Kiran masuk ke dalam kamarnya dengan langkah gontai. Ia terduduk di pinggir tempat tidur sambil menelungkupkan kedua tangannya ke wajah. Pikirannya sudah sangat kacau. Kejadian di kantor sore tadi membuatnya syok dan juga terkejut. Bagaimana bisa Kiran tidak tau Athan bekerja di perusahaan yang sama dengannya? Mengapa Laki-laki itu kembali datang dalam hidupnya yang mulai tenang. Dan yang lebih menyakitkan lagi , Athan tak mengenalinya sama sekali. Apa yang sebenarnya yang terjadi pada Athan?
“Aarghhh,” Kiran merintih kesal. Ia bingung harus melakukan apa. Bagaimana jika besok dia kembali bertemu dengan Athan? Apa yang harus ia lakukan? Haruskah ia juga berpura-pura tidak mengenali laki-laki itu? Ataukah ia harus mengundurkan diri dari perusahaan tempatnya bekerja? Sepertinya hal itu mustahil terjadi. Mana mungkin ia melakukan hal tersebut. Bayangan jumlah penalti yang harus dibayarnya menari-nari dalam pikirannya. Uang sebanyak itu dari mana bisa ia dapatkan?
“Ya Allah...aku harus bagaimana?” rintih Kiran dalam kesunyian. Air matanya mengalir begitu saja tanpa bisa dicegahnya.
“Nda!” Panggil sebuah suara yang sangat Ia kenal. Kiran terkesiap dan dengan cepat mengelap air matanya. Ia tidak ingin Ken melihatnya menangis.
“Iya, Sayang. Masuk aja, pintunya nggak bunda kunci,“ sahut Kiran berusaha memasang wajah tersenyum saat Ken masuk ke dalam kamarnya.
“Nda, Kenapa bunda nangis ? “ Tanya Ken polos, tangan mungilnya menyentuh sudut mata Kiran yang masih basah.
Kiran menggeleng pelan,” Bunda nggak nangis kok, Sayang. Tadi bunda Cuma kelilipan aja, “ Sangkal Kiran memasang senyum bahagia di hadapan Ken.
Tubuh mungil itu langsung memeluk leher Kiran. “Ken sayang, Nda. Ken minta map yah kalo Ken nakal,” ucap Ken tiba-tiba.
Kiran mengelus rambut Ken dengan penuh rasa sayang.“ Anak bunda kan nggak pernah nakal. Jadi nggak perlu minta maaf sama bunda,” Kiran Lalu mendudukkan Exel di samping dirinya.
“Nda, tadi Ken mimpiin Ayah waktu Ken tidul siang di lumah tante Siwi, “ ucap Ken dengan polosnya tersenyum pada Kiran. Membuat hati perempuan seolah-olah diremas kuat-kuat oleh tangan tak kasat mata.
“Mimpi apa sayang ? “Tanya Kiran parau. Matanya Kini mulai berkaca-kaca kembali. Sebisa mungkin Kiran menahan air matanya.
“Ayah pulang ke lumah kita, Nda.Telus ayah peluk Ken elattt banget Nda, Gendong Ken juga. Kata ayah, Ayah kangen sama Ken,” Jawab Ken dengan wajah berseri –seri .
“Iya, Sayang. Ayah Ken pasti kangen sama Ken. “ Kiran memeluk Ken dengan erat. Ia tak ingin anaknya melihat dirinya menangis. Cepat-cepat Kiran menghapus air mata yang membasahi pipinya. Ini semua salahnya. Seharusnya sejak Ken kecil, Kiran tidak mengatakan bahwa Athan bekerja di luar negeri. Seharusnya ia tidak membuat anaknya berharap lebih pada laki-laki yang sekarang bahkan tidak tau keberadaan Ken ada di dunia ini. Sepertinya Kiran harus menjauhi Ken dari Athan. Ia tidak ingin anaknya terluka karena laki-laki itu yang menolak keberadaan anaknya.
‘Maafin bunda sayang, bunda harus ngelakuin ini semua demi Ken. Bunda nggak bermaksud bikin Ken jadi seperti ini’
“Belati benel yah, Nda ? Ayah mau pulang ke lumah ?” Tanya Ken antusias .
Kiran mengelus surai Ken penuh kasih sayang.”Bunda belum tau, Sayang. Kalau ayah kirim surat lagi, kita baca sama-sama yah, siapa tau ayah kasih kabar kita kalau ayah bisa pulang ke rumah,” sahut Kiran berbohong. Entah sampai kapan kebohongan ini akan berlanjut? Setiap kali Kiran membohongi Ken, hanya rasa sakit yang akan Kiran rasakan.
“Ken sudah makan belum? ” tanya Kiran menatap lembut putranya.
“Belum. Ken tadi nungguin bunda. Mau makan malam sama bunda. Bunda sudah makan ? “ Ken balik bertanya pada Kiran.
“Belum, Sayang. Yuk kita makan malam dulu. Tadi tante Siwi bawaan kita banyak makanan juga, “ Ajak Kiran menggendong Ken menuju ruang makan untuk makan malam.
***
Kiran meletakkan tasnya dan langsung duduk di meja kerjanya. Ia kemudian menyalakan komputernya dan mulai mengecek jadwal atasannya untuk hari ini. Sebenarnya Kiran merasa malas untuk berangkat kerja. Apalagi hari ini saudara jauhnya, Bi Imah akan datang ke rumahnya. Mulai besok Ken akan dijaga Bi Imah selama Kiran bekerja. Ia tidak bisa terus- terusan menitipkan Ken pada Siwi. Walaupun Siwi akan senang hati menjaga Ken, tapi Kiran tau diri. Ia tidak mau memanfaatkan kebaikan Siwi dan suaminya. Sementara Bi Imah dulu pernah bekerja untuk Kiran saat Ken baru lahir. Jadi Kiran tidak perlu meragukan lagi kinerja Bi Imah. Wanita paruh baya itu memutuskan kembali ke kampung halaman karena ingin merawat suaminya yang sedang sakit keras. Dan setahun yang lalu suaminya meninggal dunia.
Di kampung Bi Imah hanya tinggal sendiri. Ia memiliki seorang anak laki-laki yang bekerja sebagai TKI di Singapura. Jadi karena merasa bosan dan kesepian di rumah, Bi Imah memutuskan kembali bekerja di rumah Kiran untuk menjaga Ken. Apalagi Bi Imah juga sudah menganggap Kiran seperti anaknya sendiri dan Ken seperti cucunya.
“Hah!” entah sudah ke berapa kalinya pagi ini Kiran menghela nafas. Ia masih bingung jika harus bertemu kembali dengan Athan. Apa yang akan ia lakukan nanti? Padahal saat berangkat kerja tadi Kiran sudah memutuskan untuk menganggap Athan seperti orang asing jika berpapasan. Tapi terkadang rencana tidak sejalan dengan kenyataan yang ada.
“Kamu kenapa, Ran? Lesu banget kayaknya dari tadi aku perhatiin,” tanya Melan yang sejak tadi memerhatikan Kiran.
“Ah... itu mbak, saudara Kiran ada yang mau datang dari kampung. Kiran Cuma bingung nanti siapa yang mau jemput,” jawab Kiran cepat. Ia tidak berbohong. Bi Imah memang akan datang ke rumahnya dan Bi imah juga adalah saudaranya.
“Kalau nggak ada yang bisa jemput pakai Ojol aja, Ran. Nanti kamu saja yang orderin kalau Bibi kamu nggak punya aplikasinya, “ Saran Melan.
“Iya, Mbak. rencanaku juga seperti itu tadi. Makasih mbak sarannya,” ucap Kiran berterima kasih.
“Sama-sama. Aku duluan yah, mau ada meeting sama divisi keuangan. Jadi aku harus siapin ruangan meeting dulu sebelum yang lainnya dateng,” pamit Melan beranjak dari meja kerjanya.
“Mau aku bantuin nggak , Mbak? Tadi Pak Jimi Chat aku kalau beliau telat setengah jam. Daripada aku bengong di sini mending aku bantuin mbak Melan,” ucap Kiran menawarkan bantuan. Melan tersenyum lalu mengangguk. Keduanya kemudian menuju lift khusus. Melan menekan angka dua belas dimana ruangan meeting berada.
Sampai di ruangan meeting, Kiran kemudian menuju pantry yang terletak di samping ruangan. Ia mengambil sepuluh botol kecil air mineral yang diletakkan di kabinet dapur. Kiran lalu meletakkan masing-masing air mineral di setiap meja peserta rapat yang sudah di sediakan. Setelah itu Ia juga menyiapkan snack yang tadi dibawa oleh Melan. Sementara Melan sedang membagikan materi meeting yang sudah di print out olehnya sejak kemarin sore.
“Apalagi mbak yang perlu dibantu?” tanya Kiran setelah semua tugasnya selesai.
“Sudah semua kok, Ran. Thanks yah atas bantuannya. Ini tinggal nunggu peserta rapat aja. Kamu bisa balik ke ruangan, siapa tau Pak Jimi sudah datang,” ucap Melan memberitahu.
Kiran mengangguk mengerti.”Oke, mbak. Aku balik ke ruangan dulu, yah. Bye!” pamit Kiran lalu keluar dari ruangan tersebut.
Sampai di meja kerjanya, dahi Kiran mengerut melihat paper bag bertuliskan salah satu cofee shop yang cukup terkenal ada di atas mejanya. Juga ada sekotak roti sandwich. Ada stick note yang bertuliskan bahwa makanan dan minuman tersebut memang untuk dirinya.
‘Siapa yang ngasih ya? Apa Pak Jimi? ‘
Kiran melirik ruangan atasannya, dan tak lama keluarlah Pak Jimi beserta seorang gadis cantik yang Kiran pikir itu adalah kekasih dari Pak Jimi.
“Hai Kiran! Kamu dari mana? Tadi saya cariin kamu di pantry tidak ada?” tegur Jimi ramah.
“Maaf, Pak. Tadi saya bantuin Mbak Melan persiapkan ruang meeting. Bapak ada perlu apa? ” tanya Kiran balik.
“Saya tadi mau minta buatin kopi. Tapi pacar saya sudah bawakan. Jadi nanti kamu langsung persiapkan laporan hari ini saja seperti biasa.”
Kiran mengangguk mengerti.”Baik, Pak.”
“Oh iya, kenalkan, ini Bulan, pacar saya. Sayang, ini sekretaris baru aku, namanya Kiran,” ucap Jimi memperkenalkan Kiran pada kekasihnya. Jimi sempat melirik paper bag yang ada di atas meja kerja Kiran.
Bulan tersenyum ramah mengulurkan tangannya pada Kiran,”Bulan.”
“Kiran, Bu,” ucap Kiran menjabat tangan Bulan.
“Hahaha, jangan panggil ibu. Panggil nama aja. Aku masih muda tau,” komentar Bulan sambil bercanda.
Kiran pun mau tertawa pelan mendengar candaan bulan,”Kan ibu pacarnya Pak Jimi, otomatis saya panggilnya bu Bulan juga jadinya.”
“Panggil nama aja biar akrab. Soalnya aku pasti bakal sering hubungi kamu karena dia ini orang yang sok sibuk kalau dihubungi,” komentar Bulan menunjuk bahu Jimi yang ada di sebelahnya.
“Eh enak aja aku sok sibuk. Aku memang sibuk, Sayang,” elak Jimi tidak terima.
“Nggak. Kamu itu memang sok sibuk. Aku dari kemarin ajak jalan, nggak pernah bisa. Alasannya ada aja.”
Jimi hanya menggaruk kepalanya yang tak gatal. Yah dia memang selalu kalah kalau berdebat dengan kekasih tercintanya itu.
“So, Kiran. Berapa nomer whatsapps kamu? “ tanya Bulan yang kemudian dijawab oleh Kiran dengan menyebutkan nomer ponselnya satu persatu.
“Thanks, yah, Ran. Nomernya sudah ku save. Kapan-kapan kita hangout bareng kalau kamu lagi nggak sibuk,” ucap Bulan setelah memasukan kembali ponsel miliknya ke dalam tas.
“Oke, Bulan. Sudah ku save juga nomer kamu,” sahut Kiran.
“Oke. Aku balik dulu yah. Bye. Yuk honey, anterin aku sampai lobi,” ajak Bulan menggandeng lengan Jimi menuju lift.
“Saya ke bawah dulu, Ran. Kalau ada tamu, suruh tunggu di ruangan,” pesan Jimi yang langsung dibalas anggukan oleh Kiran.
“Baik, Pak.”
Kiran menatap keduanya dengan pandangan yang sulit diartikan. Antara bahagia dan juga rasa iri. Dulu ia pernah merasakan hal seperti itu. Saling memanggil pasangan dengan nama kesayangan. Ia juga dulu suka bercanda dengan Athan. Athan adalah laki-laki yang penuh perhatian dan juga sabar. Laki-laki itu selalu mengalah disaat Kiran marah atau kesal padanya . Tapi itu semua kini hanya masa lalu. Kiran bahkan tidak akan berharap lagi bahwa keduanya akan kembali seperti dulu. Karena yang terpenting sekarang adalah kebahagiaan anaknya. Ia akan mengumpulkan uang sebanyak-banyaknya dan pergi dari kota ini secepat mungkin. Ia tidak ingin anaknya bertemu dengan Athan dan keluarganya. Tidak, Kiran tidak ingin itu terjadi.
***
“Lo dimana?” tanya seseorang diseberang sana.
Athan melirik ponselnya yang sengaja ia loud speaker karena laki-laki itu sedang menikmati sarapannya.” Di ruangan gue. Dimana lagi ?”
“ Lo yang taro pesenan gue di meja Kiran?” tanya Jimi to the point.
“Iya. Karena Bulan sudah dateng bawain lo sarapan. Daripada mubasir, mending gue kasih ke sekretaris lo,” sahut Athan cuek.
Terdengar helaan nafas diseberang sana,”Untung lo temen gue, Than. “
“Kemana tadi sekretaris lo? Gue liat dia nggak ada di mejanya,” tanya Athan meminum espressonya.
“Ruang meeting. Bantuin Melan beresin ruangan. Lo nggak rapat?”
“Rapat. Ini gue lagi sarapan. Nyokap masih tempat Mbak Devita. Jadi gue males sarapan di rumah,” sahut Athan.
“Cepetan cari isteri, biar ada temen sarapan.”
“Doain aja. Sekalian gue juga mau cari anak. Biar lo nggak perlu lagi nyuruh gue terus buat anak,” sindir Athan yang langsung membuat Jimi tergelak dibuatnya.
“Boleh...boleh. Nanti gue cariin istri dan anak sekaligus buat lo. Biar paket hemat. Cari isteri dapat bonus anak. Gue cariin yang bener-bener mirip lo. Kalau perlu sampai kebiasaan lo yang benci brokoli itu dia juga punya. Gimana?” gurau Jimi.
“Deal. Kalau sudah ketemu, hubungi gue secepat mungkin. Takutnya gue berubah pikiran dan gue malah nikahin sekretaris lo.”
“Wah, nggak bisa. Susah cari sekretaris macam Kiran. Kerjaannya cepat dan rapih. Mana sudi gue ngasih ke laki-laki cuek kayak lo. Mending gue jodohin Kiran ke Vizan yang care,” ucap Jimi menggoda Athan. Ia ingin mengetes, apakah sahabatnya itu ada ketertarikan pada sekretarisnya.
“Kemarin gue baru dapat kabar, kalau di Banjarmasin masih dibutuhin direktur pelaksana yang baru, Jim. Kinerja lo kan bagus, gue mau rekomendasiin lo sama—“
“Gue baru inget, Than. Vizan sudah punya gebetan. Jadi kayaknya gue batal jodohin Kiran sama dia,” potong Jimi cepat. Sepertinya sifat susah bercanda Athan tidak pernah berubah. Laki-laki itu tidak bisa digoda sedikit saja. Bisa ngamuk nanti Bulan jika ia dipindahtugaskan ke Banjarmasin hanya karena Kiran. Gadis itu paling tidak suka berpacaran jarak jauh. Dan ia tidak ingin hubungan keduanya memburuk hanya karena LDR-an.
“Good choice. Oh iya, lo jangan kasih tau semua makanan dan minuman itu dari gue. Cukup aja lo bilang nggak tau. Ngerti?”
“Memangnya kenapa, Than? Bukannya bagus kalau Kiran tau. Biar image lo sebagai atasan yang baik bisa bikin dia jatuh hati sama lo,” tanya Jimi bingung. Ia terkadang tidak bisa membaca pikiran sahabatnya itu. Berteman lama belum tentu Jimi bisa mengerti jalan pikiran Athan.
“ Pokoknya lakuin aja sesuai pesan gue tadi. Gue mau meeting dulu,” ucap Athan kemudian mematikan sambungannya.
“Dasar aneh,” komentar Jimi.
***
Kiran menatap layar ponselnya untuk yang kesekian kalinya dengan gusar. Ia sudah menunggu selama lebih dari setengah jam. Tapi sejak tadi belum ada satu pun Ojol yang mau menerima orderannya. Apakah karena hujan jadi tidak ada Ojek Online yang menerima penumpang? Tapi jika ia memesan taksi online, maka ia akan semakin lama sampai di rumah karena terjebak macet. Lobi kantor sudah terlihat sepi. Hanya ada beberapa karyawan saja yang masih menunggu jemputan.
Pandangan Kiran mengitari setiap sudut ruangan, tiba-tiba saja pupil mata Kiran membesar melihat seseorang yang sangat dikenalnya keluar dari dalam lift. Kiran langsung bergegas mencari tempat persembunyian. Namun perempuan itu terlihat bingung harus bersembunyi dimana karena ia sedang duduk di kursi lobi. Tak kehilangan akal, Kiran langsung menyambar majalah properti yang ada di atas meja dan langsung membukanya lebar-lebar guna untuk menutupi wajahnya. Ia tidak ingin berpapasan dengan laki-laki itu. Dengan tangan gemetar Kiran memegang majalah tersebut dan merapalkan doa dalam hati agar laki-laki itu bergegas pergi dari sana.
Tiba-tiba saja Kiran merasakan gerakan di samping tempatnya duduk. Sepertinya ada seseorang yang duduk di sebelahnya. Dari wanginya, sepertinya orang yang duduk di samping Kiran adalah seorang laki-laki.
“Memang sekretaris jaman sekarang bisa membaca majalah terbalik seperti itu?” tanya sebuah suara yang amat dikenalnya. Kiran langsung membeku ditempat mendengar suara tersebut. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Kenapa orang yang ingin ia hindari malah kini duduk di sampingnya? Kenapa ia bisa sesial ini, sih? Sudah tidak dapat Ojol, kini malah bertemu dengan orang yang sangat ingin sekali ia hindari.
‘Ya Allah, aku harus bagaimana?’
-TBC-