sehingga tak melihat Ahmad yang sesekali melirik ke arahnya. Kelas mereka terus disibukkan dengan soal dan soal hingga jam istirahat tiba. “Ayo ke kantin,” ajak Ahmad. “Aku nanti saja,” tolak Lily. Ia tadi sudah menggunakan uangnya untuk sarapan jadi ia harus menghemat uangnya untuk makan siang. Kalau habis sekarang, ia akan kelaparan. “Aku akan mentraktirmu. Mau apa?” “Roti saja, gak pakai kacang.” “Minumnya?” “Aku membawa air minum. Itu saja.” Ahmad bergegas pergi ke kantin dan membeli roti untuk dibawa kembali. Ia ingin makan bersama Lily. Namun, saat ia kembali rupanya gadis itu sudah tertidur. “Kamu selelah apa sampai tidur di sekolah begini.” *** 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD