***
Setelah menurunkan Ahmad di depan rumah, Lily pun mengendarai sepedanya sendirian. Senja telah berangsur malam. Gelap menyelimuti sekitar. Lampu di kanan kiri jalan telah dinyalakan untuk sekedar memberi penerangan.
Tampak dari kejauhan rumah orang tua Lily yang terbuat dari kayu. Rumah itu cukup Fajar dengan pohon jambu biji dan rambutan di depan rumah. Rumah Lily berpagar kembang sepatu yang dipangkas rendah. Ada ranjang bambu di bawah pohon rambutan tempat Lily dan keluarga biasa bercengkerama.
Suara televisi mengumandangkan adzan terdengar dari dalam rumah begitu Lily tiba. Ia segera memarkir sepeda dan mencuci kaki sebelum memasuki rumah.
"Aku pulang ...," ucapnya pelan.
"Kakak ...," sapa Hari, adik bungsu Lily yang berumur 7 tahun. Hari antusias menyongsong Lily begitu ia mendengar suara sepeda Lily mendekat. Hari selalu yang paling ramah di antara 3 adik Lily yang lain. Jadi, total saudara Lily adalah 4 terhitung Lily. "Kakak dari mana?" tanyanya.
Alih-alih menjawab Lily malah menenteng ikan yang diperolehnya dari Ahmad. Ia menggoyang ikan itu dan memamerkannya pada sang adik.
"Woah, kakak habis memancing, ya?" tanya Hari. Ia mengambil ikan dari tangan kakaknya dan berlari ke dalam rumah sambil berteriak, "lihatlah! Kak Lily pulang membawa ikan!"
Lily masuk ke dalam rumah mengikuti langkah ringan Hari. "Aku pulang," sapanya mengucap salam.
Tak ada yang menjawab salam Lily. Bapaknya sibuk menonton TV sementara sang ibu tak terlihat di ruang tamu yang merangkap ruang keluarga itu. Tampak Qomar, adik Lily yang kelas 3 SMP, tengah makan sembari menonton televisi di samping sang bapak. Qomar juga mengabaikan kedatangan Lily.
Fajar, saudara kembar Qomar, duduk di pojokan sambil main ponsel.
Fajar dan Qomar adalah kembar identik. Bagi orang awam, sangat sulit untuk membedakannya karena mereka begitu mirip, tapi tidak bagi Lily. Ia sudah hafal di luar kepala perbedaan keduanya karena memang mereka seberbeda itu.
Begitu melihat Lily datang, fajar mengangkat pandangannya dari ponsel ke arah kakaknya. "Ikan apa?" tanyanya.
"Nila, mujair, gabus. Tak banyak, Kak Lily diberi sama Kak Ahmad tadi," balas Lily.
"Oh, sepertinya lezat. Untung aku tadi belum makan," ujar Fajar. "Kalau begitu, tunggu kakak mandi dulu, habis itu biar kakak olah ikannya."
"Bagaimana dengan ikan bakar. Ayo membakarnya di depan rumah," usul Qomar. "Aku barusan sudah makan. Kalau diolah jadi lauk, nanti aku gak ikut makan, donk!"
"Tapi, ini cuma sedikit. Hanya 6 ekor. Tidak cukup untuk kita semua," balas Lily.
"Tentu saja cukup, Kak Lily," sahut Hari. Ia mendata semua anggota keluarga. "Nanti dibagi satu-satu, untuk Bapak, Ibu, Kak Lily, Kak Fajar, Kak Qomar, dan Hari. Cukup, deh!"
"Terserah Hari saja. Biar nanti Hari yang membaginya. Kakak mandi dulu," ujar Lily. Lily masuk ke dalam rumah. Saat berjalan ke kamar mandi, ia bertemu sang ibu yang tengah menjerang air untuk membuat kopi. Lily ragu untuk menyapa, tapi untunglah sang ibu menyapanya terlebih dahulu.
"Sudah pulang? Mandilah terlebih dahulu, ibu sudah menyisakan lauk untukmu."
"Aku tadi mendapatkan ikan dari Ahmad dan Qomar mengusulkan membakarnya di depan rumah."
"Oh, itu juga bagus. Ibu akan menyiapkan bumbu dan sambal."
Senyum tipis tersungging di bibir Lily. Ia senang ibunya tidak semarah tadi siang.
***
Kendati Lily dan bapaknya masih terlibat perang dingin dan tidak saling bicara, mereka menghabiskan waktu yang menyenangkan membakar ikan. Suasana tambah menyenangkan karena mereka kedatangan tamu bapak yang membawa tambahan ikan nila yang besar-besar. Sepertinya tamu bapak sengaja membelinya sebagai buah tangan. Fajar pun membakarnya dengan semangat.
Ibu Salamah membuatkan wedang kopi untuk tiga orang tamu bapak dan wedang teh untuk Lily dan adik-adik. Qomar yang hobi memotret sudah banyak mengabadikan momen kebersamaan malam ini.
Lily sendiri menyiapkan daun pisang utuh sebagai alas makan di tengah-tengah ranjang bambu. Ia lantas meletakkan ikan yang telah dibakar di sana, lengkap dengan sambal, lalapan, dan nasi.
"Apakah sudah dibakar semua ikannya?" tanya Lily.
"Sudah, Kak," jawab Fajar.
"Yosh, mari makan," ujar Lily mengajak adik-adiknya.
"Tunggu dulu, bapak belum," ujar Hari cepat. "Aku akan memanggilnya," lanjutnya lantas berlari cepat masuk ke dalam rumah.
"Tak usah, Hari. Bapak masih ada tamu," ucap Sang ibu mencoba mencegah Hari.
Lily juga terlambat mencegah Hari karena bocah polos itu sudah melesat ke dalam rumah. Meski sama-sama mencegah, tapi alasan Lily dan ibunya berbeda. Bagi sang ibu, akan lebih sopan jika menyiapkan makanan untuk tamu secara terpisah, tapi bagi Lily ia tak nyaman jika makan bersama bapak karena perdebatan tadi siang.
Si kembar memandang Hari yang berlari ke ruang tamu dan berbalik memandang kakaknya lantas keduanya saling berpandangan. Keduanya maklum jika Hari berlaku demikian karena ia tidak tahu menahu pertengkaran sang kakak dengan bapak tadi siang.
Sejurus kemudian bapak keluar dari rumah dengan dua orang tamunya. Hari sendiri sudah melesat duduk di amben dekat sang ibu.
Dua orang tamu itu berjenis kelamin pria. Usianya mungkin awal 30-an. Seorang tampak parlente dan berpakaian rapi. Sepertinya ia adalah orang yang cukup beruang. Sementara pria satunya tampak lebih muda, tubuhnya sedikit kecil dan terlihat seperti ajudan pria parlente tadi.
"Bagaimana jika Mas Dimas ikut makan bersama keluarga kami terlebih dahulu," ajak Pak Majid pada sang tamu.
Pria parlente yang ternyata bernama Dimas itu mengawasi sisa keluarga Pak Majid yang berkumpul di atas amben. Tatapannya terpusat pada kulit putih Lily dan tubuhnya yang ranum. Sepertinya ia tertarik pada Lily. Namun, ketertarikan itu rupanya lebih ke arah nafsu.
"Kalau Pak Majid memaksa, bagaimana bisa aku menolaknya," balas Dimas basa-basi. Ia lantas berjalan mendekat ke arah amben.
Bu Salamah segera menyuruh anak-anaknya bergeser untuk memberi ruang pada tamu mereka.
Lily lantas berdiri untuk pindah ke dalam rumah. Ia sudah bisa merasakan perasaan tak nyaman hanya dari tatapan tamu bapaknya. Namun, gerakannya terhenti karena tangan Dimas telah berada di belakang punggungnya guna mencegahnya pergi. Ia kontan menyingkirkan tangan itu.
"Jangan pergi. Aku jadi terkesan mengganggu makan malam kalian di sini," ucap Dimas playing victim.
"Lily, jangan tidak sopan begitu," tegur Pak Majid saat melihat putrinya menyingkirkan tangan Dimas.
"Ah, aku yang salah. Aku minta maaf," ucap Dimas tak jadi duduk. "Kamu makanlah dengan adik-adikmu," lanjutnya. Namun, tangannya masih tidak lepas dari punggung Lily. Kali ini ia malah mengusap-usapnya dengan sentuhan lembut.
Lily tentu saja tidak nyaman dibuatnya. Ini sudah dalam ranah pelecehan. Lama-kelamaan tangan itu malah berfokus pada pengait b*a yang Lily kenakan. Ia merasa sangat terganggu. Ia lantas menegakkan punggungnya untuk menghindari tangan Dimas. Namun, tiba-tiba ....
Ctas!
Kaitan b*a itu terlepas.
Lily melongo, antara percaya atau tidak. Astaga! Bagaimana bisa pengaitnya lepas? batinnya terkejut.
Saat sekali lagi tangan Dimas mengusap punggung Lily. Tangannya telah meraba punggung polos yang hanya berlapis kaos. Senyum m***m penuh kemenangan pun tersungging di bibirnya. Tampaknya ia telah mendapatkan target baru.
Bagaimana nasib Lily selanjutnya?
***