Lizy POV
Aku mengerjapkan mata ku, rupanya hari sudah pagi. Tapi perut ku terasa berat. Dan benar saja, ada sebuah tangan kekar sedang memeluk ku. Aku sangat kaget mendapati kak Aiden ternyata tidur satu ranjang denganku.
Mengingat kejadian tadi malam seperti mimpi. Padahal aku mengira dia sangat marah padaku kerena telah menamparnya. Tapi apa ini, kenapa dengan tidak tau malunya dia sudah ada di kamar ku. Padahal aku yakin sekali semalam sudah mengunci pintu.
"Kak Aiden" panggil ku untuk membangunkan nya. Dia terlihat mengerjapkan mata nya.
"Morning Lizy" Sapa nya dengan tersenyum. Astaga, apakah dia sebenarnya telah mengalami amnesia.
"Kenapa kak Aiden bisa masuk ke kamar ku?" Tanya ku tidak sabaran.
"Aku tidak bisa tidur semalaman, jadi aku memilih tidur disini dengan mu"
"Tapi aku sudah mengunci pintu, bagaimana kakak bisa masuk?"
terlihat di merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kunci yang sama dengan kunci kamarku. Dia memperlihatkan nya dengan wajah tanpa bersalah
"Aku punya duplikat, Baby"
"Tapi kakak tidak boleh begitu, bagaimanapun juga ini kamar ku"
"Boleh. Karena ini juga termasuk rumahku"
Demi tuhan, ternyata dia jauh lebih menyebalkan jika berdebat. Aku pun lebih memilih menghiraukan nya dan bersiap untuk berangkat kuliah.
"Mau kemana Baby?"
Ucapnya menahan ku agar aku tidak bangun. Aku tidak tau, kenapa sekarang dia memanggil ku dengan kata 'Baby' tapi jujur itu membuat aku takut.
"Aku mau mandi, hari ini ada jadwal kuliah pagi. Jadi kakak keluarlah dari kamar ini, bukankah kakak juga harus berangkat kerja?"
Dia hanya diam dan malah memejamkan mata nya tanpa melepaskan cengkraman tangan padaku. Aku dapat melihat wajah nya dengan jelas. Rahang yang tegas, alis yang tebal, bulu mata yang lentik, hidung mancung dan bibir itu yang tadi malam aku rasakan. Tidak Lizy ini masih pagi. Buang semua pikiran m***m mu.
Tapi melihat keadaan ku saat, membuatku tersadar harus cepatnya pergi dari sini.
Dan benar, tiba-tiba saja mata itu terbuka dan menatapku tajam.
"Sudah puas memandangi nya hm, kamu nakal ternyata ya. Harus di beri hukuman"
Belum sempat aku menjawab tiba-tiba dia mencium bibir ku rakus. Aku yang belum siap hanya mengatupkan bibirku dan tidak membalas.
"Kenapa diam, balas ciuman ku Baby"
Aku tidak menyangka dia akan mencium lagi. Kukira karena semalam dia mabuk tapi yang membuat ku terkejut dia pagi ini dalam keadaan sadar.
Dia yang mulai kesal akhirnya menggigit bibir ku, dan benar itu membuat aku memekik dan akhir nya membuka bibir ku.
Ciuman yang awal nya kecupan, terasa menjadi lumatan yang mulai menuntut. Dan sialnya, kak Aiden malah menganti posisi menjadi menindih ku. Tangan kak aiden mulai mengelus perut ku rata, tapi tiba-tiba
Kruyukkk
Perutku berbunyi. Sial. Sungguh memalukan. Kak Aiden yang tahu hal itu langsung menghentikan aktivitasnya.
Dia melepas ciuman nya dan menatap ku dengan tersenyum lembut.
"Lapar sayang?"
Goda nya membuat ku sangat malu. Aku hanya memejamkan mata ku rapat-rapat. Aku yakin wajah ku sangat merah seperti kepiting rebus.
Lizy end
Author POV
Siapa sangka Aiden malah tersenyum gemas, dan menarik dagu lizy. Lalu memberi Lizy kecupan yang cukup lama di kening.
"Mandilah, kakak akan menyuruh pelayan membuat sarapan untuk mu"
Lalu Lizy hanya bisa mengangguk karena sangat malu.
"Tapi aku tidak akan bilang ini yang terkahir, kedepannya bibir ini menjadi milik ku"
"Dasar. Sudah sana kakak pergi. Lizy mau mandi."
Ucap Lizy mendorong d**a Aiden menjauh. Dan pria pun tersenyum lalu bangun untuk keluar dari kamar Lizy
#Di meja makan.
Lizy sudah terlihat rapi, dia sibuk membenarkan rambutnya yang terurai untuk menutupi tanda merah keunguan di leher nya, yang tadi malam Aiden lakukan.
Seorang pelayan menyajikan sarapan ketika Lizy duduk.
"Dimana kak Aiden. Apa belum turun?" Tanya Lizy kepada salah satu pelayan. Karena dia pikir Aiden akan sarapan bersama dengan nya.
"Tuan muda sudah berangkat 15 menit yang lalu nona" jawab si pelayan seadanya.
Lizy pun hanya mengangguk. Dan memakan sarapan nya. Dia memang biasa berangkat ke kampus dengan supir. Jadi dia tidak bisa berharap akan berangkat bersama Aiden yang notabenya sangat sibuk.
#Di kampus
Lizy mempunya 2 sahabat yaitu Kimi dan Sherly. Hanya mereka berdua tempat Lizy mencurahkan segala isi hati nya. Mengingat di London, Dia hanya pendatang.
Mereka bertiga sedang berada di taman belakang kampus. Sherly asyik dengan ponselnya nya dan Kimi memilih tiduran di pangkuan Lizy seraya mendengarkan musik. Kimi memang sangat manja diantara ketiganya.
"Wait, apa itu di lehermu, Liz?"
Tanya kimi memecah keheningan. Sontak Sherly pun juga langsung menatap leher Lizy.
Dan Kimi mulai menyingkirkan rambut Lizy untuk melihat dengan jelas apa yang barusan dia lihat.
"Bukan apa-apa ini hanya gigitan serangga"
Sherly yang mendengar itu hanya tertawa meledek.
"Kau kira kita bodoh Liz, apa tadi malam kau melakukan s*x dengan seseorang? Hm. Jangan malu benarkan"
ucap Sherly menggoda Lizy. Gadis itu sangat merutuki perbuatan Aiden yang ternyata meninggalkan bekas di lehernya.
"Kurasa ciuman nya sangat menggebu, hingga warna nya pun menjadi ungu haha" ucap Kimi tertawa dengan Sherly menatap Lizy.
"Tidak, bukan begitu" jawab Lizy kesal. Tapi kedua sahabatnya tetap menggodanya.
"Katakan Baby girl, siapa yang melakukan nya. Kau melakukan nya dengan si tampan Edward atau dengan kakak mu Aiden?"
Tanya Kimi kepada Lizy. Mengingat kedua sahabatnya mengetahui jika sepupu Lizy itu sangat tampan dan terkenal dikalangan pengusaha.
Damn. Benar saja pertanyaan kimi membuat wajah Lizy merah. Sherly dan Kimi yang melihat itu saling menatap. Mereka yakin dua diantara pria itulah pelaku nya. Dan mereka tertawa lagi.
"Baiklah Liz kami minta maaf, jika kamu belum siap bercerita. It's oke kami tidak maksa. Tapi kau berhutang pada kami penjelasan. Okay "
Ucap Sherly menepuk pundak Lizy.
"Ayo kita kekantin , sepertinya perutku mulai lapar teman-teman"
Kini Kimi yang mulai mengalihkan kan pembicaraan dan Sherly mengangguk setuju lalu mereka bertiga pergi ke kantin.
Mereka sedang makan siang di kantin. Tiba-tiba ada seorang laki-laki tampan menghampiri mereka bertiga yang sedang asyik mengobrol.
"Hai semua, boleh aku bergabung?" Tanya si laki-laki tersebut
"Oh hai Edward, boleh silahkan. Disampingnya Lizy saja. Tidak apakan Lizy?"
Ucap kimi sambil mengedipkan mata nya ke Lizy seolah menggoda gadis itu.
Benar. Edward memang menyukai Lizy. Dan sudah berulang kali dia meminta Lizy menjadi kekasih nya. Namun Lizy selalu menolak, dengan alasan ingin fokus ke kuliah.
Dan Edward pun tidak memaksa semua keputusan Lizy. Dia yakin suatu saat Lizy akan luluh kepada nya.
"Hai Lizy, apa kabar?" Sapa Edward
"Baik." Jawab Lizy singkat justru lebih memilih mengaduk-aduk makanan nya.
"Mau pulang bersama?"
"Tidak Ed, terimakasih. Aku pulang dengan supir, mungkin lain kali saja"
"Oh Oke tidak apa-apa"
Lizy pun hanya tersenyum paksa. Dekat dengan orang yang telah mengutarakan perasaannya berulang kali untuk menjadi kekasihnya sangatlah canggung. Rasa nya Lizy ingin cepatnya menjauh dari Edward.
Memang Edward adalah laki-laki yang tampan dan baik hati. Banyak gadis yang ingin menjadi kekasih Edward tapi tidak dengan Lizy. Dia hanya ingin fokus ke kuliah nya. Itulah mengapa tujuan nya disini.
Lizy POV
Hari sudah malam, dan jam menunjukan pukul 8 malam. Aku pulang terlambat karena Kimi dan Sherly mengajak nya ke mall untuk berbelanja. Tapi ternyata di garasi sudah ada mobil Kak Aiden. Mungkin dia sudah pulang.
Aku pun langsung menuju ke kamar dan membersihkan diri. Saat akan bersiap ke kamar mandi tiba- handphone ku berbunyi ada panggilan masuk. Kulihat ternyata Edward, sungguh malas meladeni nya. Aku diamkan saja tidak mengangkatnya. Lalu aku masuk ke kamar mandi.
Author POV
Saat Lizy sudah masuk kamar mandi, tiba-tiba Aiden masuk ke kamar Lizy. Ternyata gadis itu sedang mandi. Tadi nya Aiden akan mengajak nya makan malam bersama. Saat Aiden akan membalikkan tubuh nya untuk keluar kamar, tiba-tiba terdengar ponsel Lizy kembali berbunyi. Dia pun berbalik dan melihat benda pipih itu. Tertera nama Edward disana. Seketika raut wajah Aiden langsung marah. Dia pun mematikan panggilan tersebut dan juga langsung mematikan Ponsel tersebut. Dan beranjak pergi dari kamar lizy.
Dimeja makan sudah ada Aiden yang tengah menunggu Lizy sambil memainkan ponsel nya. Gadis itupun menghampiri Aiden dan duduk di depannya.
"Kakak sudah lama menunggu? Kenapa tidak makan duluan?"
Ucap lizy memecahkan keheningan. Sebenarnya dia sedikit canggung mengingat mereka jarang makan malam bersama. Hanya tadi pelayan mengatakan pada Lizy jika Aiden ingin makan bersama dengan nya.
Aiden yang mendengar ucapan Lizy langsung menghentikan aktivitas nya yang sedang memainkan ponsel nya. Dia pun tersenyum hangat kepada Gadis cantik itu.
"Kakak mau nya makan bersama kamu, Baby"
ucap Aiden lembut sambil mengelus tangan Lizy yang ada di atas meja makan.
Karena merasa salah tingkah dengan perlakuan Aiden, Lizy pun langsung meletakan nasi ke piring pria itu. Dan tak lupa memberi nya lauk kesukaannya
Ya, Semua yang Aiden suka dan tidak disukai sudah Lizy hafal. Karena dia sering bertanya tentang Aiden pada pelayan yang telah lama berkerja disini.
Aiden yang melihat semua tingkah Lizy sangat senang. Rasa ingin memiliki gadis itu semakin besar.
Aiden terus menatap semua gerak gerik gadis itu. Tanpa dia sadari dia kembali teringat dengan laki-laki yang tadi dia lihat di ponsel Lizy. Namun dia segera menyembunyikan amarah nya karena tidak ingin Lizy takut kepada nya. Dia harus segera menjauhkan laki-laki sialan itu dari milik nya.
"Apa besok kamu ada acara?"
Tanya Aiden kepada Lizy yang tengah menyuapkan nasi ke mulut nya.
"Tidak kak, besok kuliah Lizy juga libur, memangnya kenapa?" Jawab Lizy dengan polos nya.
"Jangan pergi kemanapun, besok kakak akan mengajak kamu makan malam di luar"
"Baiklah"
"Kakak ingin bertanya sesuatu padamu, siapa itu Edward?"
Tanya Aiden menelisik. Lizy yang terkejut langsung menghentikan aktivitas nya yang sedang mengunyah makanan nya.
"Mmm... kenapa tiba-tiba kakak bertanya tentang Edward?" jawab Lizy hati-hati, pasal nya mengapa Aiden bisa mengetahui Edward.
"Kenapa kamu jadi takut hm? kakak hanya bertanya. Apa dia laki-laki yang menyukai mu"
Kini Aiden tangah menatap nya tajam dengan suara yang semakin serius.
"T-tidak, kita hanya berteman kak, sungguh" mendengar hal itu Aiden langsung tersenyum puas.
"Kemarilah Baby " ucap Aiden menepuk pangkuan nya, agar Lizy mendekat dan duduk di pangkuan nya. Lizy pun menurut pasrah karena tangan Aiden menarik nya.
Kini posisi Lizy sudah duduk Di pangkuan Aiden dengan canggung. Aiden pun memeluk erat pinggang lizy dengan erat. Semakin kesini pria itu semakin berani memperlihatkan ke-posesifannya pada Lizy.
"Jangan dekati lelaki lain selain kakak karena kak tidak suka jika kamu membantah. Kamu itu saat ini milik kakak dan kakak tidak akan membiarkan laki-laki lain memiliki mu, mengerti"
ucap Aiden dengan lembut di telinga Lizy. Dan itu membuat Lizy bergidik dia pun hanya mengangguk mengiyakan apa yang di ucapkan Aiden.
"Cium kakak Baby" Lizy hanya diam dan menatap pria itu takut. Dia hanya bisa memainkan ujung baju miliknya demi menutupi kegugupan.
"Cium kakak, atau kakak yang mengambil nya sendiri"
Lizy pun menatap ke arah Aiden, dia mendapati pria itu yang sedang menatap nya sayu.
"T-tapi aku tidak bisa__" tanpa di duga Aiden langsung menyambar bibi Lizy.
Ciuman nya terasa lembut dan tulus.
Lizy pun merasakan jika ciuman kali ini sangat berbeda. Tapi Lizy bingung, kenapa sekarang Aiden selalu meminta ciuman dari nya bukankah ini salah. Mereka itu saudara, walaupun bukan saudara kandung. Tapi ini salah.
Lizy yang kembali tersadar langsung mendorong Aiden pelan yang membuat ciuman mereka berdua terlepas.
Aiden pun mengeram tidak terima kegiatan nya terhenti oleh sikap Lizy.
"Kamu sudah mulai berani dengan kakak, Baby?"