***
Lily langsung bangun dengan cepat dari tempat duduknya dan berdiri sejajar dengan Dimas. Harga dirinya sebagai gadis baik-baik ternoda oleh pelecehan yang dilakukan orang ini di depan seluruh keluarganya.
"Bisakah Anda menghentikan kelakuan, Anda!" ujar Lily tegas. Ia masih berusaha sopan karena masih menghormati bapaknya. Secara Dimas adalah tamu bapaknya.
"Lily!" tegur Pak Majid saat melihat putrinya tidak sopan.
"Tidak apa, Pak Majid," ujar Dimas seraya menyunggingkan senyum. Penuh kepalsuan dan tipu daya.
"Putri Anda sangat menarik. Sudah kelas berapa sekarang?"
"Kelas 3. Sebentar lagi juga lulus. Saya minta maaf, dia anak yang keras kepala. Lily! Cepat minta maaf pada Mas Dimas. Cepat!"
Mata Lily berkilat marah. Bagaimana bisa bapaknya tidak melihat pelecehan di depan mata kepalanya sendiri. Kenapa justru ia yang kena marah. Tak ingin minta maaf, Lily segera berlalu masuk ke dalam rumah tanpa pamit.
"Aduh, saya minta maaf jadi merusak mood Mas Dimas," ujar Pak Majid. "Entah kenapa semakin besar bukan semakin lembut hati malah semakin keras kepala."
Fajar yang sedari tadi memperhatikan apa yang terjadi pada kakaknya sedikit banyak tahu apa yang terjadi, tapi ia heran dengan respon bapaknya yang malah memarahi kakaknya padahal bukan kakaknya yang salah. Lantas apa yang salah di sini?
"Haha ... bukan masalah besar. Anak bapak sangat cantik juga menarik," ucap Dimas m******t.
Melihat Dimas tertarik dengan Lily, Pak Majid langsung terpikirkan solusi mengenai rengekan Lily tentang kuliah dan asal-usulnya. Lily hanya harus menikah agar semua tanggungjawab lepas dari tangannya. Mumpung Dimas sepertinya menunjukkan ketertarikan pada Lily. Kalau Dimas jadi menantunya, ia akan untung besar.
Sementara Bu Salamah menyiapkan nasi di piring untuk Dimas dan anak buahnya, Pak Majid buru-buru m******t.
"Entahlah ... Lily itu begitu kasar. Aku khawatir dengan masa depannya. Siapa yang mau menikah dengannya jika ia sekasar itu," terang Pak Majid.
"Owh, berarti namanya Lily. Nama yang sangat cocok untuknya," gumam Dimas. "Dia dipenuhi keindahan. Siapa yang tidak mau dengan gadis seperti Lily? Hanya orang buta yang menutup mata dari mengaguminya."
"Aduh, Mas Dimas jangan berlebihan. Pujian Mas Dimas membuat Lily seakan-akan jadi satu-satunya gadis tercantik di desa ini. Nanti orang-orang bisa salah paham," terang Pak Majid. Senyumnya mengembang menanggapi sikap positif yang ditunjukkan Dimas. Fix Dimas punya ketertarikan pada Lily. Ia hanya harus memusatkan ketertarikan itu sampai ke pelaminan.
"Aduh, Pak Majid ini terlalu merendah. Sekali melihat saja semua pasti setuju jika Lily adalah gadis yang cantik. Lihatlah wajah cantiknya, kulitnya pun seputih s**u. Dia begitu indah," puji Dimas.
"Haha ... Mas Dimas ini ada-ada saja."
"Tapi gadis secantik Lily pasti sudah punya pacar, sayang sekali aku terlambat mengenalnya," ucap Dimas melempar umpan.
Tak butuh waktu lama bagi Pak Majid untuk menyambar umpan itu. "Tentu saja tidak ada kata terlambat untuk pria seperti Mas Dimas. Sudah tampan, mapan, sopan pula. Haha ...."
Dimas tersenyum melihat Pak Majid menyambar umpan yang ia berikan. "Kalau bapak berkenan aku mau kok menjalani hubungan yang serius dengan Lily."
"Wah, mari kita perbincangkan lagi sembari makan. Mari silakan."
"Haha ... Monggo Pak Majid."
Keduanya lantas membahas Lily diantara pembahasan harga kambing yang sedari awal sudah ditaksir Dimas.
Rupanya profesi Dimas adalah tengkulak hewan, khususnya kambing dan sapi. Malam ini ia datang ke rumah Pak Majid untuk menentukan harga. Tidak tahunya malam ini adalah hari keberuntungannya karena bertemu dengan Lily.
Seperti taktiknya yang biasa, ia akan mendapat gadis perawan yang kesekian dengan modal murah. Senyuman licik tersungging di wajahnya yang tampan.
***
Lily sangat kesal. Ia segera mencuci tangan dan masuk ke kamar. Wajahnya masih cemberut antara marah, kesal dan malu. Ia buru-buru membenarkan kaitan branya yang tadi terlepas. Ia juga berganti celana pendek rumahan karena sepertinya habis ini gak bakal keluar rumah.
Gadis itu masih bersungut-sungut. Otak kritisnya dibuat kebingungan. Kenapa ada orang kayak Dimas itu. Orang yang sama sekali tak tahu malu! Baru kali ini ada orang pria yang terang-terangan melakukan pelecehan di depan keluarga yang dilecehkan.
Dan lagi, kenapa bapaknya malah membela p****************g tersebut. Jelas-jelas putrinya tengah diperlakukan tak pantas seperti itu. Harusnya membelanya, kenapa malah membela pria itu. Sekali lagi, Lily jadi mempertanyakan status dirinya. Apa ia benar-benar putri mereka?
Tak ingin terus terlena oleh pikiran-pikiran memusingkan itu, Lily memilih belajar. Ia berharap angka-angka ini dapat mengalihkan pikirannya.
Sayangnya pengalihan itu tidak lama karena sekarang ia kelaparan. Ia telah melewatkan makan siang gara-gara bertengkar dengan orang tuanya, kalau ia juga melewatkan makan malam juga pasti semalaman ia tak nyenyak tidur karena perutnya.
Ish! Andai orang bernama Dimas itu tak datang, ia pasti bisa menghabiskan makan malam bersama keluarga dengan harmonis.
Belum kelar satu lembar soal matematika dikerjakan, terdengar suara tamu yang berpamitan. Gadis itu menghembuskan napas lega. Akhirnya, lega juga. Ia berpikir untuk keluar cari makan, tapi rupanya bapaknya lebih dulu masuk mendatanginya.
“Keluar dulu, Lily!” perintah sang bapak dari luar pintu kamar yang tertutup.
Lily buru-buru keluar kamar. Berharap bapaknya datang untuk minta maaf dan mengobati kekecewaannya.
Namun, Lily sangat kecewa saat ada Dimas juga di sana. Hanya saja ia masih mencoba berpikir positif kalau Dimas itu mau minta maaf.
“Ada apa?” tanya Lily dengan suara datar.
“Mas Dimas ini mau berpamitan.”
“Ya, terus kenapa? Orang dia tamu bapak!”
“Lily!” tegur Pak Majid.
Dimas mencoba melerai. “Sudah—sudah Pak Majid. Sudah melihat anak gadis bapak begini rasanya sudah senang,” ucapnya. Namun, pandangan mata pria itu menyasar celana pendek yang dikenakan Lily. Ada kulit putih yang bersih nan lembut khas gadis-gadis muda. Pria itu spontan menyapu lidah ke bibir pertanda bahwa dia sangat berhasrat pada pemandangan di depannya.
Lily bergidik ngeri. Spontan ia menutup pintu dengan keras.
Pak Majid emosi. “Anak ini!”
Dimas lantas menggandeng Pak Majid untuk mengajaknya keluar. “Jangan dimarahi. Nanti Lily makin gak suka sama saya.”
Merasa ucapan Dimas benar adanya, Pak Majid pun luluh dan mau diajak keluar.
“Anda benar-benar baik hati, Mas Dimas. Ah, putriku itu. Andai saja dia sedikit lebih lembut, biar tak sia-sia wajah cantiknya itu.”
“Yang agak keras seperti sifat Lily itu malah yang menyenangkan. Rasanya gak bakal ngebosenin,” puji Dimas.
“Tak usah memujinya nanti dia besar kepala.”
Dimas menggeleng. “Saya berkata apa adanya. Ya, sudah. Saya pamit sekarang. Besok siang saya akan datang lagi sekalian membawa uangnya.”
Pak Majid mengangguk senang. “Baik! saya akan ada di rumah kalau begitu.”
“Semoga besok saya juga bisa bertemu Lily,” ucap Dimas setengah bergumam.
“Apa?” Pak Majid bertanya untuk memastikan. Ia mendengarnya, tapi ia ingin mendnegarnya lebih keras.
“Ah, bukan apa-apa,” elak Dimas. Ia bersalaman dan pergi bersama anak buahnya.
Meninggalkan Pak Majid yang senyum-senyum sendiri. Tampaknya ia sedang gembira karena tahu Dimas menyukai Lily. Pokoknya ia akan membuat cara agar besok Lily ada di rumah, tekadnya.
***