Lantai Dua Puluh Part 1

2315 Words
“Sore,Pak,” sapa Kiran gugup. Lalu secepat kilat membenarkan posisi majalah yang terbalik ditangannya. “Kamu belum jawab pertanyaan saya,” komentar Athan yang masih ingin menjahili Kiran. Entah kenapa Athan merasa perempuan di sampingnya ini menyembunyikan sesuatu tentang dirinya. Tapi Athan tidak bisa menanyakan kembali pada Kiran, karena sebelumnya perempuan cantik itu mengatakan bahwa ia hanya salah mengenali orang. Apalagi Athan pun tak memiliki bukti apa-apa mengenai hubungan mereka di masa lalu. Apakah keduanya memiliki hubungan, atau hanya sekedar kenalan saja. “Maaf, pak. Pertanyaan yang mana,yah?” tanya Kiran pura-pura bodoh. Ia tau laki-laki di sampingnya ini sedang menggodanya. Jadi Kiran lebih memilih menjadi orang bodoh saja, daripada ia mempermalukan dirinya sendiri karena menjawab pertanyaan Athan. Athan tersenyum geli melihat tingkah Kiran yang berpura-pura bodoh di hadapannya.”Lupakan,”ucapnya kemudian. “Kamu sedang apa? Menunggu jemputan?” Kiran mengangguk,”Iya, Pak. Saya sedang menunggu jemputan. “Siapa? Pacar kamu?” tanya Athan penasaran. Melirik Kiran yang pura-pura sibuk dengan majalah di tangannya yang posisinya sudah perempuan itu perbaiki. “Bukan, Pak. Ojol.” “Di luar hujan. Kamu yakin ada Ojol yang mau terima orderan kamu?” tanya Athan sambil membalik majalah otomotif yang baru saja diambilnya di rak buku di samping sofa tempatnya duduk. Lobi kantor mereka cukup lengkap dengan fasilitas majalah terbaru yang disediakan perusahaan, khusus bagi tamu atau pengunjung yang menunggu di lobi . “Bisa pakai taksi online kalau orderan saya direject, Pak,” sahut Kiran yang kini terlihat khawatir karena orderan keduanya kembali dicancel. Jika Kiran melakukan orderan kembali. Maka ia harus mempersiapkan diri akun Ojolnya akan terblokir untuk sementara waktu. Kiran tidak ingin itu terjadi. Ia sangat membutuhkan jasa Ojol setiap harinya. Andai saja tadi Yerin dan ia bisa pulang bersama. Mungkin Kiran tidak akan bingung seperti saat ini. “ Sudah sore. Saya duluan, yah,” ucap Athan yang tiba-tiba berdiri dari duduknya. Laki-laki itu meletakkan kembali majalah yang dibacanya ke tempat semula. “ Iya, Pak. Hati-hati di jalan,” sahut Kiran memerhatikan Athan yang berjalan menuju basemen kantor, dimana parkiran mobil berada. Setelah kepergian Athan, Kiran bergegas keluar dari kantor menuju halte bis berada. Sepertinya memilih bis adalah pilihan terakhirnya. Ia tidak ingin terlambat pulang karena Ken pasti sedang menunggunya di rumah. Berbekal payung lipat milik kantor yang dipinjamnya pada sekuriti kantor, Kiran nekat memilih pulang ke rumah saat itu juga. Bi Imah dan Ken sudah menunggunya di rumah. Baru saja Kiran berjalan di pelataran kantor, tiba-tiba saja sebuah mobil SUV putih berhenti di hadapannya. Kiran terhenti sejenak menatap bingung mobil mewah tersebut. Jendela kaca mobil terbuka dan wajah Kiran kembali memucat saat melihat siapa pemilik mobil tersebut. “Ayo masuk!” perintah Athan. “Te-terima kasih, Pak. Saya sudah pesan taksi online, Pak,” tolak Kiran halus. Menerima tumpangan laki-laki di hadapannya sama dengan mencari mati. Athan melirik sekitar pelataran parkir. Tidak ada mobil lain yang terlihat selain mobilnya. Ia tau bahwa Kiran tidak ingin menerima tawarannya. Semakin perempuan cantik itu menolaknya, entah kenapa Athan semakin penasaran padanya. Baru kali ini ada seorang perempuan yang menolak pesonanya. Bukan bermaksud sombong, tapi semua orang tau bahwa ia memiliki ketampanan yang tidak bisa diabaikan begitu saja. Bahkan jika ia mau, Athan bisa saja menjadi seorang artis. Sudah berapa banyak agensi yang ditolaknya. Bahkan Athan tidak bisa menghitungnya saking banyaknya. Tiba-tiba saja Athan turun dari mobilnya. Laki- laki itu kemudian menghampiri Kiran yang malah melangkah mundur, menjaga jarak. Hal itu malah semakin membuat Athan yakin, ada sesuatu yang terjadi diantara keduanya di masa lalu. Rintik hujan mulai membasahi jas yang dikenakan Athan. Melihat hal tersebut, mau tidak mau Kiran membagi payung yang digunakannya, namun ia masih tetap menjaga jarak. “Biarkan Pak Mamat yang mengantar kamu sampai rumah. Saya baru saja ingat ada pekerjaan yang belum saya kerjakan di kantor, dan jangan menolak,” ucap Athan yang tanpa seenaknya saja mendorong paksa Kiran masuk ke dalam mobil lalu mengambil alih payung yang ada ditangan Kiran. “Tapi pak, saya-“ “Jangan membantah, Kiran. Pak Mamat, tolong antarkan Kiran pulang. Nanti saya telpon kalau pekerjaan saya sudah selesai,” pesan Athan yang langsung diangguki oleh Pak Mamat, supir kantor yang siap siaga mengantar jemput Athan jika laki-laki itu malas menyetir. Setelah menutup pintu mobil belakang. Athan kemudian melenggang santai menuju gedung kantor yang jaraknya tidak terlalu jauh. Sementara Kiran menatap nanar siluet Athan yang semakin lama semakin menjauh karena mobil yang ditumpanginya mulai berjalan meninggalkan pelataran kantor. Apa yang harus ia lakukan sekarang? Ternyata sifat memaksa laki-laki itu tidak pernah berubah. Bagaimana Kiran bisa menjauhi Athan sementara laki –laki itu malah semakin mendekatinya? “Alamat Ibu di jalan apa ya, Bu?” tanya Pak Mamat membuyarkan lamunan Kiran. “Jalan Bugenvil Raya satu, Pak,” sahut Kiran yang kini mengalihkan pandangannya ke depan. “Baik, Bu. Jangan lupa pakai sabuknya, Bu. Takutnya ada gabungan,” pesan Pak Mamat. Karena asyik melamun, Kiran sampai lupa untuk mengenakan sabuknya. “Iya, Pak,” ucap Kiran yang kemudian mengenakan sabuknya. Selama perjalanan pulang Kiran hanya menatap jalan dengan pikiran yang melayang-layang. Ia tidak bisa terus seperti ini. Ia harus menjaga jarak dari laki-laki tersebut. *** Kiran sampai di rumah satu jam kemudian. Seharusnya ia sampai setengah jam yang lalu, akan tetapi jalanan yang ramai dan macet memperlambat perjalanannya menuju rumah. Kiran pulang disambut dengan senyum hangat Bi Imah yang sudah menunggunya bersama Ken di ruang tamu. “Bi Imah, Kiran kangen banget,” ucap Kiran seraya memeluk perempuan paruh baya itu dengan erat. Bi Imah tersenyum hangat mendengar ucapan Kiran. Ia pun membalas pelukan hangat perempuan cantik yang sudah lama dirindukannya. “Bi Imah juga kangen sama non Kiran. Sudah lama sekali kita ndak ketemu. Ken juga sudah besar sekarang,” sahut Bi Imah. Setelah melepas kangen, keduanya duduk bersama di sofa ruang tengah. Bertukar cerita karena sudah lama tidak bertemu. “Bi Imah ini neneknya Ken, yah, Nda?” tanya Ken tiba-tiba. Sepertinya sejak tadi Ken memerhatikan interaksi Kiran dengan Bi Imah. Kiran tersenyum mengelus rambut Ken penuh rasa sayang.”Iya, Sayang. Ken manggilnya Nenek yah. Sekarang Ken ada temannya di rumah kalau bunda kerja, senang nggak?” Ken mengangguk senang,” Senang. Nenek juga ngantelin Ken sekolah, Nda?” “Enggak, sayang. Ken berangkat dan pulang sekolah masih sama tante Siwi. Nenek nemenin Ken di rumah aja kalau bunda sedang kerja.” “Dulu waktu nenek tinggal di sini, Ken masih kecil sekali. Masih bayi, sekarang Ken sudah besar. Ganteng lagi,” ucap Bi Imah mengelus puncak kepala Ken penuh rasa sayang. “Iya, Nda? Sekecil ini?” tanya Ken menunjukkan boneka Dinosaurusnya yang berukuran sekepalan tangan manusia dewasa. Melihat tingkah Ken, Kiran dan Bi Imah sontak tertawa geli. Kepolosan Ken membuat keduanya sangat terhibur. “Nggak sekecil itu, Sayang. Seukuran bantal guling milik Ken waktu kecil,” jawab Kiran masih menahan tawa. “Oh segitu ukulannya. Jadi kalau Ken punya adik, ukulan adik ken sepelti bantal guling juga ya, Nda?” Uhuk! Kiran tersedak salivanya sendiri saat mendengar ucapan Ken. Apa tadi Ken bilang? Adik? Dari mana anaknya bisa memiliki keinginan seperti itu “Memang Ken mau punya adik?” tanya Bi Imah tersenyum menggoda Kiran. Sementara Kiran mengerucutkan bibirnya mendengar godaan Bi Imah. “Mau Nenek. Temen sekolah Ken semuanya punya adik bayi. Ken juga mau punya adik bayi dong. Boleh, kan, Nda?” “Eh...begini, Sayang. Bunda tanya sama Ken dulu. Apa Ken siap berbagi semua mainan milik Ken nanti kalau Ken punya adik? “ Ken mengangguk tegas,” Siyap. Mainan Ken boleh buat adik semua. “ “Kalau sudah punya adik, Ken harus tidur di kamar Ken sendiri? Bisa?” “Bisa, dong. Nanti kalau adiknya sudah dibeli Ken pindah tidulnya nggak sama bunda lagi,” ucap Ken yakin. Mendengar kata ‘beli’ yang dilontarkan anaknya, mau tak mau Kiran dan Bi Imah tertawa kembali. Dari siapa anaknya bisa tau kalau adik bayi bisa dibeli? “Ken sayang. Adik bayi itu bukan mainan ataupun makanan yang bisa dibeli. Ken harus menunggu lama sekali baru adik bayi bisa ada di perut Bunda. Untuk mendapatkannya Ken harus rajin berdoa pada Allah. Dan Allah akan mengabulkannya di saat yang menurut Allah tepat. Paham, Nak ?” jelas Kiran dengan lembut. “Jadi Boy bohong dong, Nda sama Ken? Soalnya Boy yang bilang adik bayi dia dibeli di pasal,” tanya Ken dengan raut wajah kecewa. Pupus sudah harapannya untuk memiliki adik seperti teman-teman sekolahnya. “Mungkin Boy tidak tau, Sayang. Jadi karena Ken sudah tau, Ken harus meminta sama Allah kalau mau adik bayi. Paham, Sayang?” Ken mengangguk,”Paham, Nda?” “Good Boy. Ken main sama nenek dulu, yah. Bunda mau mandi dulu. Bi, Kiran mandi dulu yah, “ pamit Kiran bergegas menuju kamar mandi setelah mendapat anggukan dari Bi Imah. Selesai mandi dan berganti pakaian, Kiran langsung keluar dari kamarnya menuju dapur karena perutnya yang sudah terasa lapar sejak di perjalanan pulang ke rumah. Wajahnya berubah cerah saat melihat ada sepiring kwetiau goreng favoritnya yang sudah tersaji di meja makan. Kiran tidak perlu bertanya berasal dari mana makanan tersebut. Sudah pasti Bi Imah yang sengaja memasak makan malam untuknya. “Dimakan dong, Non. Jangan diliatin aja,” goda Bi Imah membuat Kiran tertawa mendengarnya. Kiran pun bergegas duduk di kursi meja makan lalu langsung menyendokkan sesuap kwetiau goreng favoritnya itu, namun sebelumnya ia tidak lupa membaca doa makan terlebih dahulu. “Hhmmm... kwetiau Bi Imah memang juara. Makasih ya Bi, sudah repot-repot masakin makanan favorit Kiran,” ucap Kiran tersenyum bahagia. “Sama-sama, Non. Di Kampung malah bibi jarang masak. Karena bibi tuh bingung mau masakin siapa? Soalnya sendirian di rumah.” “Sekarang tenang aja, Bi. Ada Kiran yang siap sedia menampung semua masakan bibi. Bibi tinggal bilang aja mau dibelikan sayuran apa. Atau bibi bisa beli di tukang sayur keliling komplek ini, jualannya lumayan komplit juga, Bi.” “ Non Kiran kenapa pindah ke kontrakan ini, non. Bukannya rumah yang dulu itu peninggalan ayahnya Ken?” tanya Bi Imah bingung. Kiran terdiam sejenak mendengar pertanyaan Bi Imah. Sebenarnya Kiran juga berat untuk meninggalkan rumah tersebut. Tetapi warga sekitar yang tau bahwa Kiran memiliki anak tanpa seorang suami, mulai menggosipkan dirinya. Dan Kiran tidak ingin saat Ken besar, anaknya akan mendengar gosip-gosip yang tidak menyenangkan dan membuat Ken menjadi sedih. Jadi setelah Bi Imah kembali ke kampung, Kiran pun mulai mencari rumah kontrakan untuk ditinggalinya tanpa perlu ada gosip-gosip kurang mengenakan tentang dirinya. “Bibi tau sendiri lingkungan disana kurang ‘sehat’. Jadi Kiran memutuskan pindah lebih cepat agar Ken bisa hidup normal tanpa ada gunjingan disekitarnya. Ken tidak berhak mendapatkan label ’anak tanpa ayah’. karena kenyataanya Bi Imah tau sendiri. Ken memiliki seorang ayah,” ucap Kiran menatap sendu gelas kosong di hadapannya. Bi Imah mengelus pundak Kiran lembut. Sejak dulu, Bi Imah tau, Kiran adalah perempuan yang kuat. Ia akan melakukan apa saja untuk melindungi orang yang dicintainya. Bahkan Kiran rela melakukan apapun, agar Ken tidak terluka. Baik fisik maupun mental. *** Kiran menatap bingung kearah meja kerjanya. Ia baru saja sampai di kantor dan mendapati seorang laki-laki muda yang duduk di kursi kerjanya sedang mengetik sesuatu di komputer miliknya. Siapa kiranya laki-laki tidak sopan yang ada di hadapannya ini? Bagaimana bisa laki-laki ini menggunakan komputernya? Apalagi komputer Kiran memiliki password yang hanya diketahui oleh orang-orang tertentu saja. “Pagi, Ibu Kiran,” sapa laki-laki itu ramah saat melihat Kiran berdiri di samping meja kerjanya. “Pagi. Maaf anda siapa, yah?” tanya Kiran mengerutkan dahi. “Perkenalkan, Bu. Saya adalah sekretaris Pak Jimi yang baru. Nama saya , Indra,” sahut Indra lalu membungkuk sopan. Mata kiran terbelalak mendengar jawaban Indra. Apa tadi Indra bilang? Sekretaris Pak Jimi yang baru? Lalu bagaimana dengan dirinya? Apakah ia sudah dipecat dari perusahaan ini? Tapi kesalahan besar apa yang telah ia lakukan sehingga membuatnya dipecat tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu? Setidaknya ia harus menerima email pemberhentian kerja, kan? “Kamu nggak salah alamat? Saya bahkan belum diberitahu sama sekali mengenai hal ini,” tanya Kiran tak habis pikir. “Tidak , Bu. Bukannya Bu Kiran di pindahkan di lantai dua puluh, yah? Bu Kiran kan sekarang menjadi sekretaris direktur utama, “ sahut Indra sok tau. “Apa kamu bilang? Saya dipindahkan ke lantai dua puluh? “ tanya Kiran tidak percaya. Bahkan ia belum ada sebulan bekerja di perusahaan ini, tetapi sudah dipindahkan tugas? “Iya, Bu. Loh, ibu belum tau ?” Kiran menggeleng menahan kesal. Ia harus menelpon atasannya untuk mengkonfirmasi berita ini. Baru saja Kiran ingin mengeluarkan ponselnya dari tasnya, Pak Jimi melintas di depan meja kerjanya. “Pak, maaf tunggu sebentar. Saya mau bicara sama bapak,” ucap Kiran menahan langkah Pak Jimi. “Oh iya. Ada apa Kiran? “ tanya Pak Jimi kemudian. “Maaf pak sebelumnya, apa benar saya dipindahkan ke lantai dua puluh?” tanya Kiran sopan. Dahi Pak Jimi mengerut mendengar pertanyaan Kiran.”Kamu dapat dari mana berita ini? “ tanya Pak Jimi bingung. Karena seingatnya Kiran masih berstatus sekretarisnya sampai saat ini. Sebentar, Kiran tadi bilang lantai dua puluh? Jangan-jangan... “Pagi Pak Jimi,” sapa Indra ramah ketika tatapan keduanya bertemu. Senyum geli tersungging di bibirnya saat melihat Indra, salah satu asisten Athan, duduk di kursi kerja milik Kiran. Pantas saja Kiran terlihat bingung, ia saja sebagai atasan Kiran belum mengetahui mengenai kepindahan Kiran ke lantai dua puluh. Ternyata Athan masih saja suka menyalahi aturan perusahaan. Untung saja laki-laki itu memilki kuasa untuk melakukannya. Bagaimana jika Athan bukanlah direktur utama di perusahaan ini? Mungkin laki-laki itu sudah dipecat dari perusahaan tempatnya bekerja. “Kiran, kamu ikut saya ke ruangan. Kita bicarakan semuanya di dalam supaya kamu tidak bingung lagi,” ajak Pak Jimi masuk ke dalam ruangannya. Diikuti Kiran yang menuruti perintah atasannya itu. Semoga saja ia tidak dipindahkan. Ia sudah sangat nyaman dengan suasana ruang kerjanya saat ini. Ia tidak mau harus beradaptasi dengan karyawan-karyawan baru yang belum tentu ramah seperti Yerin dan mbak Melan. -TBC-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD