Bertemu Masa Lalu

2034 Words
“Hei Bro!” Sapa Jimi ketika berpapasan dengan Athan. Laki-laki itu baru saja keluar dari aula kantor setelah memperkenalkan diri secara resmi pada karyawan Bumi Wijaya Group. Jimi tidak bisa hadir tepat waktu karena ia harus mengantarkan ibunya cek up ke rumah sakit. “Hei, Tambah pendek aja, Lo?” komentar Athan yang langsung mendapat tonjokan pelan di bahu laki-laki itu. “Sialan, lo! Gimana tadi? Lancar kan?” tanya Jimi berjalan menuju lift. “Lancar. Gimana nyokap? Sudah mendingan?” tanya Athan balik. Keduanya sudah berteman sejak lama. Walaupun sempat putus komunikasi karena Jimi harus pindah ke luar kota. Akhirnya keduanya bisa bertemu kembali dan bekerja di perusahaan yang sama. “Sudah. Kolesterolnya naik lagi. Tapi dokter sudah kasih obat juga. Lo sendiri gimana? Masih suka mimpiin perempuan itu?” Athan menghela nafas sejenak. Sejak enam bulan yang lalu laki-laki itu selalu memimpikan seorang perempuan. Namun yang membingungkan adalah, Athan tidak bisa melihat dengan jelas wajah perempuan tersebut. Perempuan itu selalu memanggil-manggil namanya. Panggilannya terdengar memilukan. Terkadang Athan merasakan sesak yang sangat saat memimpikan perempuan tersebut. Seperti ada rasa kerinduan yang dalam dan juga rasa sakit yang menyesakkan dadanya. Tapi sampai sekarang Athan belum mendapatkan petunjuk apapun tentang mimpinya. “Masih. Gue juga nggak tau dia siapa. Lo tau sendiri keadaan gue kan? “ ucap Athan terdengar putus asa. Jimi bisa mengerti apa yang Athan rasakan. Bagaimana rasanya hidup tanpa ingatan masa lalu? Semua ingatannya saat kuliah di Indonesia terhapus begitu saja. Bahkan setelah lima tahun berlalu, belum ada perubahan dalam memorinya. “Lo harus sabar. Gue yakin pasti semuanya akan terjawab pada waktunya.” Jimi menepuk pelan pundak Athan. Memberikan dukungan moril untuk sahabatnya. “Thanks. “ Athan tersenyum simpul. Keduanya lalu masuk ke dalam lift saat pintu lift terbuka. Athan memencet angka lima belas. Sementara Jimi menekan angka sepuluh. “ Lo kapan nikah sama—“ ucapan Athan terpotong saat ponsel Jimi berbunyi. “Sorry, sekretaris gue nelpon. Gue angkat dulu, Than.” Ucapnya langsung mengangkat panggilan dari Kiran. “Hallo, Ran? Ada apa?” tanya Jimi “Maaf pak, saya sedikit terlambat. Ban motor Ojol saya bocor. Ini saya sedang menunggu Ojol yang baru,” jawab Kiran diseberang. Nada suaranya terdengar panik. “Tidak apa-apa. Saya juga baru sampai. Tidak usah buru-buru,” jawab Jimi penuh pengertian. Laki-laki itu memang salah satu atasan yang dikagumi para karyawan karena kebaikan hatinya. “Saya merasa tidak enak, Pak. Padahal saya izin telat masuk jam sepuluh. Tapi sudah jam sepuluh lewat saya malah belum sampai, “ ucap Kiran merasa tidak enak. “Tidak usah dipikirkan. Lagipula meeting di Gold Hotel masih jam sebelas nanti. Masih ada waktu setengah jam. Kamu hati-hati di jalan,” ucap Jimi menenangkan. “Baik, Pak Jimi. Terimakasih banyak,” sahut Kiran menutup panggilannya. Athan yang sejak tadi mendengarkan pun tidak dapat menahan rasa penasarannya. “Lo punya sekretaris baru?” Jimi mengangguk,”Iya. Belum ada seminggu. Tadi dia izin telat karena katanya ada perlu. Terus ini dia kena musibah ban ojolnya pecah. Jadi dia nunggu orderan Ojol yang baru,” jawab Jimi. “Cantik?” tanya Athan iseng. Padahal laki-laki itu tau bahwa Jimi memiliki kekasih yang sebentar lagi akan bertunangan. “Cantik. Menurut gue pribadi sih mukanya kayak boneka,” jawabnya jujur. Jimi adalah tipikal orang yang jujur. Ia akan mengatakan sesuatu sesuai kenyataan yang ada. Walaupun di depan pacarnya sendiri, mungkin ia akan mengatakan hal yang sama. Tapi Jimi juga adalah tipe lelaki setia. Mau secantik apapun perempuan yang mendekatinya, ia tidak akan berpaling dari kekasihnya. “Gue jadi penasaran. Sayang gue tadi nggak liat dia di aula,” ucap Athan penasaran. “Nanti juga lo bakal liat kok. Dia nggak akan kemana-mana,” sahut Jimi tersenyum menggoda Athan. “Apa maksud senyum lo itu. Sudah sampai lantai lo tuh, keluar sana,” usir Athan saat pintu lift terbuka di lantai sepuluh. “Lo nggak mau mampir ke ruangan gue? “ Jimi menaik turunkan alisnya menggoda Athan. Athan menatap tajam Jimi. Tanpa berkata apa-apa laki-laki itu langsung menutup pintu lift. Jimi menggeleng geli melihat tingkah Athan. Laki-laki itu masih belum berubah. Athan akan berubah menjadi galak jika ia merasa terpojok dan malu. *** Kiran melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Sepuluh menit lagi waktunya sholat magrib. Hari ini ia terpaksa lembur, laporan yang seharusnya ia kerjakan tadi pagi tertunda karena ia harus menemani atasannya meeting di salah satu hotel bintang lima. Ditambah ia juga sempat izin datang terlambat tadi pagi . Alhasil laporan tersebut baru selesai saat jam menunjukkan angka enam. “Alhamdulillah. Akhirnya kelar juga. Aku harus pulang. Ken pasti sudah nungguin di rumah,” gumam Kiran lalu membereskan meja kerjanya. Setelah mematikan komputernya. Perempuan itu bergegas menuju lift khusus. Langkahnya terlihat terburu-buru karena Ojol yang dipesannya juga sudah menunggu di lobi kantor. Kiran berjalan tergesa-gesa melewati koridor lantai sepuluh menuju lift di depannya, Ia sedang diburu-buru oleh waktu. Tadi Ken sempat menelponnya dan menanyakan terus kapan ia akan pulang. ‘Duh liftnya lama banget sih turunnya’ gerutu Kiran kesal. Ting! Tak berapa lama pintu lift terbuka, Kiran pun bergegas masuk ke dalam lift namun karena dia terburu- buru dan tak memperhatikan ada seseorang yang ingin keluar dari pintu lift tersebut, tabrakan pun tak bisa dihindari,Orang yang ditabraknya kehilangan keseimbangan dan dengan gerak cepat menarik tangan Kiran membuat perempuan itu ikut jatuh menimpah tubuh orang tersebut. “Sshh.. kepala gue, “ Rintih sebuah suara seorang laki-laki. Kiran yang mulai tersadar bahwa ia terjatuh di tubuh seorang pria, langsung terkesiap.”Maaf...saya benar-benar nggak sengaja. Kamu nggak apa-apa?” tanya Kiran panik. Deg! Laki-laki itu langsung menatap si empunya suara lembut tersebut. Ia terpana sejenak melihat Perempuan di hadapannya saat ini seperti sebuah boneka. Wajah perempuan di depannya itu sangat cantik. Mulai dari dagu sampai ke mata, semuanya nyaris sempurna. Pandangannya kemudian turun ke arah bibir mungil perempuan tersebut. Tiba- tiba saja Ia membayangkan bagaimana rasanya bila Ia bisa mencium bibir mungil itu. ‘s**t! Kenapa gue jadi pengen nyium tuh bibir,seksi banget lagi, Sumpah!’ Sementara Kiran menatap wajah laki-laki di depannya itu dengan tatapan terkejut. Sampai-sampai tubuhnya tidak bisa di gerakan sama sekali. Bayangan masa lalu kemudian melintas di pikirannya seperti sebuah slide video yang dimainkan. Tubuh Kiran terasa menggigil, padahal ia tidak sedang berada di ruangan ber-AC. Keringat dingin mulai bermunculan di sekitar dahinya. Dadanya mulai terasa sesak. Bahkan cairan bening itu jatuh begitu saja membasahi pipinya. Laki-laki itu langsung panik melihat perempuan di hadapannya menangis setelah melihat wajahnya. “Hei...Ka...kamu nggak apa-apa, kan? Ada yang sakit?” tanya laki-laki itu setelah keduanya bangun dari lantai. “A...Athan? ” tanya perempuan tersebut ragu-ragu. Air matanya masih terus mengalir. Dahi laki-laki itu mengerut. Bagaimana perempuan tersebut bisa tau nama kecilnya? Apakah mereka berdua pernah bertemu sebelumnya? “Kamu kenal saya?,” tanya Athan balik. Mata perempuan tersebut terbelalak mendengar jawaban Athan. Ia tidak mengira laki-laki itu melupakannya begitu saja setelah lima tahun tidak bertemu. Padahal Kiran merasa tidak ada perubahan apapun dalam dirinya. Ia masih seperti Kiran yang dulu. Apakah ini balasan dari semua rasa sakit yang Kiran rasakan saat laki-laki di hadapannya meninggalkannya dulu? Setelah semua pengorbanan yang Kiran lakukan untuk Athan di masa lalu dan dengan entengnya Athan melupakan begitu saja? Tiba-tiba Kiran merasakan dadanya berdenyut nyeri. Sakit. Hanya satu kata itu yang dapat menggambarkan perasaanya saat ini. Ia menatap nanar laki-laki di hadapannya. Bagaimana bisa ia begitu setia menunggu laki-laki b******k seperti Athan? Tersadar bahwa Kiran harus menyelamatkan harga dirinya. perempuan itu cepat-cepat menyeka air matanya dengan lengan kemejanya. Ia langsung bangkit dan membungkuk. ”Maaf , Pak. Sepertinya saya salah mengenali orang,” jawab Kiran akhirnya. “Tapi kamu tadi menyebut nama saya. Saya tidak mungkin salah dengar,”ucap Athan yakin. “Sa...saya salah sebut. Maksud saya tadi adalah At...Athar, Pak. Bukan Athan,” sahut Kiran terpaksa berbohong. “Tapi—“ “Ada apa, ini? “ Jimi yang tiba-tiba saja ada di samping Athan.”Kiran kamu belum pulang juga? ” Tanya Jimi heran. “Ini saya mau pulang, Pak. Permisi,” ucapnya terburu-buru lalu masuk ke dalam lift dan langsung menutupnya agar Athan tidak bisa menyusulnya. “Kenapa Lo? “ tanya Jimi heran karena Athan terlihat seperti orang bodoh menatap pintu lift yang sudah tertutup. “Tadi siapa? Sekretaris baru lo? “ tanya Athan balik. Jimi mengangguk,”Iya. Tadi yang namanya Kiran. Kenapa? Lo terpesona sama dia?” goda Jimi tersenyum jahil. “Gue bingung sama sekretaris lo. Tadi dia ngeliat gue kayak ngeliat hantu. Terus dia juga tadi dia sempat nangis. Dan yang paling bikin gue heran adalah dia tau nama kecil gue, “ jelas Athan. “Maksud lo dia kenal sama lo ?” “ Iya. Tapi gue bener-bener nggak ingat siapa dia,” jawab Athan. Ia tidak ingin memaksakan diri untuk mengingat perempuan tersebut. Karena semakin Athan memaksakan diri, hanya rasa sakit yang akan diterimanya. “Mungkin lo salah dengar. Udah yuk balik. Kita ngomongin masalah ini di rumah lo aja,” ajak Jimi setelah laki-laki itu menekan tombol lift. “Oke.” Ucap Athan akhirnya. *** “Bunda!!!” teriak Ken yang berlari menghampirinya saat Kiran baru saja masuk ke dalam halaman rumah Siwi. Kiran tersenyum bahagia menyambut tubuh mungil itu ke dalam pelukannya. “Kamu udah makan belum, Ran?” tanya Siwi yang memerhatikan wajah Kiran yang terlihat sedikit pucat. Pasti perempuan itu lelah sekali. “Tadi sudah makan roti, mbak. Nanti sampai rumah aku masak mi instan aja,” jawab Kiran. Siwi hanya bisa menggelengkan kepalanya. Perempuan cantik itu masuk ke dalam rumah, kemudian tak lama kembali dengan kotak makan bersusun tiga. “Aku sudah tau jawaban kamu kayak gitu. Ini sayur dan lauk yang aku masak sore tadi. Kamu bawa aja. Ken soalnya nggak mau makan sore tadi. Dia mau makan sama kamu katanya.” Siwi menyerahkan kotak makan tersebut pada Kiran. Mendengar hal itu Kiran hanya bisa tersenyum malu. Ia merasa tidak enak selalu menyusahkan sepupunya itu. “Makasih banyak, Mbak. Aku jadi ngerepotin lagi, kan,” ucap Kiran tak enak. “Sama-sama. Kamu nggak mau mampir dulu? Ada Mas Ryujin di dalam .” Kiran menggelengkan kepala,”Sudah mau malam, mbak. Ken pasti sudah ngantuk juga,” tolak Kiran halus. “Yaudah hati-hati, yah,” nasehat Siwi. “Iya. Ken pamit dulu sama tante Siwi,” perintah Kiran. Ken pun langsung menghampiri Siwi dan mencium punggung tangannya. “Ken pulang ya, Tante. Assalamu’alaikum,” pamit Ken. “Wa'alaikumsalam, Sayang. Sampai ketemu besok di sekolah,” balas Siwi mengelus kepala Ken penuh rasa sayang. Keduanya berjalan bergandengan tangan menuju rumah kontrakan merkea yang jaraknya memang tidak terlalu jauh dengan rumah Siwi. Sepanjang jalan menuju rumah, Ken tidak henti-hentinya bercerita tentang mainan baru Elsa, hadiah ulang tahun dari ayahnya, Ryujin. “Ayahnya Elsa kan baru pulang dari Jepang, Nda. Jadi bawa mainan buat Elsa banyak benel. Telus Ken juga dibawain oleh-oleh sama Om Liyujin. Legonya bagus kan , Nda?” tanya Ken memperlihatkan kotak Lego Classic yang ditenteng Ken dalam paper bag. Kiran yang masih memikirkan kejadian di kantor tidak memerhatikan anaknya yang ternyata sejak tadi membawa paper bag berisi mainan. “Bagus, Sayang. Sudah bilang makasih tadi?” tanya Kiran lembut. Kiran merasa sangat bahagia mengetahui bahwa ternyata anaknya dikelilingi orang-orang yang perhatian dengan Ken. “Sudah. Kata Om Liyujin, kalau mau mainan Lego lagi, Ken tinggal bilang sama Om aja,” sahut Ken. “No. Ken kalau mau mainan jangan minta ke siapa-siapa, ya, Nak. Ken tinggal bilang sama Bunda aja. Mengerti ?” jelas Kiran. Selama ia masih bisa membelikan mainan untuk Ken, ia tidak akan membiarkan Ken meminta apapun dari orang lain. Sekalipun itu adalah Siwi dan suaminya. Hidup tanpa seorang suami tidak membuat Kiran merasa lemah, justru ia berusaha menjadi seorang yang kuat agar kehidupan Ken terjamin dengan baik. Tanpa kurang suatu apapun. Kiran menatap Ken sendu. Ada rasa bersalah menghinggapi dirinya setiap kali menatap anaknya. ‘Maafin bunda, yak, Nak. Bunda belum bisa bawa kamu bertemu ayah kamu. Padahal bunda sudah bertemu kembali dengan ayah kamu. Bunda nggak mau kamu merasa sakit hati karena ditolak ayahmu.’ “Ngelti , Bunda.” “Good Boy. Besok bunda masakin ayam krispi lagi karena sudah jadi good boy hari ini.” “Yey! Ayam goleng...ayam goleng,” seru Ken bahagia. -TBC-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD