Kembalinya Masa Lalu

1659 Words
“Eh Yerin, duduk sini, Yer,” ajak Melan menepuk kursi kosong di sebelahnya. Yerin tersenyum senang, kemudian duduk tepat di hadapan Kiran,”Terimakasih, mbak Melan,” ucapnya. “Sama-sama. Oh iya, kenalin. Ini Kiran, dia sekretaris barunya pak Jimi,” ucap Melan memperkenalkan Kiran. Kiran tersenyum ramah lalu mengulurkan tangannya. “Kiran,” ucapnya. “Yerin,” ucap Yerin menjabat tangan Kiran,”Semoga betah Kerja disini.” “Sepertinya betah, apalagi punya teman kayak mbak Melan dan Mbak Yeri,” ucap Kiran tersenyum senang. “Ah kamu bisa aja deh, Kiran. Oh iya kamu tinggal dimana?” tanya Yerin kemudian. “Di jalan Bugenvil Raya 2, Mbak. Mbak sendiri?” “Oh itu deket dengan rumahku, aku ngekost di Bugenvil Raya 1. Bisa berangkat bareng dong? Kamu naik apa kalau kerja?” “Aku ngojol , Mbak. Nggak punya kendaraan soalnya.” “Bareng aku aja, aku bawa motor,” ajak Yerin antusias. Akhirnya gadis berambut panjang itu bisa punya teman pulang kerja yang searah dengannya. “Boleh, Mbak. Kalau Mbak Melan sendiri tinggal dimana?” tanya Kiran. “Aku mah deket sini, Ran. Tinggal jalan kaki lima menit juga sampai.” Jawab Melan. “Mbak Melan punya apartemen di sekitaran sini, Ran. Banyak duit dia mah,” celetuk Yerin. “Hush... apart punya bokap itu. Bukan punya aku,” elak Melan cepat. “Gitu tuh Ran, mbak Melan. Suka merendah,” ucap Yerin seraya meminum Jus jeruknya. Kiran hanya tersenyum menanggapi. Semoga saja ddia betah bekerja di perusahaan ini. Apalagi ada Yerin dan juga Melan yang sudah menjadi temannya. *** “Nda,,,” Panggil Ken pelan. Anak itu menghampiri Kiran yang sedang sibuk berkutat dengan Laptopnya.Kiran hanya mengenakan kaos besar dengan celana pendek yang juga tertutup oleh kaos besarnya. Kebiasaan Kiran bila sedang dirumah. Rambutnya diikat asal membuat dirinya terlihat seksi. “Iya,Sayang.Kenapa? “ Tanya Kiran memutar tubuhnya menghadap Ken. “Besok, Nda nungguin Ken sekolah, nggak?” Ken kembali menanyakan hal yang sama yang tadi pagi dia lontarkan. Sebelum berangkat kerja tadi pagi, entah kenapa Ken ingin Kiran yang menemaninya sekolah. Padahal biasanya Ken tidak pernah merengek seperti tadi pagi. Bahkan sebelumnya dengan bangganya dia mengatakan pada Kiran, bahwa dia bisa berangkat sekolah sendiri. Kiran menatap Ken lembut,”Nggak bisa ,Sayang.Bunda kan mesti kerja.vKen kan anak pintar dan berani.Kemarin siapa yang bilang bisa berangkat sekolah sendiri yah?” goda Kiran mengerling lucu pada anaknya. Ken diam sejenak, ” Coba ada ayah yah,Nda. Bunda nggak pellu kelja lagi. Kapan sih ,Nda ayah Ken pulang dali lual negeli? “Tanyanya polos. Memandang Kiran penuh tanya. Kiran tersenyum pedih menatap anaknya. Matanya mulai berkaca-kaca. Sampai kapan dia harus berbohong terhadap Ken tentang ayahnya? Sampai kapan Dia harus melihat tatapan sedih anaknya bila membicarakan sang ayah.Tapi Kiran tidak bisa berbuat apa-apa,hanya itu lah cara satu-satunya agar Ken bisa merasakan bahwa dia masih memiliki seorang ayah. Walaupun semua itu hanya sebuah kebohongan. Semua kado dan hadiah yang diterima Ken atas nama ayahnya, hanyalah sebuah rekayasa semata. Namun Kiran berjanji dalam hati ,semua kebohongan itu akan berakhir saat Ken sudah dewasa dan mengerti keadaannya. “Ayah pasti pulang kok ,Sayang.Tapi belum tau kapan,Nanti yah kita Tanya kalo ayah ngirim surat lagi buat Ken, oke Sayang?” “Memang kita nggak bisa telpon ayah yah, Nda? Kan sekalang sudah ada HP?” tanya Ken lagi. “Ayah kerjanya jauh dari sinyal telpon sayang. Jadi ayah Cuma bisa kirim surat buat kita. Nanti kalau ayah sudah pindah kerja kita bisa telpon ayah,” jawab Kiran mengelus surai anaknya penuh rasa sayang.”Oke?” Kiran mengangkat jempol kanannya. Maafin bunda harus bohongin kamu lagi yah, sayang. “Oke, Bunda” Ken menyatukan jempol mungilnya dengan jempol Kiran. Kebiasaan keduanya jika menjanjikan sesuatu. Ken harus makan dulu yah,biar cepet besar “ Kiran membawa Ken ke ruang makan, lalu mendudukkannya di kursi meja makan disampingnya. “Tuh, bunda sudah masak, Sayang. Ken mau makan sama apa?” Tanya Kiran “Sop sosis,Nda.Tapi Ken Nggak mau blokolinya “ Jawab Ken “Hem.. padahal enak lho sayang brokoli itu,” Kiran menuangkan secentong sayur sop ke piring Ken. “No...no...no... Ken nggak suka. Itu juga Nda, ayam goleng .Ken mau ayam goleng.“ Ken menunjuk ayam goreng di meja makan. “Iya...iya. Kamu ini mirip banget sama a--” Kiran langsung menghentikan ucapannya. Dia hampir saja menyebut sebuah nama yang akan merusak suasana hatinya. “Milip ayah Ken dong, fotonya kan ada ,“ sambung Ken sambil sibuk memakan ayam gorengnya dengan lahap. ‘Iya, Sayang. Kamu mirip ayah kamu,’ ucpa Kiran dalam hati. *** “Nanti gue telpon lagi, nyokap lagi nunggu gue di meja makan,” ucap seorang pria tampan yang mengenakan kemeja putih dan jas hitam di tangan kirinya. Sementara tangan kanannya sedang sibuk menelpon seseorang. “Beres. Sorry nih bikin repot karena gue nggak bisa masuk tepat waktu. Tiba-tiba aja gue kena demam pulang dari Singapura. “ ucap pria itu lagi. “No Prob. Yang penting lo sembuh dulu. Kalau hari ini beneran udah bisa masuk kerja. Gue mau bikin persiapan nih buat nyambut lo. Masa Direktur Utama yang baru nggak disambut dengan meriah,” ucap lawan bicara pria tersebut. “Nggak usah lebay. Gue mau sidak dadakan. Jangan ada yang tau gue mau dateng, yah. Jim. Awas lo kalau bocor,” ucapnya kemudian menutup telpon secara sepihak yang mungkin membuat lawan bicaranya di seberang sana kesal dengan sikapnya. “Pagi, Mom,” pria itu mengecup pipi sang mama sebelum duduk di kursi makan. “Pagi, Sayang. Sudah enakan badannya?” tanya sang mama yang langsung mengangsurkan piring berisi nasi dan juga lauk ayam goreng kesukaannya. “Alhamdulillah sudah mendingan. Stop mom!” seru pria itu saat sang mama ingin meletakkan secentong sayur sop ke piringnya. “Kenapa?” tanya mamanya bingung. Pria itu berdecak tidak suka. Padahal mamanya tau kalau dia tidak suka dengan sayur hijau berbentuk pohon itu.”Mommy kan tau Athan nggak suka sama brokoli. Singkirkan, Athan makan sama ayam goreng aja,” ucapnya menahan kesal. Terkadang mamanya itu suka sekali menggodanya. Siska terkekeh geli melihat reaksi anaknya. Athan tau saja kalau dirinya sedang menggodanya. Sampai kapan anaknya itu membenci sayuran penuh manfaat itu. “Kamu kan baru sembuh, Nak. Harus banyak makan sayur-sayuran.” Nasehat Siska. “Apapun sayuran Athan bakal makan, kecuali brokoli,” sahutnya datar. “Kalau kamu seperti ini terus, bisa- bisa anak kamu ngikutin kamu gimana?” “Nggak masalah. Kalau dia beneran nggak suka brokoli, berarti dia beneran anak Athan.” Jawab Athan cuek. Dan Athan malah akan sangat bersyukur jika itu terjadi. Ada sekutu yang akan diajaknya untuk membenci sayuran aneh tersebut. Siska hanya bisa menggelengkan kepala mendengar jawaban Athan. Anak bungsunya ini memang sedikit manja kalau soal makanan. Setelah enam bulan menetap di Singapura untuk mengurusi anak cabang perusahaan keluarga, akhirnya Athan kembali juga ke Indonesia. Padahal dia memiliki tiga orang anak, tetapi rumah besar ini terasa sepi sekali. Suaminya juga terlalu tegas pada anak-anaknya. Baru saja anak bungsunya kembali dari Amerika, sang suami sudah menugaskan kembali Athan untuk tugas ke Singapura mengurus anak cabang di sana. “Akhirnya anak mama balik ke rumah lagi,rumah besar ini sangat sepi karena kamu nggak ada disini. Oh iya tapi kamu harus tetap kontrol kepala kamu ke dokter yah,Sayang. Mama sudah buat jadwalnya dengan dokter keluarga kita,” Siska memperingati Athan. “ Iya, Momv.Aku bakal cek up terus kok, By the way, mama mau kemana pagi-pagi gini ?” Tanya Athan kemudian melihat mamanya berpakaian rapih dan terlihat cantik. “Mau ke rumah Devita. Mau nengokin cucu mama. Mau ikut? Sudah lama kan kamu gak nengokin keponakan kamu sih Sila? Sudah besar sekarang dia.Sudah masuk sekolah TK,” jawab Siska. Athan mengangguk-angguk mengerti ,”Nanti saja Mom. Setelah aku luang, aku bakal tengok Devita dan Sila. “Oke, take care yah sayang .Mama pergi “ pamit siska meninggalkan Athan sendirian di meja makan, sementara pria itu kembali melanjutkan sarapannya. *** “ Pagi , Pak Dirut,“ Sapa para karyawan kepada seorang pria muda yang baru saja masuk ke dalam gedung perkantoran Bumi Wijaya. Wajahnya tampan, tubuhnya tinggi, rambutnya lurus sedikit gondrong, alis matanya tebal dan berbentuk rapih,bola matanya berwarna coklat, hidungnya mancung , kulitnya tidak hitam dan juga tidak terlalu putih, standar saja. Semua mata langsung berpusat pada laki-laki tersebut. “ Pagi Pak Nathan “ Sapaan mulai berdatangan saat dirinya keluar dari lift yang dibalasnya dengan kata ‘pagi’.. “ huff,,” Athan menghela nafas ketika duduk di singgasananya.Hari ini sebenarnya dia masih sangat capek, tapi apa boleh buat, ini adalah tugasnya sebagai pemimpin sekaligus penerus Bumi Wijaya group. Setelah selama enam bulan dia tinggal di Singapura, akhirnya dia bisa kembali lagi ke tanah kelahirannya. “Aldo bisa keruangan saya sebentar ?” Athan menelpon seseorang lewat telpon disampingnya. Tak berapa lama kemudian pintunya diketuk dan seorang laki-laki tampan masuk ke dalam ruangan. “ Ada yang bisa saya bantu,Pak ?” Tanya Aldo ramah. Aldo adalah sekretaris Athan sejak dia bekerja di Singapura. Karena kinerjanya yang baik, Athan mengajaknya untuk bekerja di Indonesia. “Apa saja jadwal saya hari ini?” tanya Athan seraya membuka laptop miliknya. “Pagi ini jam sembilan bapak ada pertemuan dengan para karyawan-karyawan Bumi Wijaya di aula kantor. Jam sepuluh, bapak ada meeting dengan perusahaan Magenta sukses dilanjut makan siang. Setelahnya bapak belum ada jadwal lagi karena Nyonya Siska mengingatkan saya untuk mengosongkan jadwal setelah makan siang. Beliau ingin bapak tidak terlalu capek,” jelas Aldo dengan lugas. Athan hanya tersenyum mendengar nama mamanya disebut. Sejak kecil mamanya memang selalu khawatir akan kesehatannya. Apalagi semenjak kejadian naas dulu. Overprotektif adalah nama depan mamanya. Athan mewajari hal tersebut. Setiap orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya. “Turuti saja perintah Nyonya Besar. Kalau begitu kita langsung ke aula saja. Saya juga mau keliling kantor. Mau melihat kinerja para karyawan,” ucap Athan kemudian berjalan keluar ruangan. Sudah lama sekali dia tidak menyidak para karyawan. Menyenangkan sekali jika mendapati karyawan nakal di jam kerja. -TBC-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD