Lantai Dua Puluh Part 2

1923 Words
Chapter 7 : Lantai Dua Puluh ( Part 2) Kiran menghela nafas pelan. Pandangan matanya menatap kosong pemandangan luar gedung dari meja kerjanya yang baru. Apa yang harus ia lakukan sekarang ? Seharusnya sebelum melamar pekerjaan Kiran terlebih dahulu mengecek siapa pemilik perusahaan tersebut. Ini adalah kesalahan fatal yang seharusnya tidak terjadi. Namun nasi sudah menjadi bubur. Mau diratapi selama apa pun tidak akan bisa kembali seperti semula. Sekarang ia harus menerima dengan lapang d**a dan menjalaninya sampai kontrak kerjanya berakhir. Kiran hanya bisa melakukan hal tersebut. Perempuan itu melirik ruangan Direktur Utama yang terbuat dari kaca tepat di depan meja kerjanya. Ia bisa melihat apa yang tengah dilakukan Athan di dalam sana. Laki-laki itu sedang sibuk menelepon seseorang. "Kamu tidak berubah sama sekali, Mas," gumam Kiran tanpa sadar. Matanya menatap nanar ke arah laki-laki itu. Apakah ia bisa menghadapi semua ini ? Bertemu setiap hari dengan Athan tanpa laki-laki itu mengingat dirinya sama sekali? "Kring!" Kiran tersentak saat telepon di meja kerjanya berbunyi. Ia mengelus dadanya sebelum mengangkat panggilan tersebut. "Hal-" "Kiran, tolong buatkan saya kopi hitam," ucap orang di seberang telepon. Kiran menoleh ke ruangan Direktur Utama, di dalam sana, Athan tengah tersenyum padanya seraya mengangkat gagang telepon. "Baik, Pak, " ucap Kiran kemudian menutup teleponnya. Ia pun melangkah menuju Pantry yang tidak jauh dari meja kerjanya. Pantry di lantai dua puluh cukup lengkap perabotannya. Bahkan makanan dan minuman instan memiliki tempat tersendiri. Karena ia baru pertama kali memakai Pantry tersebut, Kiran sedikit kebingungan dalam mencari letak wadah kopi dan juga gula. Setelah mengobrak-abrik kabinet dapur, akhirnya ia menemukan wadah kopi beserta yang lainnya ada di laci kabinet dapur. Selesai membuat kopi pesanan Athan, Kiran pun langsung mengantarkannya ke ruangan Athan. "Silakan, Pak," ucap Kiran dengan wajah datarnya meletakkan kopi tersebut di meja kerja Athan. "Terima kasih," ucap Athan kemudian meminum kopi buatan Kiran. Tiba-tiba saja wajah Athan menegang. Matanya menatap tajam Kiran yang pandangannya sedang fokus ke lukisan yang ada di ruangan Athan. Lukisan itu terpajang tepat di dinding sebelah kanan Athan. "Bagaimana kamu bisa tau kopi kesukaan saya?" Tanya Athan datar. "Maaf, pak? Saya tidak mengerti ucapan bapak?" Tanya Kiran bingung. " Bagaimana kamu bisa tau takaran kopi kesukaan saya? Bahkan kamu pun menambahkan krimer ke dalamnya," sahut Athan menatap tajam Kiran. Laki-laki itu yakin sekali bahwa ia tidak pernah memberitahu Kiran mengenai takaran kopi kesukaannya. Kiran terhenyak mendengar ucapan Athan. Bagaimana mungkin Kiran lupa takaran kopi favorit Athan? Mereka berdua dulu pernah bersama. Semua kebiasaan buruk Athan pun Kiran masih mengingatnya dengan jelas. Seperti sekarang ini. Athan tidak akan berhenti memojokkannya jika jawaban atas pertanyaan Athan tidak segera Kiran jawab. "Eh, ini juga takaran kopi yang sering saya buat, Pak. Saya pikir bapak akan suka jadi...saya sengaja membuatnya sesuai dengan takaran yang biasa saya buat. Saya juga suka pakai krimer agar lebih enak," sahut Kiran meyakinkan. Senyum profesionalnya pun mulai ia tampilkan. Ia tidak boleh terlihat gugup di depan Athan atau kebohongannya akan terbongkar. Takaran kopi yang sering saya buat? Cih, omong kosong macam apa ini? Bahkan hanya minum sesendok kopi hitam, perempuan itu langsung mual seharian. Perutnya tidak bisa menerima sama sekali kopi hitam. "Benarkah? Tapi saya tidak pernah melihat kamu meminum kopi?" Tanya Athan penuh selidik. "Asam lambung saya beberapa bulan ini tidak bisa dikontrol, Pak. Jadi saya lebih baik menghindari segala penyebab yang membuat asam lambung saya naik. Termasuk kopi," ucap Kiran masih dengan mempertahankan senyum profesionalnya. Athan mengangguk-anggukan kepalanya , Seolah menerima semua jawaban Kiran. Namun dalam hati ia tetap tidak percaya seratus persen alasan yang dilontarkan oleh Kiran. Entah kenapa ia yakin bahwa Kiran sedang menutup-nutupi sesuatu mengenai hubungan keduanya di masa lalu. Untuk itu Athan akan terus mencari cara agar ia bisa mengetahui, apa yang tengah terjadi antara ia dan Kiran di masa lalu. "Terima kasih, Kopinya. Kamu bisa kembali ke meja kamu," ucap Athan kemudian kembali menyeruput kopi buatan Kiran yang menurutnya sangat enak. "Baik, Pak. Saya permisi," ucap Kiran bergegas keluar dari ruangan Athan yang menurutnya terasa menyesakkan diri. Berduaan dengan laki-laki itu selalu membuatnya tidak nyaman. Setelah kembali ke meja kerjanya, Kiran pun mulai melanjutkan pekerjaannya memeriksa beberapa jadwal penting Athan untuk satu minggu ke depan. Namun bayangan masa lalu keduanya selalu menari-nari di pikiran Kiran. Membuat perempuan cantik itu sulit berkonsentrasi pada pekerjaannya. “Ya Tuhan...aku harus bagaimana?” gumamnya lirih. *** "Jadi kamu sekarang jadi sekretaris Pak Nathan, Ran?" Tanya Yerin menatap Kiran tak percaya. Karena setau dirinya, sejak ia bekerja di perusahaan tersebut, Direktur Utamanya itu tidak pernah memiliki sekretaris berjenis kelamin perempuan. Semua sekretaris Athan adalah seorang laki-laki. Kiran mengangguk malas. Ayam goreng Kalasan di hadapannya bahkan tidak bisa menggugah nafsu makannya. Sejak dipindahkan ke lantai dua puluh, Kiran harus beradaptasi kembali dengan para penghuni lantai dua puluh. "Jadi kamu sudah kenalan dengan PA (Personal Assisten) Pak Nathan?" Tanya mbak Melan. Kiran menggeleng pelan. Meja di sebelahnya masih kosong, dan ia pun belum melihat siapa pemilik meja kerja tersebut. " Asistennya pak Nathan itu ganteng juga, Ran. Kayaknya sih dia masih cuti. Soalnya biasanya mereka berdua tuh suka jalan bareng. Kemana-mana bareng terus," ucap Yerin bersemangat. " Udah kayak perangko aja kemana-mana berdua," komentar Kiran asal. "Hahaha. Namanya asisten, Ran. Kudu, harus dan wajib ada di sekitaran bosnya," sahut mbak Melan. " Tapi aku tuh pengennya balik kerja sama Pak Jimi, mbak. Di sana itu sepi. Nggak bisa ngerumpi bareng kalian lagi," gerutu Kiran terlihat kesal. "Tapi kan gajinya juga naik, Ran. Atau tukeran tuh sama Yerin, Yerin dengan senang hati bakalan terima, ya nggak, Yer? " usul mbak Melan bercanda. Yerin mengangguk semangat." Aku mau, Ran, kalau bisa. Siapa tau kan aku bisa deketin PA nya Pak Nathan. Mas Vee soalnya ganteng sih, " sahut Yerin dengan wajah cerahnya. "Aku sih mau aja, tapi kamu yang bilang, yah. Gimana?" Tanya Kiran. Bibir perempuan cantik itu langsung mengerucut mendengar ucapan Kiran. Mana berani ia melakukan hal itu. Bisa-bisa ia langsung dipecat. Semua sekretaris dan Personal Assisten Pak Nathan, laki-laki itu sendiri yang memilihnya. Bagian HRD hanya sebagai penyedia kandidat terbaik dari calon-calon unggul yang mendaftar. Tapi kali ini untuk masalah Kiran, sepertinya Direktur utamanya itu turun tangan sendiri untuk memilihnya. "Tapi aku masih nggak ngerti, Ran. Kenapa pak Nathan bisa tunjuk kamu sebagai sekretarisnya? Karena hal ini belum pernah terjadi sebelumnya. Bahkan kamu itu baru seminggu kerja di perusahaan ini," ucap mbak Melan bingung. Kiran mengangkat kedua bahunya. Ia juga tidak mengerti. Apakah Athan tertarik padanya? Atau kah karena kejadian di lift tempo hari? " Kan Kiran cantik, imut dan semok mbak, mungkin pak Nathan tertarik sama Kiran," sahut Yerin menggoda Kiran. Bahkan Yerin sengaja mengedip-ngedipkan matanya di depan Kiran. "Hush! Sembarangan kamu, Yer. Kalo ada yang dengar nanti malah jadi gosip," tegur Kiran melirik kanan kiri. Ia takut jika hal itu benar terjadi. Gosip itu bagaikan pembunuh nomor satu bagi Kiran. Karena gosip , ia dan anaknya pun harus pindah dari rumahnya sendiri. "Ya kan cuma itu alasan yang bisa aku percaya saat ini, Ran. Tenang aja, Ran. Selama kamu masih kerja disini, kita masih bisa ketemu setiap hari, kok," hibur Yerin memberikan senyum pasta gigi miliknya. " Makasih yah, Yer. Nanti kalau aku sudah ketemu sama PA Pak Nathan, aku bakal kasih info terbaik buat kamu. Kamu suka banget yah sama PA pak Nathan?" Tanya Kiran penasaran. Yerin mengangguk semangat. Bagaimana bisa ia tidak menyukai laki-laki tampan itu? Pembawaannya memang dingin. Tapi laki-laki itu cukup ramah terhadap dirinya. Apalagi kejadian lift mati yang membuat dirinya bisa berkenalan dengan Vee. Peristiwa itu adalah kesialan yang membawa keberuntungan untuk Yerin. Ah...ia sekarang malah jadi ingin berjumpa dengan laki-laki itu kan? Semoga saja minggu depan Vee sudah kembali bekerja. Ting.. From : 0811xxx Kamu makan siang , dimana? Kiran mengerutkan dahinya saat melihat pesan masuk di ponselnya. Walaupun nomor tersebut tidak ada di kontaknya, tapi Kiran bisa menebak siapa pemilik nomor tersebut. Kiran pun langsung menyimpan nomor itu dengan nama ' BosAn' To : BosAn Saya makan siang di kantin, pak. Ada yang bisa saya bantu, pak? Belum ada sedetik Kiran membalas pesan tersebut, bosnya itu langsung menelepon dirinya. "Halo, pak? Ada yang bisa saya bantu?" Tanya Kiran kemudian. Ah, mengganggu makan siangnya saja bosnya ini. "Kamu sedang makan apa?" Tanya Athan tanpa menjawab pertanyaan Kiran. Kiran hanya bisa menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan Athan."Ayam goreng Kalasan , pak? Apa bapak mau di pesankan juga? Ayamnya enak kok. Empuk dan gurih," sahut Kiran. Sementara Yerin dan mbak Melan menatap Kiran dengan tatapan bertanya. " Saya mau Ayam Kalasan. Tapi pesankan di Rose Gold Resto. Saya tidak terbiasa makan makanan kantin," ucap Athan memerintah. Hah, Sifat sombong Athan yang satu ini tidak pernah berubah. Namun, dulu saat mereka bersama, Athan tidak pernah keberatan dengan gaya makan Kiran yang memilih makan di angkringan daripada restoran mahal. Karena menurutnya, makanan enak itu tidak harus makan di restoran mahal. "Baik, pak. Saya akan pesankan segera, " ucap Kiran. "Baik, terima kasih," lalu Athan pun mengakhiri panggilannya. "Pak Nathan, Ran?" Tanya Mbak Melan. Kiran mengangguk." Iya, mbak. Minta pesenin Ayam Kalasan," sahut Kiran sambil mencari kontak resto Rose Gold yang ada di catatan ponselnya. Kiran sudah mencatat kontak siapa saja yang akan ia hubungi sewaktu-waktu yang berhubungan dengan bos barunya. Selesai memesan semua pesanan Athan, Kiran kembali menatap Ayam Kalasan di hadapannya. Sebenarnya menu ini memiliki kisah sendiri bagi keduanya. Dulu, Athan pertama kali mencoba menu khas Sleman, Yogyakarta itu karena Kiran yang memasaknya. Saat itu, Kiran ada ujian Praktik memasak. Perempuan cantik itu memilih makanan yang tidak perlu menggunakan banyak bahan makanan. Pilihannya pun jatuh pada resep Ayam goreng Kalasan. Sejak pertama kali mencoba, Athan pun langsung jatuh cinta pada menu tersebut. Terkadang Kiran bisa membuatnya seminggu tiga kali demi memenuhi permintaan Athan. Laki-laki itu bahkan rela membeli bahan-bahannya lalu menyuruh Kiran untuk memasaknya. Bahkan Athan rela mencuci bekas perkakas yang Kiran gunakan untuk memasak. “Pak Nathan minta pesenin Ayam Kalasan kayak kamu juga, Ran?” tanya Yerin menatap takjub. Bagaimana bisa bos besarnya itu ikut-ikutan apa yang sedang Kiran makan saat ini? Pastinya bosnya itu memiliki ketertarikan pada Kiran. Buktinya, semua yang Kiran pilih, laki-laki itu pun ikut memesannya. Kiran mengangguk. Perempuan itu tampak serius mencuil ayam goreng di piringnya. “ Tuh kan! Aku juga bilang apa mbak Melan! Pasti bos kita itu suka sama Kiran. Ngapain coba pakai tanya Kiran pesan makan siang apa. Terus nggak lama minta pesenin menu yang sama,” cerocos Yerin sok tau. Mbak Melan tertawa pelan mendengar praduga Yerin. Sebenarnya perempuan itu juga curiga melihat gelagat bos besarnya. Tapi, selama belum ada bukti yang kuat, Melan tidak ingin mengomentari lebih banyak. Ia tidak ingin membuat Kiran tidak nyaman dengan semua yang terjadi. Kalau hanya sekedar menu yang sama, itu belum menjadi alasan yang kuat menurutnya. Orang terkadang suka latah dengan apa yang di pesan seseorang. Mungkin kondisi bos besarnya itu seperti itu. “Hush...jangan keras-keras, Yerin. Ingat, disini tembok pun bisa mendengar,” ucap Mbak Melan memperingatkan Yerin yang terkadang tidak tau kondisi. Yerin terkekeh pelan seraya menggaruk pelipisnya yang tak gatal.”Sorry, mbak. Suka kelepasan,” ucapnya menurunkan intonasi suaranya. Kiran mengulum senyum melihat tingkah lucu Yerin. Untung saja ia bisa berteman dengan Yerin dan mbak Melan di perusahaan ini. Setidaknya ia tidak lagi merasa sendiri seperti di perusahaan tempatnya bekerja dulu Saat itu Kiran merasa sangat tidak nyaman. Kalau saja bukan karena ia sedang membutuhkan uang. Mungkin Kiran akan langsung angkat kaki dari perusahaan tersebut. Dua belas bulan masa percobaan yang benar- benar menyiksa. Apalagi ia harus menghadapi klien-klien bosnya yang m***m dan juga kurang ajar. Semoga saja di sini ia tidak perlu menemui klien-klien seperti itu lagi. -TBC-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD