bc

Cinta di Antara Dunia : Kisah Cinta Terlarang di Kota Wentira

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
family
HE
time-travel
age gap
goodgirl
stepfather
heir/heiress
drama
sweet
bxg
city
childhood crush
like
intro-logo
Blurb

🌌 Bab 01: Aroma Kopi dan Kabut yang Terlupa

Rama Aditya, seorang fotografer alam, tanpa sengaja menemukan gerbang misterius di tengah kebun kopi yang membawanya ke Kota Wentira—sebuah dunia gaib yang indah namun penuh rahasia. Di sana, ia bertemu Sariel, wanita dari dunia tersebut yang terikat oleh aturan ketat yang melarang hubungan dengan manusia.

Pertemuan mereka yang seharusnya mustahil justru menumbuhkan perasaan yang tak bisa dihindari. Namun, kemunculan Rama memicu ancaman dari Para Penjaga, memaksa mereka melarikan diri.

Di tengah pelarian, mereka menemukan rahasia penting tentang penyatuan dua dunia: fenomena langka Bulan Ganda. Di bawah cahaya dua bulan itu, cinta mereka mulai terikat oleh takdir yang berbahaya namun tak terpisahkan.

✨ Cinta pertama mereka lahir di tengah ancaman maut.

#CintaAntaraDunia #KotaWentira #FantasiRomantis #CintaTerlarang #BulanGanda 🌙💫🔥

chap-preview
Free preview
Aroma Kopi dan Kabut yang Terlupa
Matahari sore di Sulawesi Tengah tidak pernah benar-benar terbenam dengan cepat; ia seolah enggan meninggalkan langit, membiaskan cahaya keemasan yang menyapu hamparan kebun kopi di perbatasan Kota Palu menuju Kabupaten Donggala (dalam ceritamu disebut Mutong, kita bisa menyesuaikan nuansanya sebagai daerah pegunungan yang sunyi). Rama Aditya menghirup dalam-dalam. Udara di sini selalu berbeda. Ada campuran aroma tanah basah setelah hujan singkat, daun kopi yang rimbun, dan sesuatu yang lain—sesuatu yang sulit dinamakan, seperti bau ozon sebelum badai, namun lebih halus, lebih purba. Sebagai seorang fotografer alam yang baru pindah kembali ke Palu setelah bertahun-tahun merantau di Jawa, Rama merasa terhubung dengan tanah ini. Hari itu, ia mencari sudut pandang unik untuk dokumentasi proyek barunya tentang "Wajah Tersembunyi Sulawesi". Instingnya membawanya menjauh dari jalur utama kebun kopi yang biasa dilalui petani. Ia menyusuri setapak sempit yang hampir tertutup semak belukar, mengikuti aliran sungai kecil yang airnya jernih sekali, terlalu jernih hingga dasarnya yang berbatu tampak seperti cermin. "aneh," gumam Rama pada dirinya sendiri. "Peta digital menunjukkan jalan buntu di sini." Namun, kakinya terus melangkah. Seolah ada tali tak kasat mata yang menariknya semakin jauh ke dalam keheningan hutan. Semakin dalam ia masuk, suara serangga dan kicau burung perlahan memudar, digantikan oleh kesunyian yang begitu pekat hingga telinganya berdenging. Kabut tipis mulai turun, padahal langit di atas masih cerah. Kabut itu bukan putih s**u seperti biasanya, melainkan berwarna ungu kebiruan, berpendar lemah di antara batang-batang pohon raksasa. Rama menghentikan langkahnya ketika pepohonan di depannya tiba-tiba terbuka, membentuk sebuah gerbang alami yang tidak mungkin ada di peta manapun. Bukan gerbang dari batu atau kayu, melainkan lengkungan udara yang bergetar. Di baliknya, pemandangan kebun kopi yang ia kenal lenyap seketika. Di hadapannya terbentang sebuah kota. Bukan kota Palu yang ramai dengan lalu lintas dan bangunan beton. Ini adalah kota dengan arsitektur yang belum pernah dilihat Rama seumur hidupnya. Menara-menara tinggi menjulang dengan material yang tampak seperti kristal dan emas cair, memantulkan cahaya matahari sore dengan cara yang mustahil. Jalan-jalannya bersih tanpa debu, diapit oleh taman-taman yang bunga-bunganya mengeluarkan cahaya lembut sendiri. Sungai yang mengalir di tengah kota berwarna perak, dan di atasnya, perahu-perahu kecil melayang tanpa dayung. "Kota Wentira," bisik Rama, nama itu muncul di benaknya begitu saja, seolah ingatan leluhur yang tiba-tiba terbangun. Ia pernah mendengar cerita samar-samar dari kakeknya tentang kerajaan gaib yang hilang, tempat para panglima sakti bersemayam. Ia selalu mengira itu hanya dongeng pengantar tidur. Dengan hati berdebar kencang, Rama melangkah melewati ambang gerbang itu. Saat kakinya menyentuh tanah di sisi lain, sensasi dingin yang menusuk tulang langsung menyergapnya, namun anehnya, ia tidak merasa takut. Ia justru merasa... pulang. Suasana kota itu sepi, namun bukan sepi yang mati. Ada kehidupan di sana, terasa dalam getaran udara. Rama berjalan tertatih-tatih, matanya tak kedip menangkap setiap detail kemegahan yang melanggar hukum fisika. Tiba-tiba, dari arah sebuah paviliun terbuka yang dikelilingi air mancur yang airnya mengalir ke atas, sosok seorang wanita muncul. Wanita itu mengenakan gaun panjang berwarna biru langit yang bahannya tampak seperti anyunan cahaya bulan. Rambutnya hitam legam terurai hingga pinggang, dihiasi rangkaian bunga yang tidak layu. Wajahnya... Rama terhenti napas. Tidak ada kata-kata dalam kamus manusia yang cukup indah untuk mendeskripsikannya. Ada ketenangan abadi di matanya, namun juga ada sorot kecerdasan yang tajam. Itu Sariel. Sariel menatap Rama, dan untuk pertama kalinya dalam sejarah Kota Wentira yang terlupakan, seorang manusia berdiri di alun-alun utamanya. Ekspresi Sariel berubah dari tenang menjadi terkejut, lalu segera berganti menjadi waspada. Ia tahu aturan. Manusia dan Penduduk Wentira tidak boleh bersatu. Dua dunia yang dipisahkan oleh takdir tidak boleh bertemu. "Siapa kau?" suara Sariel terdengar jelas di telinga Rama, meski jarak mereka masih sepuluh meter. Suaranya merdu, namun mengandung peringatan. "Bagaimana kau bisa menembus kabut pelindung?" Rama tercegat, lidahnya terasa kaku. "Saya... saya Rama. Saya tidak sengaja. Saya hanya mengikuti sungai itu." Sariel melangkah mendekat, gerakan tubuhnya anggun seolah ia menari di atas angin. "Tidak ada yang 'tidak sengaja' bisa masuk ke Wentira, Rama dari Dunia Manusia. Gerbang itu tertutup rapat sejak tujuh panglima pergi. Jika kau di sini, berarti ada alasan besar, atau malapetaka besar." Mata mereka bertemu. Dalam detik itu, waktu seolah berhenti bagi keduanya. Rama, yang seumur hidupnya mencari keindahan dalam lensa kameranya, akhirnya menemukan subjek yang tidak perlu difoto karena kecantikannya terpatri langsung di jiwa. Sariel, yang telah hidup berabad-abad dalam kesempurnaan dunia gaib yang statis, merasakan sesuatu yang asing berdenyut di dadanya: ketidakterdugaan, kegairahan, dan bahaya. "Kau harus pergi," kata Sariel, meski kakinya tidak bergerak mundur. "Sebelum Para Penjaga Aturan menyadari kehadiranmu. Jika mereka tahu ada manusia di sini, mereka akan menghabisimu. Dan aku... aku tidak bisa membiarkan itu terjadi." "Mengapa?" tanya Rama, memberanikan diri mengambil satu langkah lagi mendekati wanita misterius itu. "Mengapa kau peduli pada orang asing yang tersesat?" Sariel menunduk, menyembunyikan getaran di bibirnya. "Karena sejak kau melangkah masuk, dunia yang selama ini terasa sempurna bagiku, tiba-tiba terasa kosong tanpamu." Langit di atas Kota Wentira tiba-tiba berubah warna dari ungu kebiruan menjadi merah darah. Angin berhembus kencang, membawa suara gemerincing senjata dari kejauhan. "Mereka tahu," bisik Sariel panik, tangannya secara refleks meraih tangan Rama. Sentuhan kulit mereka memicu percikan energi kecil yang menyilaukan. "Lari, Rama! Kita harus lari!" Dan demikianlah, di bawah langit yang murka, cinta terlarang antara seorang fotografer dari Palu dan putri dari kota gaib dimulai, bukan dengan janji manis, melainkan dengan pelarian dari maut. Jejak cahaya dari daun-daun perak itu menuntun Rama dan Sariel semakin dalam ke jantung taman purba. Udara di sini semakin dingin, namun bukan dingin yang membekukan, melainkan dingin yang menenangkan, seolah hutan tua ini sedang menahan napas bersama mereka. "Pustaka Ingatan ada di depan," bisik Sariel, menunjuk ke sebuah struktur yang tersembunyi di balik tirai akar pohon raksasa. Bangunan itu tidak terbuat dari kristal seperti menara di pusat kota, melainkan dari batu obsidian hitam pekat yang menyerap cahaya sekitar. Tidak ada pintu, hanya sebuah lengkungan gelap yang tampak seperti mulut gua. "Mengapa bentuknya begitu... menakutkan?" tanya Rama, insting fotografernya merekam kontras antara keindahan taman perak dan kegelapan pustaka itu. "Pengetahuan sering kali menakutkan bagi mereka yang belum siap," jawab Sariel filosofis. "Dan Pustaka ini menyimpan rahasia yang bisa mengguncang fondasi Wentira, termasuk larangan cinta antar dunia." Mereka melangkah masuk ke dalam lengkungan gelap itu. Seketika, kegelapan total menyelimuti mereka, tetapi hanya sedetik. Kemudian, ribuan titik cahaya kecil menyala di udara, melayang-layang seperti kunang-kunang raksasa. Setiap titik cahaya adalah sebuah ingatan, sebuah cerita, sebuah sejarah yang tersimpan dalam bola energi. Ruangan itu luas tak terbatas, dipenuhi oleh lautan cahaya ingatan yang berputar lambat. "Cari yang berwarna emas kemerahan," instruksi Sariel sambil mulai melayang sedikit di atas tanah, tangannya meraih salah satu bola cahaya. "Itu adalah catatan tentang 'Celah Dimensi' dan 'Ikatan Jiwa'." Rama ikut mencoba meraih salah satu bola cahaya. Saat ujung jarinya menyentuh permukaan energi itu, sebuah suara berbisik langsung di pikirannya: "...dan pada hari ketika darah manusia bercampur dengan esensi Wentira, tembok pemisah akan retak..." Rama menarik tangannya kaget. "Suara itu... dia berbicara tentang pertumpahan darah?" "Bukan pertumpahan darah dalam arti kekerasan," koreksi Sariel cepat, matanya menyapu lautan cahaya dengan panik. "Tapi penyatuan esensi. Cinta sejati antar dunia membutuhkan pengorbanan energi kehidupan. Itu sebabnya dilarang. Karena jika gagal, salah satu pihak bisa lenyap." Tiba-tiba, seluruh ruangan bergetar hebat. Bola-bola cahaya bergoyang liar, sebagian padam seketika. Suara gemuruh Para Penjaga yang tadi tertahan di luar taman, kini terdengar jelas masuk ke dalam Pustaka. Dinding obsidian mulai retak, memancarkan cahaya merah menyala dari celah-celahnya. "Mereka menembus perlindungan taman!" seru Sariel. "Cepat, Rama! Kita harus menemukan catatannya sekarang atau kita tidak akan punya waktu lagi!" Rama memejamkan mata, mencoba merasakan adanya tarikan khusus. Di tengah kekacauan itu, ia merasakan hawa hangat di sisi kirinya. Ia membuka mata dan melihat satu bola cahaya yang berdenyut stabil, berwarna emas kemerahan, melayang tenang di tengah badai energi yang kacau. "Itu dia!" tunjuk Rama. Sariel segera melesat mengambil bola cahaya itu. Saat genggamannya mengunci, sebuah gulungan cahaya terbentuk di tangannya, memproyeksikan teks kuno yang berputar cepat sebelum berhenti pada satu kalimat jelas dalam bahasa yang bisa dimengerti Rama: "Hanya Darah Bulan Ganda yang dapat menyatukan Dua Dunia tanpa menghancurkannya. Carilah malam di mana dua bulan terlihat di langit Wentira." Sariel mendongak, wajahnya pucat pasi. "Bulan Ganda... Itu fenomena langka yang hanya terjadi sekali setiap seratus tahun. Malam berikutnya adalah malam itu." Berarti, mereka hanya punya waktu kurang dari 24 jam. KRAK! Dinding di sebelah kanan mereka hancur berantakan. Asap hitam pekat menerobos masuk, membentuk sosok-sosok bayangan tinggi besar tanpa wajah. Mata mereka adalah lubang api merah yang menyala-nyala. Para Penjaga Aturan telah tiba. "Lari ke belakang!" teriak Sariel, mendorong Rama ke arah sudut ruangan yang masih utuh. Ia mengangkat tangan kanannya, dan dari gulungan cahaya di tangannya, ia melepaskan gelombang energi biru yang menabrak para penjaga itu, memperlambat gerakan mereka sejenak. "Tidak ada jalan keluar lain!" Rama berteriak di atas kebisingan ledakan energi. "Ada satu!" balas Sariel, matanya berkaca-kaca menatap Rama. "Gerbang kecil di dasar Pustaka. Itu akan membawamu kembali ke aliran sungai di duniamu. Tapi..." Ia ragu. "Jika kau melewatinya sekarang, kau akan selamat. Tapi kita mungkin tidak akan pernah bertemu lagi. Fenomena Bulan Ganda mungkin tidak akan memberimu kesempatan kedua jika kau pergi malam ini." Para Penjaga semakin mendekat, cakar asap mereka hampir menyentuh jubah Sariel. Rama menatap gerbang kecil yang mulai terbuka di lantai, memancarkan cahaya matahari sore dari dunia manusia—cahaya familiar dari kebun kopi Palu. Lalu ia menatap Sariel, wanita yang baru ia kenal beberapa jam, namun terasa lebih penting dari siapa pun yang pernah ia temui seumur hidupnya. "Aku tidak akan pergi tanpamu," kata Rama tegas. Ia meraih tangan Sariel erat-erat. "Kau bilang tadi kau tidak ingin aku melupakanmu? Kalau begitu, aku tidak akan membiarkanmu menghadapi ini sendirian. Jika kita harus menghadapi Para Penjaga, kita hadapi bersama. Jika kita harus menunggu Bulan Ganda, kita tunggu bersama." Sariel tertegun. Air mata bening, seperti butiran kristal cair, mengalir di pipinya. "Kau gila, Rama. Manusia biasanya memilih keselamatan." "Mungkin itulah bedanya," senyum Rama tipis, meski ketakutan masih merayapi tulang belakangnya. "Di duniaku, orang sering kehilangan diri mereka sendiri demi keselamatan. Di sini, bersamamu, aku justru menemukan diriku." Sariel menekan tombol rahasia di gulungan cahaya itu. Tiba-tiba, lantai di bawah mereka terbuka, bukan menjatuhkan mereka, melainkan mengangkat mereka ke atas menuju sebuah platform tinggi yang terhubung langsung dengan atap Pustaka yang terbuka ke langit malam. Di atas sana, langit Wentira mulai berubah. Awan merah pecah, memperlihatkan langit malam yang jernih. Dan di sana, fenomena langka itu mulai terjadi. Bulan utama Wentira yang berwarna perak purnama, perlahan disandingkan oleh bulan kedua yang lebih kecil dan berwarna ungu muda, muncul dari balik cakrawala. Bulan Ganda. Cahaya dari dua bulan itu menyinari Rama dan Sariel, menciptakan aura pelindung berwarna perak-ungu di sekeliling mereka. Para Penjaga yang mencoba memanjat ke platform itu terhenti, tubuh asap mereka mendesis sakit saat terkena cahaya gabungan kedua bulan tersebut. "Mereka tidak bisa menyentuh kita di bawah cahaya Bulan Ganda," napas Sariel lega. "Ini adalah hukum kuno yang bahkan Para Penjaga pun harus patuhi. Malam ini, kita aman." Mereka duduk berdampingan di tepi platform, memandang dua bulan yang indah di langit asing. Di bawah mereka, Kota Wentira yang megah tampak sunyi, seolah menahan diri dari amarahnya. "Jadi, apa yang terjadi sekarang?" tanya Rama, bahunya bersentuhan lembut dengan bahu Sariel. "Sekarang," kata Sariel sambil menatap Rama dengan pandangan penuh harap, "kita memulai perjalanan untuk membuktikan bahwa cinta kita bukan kesalahan alam semesta, melainkan takdir yang tertunda. Kita harus mencari cara untuk menyatukan esensi kita sebelum fajar menyingsing dan Bulan Ganda hilang. Jika gagal..." "Kita tidak akan gagal," potong Rama yakin. Ia menggenggam tangan Sariel lagi, kali ini dengan janji yang lebih kuat. "Aku berjanji, Sariel. Selama aku masih bernapas, aku akan melindungimu. Dari Para Penjaga, dari aturan gila ini, dari apa pun." Sariel tersenyum, sandaran kepalanya di bahu Rama. Untuk pertama kalinya dalam ratusan tahun, Kota Wentira tidak terasa dingin baginya. Ada kehangatan baru yang tumbuh di antara dua dunia, dimulai dari seorang pria bernama Rama dan seorang wanita bernama Sariel, di bawah naungan dua bulan yang bersatu. Angin malam berhembus, membawa aroma kopi dari dunia manusia yang entah bagaimana berhasil menembus batas dimensi, bercampur dengan wangi bunga abadi Wentira. Aroma perpaduan dua dunia. Malam itu, di Kota Wentira yang legendaris, sebuah kisah cinta terlarang resmi dimulai. Dan alam semesta sepertinya menahan napas, menunggu apa yang akan terjadi selanjutnya.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.3K
bc

Kali kedua

read
221.4K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
236.0K
bc

TERNODA

read
201.3K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.2K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
84.3K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook