Part 3

1409 Words
"Kak Aiden cukup, kita sedang di ruang makan. Tidak enak jika ada yang melihat" ucap Lizy lirih sambil menundukkan kepala nya dan mendorong d**a bidang Aiden. Karena dia tau, Aiden pasti marah karena penolakan nya ini. "Memangnya siapa yang berani melihat kita sayang, apa peduli mereka. Ini kan rumah kakak dan kamu" ucap Aiden sembari menempelkan kembali dahi mereka berdua. Mendengar hal itu Lizy hanya menggeleng lemah. Dia sungguh muak dengan kelakuan Aiden yang selalu menyerang nya. Ingin rasa nya perlakuan Aiden ini ia adukan kepada orang tua nya. Dia takut Aiden semakin marah dan malah membuat orang tua nya khawatir. "Aku lelah kak, ingin istirahat" ucap lizy memohon " Kalau begitu tidur di kamar kakak malam ini" " Tidak bisa kak. Aku tidur di kamarku sendiri saja" Aiden terus menatap Lizy terus menerus, bagi nya wajah polos Lizy sangat menggemaskan dan membuat nya selalu b*******h. Mendengar hal itu itu Aiden hanya tersenyum. "Baiklah, malam ini kakak akan melepaskan kamu, tapi kamu harus berjanji besok tidak boleh keluar bersama laki-laki lain, mengerti sayang?" Ucap Aiden dan hanya di balas anggukan oleh Lizy. Lizy pun bangkit dari pangkuan Aiden, dia cepat-cepat menuju kekamar nya. Takut jika Aiden malah berubah pikiran. Dia heran kenapa kakak nya sekarang menjadi super posesif dan sangat m***m. Perlakuan Aiden kemarin pun juga sudah dibilang pelecehan bukan. Tapi sungguh Lizy sangat takut sekarang, setelah secara perlahan sifat Aiden yang asli muncul seperti monster. Lizy sudah sampai dikamar nya, dia mengunci kamar nya lalu bergegas menuju ranjang nya, lalu dia melihat ponsel yang berada disampingnya nya dia terlihat berfikir, haruskah dia menelpon orang tua nya agar menjemput nya saja untuk pulang. Tapi beberapa saat kemudian dia mengurungkan niat nya. Yang menginginkan nya sekolah di luar negeri adalah orangtuanya. Dia tidak mungkin membuat mereka berdua kecewa dengan keputusan nya yang mendadak seperti ini. Namun Lizy selalu takut jika sedang disekitar kak Aiden dan mulain mengekang nya. Akhirnya Lizy pun memberanikan diri menelpon orang tua nya, sebenarnya dia juga sudah tidak tahan dengan semua ini. Dia menekan tombol ponsel nya dan memposisikan ponsel nya di telinga. Suara nada panggilan keluar berbunyi. "Hallo, Lizy" ucap sang ibu yang sudah sangat ia rindukan. "Iya hallo mah, bagaimana kabar mamah dan papah disana?" jawab Lizy "Ya ampun sayang kenapa kamu jarang menelpon mamah dan papah sekarang, kita berdua baik-baik saja sayang. Lalu bagaimana kabar kamu disana, Lizy" "Aku baik mah, dan aku rindu sekali pada mamah dan papah" ucap Lizy dengan mata yang mulai berkaca-kaca. "Kamu baik-baik saja kan disana, bagaimana sikap kamu ke Aiden, kamu tidak merepotkan dia kan sayang" "Tidak mah" ucap Lizy Lirih "Mah, ada yang mau Lizy bicarakan.." akhirnya Lizy pun mulai membuka pembicaraan "Ada apa Lizy, apa disana ada masalah?" Ibunya kini mulai cemas. Sejenak Lizy tampak berpikir, haruskah dia terus terang, haruskah sekarang? "Boleh tidak aku pulang, dan pindah kuliah di Indonesia saja?" Tanya Lizy berhati-hati. "Apa kamu punya masalah di kampus? Atau dengan Aiden?" "Tidak bukan begitu mah, hanya saja aku tidak terlalu nyaman hidup jauh dari mamah papah, rasanya seperti sendirian dan kesepian" "Kamu bisa minta kak Aiden untuk menemani mu sayang, dia pasti mau. Mamah sudah menitipkan kamu kepadanya dan dia tidak keberatan. Kamu tidak perlu sungkan bersikap akrab ke Aiden, oke" ucap sang ibu menututuri nya dari sambungan teleponnya. "Tapi mah, kak Aiden juga sibuk. Aku tidak mau menganggu kak Aiden. Aku ingin pulang, bolehkan mah? Lizy mohon" kini Lizy mulai menangis lirih, ibu nya mulai khawatirkan keadaannya sekarang. Memang sejak Lizy kecil dia tidak pernah jauh dari orang tua nya. Namun karena keinginan orang tua nya juga agar dia bersekolah di luar negeri dan mau tidak mau dia harus menuruti nya. Lizy pikir, dulu dia akan bersekolah di luar negeri bersama papah nya. Karena papah nya juga sering perjalanan bisnis ke luar negeri, tapi dia salah. Orang tua nya justru menitipkan nya pada Aiden. Yang notabenenya adalah anak dari Kakak ayah nya. "Jangan menangis Lizy, mamah jadi khawatir dengan kamu disana. Baiklah nanti mamah coba bicarakan ini pada papah kamu yah. Jangan menangis. Ngomong-ngomong, kamu sedang apa disana sayang?" Ucap sang ibu yang mencoba menenangkan putrinya yang sudah menangis. Dan benar saja mendengar hal itu Lizy pun langsung berhenti menangis. "Aku sedang dikamar mah, sambil membayangkan mamah dan papah disini" jawab Lizy dengan manja. "Kamu sudah makan Lizy?" "Sudah mah, tadi aku makan bersama kak Aiden" "Syukur lah. Kalo begitu kamu istirahat ya sayang, jangan tidur terlalu malam. Mamah akan tutup telepon nya" "Baik mah, aku sayang mamah, dan sampaikan juga salam sayangku ke papah " "Ya sayang" klik.. Obrolan mereka pun berakhir. Sekarang hati Lizy mulai sedikit tenang, walaupun hanya mendengar suara ibunya lewat sambungan telepon. Lizy pun bergegas untuk tidur. Baru sebentar dia tertidur tiba-tiba ponsel nya kembali berbunyi menandakan ada pesan masuk. Ternyata itu pesan dari Edward. Dia pun membuka pesan tersebut. Membaca pesan tersebut Lizy langsung tersenyum. Edward adalah orang yang hangat dan perhatian. Tapi dia teringat bahwa dia tidak boleh dekat-dekat dengan pria lain oleh sang kakak. Lizy takut kak Aiden akan melakukan hal-hal yang tidak terduga jika dia melanggar nya. Pagi-pagi sekali Aiden sudah terlihat sangat rapi, dia menggunakan jas yang pas dengan tubuh nya yang kekar nya itu. Namun ada hal yang lain yang tidak biasa. Aiden membawa koper besar, yang sedang dibawa oleh salah satu asisten nya yaitu Daniel. Betul, hari ini Aiden akan pergi ke luar negeri karena urusan pekerjaan yang mendadak. Dia tampak buru-buru. Dia pun menghentikan langkah. "Apa Lizy masih tidur?" tanya Aiden kepada salah satu pelayan yang ada di belakang nya. "Iya tuan. Nona Lizy masih tidur" jawab si pelayan. "Kalo begitu aku langsung berangkat saja, dan Daniel jangan lupakan tugas mu untuk mengawasi Lizy saat aku tidak ada" ucap Aiden kepada Daniel. "Baik tuan" Aiden pun langsung melanjutkan langkahnya keluar dari Mansion megah nya untuk menuju bandara. Pukul 7 pagi. Lizy sudah terlihat rapi dengan baju santai nya, hari ini kebetulan dia tidak ada kelas untuk kuliah. Dia pun melangkah menuju meja makan, disana hanya ada para pelayan yang sedang sibuk menyiapkan sarapan. Dia pun duduk dan minum segelas s**u yang sudah di siapkan. "Dimana kak Aiden, apa dia belum turun?" Tanya Lizy kepada salah satu seorang pelayan. "Tuan muda sudah berangkat pagi-pagi sekali tadi, nona?" Jawab si pelayan yang sudah berusia 50 tahunan itu. "Tumben sekali" "Tadi tuan muda bilang dia ada perjalanan bisnis ke luar negeri, nona." Mendengar hal itu Lizy langsung terkejut, dalam hati dia sangat gembira akhirnya dia tidak akan bertemu Aiden untuk beberapa waktu. "Apa kalian sudah sarapan?" tanya Lizy tiba-tiba kepada pelayan yang ada disitu. Tapi tidak ada seorang pun diantara mereka yang menjawab pertanyaan tersebut. "Pasti belum, maukah kalian menemani aku sarapan? Sebenarnya Lizy tidak suka jika harus sarapan di meja makan sebesar ini sendirian, karena dulu jika dirumah ibu nya selalu menemani nya saat makan. "Lagipula kak Aiden sedang tidak ada kalian tidak perlu takut, please" Ucapan lizy pun berhasil membuat para pelayan mau menuruti kemauan nya. mereka semua akhirnya sarapan bersama walaupun dengan canggung. Namun Lizy mencoba memecahkan kecanggungan itu dengan dia terus berceloteh. Sarapan pun selesai, Lizy pun ikut membersihkan sisa makanan yang tadi mereka makan. Meskipun para pelayan disana melarang nya untuk duduk saja, namun gadis itu menolak dengan alasan tidak tahu harus melakukan apalagi selain membantu mereka. Saat sedang membersihkan meja makan, tiba-tiba Daniel asisten Aiden pun itu datang. Lizy pun terkejut lalu menghentikan aktivitas yang sedang dia lakukan. "Maaf nona, saya mengganggu. Tuan muda berpesan agar saya menjaga nona saat tuan muda tidak ada" ucap Daniel "Lalu?" Tanya Lizy cuek "Jadi saat nanti nona akan pergi keluar rumah nona harus meminta saya menemani nona karena semua yang nona lakukan akan saya laporkan kepada tuan muda" "Memangnya kau siapa mengatur ku. Lagi pula aku juga tidak melakukan hal apapun, kau dan kak Aiden sama saja. Sama-sama menjengkelkan" Lizy yang mendengar hal itu langsung marah dan melempar kan kain lap yang sedang dia gunakan untuk membersihkan meja ke bawah. Lalu dia pun bergegas ke atas yaitu kekamar nya, dan membanting pintu kamarnya dengan keras. membuat pelayan yang disana terkejut. Lizy POV. Apa-apaan ini, kak Aiden memang sudah gila. Baru saja pergi dia mencoba menjadi kan aku seorang tahanan rumah begitu. Ini bahkan baru hitungan jam dia keluar rumah, tapi dengan seenak nya mengaturku. Aku sangat kesal. Tiba-tiba handphone ku berbunyi menandakan ada pesan masuk. Ternyata itu dari Edward, yang mengajak ku keluar bersama. Tanpa berpikir panjang aku pun langsung menyetujuinya. Lagipula hari ini terasa membosankan sekali bagiku.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD